
Kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Karena jika di awal manusia tidak akan merasa rugi. Rugi karena telah menyia-nyiakan yang terbaik, rugi karena telah melakukan hal yang seharusnya tak ia lakukan. Dan juga sebagai pembelajaran agar kedepannya kita selalu berhati-hati dalam bertindak. Serta sebagai pengalaman untuk kedepannya pula. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik.
Menyesal. Itulah yang di rasakan Azmi sekarang. Karena telah memilih tembaga daripada mutiara. Telah menyia-nyiakan bidadari syurga demi bidadari beranda.
Andai waktu bisa di ulang. Ia ingin membahagiakan wanita tersebut. Menjadikannya Ratu di hidupnya, bukan seperti pembantu ataupun benalu.
Sudah sepekan sejak kejadian tersebut. Azmi selalu mengurung diri di kamar. Tak fokus saat bekerja. Lebih banyak melamun seperti sekarang. Sekarang ia tengah duduk di ranjang, mengurung diri di kamar Nabila, menatap kosong ke arah depan. Matanya sembab, bajunya berantakan. Wajahnya kusut. Ia bagaikan mayat hidup, tak makan tak minum. Lima hari terakhir dirinya tak masuk kerja. Yuni yang meminta izin langsung pada atasan Azmi.
"Azmi, sekarang kamu makan yah." Bujuk ibunya pada sang putra. Tubuh Azmi sudah kurus tak terurus. Karena jarang makan. Bukan tak diberi, tapi ia sama sekali tak nafsu makan. Ia bagaikan majnun, gila.
"Ayolah, makan. Kamu tak ingin kan melihat Nabila sedih jika melihatmu seperti ini."
Azmi melirik ke arah ibunys saat nama Nabila di sebut. Bu Yuni tak bisa membendung air matanya lagi. Kini air matanya jatuh meluncur ke pipinya.
Suap demi suap makanan masuk ke dalam mulut pria itu. Walaupun tak habis, tapi setidaknya ada makanan yang masuk ke dalam perut Azmi.
Kring! Kring!
Dering handphone mengalihkan wanita paruh baya itu. Ia langsung beranjak dari duduknya dan berlari mengambil handphonenya.
[...............................]
[Waalaikumsalam,bagaimana apa sudah ada kemajuan?]
[.......................................]
[Alhamdulillah, terimakasi atas informasinya. Saya sangat-sangat berterimakasih]
Setelah mengucapkan salam, Yuni mengakhiri panggilan dengan seseorang. Selama ini ia menyewa detektif untuk mencari keberadaan Nabila. Dan akhirnya usahanya tak sia-sia, sang utusan memberikan kabar yang baik.
**
Atmosfer di ruangan itu menegang. Hawa panas dan dingin di rasakan Taufiq yang sekarang berada di rumah Amalia. Tempat dimana Nabila menginap.
Sedangkan kedua gadis itu bingung dengan kedatangan pria tersebut dengan kedua orangtuanya. Kedua gadis itu saling pandang memandang. Saling bertanya lewat hati ke hati.
"Maaf bila kedatangan kami kesini membuat kalian bingung. Maaf juga karena kedatangan kami sangat mendadak." Ucap ibu Taufiq, seolah mengerti apa yang ada di pikiran kedua gadis tersebut.
"Jadi kami tak ingin basa-basi, jadi kami kesini ingin melamar Nabila untuk Taufiq. "
Deg!
Kedua gadis itu kaget bukan main. Pasalnya Taufiq dan kedua orang tuanya kesana ingin melamar gadis yang sudah bersuami. Memang hanya mereka yang tahu tentang pernikahan Nabila, dan masalah rumah tangga Nabila.
Nabila menarik nafasnya panjang. Menetralkan detak jantung yang tak karuan. Rasa bersalah menyelusup ke dalam hati. Sedih kembali singgah.
Jujur saja, selama ini ia pun kagum dengan Taufiq. Kagum dengan tingkah lakunya, perilakunya, sifatnya pada perempuan yang sangat lembut. Pria seperti itulah yang ia idamkan selama ini. Pria yang menghormati, memperlakukan lembut, tutur bahasa yang baik pada perempuan. Wanita mana yang tak kagun pada Taufiq.
Tapi kata kagum harus di garis bawahi. Kagum bukan berarti Cinta.
"Bismillah, Nabila jujur selama ini saya menyukai dan mengagumimu. Kamu sangat berbeda dengan wanita lainnya. Wanita yang banyak saya kenal. Jadi maukah kamu menerima lamaranku dan menjadi pendamping hidupku."
Kini Taufiq membuka suaranya setelah lama diam. Jantungnya berdetak tak karuan seperti ingin melompat dari tempatnya.
