My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 21



"Mas, makan yah. Dikit aja," Wanita berkerudung biru langit itu masih berusaha membujuk suaminya agar mau makan. Tak henti-hentinya ia membujuk tapi hasilnya nihil, pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


Apa yang di katakan mertuan Mella memang benar. Azmi menjadi kekanak-kanakan saat


sakit. Ia berusaha menjadi manja dan sulit di atur.


"Ok kalau mas gak mau makan, aku akan telepon mamah," ancam Nabila agar suaminya mau makan.


Nabila beranjak dari duduk hendak pergi ke arah nakas untuk mengambil gawainya. Namun, langkahnya terhenti karena Raka mehanannya.


 Jantung Nabila berdegup kencang, ada aliran darahnya menjadi hangat, rasa bahagia menyelusup dalam jiwa karena kejadian yang tak di sangka-sangka. Tubuhnya mematung tak bergerak sedikit pun. Hanya napas yang bisa ia lakukan walaupun napasnya tak teratur.


"Ok, mas akan makan. Tapi jangan bilang ke mamah yah," ucap Azmi melepaskan tangan istrinya.


  Nabila mengangguk. Ia berusaha menetralkan jantungnya. Tubuhnya mendadak tremor saat Azmi memegang tangannya.


"Pahit," keluh Azmi saat ia mengunyah makanan yang baru saja masuk dalam mulutnya.


"Paksain aja mas. Walaupun sedikit, yang penting perut gak kosong. Nanti kalau perut mas kosong malah nambah sakit." Ucap Nabila sambil memberikan minum kepada suaminya.


"Iya," ucap Azmi pasrah.


  Akhirnya Azmi berhasil menghabiskan buburnya. Setelah itu, Nabila menyuruh pria bermata cokelat tua itu meminum obat. Walau Azmi susah saat disuruh makan, tapi jika disuruh minum obat ia tak menolak.


"Bila, tolong hubungi Imam agar ke rumah sekarang ya," ucap Azmi meminta tolong istrinya. Dan Nabila pun


langsung memenuhi apa yang diperintahkan oleh suaminya.


 "Waalaikumsalam," ucap Nabila mengakhiri sambungan teleponnya.


"Mas, mau kemana?" Ucap Nabila saat melihat Azmi beranjak. Dan ia pun  langsung membantu pria itu untuk berdiri dan menuju ruang tamu.


"Kenapa gak minta tolong ke aku mas," imbuh Nabila.


"Kamu lagi nelepon," jawab Azmi.


Nabila memapah suaminya dengan perlahan menuju ruang tamu.


  Sesekali Azmi melirik kearah Nabila yang selalu ada untuknya setiap waktu. Senyum terbit di bibirnya saat mengingat perhatian Nabila saat ia sakit.


Tak lama Imam pun datang dengan tergesa-gesa. Ia mendengar kabar bahwa sahabatnya sedang sakit. Sahabat yang telah ia anggap sebagai saudara sendiri.


"Assalamualaikum," ucap Imam sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam," sahut serempak pasangan itu.


"Silakan masuk, kak Imam," ucap Nabila mempersilahkan masuk.


"Hey bro, apa kabar lo?" Tanya Imam sambil duduk di samping Azmi.


"Lo gak lihat apa," ketus Azmi yang jelas-jelas pucat pasi karena sakit.


"Hehehe sorry, lo sakit apa?" Tanya Imam sambil terkekeh.


"Demam," balas Azmi singklat padat dan jelas.


"Nabila mau kemana?" Tanya Imam saat Nabila pergi dari ruang tamu. Nabila pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap orang yang bertanya.


"Mau ambil minum, kak." Sahut Nabila.


"Gak usah repot-repot, tapi gak apa-apa deh. Es sirup boleh Bil." Sahut Imam sambil nyengir kuda.


"Dasar," timpal Azmi mendengar ucapan sahabatnya.


 "Yaudah, aku ke dapur dulu," sahut Nabila kemudian. Dan ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua pria tersebut.


"Kak Zain, aku rindu saat dimana kita menghabiskan waktu bersama dengan canda tawa," pikir Nabila.


"Astagfirullah, Bila kamu gak boleh mikirin kak Zain, itu namanya zina pikiran. Stop mikirin kak Zain," batin


Nabila menyadarkan dirinya sendiri.


"Silakan minumannya," ucap Nabila sembari meletakkan dua gelas ini minuman yang berbeda, lalu ia kembali ke dapur untuk meletakkan kembali baki yang ia bawa untuk mengantarkan minuman.


"Eh Mi. Tadi gue gak sengaja lihat Mella pergi ke pemotretan," ucap Imam setelah menyeruput teh.


