
Terlihat Samuel yang duduk dengan tatapan kosong, bayangan di mana Moza begitu membela Robi di hadapan nya membuat dia sakit hati dan sangat cemburu.
"Sayang, apa kau mencoba membuat aku merasakan apa yang pada saat itu kau rasakan? Tapi mengapa ini terlihat lebih sakit?" lirih Samuel.
Namun tiba-tiba, Naya menepuk pundak nya dari belakang.
"Samuel, kau tidak akan menyarah begitu saja kan?" tanya Naya kepada Samuel, ia pun kemudian duduk di sebelah Samuel.
"Aku tidak tau, tapi sepertinya memang aku harus membahagiakan Moza, dengan berhenti menganggu nya, dia cukup nyaman dengan kehidupan nya saat ini," jawab Samuel sambil menunduk tak ingin melihat Naya, dia tidak sanggup untuk jujur kalau dirinya memang tidak biasa melepaskan Moza namun keadaan terus seperti ini.
"Tidak, aku mohon jangan menyerah Samuel, aku mohon, aku tidak mau kau melepaskan Moza dan Hansel, karena aku yakin Moza dan Hansel lebih membutuhkan mu, dari pada Robi, Robi bukan siapa-siapa," ucap Naya dengan air mata yang mulai mengalir deras.
Samuel yang kebingungan dengan tanggapan Naya pun menatap nya.
"Ada apa dengan mu? Mengapa kau begitu sedih? Apa kau menyukai Robi?"
Naya terdiam mendengar pertanyaan Samuel, dia hendak menjawab namun merasa sangat malu untuk jujur.
"Mengapa kau diam? Apa kau benar-benar menyukai nya?" Samuel pun kembali bertanya.
"Aku tidak tau, tapi sejak pertama kali aku melihat nya tiga tahun yang lalu, aku sudah sangat menyukai nya, bisa di bilang ini cinta pada pandangan pertama," jelas Naya.
Samuel sedikit terkejut dengan pernyataan Naya, pantas saja dia sampai datang ke sini, ternyata ia juga ingin mengejar cinta nya, pikir Samuel.
"Jadi karena itu kau ke sini?"
"Maksud mu?"
"Ya apa karena Robi kau datang ke kota x?"
"Bukan, sebenarnya tidak begitu juga, jadi ..."
Naya pun mulai menjelas kan kejadian dari awal sebelum dia datang ke kota x sampai pada saat ini.
"Apa? Itu benar-benar sulit, tapi kau harus memaklumi, Nara begitu karena masa lalu buruk nya, aku pikir sekarang dia tengah menyesal sudah menduduh mu seperti ini," ucap Samuel setelah dia mendengar penjelasan Naya barusan.
"Ya, aku paham, kau tidak perlu khawatir, aku sudah memaafkan nya."
"Terima kasih," jawab Samuel.
"Samuel, kau harus tau tentang Robi, aku harus mengatakan ini kepada mu, dia mungkin terlihat sangat menyukai Moza, tapi kau harus tau, sebenarnya Robi menyukai Moza itu karena Karina," jelas Naya tiba-tiba.
"Karina? Siapa lagi?" tanya Samuel kaget dan kebingungan.
"Ya, Karina itu adalah, almarhum istri nya Robi dan ... Blablabla,"
Lagi-lagi Naya menceritakan semua tentang Robi yang sudah pernah di ceritakan oleh Moza kepada nya.
"Apa yang kau katakan ini bukan rekayasa?" tanya Samuel dengan wajah serius.
"Bukan, dan kau tentu tidak boleh melepaskan Moza kepada Robi, aku khawatir dia mencintai Moza karena obsesi saja, karena Moza mirip dengan Karina, ini aku katakan bukan karena aku suka Robi tapi ini fakta yang aku lihat," jelas Naya lagi.
"Pantas saja, dokter Robi memang terlihat sangat aneh," ucap Samuel yang mulai menaruh secuil rasa curiga tentang Robi.
"Jadi karena itu aku tidak mengijinkan kau untuk menyerah begitu saja Samuel, kau harus kembali bersama Moza," ucap Naya yang memberikan semangat.
