My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 46



Sementara itu di sisi lain


"Akhirnya kau sampai juga, kau sekarang semakin cantik saja ya sayang, penampilan mu juga sangat memukau," ucap mama Ema kepada seorang perempuan yang saat ini berdiri di hadapan nya dengan memegang koper di tangan nya.


"Tante bisa saja, karena aku seorang model aku pasti akan selalu berpenampilan menarik, oh iya Tante, di mana Samuel? Apa dia tidak datang untuk menjemput ku, seharusnya dia menyambut kepulangan ku ke kota ini juga bukan?" tutur perempuan tersebut seolah tak ada titik koma nya.


"Maaf sayang, saat ini Samuel sedang sibuk, dan kau tau sendiri kan, tentang apa yang Tante bicara kan malam itu dengan mu, Sonya Tante mohon agar kau bisa membantu Tante untuk menjauhi wanita itu dari Samuel," ucap mama Ema tudepoin.


"Emm, baik lah, Tante, aku akan membantu Tante, jangan khawatir," jawab perempuan bernama Sonya tersebut.


"Baik lah, kalau begitu kau ikut Tante ya, mama dan papa mu mengatakan jika selama di kota ini, kau menginap di mansion Samuel saja," ucap mama Ema yabg terlihat begitu akrab dengan perempuan bernama Sonya tersebut.


"Sonya" wanita yang identitas nya masih di sembunyikan author, yang jelas dia adalah teman masa kecil Samuel, dia berprofesi sebagai model di kota xx, karena itu mereka sejak lama satu keluarga pindah ke kota xx dan di kota ini, mereka sudah tidak punya rumah karena di jual, maka dari itu mama Ema pun membawa Sonya tingal di mansion selama Sonya kembali ke kota ini.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan kemudian melaju meningal kan bandara menuju mansion Samuel.


Sore harinya


Moza baru saja tiba di mansion, sehabis dari rumah Nara, dia melihat mobil yang di bawa mama Ema sudah terparkir di depan mansion.


"Mama sudah pulang?" batin Moza sambil berjalan masuk ke dalam mansion.


"Ayo Sonya, ayo Tante antar ke kamar tamu, kau pasti sangat lelah setelah perjalanan,"Ucap mama Ema yang saat itu berjalan dengan Sonya hendak menuju kamar tamu.


Moza yang ada di belakang mereka sontak kebingungan, karena ada seorang perempuan di mansion itu bersama dengan mama mertuanya.


"Mama," tegur Moza sambil menatap punggung kedua orang yang hendak menaiki tangga itu.


Sontak mama Ema dan Sonya yang mendengar suara Moza pun berbalik dan menatap Moza.


"Oh, kau sudah pulang ya?" ucap mama Ema kepada Moza dengan tatapan sinis nya.


Alangkah kagetnya Moza saat melihat perempuan Yang ada di sebelah mama Ema saat ini, dia cukup kenal dengan wajah perempuan tersebut meskipun sudah di tutup Mak up dengan tebal, dia cukup mengenalinya.


"K-kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Moza sambil menujuk wajah Sonya.


"Tante, siapa dia? Apa dia istri nya Samuel yang Tante cerita kan?" tanya Sonya pura-pura tidak mengenali Moza.


"Iya, dan Moza ini Sonya, dia datang dari kota xx, dia adalah teman masa kecil Samuel, dia akan menginap di sini beberapa Minggu, kau tidak keberatan kan?" tanya mama Ema dengan wajah datar nya.


"Ma, mengapa dia harus menginap di sini? Aku tidak setuju," bantah Moza.


"Siapa kau yang berani mengatakan tidak? Dia adalah tamu ku, bukan urusan mu untuk melarang nya tingal di sini, ayo Sonya jangan dengarkan apa yang dia katakan, ayo, kau pasti lelah dan butuh istirahat," ucap mama Ema yang kemudian memegang tangan Sonya dan menaiki tangga menuju lantai atas kamar tamu.


