
"Maaf, maaf kan aku, aku terlalu khawatir."Ucap Samuel.
"Kau membentak ku."Jawab Moza lagi.
"Itu karena kau tidak memikirkan kesehatan dan keselamatan mu sebelum kau bertidak sesuatu."Bujuk Samuel dengan lembut.
"Iya aku tau aku salah, aku minta maaf sudah merepotkan."Jawab Moza masih menagis.
"Sudah jangan menagis, aku akan mengoles kan salep ini ke tubuh mu, agar kau cepat sembuh."Ucap Samuel melepaskan pelukan tersebut dan menatap Moza lalu mengelap sisa air mata Moza.
"Baik lah."Jawab Moza dengan wajah manyun.
Kedua nya kini semakin dekat, Moza bahkan sudah berani bersikap manja kepada Samuel, dia juga tidak terlalu memikirkan lagi tentang kontrak atau masa lalu itu, yang Jelas saat ini laki-laki baik yang menjaga nya adalah Samuel.
Sementara itu.
"dasar bodoh! Tidak berguna! Melakukan tugas seperti itu saja kau tidak becus! Jadi apa gunanya kau sekarang?"Ucap Ferdi kepada Ayu yang kini menangis di hadapan nya dengan berlutut.
"Ferdi sudah lah, semua ini bukan keahlian Ayu, mengapa kau malah memarahi nya terus menerus? Dia sudah di pecat dari perusahaan itu karena kau."ucap Bu Yani yang selalu berada di pihak Ayu.
"Itu lah, karena ibu selalu membela nya, dan mengiyakan semua yang dia inginkan, jadi sekarang dia tidak berguna, tidak bisa di andalkan dan nama ku jadi tercemar. Samuel juga jadi tau aku yang menyuruh nya mencuri."Ucap Ferdi dengan sangat kesal.
"Sudah lah mas, semua nya sudah tidak ada gunanya di perdebatkan, kita cari jalan lain saja."Ucap Naya memegang tangan Ferdi.
"Tidak berguna seperti ini, bermimpi mendapatkan Samuel, kau tidak pantas untuk siapapun!"Ucap Ferdi yang kemudian berjalan pergi dari hadapan Ayu bersama dengan Naya mereka masuk ke dalam kamar mereka.
"Bu,hikss, ini bukan salah ku, hiksss, dan sekarang aku sudah tidak punya kesempatan lagi di mata Samuel aku hanya lah orang bodoh yang menyelinap ke ruangan nya untuk mencuri."Ucap Ayu sambil menagis memeluk ibunya.
"Sudah lah, kau tidak perlu memikirkan nya lagi, kau bisa mencari laki-laki lain yang lebih baik dari Samuel, dia juga sudah memiliki Moza yang tidak mungkin bisa kau kalah kan."Ucap Bu Yani yang kini sudah menyerah untuk mendukung Ayu.
"Tidak! Tidak mau! Aku hanya mencintai Samuel! Tidak!"Jerit Ayu seolah furstasi berlari masuk ke dalam kamar nya.
"Astaga, anak itu benar-benar tidak bisa di kontrol jika sudah menginginkan sesuatu."Ucap Bu Yani yang mengira Ayu hanya sedih biasa.
Bu Yani pun tak mempedulikan nya lagi, dia pun membiarkan Ayu untuk menenangkan diri dan menerima semua kenyataan ini.
Sementara itu di dalam kamar Ferdi dan Naya.
"Bagaimana ini? Kita sudah gagal memanfaatkan Ayu dan sekarang kau lah yang harus turun tangan sendiri mas."Ucap Naya kepada Ferdi.
"Iya, aku tau tapi itu tidak mudah."Ucap Ferdi lagi.
"Aku yakin kau pasti bisa melakukan nya mas, kita bisa pergi menyelinap ke kantor itu malam, dan mengambil semua yang di minta oleh papa mu."Ucap Naya kepada Ferdi.
"Maksud mu, aku menjadi penyusup malam-malam Pergi ke kantor Samuel untuk mencuri?"Tanya Ferdi lagi.
"Ya, iya seperti itu lah, kalau tidak mau bagaimana lagi?"Ucap Naya.
"Baik lah, aku akan coba."Ucap Ferdi kepada Naya.
"Bagus mas, aku suka dengan keberanian mu."Ucap Naya lagi.
"Malam ini aku akan menjalankan rencana kita, kau tidak perlu ikut."Ucap Ferdi lagi.
"Baik lah, jika ada apa-apa, segera beritahu aku."Tutur Naya sambil tersenyum.
Sungguh tindakan yang bodoh yang akan di ambil oleh Ferdi, dia berfikir jika saat malam hari kantor itu tidak akan ada orang, tentu saja salah.
