My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 86



"Nara, ucapan mu lebih tajam dari sebilah pisau, apa kah kau sadar yang kau katakan tadi adalah aib seseorang? Dan apa kau lupa? Berkat Naya lah, tuan muda bisa pergi menemui Moza, dan asal kau tau, dia tidak hanya membawa kan kue untuk ku, dia juga menitipkan kue ini untuk mu sebagai tanda terima kasih, dia tidak lah menyukai aku,"


"Selama ini dia hanya menjadi kaki tangan sang papa yang sedang sakit, dan bisnis mereka sedang buruk atas permintaan tuan muda aku membantu mereka, kau sebaiknya tidak salah paham seperti ini,"


Romeo menjelaskan dengan lembut kepada Nara sambil memperlihatkan kue yang di bawa oleh Naya untuk nya.


"Tapi aku melihat nya begitu berusaha mendekati mu, apa yang bisa aku percaya diri wanita seperti itu? Dia pernah merusak kebahagiaan Moza," jawab Nara masih berkecamuk dalam keegoisan pikiran nya.


"Nara, cukup, bayangkan jika kau membuat kesalahan yang sama seperti yang di lakukan Naya di masa lalu nya, lalu kau berusaha memperbaiki diri agar orang lain bisa melihat mu lebih baik dan melupakan masa lalu mu namun seorang pun tidak ada yang bisa mempercayai mu, itu lah yang di rasakan Naya saat ini, coba kau pikir kan, jika dia memang jahat, buat apa dia mengatakan keberadaan Moza kepada Samuel, dia pasti akan melakukan segala cara untuk merebut Samuel karena Samuel tidak bisa menemukan Moza,"


Jelas Romeo panjang lebar kepada Nara, setelah mengatakan itu Romeo pun duduk diam dengan menatap wajah Nara yang kini terlihat berbuah.


Nara kini tak mampu lagi menjawab perkataan Romeo, dia akhirnya berfikir atas apa yang sudah dia lakukan, seharusnya dia tidak sekejam itu mengatakan bahwa Naya adalah mantan pelakor.


Air matanya pun mulai mengalir, menyesali apa yang sudah dia lakukan kepada Naya hari ini, Moza pun menangis sesenggukan.


Romeo yang melihat itu, kembali berdiri dari duduknya dan kemudian menarik Nara ke dalam pelukan lalu mendekap nya panuh kasih sayang.


"Sudah lah, kau masih bisa minta maaf dengan nya, jadi jangan menagis, aku tidak mau kau menangis, maaf kan aku jika aku membuat mu merasa khawatir, aku tau trauma masa lalu mu tidak biasa di hilang kan, nanti malam kita ke rumah Naya untuk minta maaf dengan baik-baik," ucap Romeo menenangkan Nara agar tidak menangis lagi.


"Tapi aku, aku benar-benar tidak tau mengapa mulut ku bisa setajam ini mengeluarkan kata-kata," jawab Nara sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang Romeo.


"Iya, aku tau, sudah jangan menangis, kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan Naya nanti malam," ucap Romeo lagi.


Sementara itu di rumah Naya.


"Naya, apa kau yakin akan pergi meningal kan papa sendiri? Papa baru saja sembuh kau sudah mau pergi, kemana kau akan pergi nak? Dan mengapa kau tiba-tiba saja pergi?" tanya papa Hanan kepada Naya.


"Pa, aku akan pergi ke kota x, aku merindukan Moza, aku ingin melihat keadaan nya di sana," ucap Naya sambil memegang koper yang sudah penuh dengan baju-baju nya.


"Astaga, kau ini, mengapa tidak menunggu Samuel membawa nya pulang saja? Papa khawatir jika kau pergi ke kota x sendiri," ucap papa Hanan sambil geleng-geleng kepala.


"Pa, aku kan sudah dewasa, bukan anak kecil, buat apa papa khawatir, aku juga belum yakin Samuel akan bertemu dengan Moza, jika masih belum bertemu dia pasti butuh bantuan ku, ingat pa, Samuel sudah banyak membantu kita," jelas Naya lagi.


Sang papa terdiam, meskipun ia kebingungan dengan mata Naya yang semabab sekaligus tiba-tiba hendak berangkat ke kota x, namun dia percaya jika Naya memang sedang merindukan Moza atau ingin pergi membantu Samuel.


"Baik lah kalau begitu, tapi ijinkan papa yang mengantarkan mu ke bandara," jelas papa Hanan.


"Baik lah, ayo pa," jawab Naya tidak ragu dengan permintaan papa nya.


Mereka pun kemudian berngkat ke bandara siang itu, papa Hanan mengantarkan Naya sampai ke bandara bukan karena curiga anak nya berbohong, tapi karena dia ingin Naya selamat sampai tujuan.


Sang papa pun memilih untuk kembali ke rumah untuk istirahat.


"_pa, sebenarnya tujuan ku ke kota x bukan lah hanya sekedar untuk menemui Moza atau Samuel, tapi aku tidak ingin terus membuat hubungan Romeo dan Nara jadi berantakan, dan aku juga tidak kuat atas tuduhan yang di berikan Nara kepada ku sampai mengungkit masa lalu buruk itu_" Batin Naya sambil menatap sedih ke arah luar jendela pesawat itu.


_" semoga saja aku bertemu dengan dokter Robi dan bisa mendekati nya, haha, aku sungguh membayang kan bertapa tampan nya dia, selama tiga tahun ini aku masih menyimpan ras cinta ku kepada nya"_ batin Naya sejenak melupakan kesedihannya dan memikirkan tentang Robi orang yang dia sukai.


Malam pun tiba.


Kini Nara dan Romeo sudah tiba di rumah Naya, mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah besar tersebut.


Tok ... Tok ... Tok ...


Beberapa kali Romeo mengetuk pintu rumah tersebut untuk memastikan apakah ada orang di dalam nya.


Tidak lama kemudian, pintu itu pun terbuka dan terlihat seorang pelayan.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan itu kepada Romeo.


"Aku tamu nya, pak Hanan," jawab Romeo lagi.


"Oh, baik lah, silahkan masuk, pak Hanan ada di ruang kerja nya, akan saya pangil kan monoh menunggu di ruang tamu ya tuan, nona," jawab si pelayan dengan sopan santun nya.


Romeo dan Nara pun mengangguk paham dan kemudian duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu papa Hanan.


_"Mengapa aku tidak melihat Naya? Apa dia sedang mengunci dirinya di dalam kamar?"_ Batin Nara.


Tak lama kemudian papa Hanan pun terlihat menuruni tangga untuk menemui tamu nya.


"Selamat malam pak Hanan, maaf kalau kami mengangu," ucap Romeo.


"Wahh, kalian datang ya, calon pengantin," ucap papa Hanan sambil tersenyum dan kemudian duduk berhadapan dengan Nara dan Romeo.


"Pak, maaf, di mana Naya?" tanya Nara tidak sabar dan tidak menunggu basa-basi lagi.


"Naya? Apa dia tidak mengatakan apa-apa kepada kalian? Atau sekedar kata pamit?" tanya papa Hanan yang selalu mengira hubungan Romeo, Nara dan Naya baik-baik saja karena Naya selalu menceritakan tentang Nara dan Romeo yang tidak lama lagi akan menikah.


Nara dan Romeo saling pandang dan kebingungan, mereka tidak tau apa yang di maksud oleh papa Hanan dengan Naya yang berpamitan.


Bersambung ....