
Di sebuah rumah sakit ternama yang ada di ibukota. Ozan nampak mondar-mandir di depan sebuah ruang bersalin. Karena pada saat itu Paulina tengah di periksa untuk melahirkan anak pertama saat ia sudah merasa mulas dan menunjukan tanda-tanda akan melahirkan.
Beberapa jam setelahnya, Seorang bayi laki-laki telah lahir dengan selamat dan juga sempurna dari rahim Paulina.
Hari itu menjadi hari yang begitu membahagiakan bagi pasangan yang telah menanti kehadiran seorang anak setelah mereka menunggu 12 tahun lamanya.
Ozan merasa sangat bahagia pada hari itu. Karena sang istri sudah berhasil melahirkan putranya yang berjenis kelamin laki-laki.
Dengan begitu takjub, Ozan menggendong anak yang baru saja dilahirkan oleh Paulina pada hari itu. Dan Paulina sendiri yang baru saja melahirkan putra nampak masih sedikit lemas karena ia baru saja melahirkan putranya.
Paulina sangat takjub, ketika mendapatkan sebuah pengalaman melahirkan secara normal dan juga pengalaman mengandung selama 9 bulan yang penuh cerita.
Paulina merasa terharu, setelah berhasil melahirkan putranya. Kini ia benar-benar merasa sempurna sebagai wanita. Karena ia kini dipanggil ibu.
Tidak hanya Paulina dan juga Ozan. Kebahagiaan juga dirasakan oleh kedua orang tua Ozan dan Paulina.
Mereka turut berbahagia dengan kelahiran anggota keluarga baru.
Kelahiran anak Paulina membuat kedua orang tua Paulina terbang secara khusus dari luar negeri ke Indonesia untuk menyambut kedatangan cucu mereka. Untuk menyambut generasi penerus keluarga besar mereka yang baru.
"Bagaimana perasaanmu sayang. Kau pasti merasa luar biasa karena telah melahirkan putra kita." tanya Ozan pada Paulina yang masih terlihat lemah itu.
"Jangan ditanya bagaimana perasaan ku Ozan. Perasaanku sungguh bahagia dan juga senang karena telah melahirkan anak kita secara normal."
"Kita harus merayakannya Ozan. Aku ingin merayakan kelahiran anak kita dengan memberikan santunan kepada anak yatim-piatu. Di saat aku melahirkan putraku yang saat ini dia memiliki Ibu dan Ayah yang lengkap. Aku berpikir, bagaimana mereka yang sudah tidak mempunyai ayah dan ibu. Yang tidak bisa merasakan pelukan hangat orang tua. Aku ingin kita membantu mereka. Aku ingin berbagi dengan mereka, karena kita baru saja mendapatkan anugerah."
"Itu kita bisa atur sayang. Aku akan mewujudkannya. Niatan mu itu sungguh bagus, memberikan santunan kepada mereka. Aku akan mengirimkan sejumlah uang ke beberapa panti asuhan. Sebagai bentuk dari rasa syukur kita kepada Tuhan. Karena Tuhan telah mengabulkan doa-doa kita selama ini."
"Terimakasih sayang. Di mana anak kita, aku ingin melihatnya." seru Paulina sambil mencari-cari putranya.
"Dia masih berada di ruang perawatan. Dia harus mendapatkan perawatan khusus. Setelah 9 bulan berada di kandungan mu. Tenang saja, beberapa jam lagi dia akan diletakkan di sebelah mu. Dan kau bisa memeluk dan menciumnya sepuas mu." ujar Ozan sambil tersenyum tipis pada sang istri.
"Semirip apa dia dengan ku, semirip apa dia dengan mu? tanya Paulina.
"Aku rasa dia memiliki kemiripan kita berdua. Kulitnya putih, hidungnya mancung."
"Aku sudah tidak sabar untuk memeluk dan menciumnya."
"Sabar sayang, nanti dia juga akan di bawa kemari." ucap Ozan, menenangkan sang istri yang saat ini di landa rasa bahagia dan juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya tersebut.
Ozan bahkan tidak pernah melihat raut wajah yang penuh kebahagiaan menyelimuti seluruh jiwa sang istri. Setelah 12 tahun ini saat sang istri telah menjadi seorang istri.
Kebahagiaan mereka makin lengkap dan sempurna sekarang. Dengan kehadiran putra pertama mereka.