***
Malam harinya.
Benar saja, Ferdi benar-benar menjalankan rencana nya, dia memakai pakaian serba hitam, dan bernagkat mengunakan mobil untuk pergi ke kantor Samuel.
Sementara itu Naya menunggu di rumah dengan gelisah dan berharap rencana Ferdi kali ini berjalan lancar.
Sementara itu di sisi lain.
Namun sayangnya, dugaan Ferdi salah, ternyata di sana masih banyak karyawan dan juga scurity yang stay berjaga.
"Hey! Siapa kau! Berani nya masuk tanpa ijin!"Ucap seorang scurity yang ada di belakang Ferdi saat Ferdi baru saja berhasil masuk ke dalam perusahaan tersebut.
"Astaga ternyata tidak semudah yang aku kira."Batin Ferdi yang saat ini memakai topeng hitam layaknya mailing.
"Maling ya! Ucap secruiti tersebut yang kemudian mengejar Ferdi.
Ferdi yang belum jauh dari pintu masuk kantor pun bergegas keluar dari kantor itu dan masuk ke dalam mobil nya kembali, ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kurang ajar! Maling itu lolos!"Ucap secruiti tersebut terlambat.
"Arghhhh! Bodoh! Bodoh! Ini semuanya terjadi gara-gara papa nya Naya! Orang tua kurnag Hajar itu benar-benar banyak maunya!"Ucap Ferdi begitu marah sambil beberapa kali memukul stir mobil nya.
Karena malam sudah terlalu larut, mata nya juga sangat mengantuk serta emosi yang tidak bisa di kontrol, Ferdi pun semakin menjadi-jadi mengemudi mobil dengan sangat laju, Tampa dia sadari di hadapan nya ada sebuah truk yang lewat dengan kecepatan sedang.
Ferdi yang tak menyadari nya pun terus melajukan mobilnya dengan caci maki yang terus keluar dari dalam mulutnya itu.
"Aaaaaaaa!"Jerit Ferdi saat setelah menyadari mobil nya akan menabrak truk yang ada di hadapannya, mobil pun tak lagi bisa di remdan akhirnya ...
Brak ... Brak ...
Suara benturan dua benda besar yang bertabrakan itu kini membuat orang-orang di sekitar nya kaget dan berlari ke lokasi kecelakaan.
Keesokan harinya.
"Bagaimana kondisi anak saya dokter?"Tanya Bu Yani yang saat ini dengan air mata yang berlinang.
"Pasien berhasil melewati masa kritis nya, dan baru saja siuman."Ucap dokter yang menangani Ferdi.
"Dokter suami saya tidak apa-apa kan? Boleh kah saya masuk untuk menjenguk nya?"Tanya Naya memegang tangan sang dokter, memohon agar dirinya di boleh kan masuk ke dalam ruang rawat Ferdi.
"Baik lah, mari ikut saya."Jawab sang dokter merasa tidak tega.
Bu Yani dan juga Naya pun mengikuti dokter tersebut masuk ke dalam ruang rawat Ferdi.
Keadaan nya pun terlihat begitu memprihatinkan saat ini, begitu banyak alat yang menempel di tubuh nya sebagai alat bantu.
"Hikss, Ferdi, anaku, mengapa bisa jadi seperti ini nak?"Tanya Bu Yani menghampiri Ferdi.
"Mas."Lirih Naya tak percaya jika laki-laki yang terbaring lemah di hadapan nya saat itu adalah Ferdi.
"Ibu, Naya, katakan kepada ku, mengapa kedua kaki ku tidak bisa bergerak? Mengapa aku tidak bisa menggerakkan nya?"Tanya Ferdi gelisah.
"Dokter, apa yang terjadi?"Tanya Naya.
"Dokter apa yang terjadi dengan kaki anak saya?"Tanya Bu Yani kaget.
"Kaki anak ibu, di nyatakan lumpuh total dan dia tidak akan bisa kembali berjalan normal."Ucap sang dokter lagi.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Bu, Naya, aku tidak mungkin lumpuh total! Tidak aku tidak mungkin lumpuh!"Teriak Ferdi furstasi setelah mendengar penjelasan dokter barusan.
"Ya Tuhan mengapa jadi seperti ini."Ucap Naya.
"Ini semua gara-gara kalian! Naya, papa mu lah yang membuat aku menjadi seperti ini! Jika saja dia tidak bodoh dan meminta hal yang tidak mungkin bisa dia dapat kan, aku pasti tidak akan jadi seperti ini!"Ucap Ferdi mengamuk.
"Mas, tapi ini bukan salah ku."Jawab Naya.
Plak ... Plak ...
Dua tamparan keras dari Bu Yani berhasil mendarat di pipi Naya.
Bersambung ....