
Deg ... Jantung Moza mulai tidak karuan, dia berfikir mengapa pertanyaan yang seperti ini di lontarkan kepada nya? Bukan kepada Samuel dan seharusnya mama nya Samuel mungkin sudah tau banyak tentang dirinya dari Samuel bukan?
"Maaf ma, apa sebelum nya Samuel tidak menjelaskan apa-apa kepada mama?" tanya Moza.
"Haha, lucu, kau ini malah balik bertanya kepada ku, memang nya apa susah nya kau jawab saja semua pertanyaan ku?" tutur mama Ema kepada Moza, sikap mama Ema setelah tidak ada Samuel di samping Moza jadi sedikit lebih aneh dan berubah total dari sikap ramah nya yang tadi.
"Maaf ma, soal pertanyaan itu mungkin aku kurang bisa menjelaskan nya, mama lebih baik menanyakan nya kepada mas Samuel saja," tutur Moza kepada mama mertua nya yang bermuka dua itu.
"Baik lah, lanjut makan saja, dan jangan katakan tentang pertanyaan ku ini kepada Samuel, anggap saja tidak ada yang terjadi," ucap mama Ema yang kemudian melanjutkan makan nya.
Makan siang itu pun berlalu, perasaan Moza semakin tidak enak atas kedatangan mama nya Samuel ini, ia merasakan bahwa dirinya dan Samuel akan menemui tantangan baru.
Malam harinya.
Mama Ema memutuskan untuk tinggal di mansion nya Samuel, bersama Samuel dan juga Moza tentu nya.
Hal ini semakin membuat Moza merasa tidak nyaman karena sikap mama Ema yang menurut nya agak berbeda.
"Sayang, apa yang terjadi? Apa ada masalah? Aku melihat mu hari ini begitu tidak bersemangat, padahal tadi kau baik-baik saja dan sangat bahagia," ucap Samuel sambil memegang kedua pipi Moza.
Saat ini, Samuel dan Moza sedang berada di dalam kamar mereka di mansion sementara itu mama Ema di kamar nya.
"Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja," jawab Moza menyembunyikan kegelisahan nya dari Samuel.
"Kau masih memikirkan tentang mama? Sayang, ini baru permulaan,kau memiliki banyak waktu untuk membuktikan kepada mama, jika kau memang wanita yang tepat untuk ku," tutur Samuel berusaha membuat semangat istri tercinta kembali.
"Hm, baik lah, ayo tidur, aku sangat lelah."Moza merebahkan tubuh nya dan menarik selimut hingga menutupi dada nya.
Sementara itu Samuel merasa sedikit aneh karena tidak biasa nya Moza sedikit cuek dan Samuel juga merasa ada hal yang di sembunyikan oleh sang istri.
Namun ia pun menepis semua pikiran buruk tersebut dan ikut merebahkan tubuh nya di samping Moza sambil memeluk erat tubuh Moza.
Keesokan harinya.
Sepeda biasa, pagi-pagi Samuel sudah pergi ke kantor untuk bekerja.
Kini di meja makan hanya tinggal Moza dan juga sang mama mertua.
"Moza, apa kau tidak ada pekerjaan?" Lagi-lagi mama Ema melontarkan pertanyaan yang membuat hati Moza tidak enak.
"Em, aku tidak di ijinkan bekerja oleh mas Samuel ma," jawab Moza singkat sambil tersenyum tipis.
"Baik lah, bagaimana jika pagi ini kau temani aku jalan-jalan keliling kota ini, jujur saja aku yang sudah lama tidak kembali ke sini penasaran dengan perubahan kota ini, mau kah kau menemaniku berbelanja dan jalan-jalan?" tanya mama Ema kepada Moza.
Moza yang mendengar itu sontak merasa senang, ia berfikir hal ini akan lebih baik di iya kan, karena ini adalah kesempatan bagi nya untuk mendekatkan diri kepada mama Ema agar mereka lebih akrab lagi.
"Mengapa diam? Apa kau keberatan?" tanya mama Ema menaikkan satu alisnya.
Mama Ema pun mengangguk sambil tersenyum tipis.
Benar saja, setelah beberapa puluh menit kemudian, mereka pun pergi dari mansion tersebut untuk jalan-jalan, mereka mengunakan sopir pribadi Samuel yang biasanya menemani Moza kemanapun Moza pergi.
