My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 13



Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an membangunkan Azmi dari alam mimpi. Matanya mengerjap untuk menetralkan cahaya yang masuk. Matanya yang terbuka menangkap sosok wanita yang memakai mukena tengah membelakanginya. Wanita itu tak lain adalah istrinya, Nabila. Dia tengah membaca Al-qur'an ,kebiasaannya setelah menunaikan sholat. Azmi bangun dan duduk di sofa tampat ia tidur selama ini. Matanya masih terfokus pada Nabila yang membelakanginya. Azmi langsung pura-pura tidur saat Nabila menyelesaikan bacaannya dan membuka mukenanya.


Aulia pun menaruh kembali Al-Qur'an dan mukena yang baru saja ia kenakan, kemudia ia menghampiri Azmi yang sedang tertidur. Tepatnya pura-pura tidur. Tangan kanannya mengelus lembut kepala Azmi.


"Hari ini adalah hari terakhir mama disini. Dan hari terakhir juga aku tidur disini. Semoga suatu saat kita bisa seperti ini. Tapi mungkin ini hanya anganku. Anganku terlalu tinggi bila harus memiliki hatimu seutuhnya.Atau bahkan kamu yang akan memberikan hatimu kepadaku, mungkin TIDAK." Nabila tersenyum kecut. Airmatanya mulai menetes. Tapi dia buru-buru menghapusnya. Setelah itu ia pergi keluar kamar untuk menememui ibu mertuanya.


 


Sesaat setelah Nabila kamar, Azmi langsung bangun setelah mendengar suara pintu tertutup. Itu tandanya Nabila telah keluar sepenunya dari kamarnya. Ada rasa bersalah dan nyaman dalam hati Azmi. Rasa bersalah karena telah membuat Nabila bersedih seperti ini. Rasa nyamannya itu saat Nabila mengelus lembut kepalanya.


Nabila pergi ke kamar yang ditempati ibu mertuanya setelah mencarinya di dapur dan tidak ada.


"Ma, mama lagi ngapain?" Tanya Nabila saat masuk ke dalam.


"Mama sedang siap-siap. Kan hari ini mama mau berangkat ke Semarang." Jawab ibu Yuni sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


Sebenarnya Nabila sudah tahu kalau hari ini mertuanya akan pergi keluar kota. Sedih rasanya bila harus berpisah dengan mertuanya. Wanita itu sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.


"Ah, aku jadi rindu Umi," batin Nabila.


 


"Mama sini biar Bila bantu berkemas," tawar Nabila sambil mengambil baju ibu mertuanya. Tapi ibu Yuni melarangnya.


"Lebih baik sekarang kamu masak. Ini biar mama yang urus. Kamu tidak usah repot-repot membatu mama yang masih kuat ini," tolak ibu Yuni sambil tersenyum.


Nabila mengangguk. Ia lupa kalau dia belum masak sarapan. Nabila bergegas pergi ke dapur dan memasak. Ia mulai memotong bawang dan bahan-bahan lainnya. Karena menu hari ini adalah masi goreng dengan sosis, ayam suwir dan telur mata sapi.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang bahunya yang membuatnya terkejut. Lalu Nabila menoleh ke arah belakang. Ternyata Azmi tengah berada di belakangnya dan tangan pria itu masih berada di bahunya.


"Lagi masak apa?" Azmi bertanya dengan nada lembut tak seperti biasanya, yang embuat abila merasa aneh. Memang selama mertuanya disini Azmi selalu berkata lembut bila di depan mertuanya. Tapi kali ini nadanya lebih lembut.


"Lagi mau masak nasi goreng, mas. Mas singkirkan tanganmu dari bahuku. Aku sedang memasak." Ucap Nabila menggoyangkan bahunya agar tangan suaminya segera melepaskan bahunya


"Gak mau," tolak Azmi.


Mata Nabila mengelilingi ruangan dan benar disana ada mertuanya. Pantas saja suaminya seperti itu.


"Ok. Kalau mas gak mau singkirkan tangan mas. Aku gak bakalan masak." Ancam Nabila sambil melepaskan pisau yang di pegangnya.


"Baiklah baiklah. Aku mengalah. Daripada aku harus kelaparan karena tak sarapan." Azmi menyingkirkan tangannya dari bahu sang istri dan berlalu pergi menuju meja makan.


Kini sarapan telah tersaji rapi di meja makan. Acara sarapan pagi pun dimulai, mereka tengah menikmati sarapan dalam keheningan. Tak ada suara selain suara sendok dan piring yang beradu.


"Mah, kapan mama berangkat ke Semarang nya?" Tanya Azmi setelah selesai menghabiskan sarapannya.