Sementara itu Moza masih tidak habis fikir dengan apa yang di lakukan oleh mama Ema, mama Ema membawa wanita yang dulunya sudah membuat hubungan antara Moza dan Samuel hancur, baru saja ingin melupakan masa lalu buruk itu, kini penyebab masa lalu yang buruk itu malah kembali dan tingal di Mansion mereka.


Ya, Sonya, Sonya lah wanita yang dulu membuat Moza salah paham akan Samuel, wanita yang berciuman dengan Samuel adalah Sonya, meskipun dulu Sonya.


Ia pun dengan air mata yang membasahi pipi nya bergegas pergi ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar tersebut.


"Aku pikir ini adalah awal dari kebahagiaan, ternyata adalah awal dari penderitaan," ucap Moza di sela-sela tangisan nya.


Malam pun tiba.


Moza sejak tadi mengurung diri nya di dalam kamar, dia tidak mau keluar sebelum Samuel pulang.


Sementara itu di lantai bawah mansion, mama Ema dan juga Sonya, sedang asik bercengkrama dan juga menonton televisi.


Para pelayan yang sedari tadi melihat itu, merasa seperti tercium aroma-aroma pelakor yang di bawa pulang oleh mama Ema, jujur saja mereka juga merasa risau suka atas kehadiran Sonya di mansion tersebut.


Sementara itu Samuel baru saja tiba di mansion, ia berjalan masuk dan melewati ruang tengah mansion.


"Samuel, kau sudah pulang? Lihat lah siapa ini," ucap mama Ema kepada Samuel.


Awalnya Samuel yang lelah tak kuasa menoleh, tapi karena mendengar ucapan mama nya, dia pun menoleh dan alangkah kagetnya Samuel saat melihat wanita yang seharusnya tidak lagi di temui oleh nya kini malah ada di dalam mansion nya.


"Surprise! Samuel aku sudah menunggu mu pulang sejak tadi, mengapa kau bekerja begitu lama?" tanya Sonya yang berjalan ke arah Samuel dan kemudian memegang lengan Samuel dengan manja sambil tersenyum.


"So-sonya, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Samuel sambil menatap mama nya dengan tatapan bingung.


"Samuel, Sonya beberapa Minggu akan tinggal di sini, dia ada urusan di sini tidak apa-apa kan?" tanya sang mama.


"Apa Moza tau hal ini? Ma, mengapa mama mengambil keputusan tampa bicara terlebih dahulu kepada ku? Dan Sonya kau seharusnya tidak mengiyakan jika mama ku meminta mu tingal di sini, kalian hanya akan membuat istri ku salah paham," terlihat raut wajah khawatir dan juga marah di diri Samuel setelah mengetahui hal ini.


"Samuel, apa yang kau katakan? Memang nya kenapa? Sonya adalah sahabat masa kecil mu, apa kau melupakan nya setelah kau menikah? Itu benar-benar tidak baik," jawab mama Ema marah kepada Samuel.


"Tapi ma, banyak cara lain,kita tidak kekurangan uang jika memang mama ingin memboking hotel untuk tempat tinggal Sonya beberapa Minggu,tapi tidak di mansion ku, aku harus menjaga perasaan istri ku, aku tidak mau kesalahpahaman di masa lalu terulang kembali!" marah Samuel yang kemudian berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar, dia tau saat ini Moza pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja karena ulah mama nya.


Tidak butuh waktu lama, Samuel pun tiba di kamar, terlihat Moza yang duduk dengan memeluk lutut nya dan tatapan nya juga kosong,mata nya sembab dan terlihat sedikit bengkak.


"Sa-sayang ... " Lirih Samuel.


Samuel dengan pelan meletakkan tas kerja nya di Sofa dan menghampiri Moza.


Moza menatap Samuel dengan tatapan penuh sedih, bahkan mata nya kini kembali mengeluarkan bulir bening yang berharga itu.


"Sayang, maaf kan mama," jelas Samuel sambil berlutut di depan Moza.


Seketika Moza memeluk Samuel dan kembali menumpahkan air mata kesedihan nya atas apa yang telah terjadi sekarang ini.


Bersambung ....