
"Moza, apa yang kau lakukan di pinggir jalan raya ini? Apa kau tidak lihat panas sangat terik," Lirih Samuel yang melindungi Moza dari sinar matahari yang saat ini benar-benar menyengat.
Moza menoleh ke arah Samuel, karena suara yang Benar-benar tidak asing di telinga nya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Moza marah dan seperti biasa dia selalu menatap Samuel dengan tatapan tajam.
"Aku tidak sengaja lewat dan melihat mu," jawab Samuel enteng.
"Tidak sengaja? Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu itu? Sekarang juga pergi dari sini, aku tidak maua ada yang melihat kau bersama Ki di sini," oceh Moza tak karuan.
Samuel pun kebingungan, dia berfikir siapa yang akan penduli dengan mereka, toh mereka adalah pendatang di kota x, memang nya siapa yang akan mengenali mereka.
Namun tiba-tiba saja ponsel Moza berdering, menandakan ada sebuah panggilan masuk.
Moza pun sejenak melupakan Samuel yang ada di sebelah nya dan mengambil ponsel lalu mengangkat telpon itu.
Call on
"Hallo, ada apa?" tanya Moza sambil menempelkan ponsel tersebut ke telinga nya.
"Buk, maaf, ibuk sudah di mana? Rapat nya sudah mau di mulai," jelas karyawan Moza yang ada di sebrang telpon.
"Aku masih di jalan, tunggu lima belas menit lagi, aku akan segera tiba," ucap Moza seketika panik setelah menerima telpon dari karyawan itu.
"Baik buk," Jawa nya yang kemudian mematikan telepon secara sepihak.
Call of
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Samuel lagi.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," jawab Moza cuek.
"Ban mobil mu kempes, dan sekarang sedang tidak ada taxi yang lewat, pakai lah mobil ku, biar aku yang mengurus mobil mu,"
Samuel mengulur kan kunci mobil nya kepada Moza.
Moza melihat itu, namun dia lebih memilih untuk tidak mempedulikan nya, karena dia tidak mau menerima kebaikan apapun dari Samuel.
"Moza, sekali ini saja kau tidak boleh egois, ayo pergi lah, aku akan mengurus mobil mu,"
Lagi-lagi Samuel mengatakan nya dengan lembut.
"Aku anggap ini adalah bantuan dari orang yang tidak aku kenal!"
Moza merampas kunci mobil Samuel dan kemudian masuk ke dalam mobil itu, lalu dia pun meninggalkan mobil nya dan juga Samuel di pinggir jalan.
Samuel yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil, karena bagi nya kemarahan Moza saat ini terlihat lucu.
"Keegoisan macam apa itu?" tanya Samuel kepada dirinya sendiri dan kemudian mulai mengurus mobil Moza yang bocor.
Cuaca yang sangat panas, membuat Samuel yang sedang memperbaiki mobil jadi penuh dengan keringat, ia mengganti ban mobil Moza dengan ban mobil serap yang ada di bagasi mobil tersebut, untung saja di dalam mobil itu lengkap dengan peralatan nya.
"Dia benar-benar teliti, sampai membawa alat-alat ini, tapi mengapa dia begitu mudah marah Sekarang?" batin Samuel sambil menyeka keringat nya, wajah nya kini terlihat kotor karena setiap menyeka keringat dia selalu menggunakan tangan nya yang kotor.
Sementara itu di sisi lain
"Buk, maaf, apa ibuk ganti mobil lagi?" tanya salah satu karyawan Moza yang kepo.
"Ganti mobil?" tanya Moza yang masih belum ingat.
"Iya, mobil nya baru lagi," jawab karyawan tersebut.
"Apa? Astaga,"
Moza kaget setengah melihat kunci mobil Samuel yang dia pegang, dan juga dia ingat pasti saat ini Samuel sedang menunggu nya di pinggir jalan, sudah hampir dua jam.
"Aku pergi dulu, kalian buka toko ya"" ucap Moza yang kemudian buru-buru pergi dari toko nya dan kemudian masuk ke dalam mobil lalu pergi.
Sementara para karyawan nya hanya bengong saja, melihat sang owner yang terlihat sangat tergesa-gesa.
Sementara itu ...
"Akhirnya selesai juga, dia benar-benar membuat aku lelah,tapi yasudah lah, dia adalah istri dan ibu dari anakku anggap ini perjuangan pertama," ucap Samuel sambil tersenyum.
Karena cuaca panas dan ia lelah, Samuel pun memilih masuk ke dalam mobil Moza yang ban nya sudah bagus di ganti nya, ia pun masuk ke dalam mobil tersebut untuk menghindari sinar matahari yang membuat kulit nya terasa terbakar.
Namun seorang Samuel tidak mungkin bisa duduk diam saja tanpa melihat sekeliling sudut dalam mobil itu, dia pun mulai menatap satu-persatu barang-barang Moza yang ada di dalam mobil tersebut.
Dan terlihat sebuah dompet berwarna putih yang ada di mobil tersebut, tentu saja itu milik Moza.
Samuel yang penasaran pun melihat dan kemudian membuka dompet itu.
Alangkah kagetnya dia, melihat foto nya dan Moza yang masih ada di dalam dompet tersebut, seperti nya itu adalah dompet lama yang selalu di bawa oleh Moza ke mana pun.
"Moza masih menyimpan foto ini?" ucap Samuel tertegun sendiri menatap foto dirinya dan sang istri tiga tahun lalu, foto itu di ambil saat mereka berada di rumah impian nya Moza dan ternyata Moza menjadikan satu palorid kecil dan menyimpan nya.
Di dalam mobil tersebut juga ada foto Hansel masih kecil, sekitar usianya lima bulan, itu sangat menggemaskan.
Namun tiba-tiba saja, dari kejauhan ia melihat mobil nya yang di bawa Moza tadi kembali ke tempat itu, seperti nya Moza sudah kembali dan ingin mengambil mobil nya lagi dari Samuel.
"Gawat, dia kembali, aku harus segera keluar sebelum dia memelintir kepala ku," ucap Samuel dengan tergesa-gesa kelaur dari dalam mobil tersebut.
Terlihat Moza yang turun dari mobil Samuel dan kemudian menghampiri Samuel.
"Mengapa muka mu seperti itu?" tanya Moza dengan tatapan datar nya.
"Aku sudah memperbaiki mobil nya, maksud ku ban nya sudah aku ganti, kau bsia membawa nya sekarang," jawab Samuel lagi.
"Baik, ini kunci mobil mu, terimakasih sudah membantu," ucap Moza menyerah kan kunci mobil Samuel kepada Samuel dan mengambil kunci mobil nya dari Samuel.
"Hanya terima kasih? Lihat lah betapa menyedihkan nya aku, karena mobil mu yang menyebalkan ini," jawab Samuel sambil menujuk mobil Moza.
"Jangan asal bicara tentang mobil ku, aku tidak meminta mu untuk memperbaiki nya, sekarang kau mau apa? Apa kau mau aku membayar mu? Kau butuh berapa?" ucap Moza lagi.
"Apakah aku terlihat miskin dan membutuhkan uang? Di sana ada restoran, aku mau kau mentraktir ku makan dan minum, aku lapar," rengek Samuel dengan sengaja.
Sejujurnya Moza sangat malas meladeninya, namun dia tak ingin memperpanjang masalah dengan Samuel, dia tau bagaimana Samuel akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengikuti nya terus, dia juga tidak bisa menjadi orang yang tidak tau berterima kasih.
Bersambung ....