"Sepertinya kamu ingin mama cepat-cepat berangkat," jawab ibu Azmi sambil menaruh sendok di piring dengan wajah yang tidak suka.


"Bukan itu maksud Azmi ma. Mungkin Azmi bisa mengantar mama," Azmi mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang ibunya rasa.


"Mama cuman bercanda kok. Mama akan berangkat jam sepuluh nanti," ibu Yuni tertawa saat melihat ekspresi putranya.


Kini ibu Yuni tengah berpamitan dengan menantunya. Karena Nabila tak bisa mengantarnya dikarenakan hari ini ia harus menjadi panitia di sebuah pengajian.


"Maafkan mama. Kalau selama ini mama selalu merepotkan kalian. Dan juga menganggu kebersamaan kalian." Ucap ibu Yuni sambil menatap Nabila.


"Tidak, ma. Mama sama sekali tak merepotkan kami. Malahan kami senang mama bisa nginep disini. Dan mama pun tak menganggu kebersamaan kami kok iya kan mas?"  Nabila mengenggam tangan mertuanya. Lalu menoleh ke arah Azmi sekilas.


"Malahan karena kedatangan mama. Aku bisa merasakan perhatian seorang suami pada istrinya dengan tulus." Batin Nabila.


"Iyah, ma. Kami berharap mama bisa tinggal lagi disini lebih lama. Dan maaf kalau mama merasa kekurangan disini," ucap Azmi sambil menatap sang mama yang akan pergi ke Semarang. Ada rasa sedih dan senang saat mamahnya pergi. Sedih karena ia harus jauh lagi dari mamahnya dan senang karena bisa bertemu lagi dengan Mella. Karena selama ibunya tinggal disinu ia jaerang bertemu kekasihnya, Mella.


"Mama tak merasa kekurangan kok. Malah mama senang bisa tinggal disini. Dan kamu Bila. Makasih sudah mengajak mama pergi ke majelis. mama merasa sangat damai dan senang saat pergi kesana. Kamu benar-benar istri yang sholehah. Ya sudah, berhubung sudah jam sepuluh  mama pamit dulu ya," pamit ibu Yuni. Airmatanya mulai menetes karena harus terpisah dengan menantu dan putranya.


Nabila menyalami sang ibu mertua sebelum mertuanya masuk kedalam mobil.


"Oh iya. Mama  pengen kalian punya anak. Karena mama pengen ngegendong cucu kayak yang lainnya. Assalamualaikum." Pesan ibu Yuni sebelum masuk ke dalam mobil.


Airmata Nabila tak bisa terbendung lagi saat mobil suaminya menghilang di pertigaan. Nabila menatap pintu rumah yang baru kemarin di beri kebahagian kini kembali seperti saat pertama masuk, sepi, sunyi, dingin dan hampa.


Keadaan akan kembali seperti semula. Ia hanya dianggap seperi pajangan di rumah ini. Tak akan ada perhatian dari sang suami walau itu hanya sandiwara. Tak akan terlelap bersamanya dalam sati ruangan.


Setelah mertuanya pergi itu hanya akam menjadi angan dan kenangan. Angan yang mungkin bisa tercapai dan sebagai kenangan yang tak kan pernah bisa terlupakan. Rumah itu akan sunyi seperti sediakala. Seperti sebelum datangnya sang mertua. Rumah akan sunyi walau berpenghuni. Tak akan ada suara dan canda tawa seperti sediakala.


Sunyi sepi itulah yang akan terjadi setelah ini. Warna yang dulu menghiasi rumah ini. Kini telah pergi untuk mencari rezeki. Yang entah kapan kembali. Rumah yang selama dua minggu dihiasi oleh cinta. Kini akan terasa hambar dan hampa. Karena hanya akan tercipta kebisuan seperti waktu lalu. Pesan mertua pun hanya menjadi angan. Angan yang tak pernah akan tercapai.


Kini yang ia bisa lakukan hanya berangan dan berdo'a. Berdo'a supaya apa yang menjadi angannya akan terwujud dikemudian hari. Ia pun berharap semoga sang suami mau memberikan cinta dan hatinya kepada dirinya. Mencintai dan menyayangi apa adanya. Karena ia yakin semuanya akan indah pada waktunya. Ia harus bersabar karena itu adalah ujian dari sang Illahi. Apakah ia mampu mempertahankan rumah tangganya. Atau malah berakhir di pengadilan. Karena setiap masalah akan ada jalan keluarnya. Itulah yang ia pikirkan.


"Bismillah," ucap Nabila saat melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah.


Airmatanya mulai membasahi pipi, karena ia tak sanggup membendungnya lagi. Ia berjalan menuju kamarnya dengan airmata yang kian deras mengalir.