"Biarin aja," ketus Azmi menjawab.


"Bukannya lo udah ngelarang Mella buat pemotretan?" Tanya Imam.


"Emang gue ngelarang dia, tapi tahu sendiri kan Mella kalau gak di turutin kemauannya gimana? Udah deh gak usah ngebahas dia lagi," jawab Azmi sembari membetulkan posisi duduknya karena tidak nyaman. Entah tidak nyaman dengan posisinya atau tidak nyaman dengan topik pembahasan yang Imam mulai.


"Ok," ucap Imam menurut.


Imam rupanya paham dan mengerti tentang isi hati sang sahabat itu, lalu Imam diam dan mengganti topik pembicaraan.


Seorang pria tengah duduk di tepi danau sambil melempar kerikil-kerikil yang berada di tangannya. Berharap agar rindu dan rasa yang makin menggebu ini tenggelam bersama dengan kerikil tersebut.


“Datangnya Seperti Fajar akan menjawab semua keresahan dari hati yang telah kegelapan tapi awan kembali


menutupi sinarnya tak sempat melihat wajahnya. Apa yang telah usai mungkin tidak akan mulai kembali kecuali hatimu menyamakannya dengan isi hatiku. Bingung resah jika pergi Bagaimana kalau dia kembali jika menunggu tidak ada jaminan untuk membuatnya kembali. Jika kau rasa getarnya debaran rinduku yang meronta kupersembahkan hanya padamu adakah kamu memahaminya. Seperti malam sebelumnya menyelami


gelapnya Ruang Hati Berharap ada sedikit cahaya terang untuk aku tuju  sebagai penghilang keheningan rasa”


Ibarat kata di atas yang telah menjelaskan apa yang sebenarnya isi hati pria itu rasakan.


"Nabila, mengapa kau selalu terbayang dalam angan bersamaan dengan harapan yang masih ada dalam kalbu." Ucap pria itu sambil melemparkan beberapa kerikil sekaligus.


"Kau tahu, aku sangat rindu padamu, rasa ini kian menggebu seperti tak ingin pergi dari kalbu. Ingin ku bertemu untuk mengobati rindu di hati. Namun, apa daya Allah belum mengizinkannya." Sambung pria itu sambil menatap langit sore yang berwarna jingga.


"Terimakasih rindu, kau telah membuat seorang Zain kalah karena mu." Ya itu adalah Zain, seseorang yang pernah mengisi relung hati Nabila selama beberapa tahun.


"Senja ajari aku untuk melupakan dan mengikhlaskan seseorang. Maka aku akan mengajarimu cara tersenyum di balik kesedihan," gumam Zain sambil menatap langit senja yang selalu merona.


"Mas, lebih baik sekarang mas istirahat dulu. Jangan dulu ngerjain tugas kantor. Nanti mas nambah sakit gimana?" Ucap Nabila menghampiri Azmi yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Nanti aja, mas lagi banyak kerjaan," sahut Azmi.


"Tapi... " ucap Nabila terpotong karena Azmi langsung berpaling dan seolah tela memberikan jawaban. Nabila pun  langsung pergi keluar kamar. Daripada harus berdebat dengan suaminya lebih baik ia keluar.


Tapi, walaupun begitu Nabila bahagia karena saat sakit, suaminya tak pernah bersikap dingin padanya, malah kini ia selalu berkomunikasi dengannya. Benar apa yang di katakan ibu mertua Nabila, kalau Azmi akan bersikap manja saat sakit.


"Mas kok badannya panas lagi, bukannya semalam udah turun, kita ke dokter aja yah. Takut Mas kenapa-napa," ucap Nabila saat menyentuh tubuh suaminya.


Raut khawatir terpancar dari wajah putih milik Nabila. Bagaimana tak khawatir karena demamnya yang semalam sudah turun kini naik lagi. Ia takut kalau Azmi harus di rawat.


"Gak mau, beberapa hari lagi juga mas sembuh kok," tolak Azmi. Sudah berapa kali Nabila memintanya untuk ke dokter. Tapi Azmi selalu menolaknya.


"Mas, aku takut kam__"


"Gak usah khawatir," potong Azmi saat Nabila akan mngucapkan kata-katanya.


Entah apa yang membuat Azmi tak mau pergi ke dokter. Sudah berapa kali Nabila membujuknya tapi tetap saja jawabannya tidak. Kini Nabila tengah berkutat dengan alat dapur, ia tengah memasak bubur dan sayur untuk sang suami tercinta yang belum mencintainya. Ia selalu berdo'a setiap saat, agar Allah memberikan rasa Cinta di hati Azmi untuknya.


"Nabila," ucap Azmi lemah.


"Mas Azmi!" Teriak Nabila.