Sementara itu di sisi lain.
"Ferdi, ibu keluar sebentar, ingin menjenguk Ayu dulu di RSJ kau jangan kemana-mana, tunggu di rumah sampai ibu pulang ya,"Ucap Bu Yani kepada Ferdi yang saat ini hanya duduk diam di atas kursi roda dengan tatapan kosong nya.
Ya, sejak kejadian itu, Ferdi benar-benar semakin terpukul atas karma yang menimpa nya, saat ini dia bahkan tidak lagi bicara apapun hanya diam dan diam.
Setelah mengatakan itu, Bu Yani pun keluar dari rumah nya dan masuk ke dalam taxi yang sudah di pesan oleh nya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan Moza, karena dia lah yang sudah menyebabkan anak-anak ku jadi menderita, aku tidak akan membiarkan nya nya hidup tenang," batin Bu Yani yang semakin hari semakin tak sadar akan semua yang terjadi adalah karena dirinya sendiri.
Ia pun pergi ke RSJ untuk melihat kondisi Ayu, setelah sampai di sana, dia pun bertemu dengan Ayu, namun itu tidak lama, hanya beberapa menit sja Bu Yani pun kembali keluar dari RSJ tersebut dan kembali masuk ke dalam taxi.
"Huh, hati ku benar-benar di buat hancur beberapa Minggu belakangan ini, seharusnya aku melakukan sesuatu untuk menenangkan pikiran, agar aku bisa berfikir, bagaimana caranya aku bisa membalas semua dendam ku kepada perempuan sial itu," batin Bu Yani.
"Kita akan kemana lagi buk?" tanya sang sopir taxi kepada Bu Yani.
"Antar saya ke mall xx pak," jawab Bu Yani.
"Baik buk." Sang sopir pun dengan sigap mengiyakan ucapan Bu Yani.
Tidak butuh waktu lama, Bu Yani pun akhirnya tiba di sebuah mall mewah di kota tersebut, dengan sisa uang yang dia miliki, dia berfikir untuk berbelanja beberapa baju untuk dirinya dan juga Ferdi, tentu nya untuk usaha membuat Ferdi kembali ceria batinnya.
Ia pun mulai memilih-milih pakaian, ia merasa sedikit lega sudah bisa menenangkan pikiran dengan berbelanja.
Sementara itu tak jauh dari tempat Bu Yani memilih pakaian nya ...
"Moza, kau ini sudah menjadi istri nya Samuel kan? Jadi kau harus lebih memperhatikan pakaian mu, cara kau berpakaian, kau adalah menantu dari keluarga terhormat,jadi untuk itu aku akan membalikkan mu beberapa set pakaian baru yang bagus, aku tau kau tidak pernah meminta Samuel membelikan nya bukan?" tanya mama Ema kepada Moza sambil memilih pakaian merek mahal di mall tersebut.
"Apa? Mahal ma? Ma, pakaian yang aku pakai saat ini aja satu stelan sudah mencapai lima puluh juta dari mas Samuel, tolong jangan belikan pakaian baru lagi untuk ku," tolak Moza merasa itu benar-benar mubazir uang.
"Tidak perlu membantah apa yang aku katakan, kau cukup iya kan saja," ucap mama Ema yang memang tidak suka di tolak keinginan nya.
Mendengar itu, Moza pun teridam dan pasrah,ibu mertuanya benar-benar sangat tidak bisa di bantah atau wajah nya akan berubah menjadi galak seketika.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Moza dan mama Ema, ada sepasang mata yang sedang menatap ke arah mereka, dan melihat gerak-gerik serta mendengar kan apa yang sedang di bincang oleh mama Ema dan Moza.
"Moza, dengan siapa dia? Apa aku tidak salah dengar? Dia memagil wanita cantik dan elegan itu dengan sebutan mama? Mana mungkin dia ada mama? Tapi tunggu, mengapa dia terlihat sangat gugup dengan perempuan itu?" Batin Bu Yani yang sedari tadi mengawasi Moza dan mama Ema.
Ya, mereka berada di tempat baju yang sama, hanya saja Moza tidak bisa melihat keberadaan Bu Yani karena dia bersembunyi di balik-balik banyak nya pakaian yang ada di mall tersebut.
Bersambung ....