My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 45



"ma, dari mana? Mengapa malam baru pulang?" tanya Samuel yabg saat itu tengah duduk di sofa ruang tengah mansion bersama dengan Moza.


"Ma, kami menunggu mama untuk makan malam, ayo!" ucap Moza berdiri dari duduknya hendak menghampiri mama Ema.


Namun mama Ema menjauhi Moza yang hendak mendekati nya barusan.


"Aku lelah, dan aku sudah makan di luar, Samuel, mama ke kamar dulu, mau istirahat," jelas mama Ema yabg kemudian berlalu meningal kan ruang tengah mansion dan berjalan menuju kamar nya.


Sementara itu Moza dan Samuel saling pandang, Moza merasa ada yang tidak beres dengan mama Ema, padahal sebelumnya mereka baik-baik saja.


"Sayang, apa tadi siang kau bertengkar dengan mama?" Samuel berdiri dari duduknya dan menghampiri Moza.


Moza mengeleg kepala nya untuk menjawab pertanyaan Samuel barusan.


"Apa yang terjadi dengan mama? Mengapa dia kelihatan sangat marah dengan mu?" tanya Samuel lagi.


"Mas, aku tidak tau." Moza menjawab nya dengan tatapan sedih.


"Sudah lah, besok kita bicara kan baik-baik dengan mama, mungkin ada hal yang membuat mama salah paham terhadap mu, sekarang lebih baik kita tidur, ini sudah larut," ucap Samuel yang tidak ingin sang istri terbeban pikiran karena ulah mama nya.


Moza pun menuruti Samuel, meskipun kini perasaan nya tidak enak, dia pun berusaha tetap tenang di hadapan Samuel.


Sementara itu di kamar mama Ema.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus segera memisah kan wanita itu dari Samuel, Samuel adalah anakku satu-satunya aku tidak mau dia jatuh ke tangan wanita jahat seperti Moza, aku harus melakukan sesuatu," ucap mama Ema berbicara sendiri sambil mondar-mandir di dalam kamar nya memikirkan bagaimana cara dia untuk memisahkan Moza dari Samuel.


Ini lah manusia, belum sempat tau hal yang sebenarnya, malah percaya dengan orang yang baru di kenal, tampa mencari tau lebih lanjut lagi.


"Aku ada ide," ucap mama Ema seketika wajah nya menjadi tersenyum bahagia, entah apa yang ada di pikiran nya saat ini, namun ia terlihat menemukan titik terang dari permasalahan yang dia tangani.


Mama Ema pun bergegas mengambil ponsel nya, dan mengotak atik ponsel tersebut, seorang mencari sesuatu.


"Ketemu, semoga saja masih aktif." Mama Ema menekan tombol panggilan.


Ya, dia mencari nomer seseorang dan kemudian melakukan panggilan telepon.


Beberapa hari pun berlalu.


Sejak malam itu, perubahan sikap mama Ema terhadap Moza semakin terlihat, dia bahkan lebih sering marah dan apapun yang di lakukan Moza selalu salah di matanya, Moza yang tidak mengetahui masalah apa yang terjadi pun hanya bisa pasrah saja menerima kenyataan.


Pagi itu ...


Seperti biasa, Samuel akan berangkat ke kantor pagi-pagi karena akhir-akhir ini ada proyek yang sedang dia kerjakan, hal ini membuat Moza di mansion selalu kesepian karena Samuel pergi pagi dan pulang sore sekali.


"Di mana mama? Mengapa aku tidak melihat dia? Biasanya dia sudah bangun jam segini," batin Moza sambil berjalan ke ruang tengah dan melihat sekeliling ruangan.


"Nona muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan kepada Moza.


"Em, apa kau melihat mama Ema?" tanya Moza kepada pelayan tersebut.


"Nyonya Ema, dia sudah keluar pagi-pagi sekali,aku tidak tau dia pergi ke mana," jawab sang pelayan dengan wajah bingung.


"Yasudah, kalau begitu aku juga akan keluar, jika mama pulang, bilang aku pergi ke rumah kak Nara ya," ucap Moza kepada sang pelayan.


"Baik nona muda," jawab Pelayan tersebut sambil menunduk.