Amalia mempererat pegangan tangannya. Sedari tadi dirinya memegang tangan Nabila. Mememberi energi pada gadis tersebut. Ia tahu apa yang di rasakan gadis itu.
"Sebelumnya saya minta maaf pada bapak dan ibu dan terutama pada Taufiq. Seharusnya saya terus terang pada Taufiq. Sebenarnya saya sudah bersuami. Dan maaf saya tak bisa menerima lamaran Taufiq."
Deg!
Kedua orang tua Taufiq dan Taufiq kaget. Apalagi Taufiq, hatinya seperti du hujani beribu panah. Kepingan merah di dada hancur menjadi beberapa keping. Ia baru mengetahui kalau gadis pujaannya sudah memiliki suami. Tapi selama ini ia tak pernah melihat atau mendengar tentang hal itu.
**
Tangis Nabila pecah di pelukan wanita paruh baya tersebut. Dia adalah bunda daru Taufiq. Setelah penuturan Nabila di ruang tamu. Nabila langsung pamit pergi ke kamar. Tangisnya tak bisa terbendung lagi.
Melihat gadis itu pergi, bunda Taufiq meminta izin pada Amalia untuk menyusul gadis berkerudung hijau toska itu.
"Sudah, bunda mengerti apa yang kamu rasakan. Dulu bunda pun merasakan seperti itu. Sebelum menikah dengan ayah Taufiq. Setelah menikah dengan bunda, mantan suami bunda masih berhubungan dengan kekasihnya. Hingga dirinya menghasut mantan suami bunda dan menceraikan bunda. Saat itu bunda pun sangat terpukul hingga bunda ingin mengakhiri diri. Namun, Allah mengirimkan ayah Taufiq dalam hidup bunda. Setelah itu, bunda menikah dan memiliki Taufiq."
Ingatlah, Allah tidak akan membebani seorang hamba melebihi batas kemampuannya. Kamu hanya berdo'a dan berusaha agar suamimu di beri hidayah, dan menyesalinya sebelum terlambat."
"Makasih, Bunda."Ucap Nabila disela isakannya.
Benar, ia tak boleh tenggelam dalam kesedihannya karena semua pasti selalu ada hikmah di baliknya.
***
Yuni menatap putranya itu dari kejauhan. Putranya bagaikan orang yang hilang akal. Selalu menangis kadang memanggil nama Nabila. Apakah ini yang di sebut karma. Bukan mungkin ini adalah musibah yang di berikan Allah untuk Azmi.
"Ka, mamah punya berita baik. Mamah mengetahui dimana Nabila. Apakah kamu ingin ikut dengan mamah mencarinya?"
Azmi langsung menatap sang ibu. Bulatan hitam terlihat jelas di bawah matanya. Mereka berdua saling menatap cukup lama. Lalu Azmi memeluk sang ibu dengan erat sambil terisak. Di balik isakannya ia menyebut nama Nabila.
"Aku ingin Nabila kembali, Mah. "
Tangis Yuni tak bisa terbendung lagi. Keduanya sama-sama terisak dalam pelukan.
***
Setelah kejadian lamaran hari itu. Ralat, melainkan kejadian dimana ia mengetahui bahwa Nabila sudah bersuami. Dirinya serasa tak bersemangat dalam beraktifitas. Walaupun ia berusaha untuk bersemangat saat bekerja tapi ia tak bisa menutupi rasa perih di kepingan hatinya. Kenapa kisah cintanya selalu berakhir seperti ini.
Oh Cinta kapan kau berpihak padaku. Kapan Cinta ini terbalaskan. Mengapa kau selalu bertepuk sebelah tangan. Mengapa orang yang ku cintai selalu pergi. Apakah aku tak berhak untuk di cintai. Tolong untuk sekali ini saja, berpihaklah padaku.
Pagi yang cerah. Namun, tak secerah wajah Taufiq. Bibir memang tersenyum tapi itu hanya terpaksa bukan dari hati seperti waktu itu.
Salma- bunda Taufiq, mengetahui apa yang di rasakan yang putra. Ia pun merasa sedih saat mendengar hal tersebut. Baru saja putranya tersenyum kembali. Tapi sekarang senyum itu pudar. Walaupun pria itu tersenyum. Tapi ia tahu jika senyuman itu adalah palsu.
Senyum penutup luka yang ada di hati. Di balik sebuah senyuman ada luka dalam yang tersembunyi. Yang gak di ketahui oleh orang lain.
**
Seorang pria tengah duduk di tepian danau. Menatap semburat warna jingga di langit. Senja, itulah namanya. Pemandangan Indah yang bisa di lihat ketika matahari akan kembali ke peraduannya.