"Aku mengerti," jawab Samuel lagi dengan otak yang kini sudah mulai berputar memikirkan hal-hal yang terjadi beberapa hari ini.
Satu Minggu kemudian.
Sementara toko nya, di ambil alih oleh Naya, yang kini memilih untuk jadi asisten nya Moza mengelola toko agar Moza lebih fokus dengan kesehatan Hansel.
Pagi itu, Samuel memberanikan diri untuk datang ke rumah Moza, ia membawa mainan untuk Hansel dan juga buah-buahan segar.
"Mengapa akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengikuti aku?" batin Samuel sesekali sambil melihat ke kaca mobil untuk memastikan apakah ada orang yang sedang mengikuti nya atau tidak.
Namun tidak ada orang yang mengikuti nya sama sekali, dia hanya parno saja.
Tidak butuh waktu lama, dirinya pun akhirnya tiba di alamat yang sudah hapal di otak nya, meskipun kertas yang di tulis oleh sang karyawan habis tercuci dengan pakaian nya.
"Ini rumah nya? Ya, aku rasa ini adalah rumah nya,"ucap Samuel.
Samuel pun turun dari mobil nya dan membawa semua barang-barang yang tadi dia beli, ia pun masuk ke pertarungan rumah tersebut, terlihat BI Juni yang saat itu sudah tak asing di matanya karena sudah bertemu di RS, dia sedang menyiram bunga.
"Permisi," ucap Samuel kepada BI Juni.
"Iya tuan, ada apa ya?" tanya bi Juni sambil berusaha mengingat-ingat wajah orang yang kini berdiri di hadapan nya.
"Saya Dady nya Hansel bi, boleh saya masuk?" tanya Samuel sambil tersenyum.
BI Juni seketika terdiam, dia memang ingin Robi berjodoh dengan Moza, namun hati nurani nya tidak pernah bisa kalah dengan keegoisan.
"Emm, baik lah, tunggu sebentar ya tuan, akan saya pangil kan nona Moza dulu," ucap BI Juni yang juga tidak mau semabrangan mengijinkan Samuel masuk.
"Terima kasih banyak bi," jawab Samuel yang kemudian menunggu di luar.
BI Juni pun buru-buru masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Moza.
Selang sepuluh menit kemudian, terlihat Moza yang berdiri di depan pintu sambil menatap ke arah Samuel.
Setelah itu dia pun mulai berjalan untuk menghampiri Samuel.
"Ada apa?" tanya nya kepada Samuel dengan ketus.
"Aku ingin bertemu dengan Hansel," jawab Samuel lagi.
"Dia sudah tidur, " ucap Moza singkat.
"Sayang sekali, aku hanya ingin melihat keadaan nya, tapi ya sudah lah, aku juga tidak bisa memaksa, tapi apa aku boleh menitipkan barang-barang yang ku beli untuk nya kepada mu?" tanya Samuel lagi.
"Anakku, tidak kekurangan sedikit pun, jadi kau tidak perlu khawatir untuk memberikan nya sesuatu," jawab Moza.
"Momy!" Namun tiba-tiba saja Hansel berteriak dengan berlari keluar dari rumah tersebut.
"Kau membohongiku?" ucap Samuel yang kemudian berlari ke arah Hansel dan mengendong nya.
"Sayang nya Dady," ucap Samuel tidak memperdulikan tatapan tajam dan bengong nya Moza melihat itu.
Namun wajah Hansel terlihat sangat bahagia ketika di gendong Samuel, getaran hebat itu mungkin sangat terasa ketika sang Dady memeluk nya, tidak ada yang bisa mengungkiri bahwa ikatan antara Samuel dan Hansel itu sangat lah kuat.
"Samuel apa yang kau lakukan? Turun kan dia, lepas kan anakku, berikan dia kepada ku," ucap Moza hendak mengambil Hansel dari Samuel.
"Moza, tolong, berikan aku waktu untuk bermain dengan nya, walaupun hanya tiga puluh menit," ucap Samuel memegang erat Hansel dalam pelukan nya.
Moza kesal, namun ia juga tidak bisa berkata apa-apa selain mengijinkan nya.
Bersambung ....