
Hari sudah mulai malam tapi Azmi belum juga pulang. Nabila pun masih setia menunggu suaminya di ruang tamu sambil menonton TV untuk menghilangkan rasa jenuh. Malam pun sudah mulai larut, tapi belum ada tanda-tanda kalau Azmi akan pulang. Kini jam telah menunjukkan angka 23:30 tapi Azmi pun belum pulang. Nabila mulai mengantuk dan dia pun tertidur di sofa karena sudah tak bisa menahan kantuknya lagi.
Setengah jam setelah Nabila tertidur. Azmi pun pulang. Saat masuk Azmi melihat Nabila tertidur di sofa. Tapi hanya melihat saja setelah itu pergi ke kamar. Suara adzan membangunkan Nabila dari tidurnya. Nabila langsung duduk dan melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan 04:45. Nabila langsung beranjak dari sofa dan pergi ke kamar Azmi untuk mengecek apakah Azmi sudah pulang apa belum.
Tok tok tok
Nabila mengetuk pintu pelan. Karena tidak ada sahutan, Nabila pun mengetuk pintu lebih keras lagi.
"Mas, apakah mas sudah pulang?" tanya Nabila sambil mengetuk pintu.
Tapi masih tidak ada jawaban. Mungkin Azmi belum pulang. Tapi Nabila mencoba memastikannya. Nabila menekan knop pintu kebawah. Dan pintu pun terbuka. Ketika pintu terbuka. Terlihat Azmi sedang tertidur pulas. Lalu Nabila menghampiri untuk membangunkannya agar melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Ada rasa tak tega di hati Nabila karena harus membangunkan Azmi yang tertidur pulas. Tapi dia tidak tega bila harus melihatnya di siksa di alam kubur kelak.
"Mas, ayo bangun kita sholat subuh dulu," ucap Nabila lembut, sambil memggoyang-goyangkan tangan Azmi.
"Hmmm, apaan sih?" ucap Azmi masih memejamkan matanya.
"Kita sholat dulu yah mas," ucap Nabila lembut.
Azmi langsung bangun dan duduk saat sadar bahwa Nabila ada di kamarnya.
"Kamu ngapain disini, siapa yang suruh kamu masuk?" Tanya Azmi dengan nada kesal.
"Aku mau ngebangunin mas buat sholat subuh berjamaah bareng," jawab Nabila sambil menunduk.
"Dan siapa yang suruh kamu masuk ke kamarku?" Tanya Azmi.
"Hatiku yang menyuruh," jawab Nabila.
"Sekarang kamu keluar dari kamarku dan pergi sholat sendiri!" Bentak Azmi kesal.
"Tapi Mas...."
"Pergi sekarang atau aku..." Ucap Azmi memotong ucapan Nabila.
Nabila langsung pergi keluar sambil menangis karena dibentak oleh suaminya. Sejak kecil Nabila tak pernah di bentak oleh siapapun bahkan orangtuanya. Bila pun ia berbuat salah, orangtuanya akan memarahinya tapi tidak sampai membentaknya.
Cita-citanya sholat berjamaah bersama suami hancur saat itu juga. Hatinya pun hancur lebur saat mendengar bentakan dari Azmi. Keinginannya memiliki suami yang baik, sholeh, bertanggung jawab hilang seketika.
Nabila pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan sholat subuh. Dengan begitu hatinya akan tenang. Seusai sholat Nabila tak lupa berdo'a agar suaminya di berikan hidayah.
Keesokan harinya.
Kini Nabila sedang menyajikan makanan di meja makan. Setelah itu Nabila menunggu suaminya datang. Tak lama Azmi datang sambil membawa tas kantornya. Nabila pun menghampiri Azmi.
"Mas, kita sarapan dulu, aku udah siapin makananya," ucap Nabila sambil tersenyum.
"Aku sedang buru-buru, aku sarapan di kantor saja." Ucap Azmi dingin.
"Atau mas mau dibawakan bekal?" Tanya Nabila.
"Tidak usah, aku beli makanan di kantor saja." Jawab Azmi dingin lalu melewati Nabila yang ada di hadapannya.
"Mas tunggu dulu," ucap Nabila membuat Azmi menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Azmi dingin tanpa menoleh ke belakang.
Nabila langsung mengahampiri Azmi. Lalu menarik dan mencium tangannya.
"Itulah kewajiban istri, dia harus menghormati suaminya dan mematuhi suaminya selagi itu baik," ucap Nabila sambil tersenyum.
Azmi tak menanggapai perkataan Nabila. Azmi melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kantor.
Setelah punggung Azmi menghilang dibalik pintu. Secara bersamaan senyuman di bibir Nabila pun menghilang.
"Aku akan berusaha membuatmu berubah mas." Lirih Nabila sambil menitikan airmata.
Hari ini Azmi berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Tapi Azmi tak langsung pergi ke kantor melainkan ke sebuah tempat makan untuk bertemu dengan seseorang.
Di lain tempat Nabila tengah bersiap-siap untuk pergi ke pasar karena bahan makanan akan habis. Tapi sebelumnya Nabila meminta izin kepada Azmi untuk pergi ke pasar. Nabila pergi ke pasar dengan berjalan kaki. Selain menghemat uang, sembari olahraga karena hari masih pagi. Dan jarak pasar dari rumah pun tak jauh hanya membutuhkan waktu 30 menit bila berjalan kaki.
Kini Nabila sedang memilih-milih sayuran dan bahan masakan yang ada di pasar. Walaupun masih pagi tapi pasar tetap ramai. Banyak ibu-ibu yang datang seperti hari ini. Ibu-ibu sedang sibuk tawar-menawar dengan penjual agar bisa mendapatlan harga yang murah.
Nabila pun sedang tawar-menawar harga dengan penjual sayuran. Hingga akhirnya perlombaan tawar-menawar dimenangkan olehnya. Setelah membeli kebutuhan dapur. Nabila langsung pergi untuk pulang. Tapi di tengah perjalanan ada seseorang yang memanggil namanya.
"Nabila," panggil orang tersebut.
Nabila pun menoleh ke arah sumber suara dan dia sangat bahagia ketika melihat orang tersebut.