Tangannya melempar kerikil ke danau. Terkadang sesekali melirik jam tangan yang ada di tangan kirinya. Senyuman yang tak pudar sejak tadi. Di sertai dengan rasa yang bercampur aduk di hati.
Aktifitasnya terhenti saat mendengar sapaan tersebut. Suara yang tak asing baginya. Jantung yang sudah berdetak tak karuan. Pria itu berdiri berbalik menghadap seorang wanita yang menyapanya tadi.
"Wa'alaikumsalam, "
Deg!
Gadis itu terkejut saat melihat pria yang berada di hadapannya. Tangannya meremas kantong plastik yang ia bawa. Detak jantung sudah tak karuan. Kakinya tak bisa menopang beban tubuhnya. Jika saja ia kehilangan keseimbangan pasti ia akan terjatuh. Melihat pria itu seolah ia membuka kembali luka yang sedang dalam proses penyembuhan. Luka yang tertutup kembali menganga.
Kenangan pahit yang mulai di terlupakan kembali teringat. Kepingan di hati kembali berdenyut nyeri.
Pria itu tersenyum saat melihat sang belahan jiwa yang telah di sia-siakan ada di hadapannya. Matanya berbinar, senyumnya mereka penuh arti. Hatinya nyeri saat mengingat kesalahan yang ia lakukan pada wanita tersebut. Ia datang kesini untuk menjemput sang permaisuri yang telah pergi. Serta meminta maaf padanya. Tapi kenapa mulutnya terkunci, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Mas," lirih Nabila hampir tak terdengar. Namun, Azmi masih bisa membacanya lewat gerakan bibir Nabila.
Setetes air mata jatuh di ujung matanya. Tangannya semakin meremas benda yang ia pegang. Ingin ia berlari pergi tapi kakinya serasa di rantai tak bisa beranjak atau bergerak. Ia hanya bisa memalingkan wajah ke arah lain. Tak mau melihat pria itu, walau sebenarnya hati ini rindu. Tapi rasa sakit telah mengalahkan sang rindu.
"Nanila," panggil Azmi dengan suara lembut. Untuk pertama kalinya ia mendengar Azmi memanggilnya dengan suara lembut.
Gadis itu langsung menoleh dan ia terkejut saat melihat pria itu berada di hadapannya. Mata mereka saling memandang untuk beberapa saat sebelum Nabila memalingkan wajahnya kembali.
Azmi langsung memeluk gadis berkerudung hijau toska tersebut. Memeluk erat seperti tak ingin terlepas. Nabila, ia hanya diam sambil menangis. Ingin dirinya memberontak tapi hatinya berkata sebaliknya. Junjungannya pun sudah terjatuh ke tanah entah sejak kapan. Kini tangannya memukul tubuh pria yang ada di hadapannya. Memberontak ingin di lepaskan. Bukannya melepaskan, pria itu malah mempererat pelukannya.
"Pukuli aku semaumu. Asal kau memaafkanku." Ucap Azmi.
Tangis yang sedari tadi Nabila tahan, kini pecah tak dapat lagi tertahan. Isakannya semakin kencang.
"Maaf, maaf. Maafkan aku Nabila karena telah menyia-nyiakanmu. Ku mohon maafkan aku. Mungkin dengan maafku lukamu tak bisa pulih. Tapi beri aku satu kesempatan agar aku bisa membahagiakanmu. Membayar semua deritamu."
***
Yuni memeluk erat wanita yang berstatus menantunya itu. Pelukan seorang ibu yang rindu pada anaknya setelah lama tak bertemu. Tangis kedua wanita yang berbeda usia itu pecah sambil terisak.
Seorang pria melihatnya dari kejauhan. Ia pun ikut merasakan yang mereka rasakan. Ia merasa bersalah karena telah memisahkan mereka. Karena dirinya Aulia pergi. Ia bukanlah suami yang baik, yang becus.
"Maaf, ma. Nabum telah pergi dari rumah tanpa memberitahu Mamah." Ucap Nabila sambil terisak.
"Tak apa. Seharusnya mama yang minta maaf karena anak mama kamu harus tersiksa seperti ini." Ucap Yuni.
"Apakah orangtua mu mengetahui ini?" Sambung Yuni.
Nabila menggelengkan kepalanya. Ia tak pernah bercerita kepada orangtuanya tentang masalah keluarga. Bahkan saat ia pergi dari rumah. Ia tak mengabari siapapun. Karena ia tak ingin membebani kedua orangtuanya. Memang yang ia lakukan salah. Tapi menurutnya ini yang terbaik.
***
"Maaf," ucap Azmi setelah beberapa saat mereka diam.
Yuni meminta mereka menyelesaikan masalah dengan empat mata. Dia tak ingin ikut campur karena itu adalah masalah keduanya. Ia yakin bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah mereka dari hati ke hati.