"Aku tidak boleh menyerah, mungkin ini adalah ujian untuk menemui kebahagiaan ku yang sesungguhnya, tapi mengapa semakin hari mama semakin terlihat tidak suka kepada ku ya? Apa aku ada salah dan aku tidak tau? Arghhh, hal ini membuat aku kebingungan, aku butuh Nara, dia yang bisa membuat aku tenang saat ini, aku butuh nasehat dari nya," pikir Moza dengan hati yang berkecamuk.


"Nona, kita akan ke mana?" tanya sang sopir taxi kepada Moza.


"Kita ke komplek xx ya pak,"jawab Moza, karena Moza tau, hari ini Nara tidak bekerja karena Celsy sedang sakit beberapa hari lalu Moza juga sudah menjenguk nya.


Tidak butuh waktu lama, Moza pun akhirnya tiba di rumah Nara.


Setelah membayar ongkos taxi, Moza pun turun dari taxi tersebut dan kemudian berjalan masuk ke dalam halaman rumah Nara.


Kebetulan sekali pada saat itu Nara sedang menyiram tanaman di depan rumah nya, melihat kedatangan Moza ia tampak senang karena akan ada teman ngobrol.


"Moza, kau datang," ucap Nara sambil tersenyum.


"Hmm, kak, maaf aku menganggu kesibukan mu pagi-pagi seperti ini," ucap Moza kepada Nara.


"Bibi datang yaa!?" teriak Celsy dari dalam rumah, terlihat ia berlari menghampiri Moza dan memeluk Moza.


"Hey Celsy jangan seperti itu, kau ini benar-benar manja," tegur sang mama kepada Celsy.


"Biar saja kak, sayang kau sudah sembuh ya?" tanya Moza kepada Celsy.


"Iya bibi, oh iya, di mana paman Samuel?" tanya Celsy sambil melirik ke sana ke sini mencari keberadaan Samuel.


"Sayang, paman Samuel sedang kerja, bibi ke sini hanya sendiri," jawab Moza sambil memegang kedua pipi Celsy dengan gemas.


"Moza, ayo kita masuk ke dalam?" ucap Nara kepada Moza.


"Baik lah, Celsy sini bibi gendong,"ucap Moza yang kemudian mengendong Celsy masuk ke dalam rumah tersebut.


Beberapa puluh menit kemudian, Celsy pun tertidur, setelah bermain-main dengan Moza, itu sudah jadi kebiasaan nya jika ada Moza di dekat nya, dia akan bermain sampai lelah dan tertidur dengan buku dongeng yang di bacakan Moza.


"Kak, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Moza kepada Nara.


Saat ini mereka berdua sedang duduk di ruang tamu rumah Nara sambil menonton televisi.


"Apa? Sedari tadi juga aku sudah melihat kesedihan di mata mu, apa kau dan Samuel sedang dalam masalah?" tanya Nara kepada Moza dengan tatapan serius.


"Hm, lebih tepatnya aku dengan mama nya Samuel, bukan dengan Samuel kak," jawab Moza.


"Oh iya, aku baru ingin bertanya, bagaimana? Apa Tante baik dengan mu?" tanya Nara lagi.


"Justru itu, akhir-akhir ini, aku seperti melihat sorot mata kebencian mama Ema terhadap aku kak, aku tidak tau kesalahan apa yang sudah aku lakukan, yang jelas aku rasa aku sudah mencoba menjadi seorang menantu yang baik, tapi agak berbeda tatapan nya kepada ku, seolah tatapan kebencian," jelas Moza kepada Nara.


"Benar kah? Apa Samuel tau ini? Setahu ku mama nya Samuel bukan lah tipikal orang yang pemilih, tapi apa yang terjadi? Apa kau sudah mencoba bertanya apa masalah nya sehingga dia bersikap aneh kepada mu?" tutur Nara lagi yang tak habis fikir dengan sikap Tante nya.


"Aku tidak mengerti kak, aku ingin bertanya,tapi aku takut akan membuat masalah dan jarak di antara aku dan mama Ema semakin menjauh," jelas Moza terlihat serba salah.


"Aku paham dengan perasaan mu saat ini Moza, tapi kau juga tidak boleh membiarkan hubungan mu dan mama Ema seperti ini, ini juga pasti akan mempengaruhi rumah tangga kalian, kau harus memberanikan diri untuk menyelesaikan masalah mu," ucap Nara yang memberikan semangat kepada Moza agar tidak terus membiarkan masalah mengalir begitu saja.


Sementara itu di sisi lain.


Bersambung ....