Nabila hanya bergeming, tangannya meremas gamis yang di pakainya. Matanya menunduk menatap jari yang meremas gamis.
"Aku tahu aku salah. Aku memang tak pantas untuk mendapatkan maaf darimu. Karena aku telah menyakiti hatimu sangat dalam." Ucap Azmi kembali.
"Aku memanglah manusia bodoh yang telah menyia-nyiakan sebuah mutiara. Tapi aku mohon beri aku kesempatan."
Nabila menarik nafas panjang. Berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Aku tak berhak tak memaafkan makhlukh-Nya. Allah saja Maha Pemaaf. Lalu siapa aku yang tal ingin memaafkan orang lain. Aku pun bukan wanita yang baik. Aku hanya wanita penuh dosa, tapi Allah telah menutupi semua aibku." Ucap Nabila.
"Terima kasih Nabila, karena kau telah memaafkanku. Tapi apakah Allah aka memaafkanku setelah semua yang aku buat."
Azmi langsung memundu setelah mengucapkannya. Ia merasa berdosa dan bersalah, setelah apa yang ia lakukan pada Nabila. Jujur selama ini ia sudah jauh dari jalan yang benar. Ia selalu berbuat maksiat, walau ia tahu itu salah.
"Mas. Dengarlah. Tak ada manusia yang tak memiliki dosa dan bersalah. Semua orang pun berbuat salah. Tak ada manusia yang sempurna. Ingatlah, mas. Jika mas berpikir dosa mas sebesar gunung, maka ampunan Allah sebesar langit. Allah selalu memaafkan hambanya yang ingin bertaubat. Allah itu Al-Ghofur. Maha Pemaaf dan memaafkan. Dan Allah lebih menyayangi seorang hamba yang bermaksiat tapi ingin bertaubat dari pada seorang hamba yang sholeh namun membanggakan amalnya itu. "
Untuk kesekian kalinya dirinya meresa bersyukur karena telah diberikan istri sesabar, setabah, sesholehah Nabila. Gadis yang ia abaikan ternyata gadis yang terbaik untuk dirinya.
"Maukah kamu membimbing, mas untuk menjadi lebih baik lagi. Maafkan mas. Seharusnya mas yang membimbingmu tapi malah sebaliknya mas yang dibimbing olehmu."
"Alhamdulillah, aku tal pernah mempersalahkan itu. Yang terpenting adalah suamiku ingin menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya dan bersama-sama menuju jannah-Nya."
***
Rasa sedih tak bisa lagi ia sembunyikan saat mendengar bahwa sang pujaan akan kembali kepada suaminya. Ingin dirinya menahannya dan tak membiarkan dirinya pergi. Tapi apa haknya melarangnya pergi. Siapakah diri ini? Hanya seorang pria yang mencintainya bukan suaminya.
***
Kini mereka tengah berada di kamar. Kamar yang penuh dengan kenangan. Kenangan bersama yang tak kan pernah terlupakan.
"Kamu bener mau pulang lagi ke rumah suamimu?" Tanya Amalia dengan tak yakin. Ia tak ingin sahabatnya itu kembali tersakiti. Ia tak mau kejadian sebelumnya terjadi lagi.
Nabila tersenyum, meyakinkan sahabat bahwa keputusan yang ia ambil itu benar.
"Iyah, aku yakin. Aku yakin mas Azmi akan berubah."
"Aku akan mendukung keputusanmu. Pasti setelah ini aku akan kangen sama kamu. Kangen dengan semuanya. Aku akan kesepian lagi."
"Makanya cari suami dong. Jangan betah sendiri terus." Ejek Nabila di sertai dengan tawaan mereka.
"Ah kamu ini. Seneng banget yah. Ledekin aku. Mentang-mentang udah punya suami."
"Haha. Makasih yah, Lia. Udah mau nerima aku di sini. Maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu. Maaf kalau selama ini aku punya salah sama kamu." Ucap Nabila sambil memeluk sahabatnya itu.
"Tak usah berterima kasih. Karena ini sudah kewajibanku untuk membantu sesama."
Suasana kamar kini menjadi melow. Atmosfer berubah menjadi sedih. Tangis haru dan sedih menggema di kamar tersebut.
"Ayo, Bila. Kita pulang. Sebentar lagi keretanya akan berangkat. "
Suara bariton mengalihkan perhatian mereka. Siapa lagi kalau bukan Azmi.
Nabila tersenyum lalau mengangguk. Kini ia akan membuka lembaran baru bersama pria tersebut. Semoga semuanya akan lebih baik.
"Jika, dia macam-macam padamu. Jangan segan-segan beritahu aku. Aku akan memarahinya habis-habisan nanti." Ucap Amalia di sertai kekehan di sela tangisnya.