My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 68



"Moza, apa yang membuat mu gelisah pagi-pagi seperti ini?" ucap Robi menghampiri Moza.


"Em, anu, aku ingin aku menunggu BI Juni," jawab Moza keceplosan.


"Apa? BI Juni ke mana?" tanya Robi lagi.


"Aduh, pakai keceplosan sekagla bodoh sekali aku ini," batin Moza.


"Selamat pagi, tuan Robi," ucap BI Juni yang tiba-tiba muncul padahal Moza berharap dia belum kembali karena ada Robi.


"Bu Juni, dari mana? Dan apa itu?" tanya Robi menujuk pelastik yang berisi mangga muda milik Moza.


"Oh, ini mangga muda untuk nona Moza, tuan Robi ada apa pagi-pagi ke sini?" ucap BI Juni lagi.


"BI Juni" dia adalah art Robi dan Karina dulu, dia juga sangat dekat dan di sayangi oleh Karina karena Karina orang nya sangat lah baik terhadap siapa pun, makanya bi Juni benar-benar kaget saat melihat Moza karena dia merasa kembali melihat Karina majikan yang sudah ia anggap anak sendiri.


"Moza, kau ingin makan mangga muda dengan apa?" tanya Robi kepada Moza dengan tatapan bingung nya.


Moza pun tak lagi bisa mengelak,mau berbohong bukan hobi nya seperti itu, dia pun akhirnya terpaksa jujur.


"Aku, Robi aku ingin minum jus mangga muda," ucap Moza sambil menutup wajahnya tak ingin menatap Robi.


"Apa? Jus mangga muda? Yang benar saja, kau bisa sakit perut karena asam sekali," jelas Robi dengan kaget nya.


"Tapi aku mau," jawab Moza dengan tangan yang masih menutupi wajah nya.


Entah kenapa dia tidak ingin menatap wajah Robi.


"Astaga, ada-ada saja, tidak boleh, kau akan merepotkan aku jika terjadi sesuatu, kau harus lebih menjaga kandungan mu, bukan kah kau sudah berjanji kepada ku? Dan kau BI Juni buang mangga itu aku tidak mengijinkan nya makan makanan aneh," ucap Robi yang kini peran nya malah seperti seorang suami dalam hidup Moza.


"Astaga, tuan Robi, jangan seperti itu, nona Moza sedang mengidam, jika kita tidak memberikan nya, bagaimana dengan anak nya nanti?" BI Juni membantu Moza untuk membujuk Robi.


"Mengapa kau menutup wajah mu?" tanya Robi meraih tangan Moza dan membuat Moza menatap nya.


"Aku mohon," ucap Moza sambil membulat mata menatap Robi.


"Ya Tuhan, yasudah lah, bi, buat kan sedikit saja, tidak boleh lebih dari satu gelas kecil, hanya untuk melepas rasa ngidam saja," perintah Robi.


"Baik lah tuan Robi, kalau begitu saya ke dapur dulu," ucap BI Juni kepada Robi.


BI Juni pun berjalan masuk ke dalam rumah menuju dapur, sementara Robi dan Moza masih di luar.


"Huh, terima kasih banyak, aku ingin melihat BI Juni membuat nya," ucap Moza dengan wajah bahagia hendak berjalan ke dapur mengikuti BI Juni.


Namun tangan nya di tahan oleh Robi.


"Tidak boleh, tunggu di sini, kau harus menghirup udara pagi dan juga berjemur di panas pagi agar tubuh mu mengeluarkan keringat," ucap Robi masih memegangi tangan Moza.


"Astaga, menyebalkan sekali," Gerutu Moza menatap Robi dengan tatapan marah.


"Apa? Mau marah dengan ku? Ingat,aku ini masih dokter pribadi mu, seorang pasien tidak pernah membantah ucapan dokter nya jika ingin selalu sehat," ucap Robi dengan wajah galak.


"Baik lah pak dokter ayo mulai berjemur," jawab Moza kesal.


" Siapa yang mau ikut berjemur dengan mu, aku tunggu di tempat teduh sana ya," ucap Robi menujuk kursi yang ada di depan teras rumahnya tepat tak jauh dari Moza berdiri.


"Robi kau!" Kesal Moza sambil menujuk wajah Robi.


"Aapa hm?" tanya Robi sambil mengatur posisi untuk segera duduk.


Moza pun hanya bisa mengurung kan amarah nya karena memegang diri nya dirinya tak bisa membantah ucapan Robi.


Tiga puluh menit pun akhirnya berlalu.


"Sudah selesai, sini duduk," ucap Robi kepada Moza.


Ia pun duduk di kursi yang ada di sebelah Robi sambil mengipas-ngipas kan tubuh nya dengan tangan nya.


Robi yang melihat itu pun kemudian mengambil tisu yang ada di depan nya, tepat di atas menja, dan kemudian mengelap keringat yang ada di dahi Moza.


Moza yang melihat itu sontak terdiam dan menatap Robi.


Tepat saat ibu BI Juni pun datang dengan membawa segelas kecil jus mangga muda yang berwarna putih kehijauan.


"Nona Moza, ini sudah jadi, ayo di coba,bibi juga sudah mendambakan susu, jadi tidak terlalu asam," jelas BI Juni kepada Moza sambil meletakkan jus tersebut di meja depan Moza dan Robi.


"Eh, em, iya bi, terima kasih," jawab Moza refleks mengambil tisu itu tadi Robi dan mengelap leher nya sambil tersenyum kepada BI Juni.


"Sama-sama nona, kalau begitu bibi kembali ke dalam,", ucap sang art yang kemudian melangkah kan kaki nya masuk kembali ke dalam rumah.


"Ayo, minum lah, setelah itu kau tidak boleh lagi meminta nya untuk kedua kali, apa kau mengerti?" tanya Robi lagi.


"Iya pak dokter," jawab Moza kesal dengan delikan mata.


Moza pun mengambil gelas jus tersebut dan kemudian meneguk nya secara perlahan.


di sini author mau jelasin sedikit ya, kalau Moza itu hanya alergi dengan mangga matang,beda cerita nya dengan yang muda.


"Apa itu enak?" tanya Robi penasaran karena tidak terlihat sedikit pun raut wajah Moza merasa asam.


"Sangat enak, apa kau mau mencoba nya? Ini sangat segar," jelas Moza sambil tersenyum.


Robi yang penasaran pun akhirnya mengambil gelas itu dari tangan Moza, lalu kemudian mencoba nya.


"Uhuk ... Puftttt! ... Hueek!" Seketika Robi memuntahkan nya dengan sangat brutal.


"Ada apa?" tanya Moza kebingungan.


"Ini sangat asam dan membuat aku mual, rasanya tidak enak," jawab Robi sambil memegang tenggorokan nya.


"Hahah haha, siapa suruh kau mencoba nya, kita itu berbeda,aku ini mengidam tentu aku merasa ini enak, benda dengan mu yang hanya ingin mencoba nya saja," ucap Moza sambil tertawa dengan renyahnya.


Robi yang melihat wajah cantik nan manis itu kini malah tersenyum, ia yang awalnya kesal karena jus asam itu malah tersenyum bahagia melihat Moza bahagia.


"Mengapa kau malah tersenyum menatap ku?" tanya Moza kepada Robi yang terlihat aneh baginya.


"Ah, tidak ada, cepat masuk, aku akan ke rumah sakit, ingat jangan kemana-mana tampa meminta ijin kepada ku," ucap Robi berdiri dari duduknya untuk berpamitan dengan Moza.


"Cepat sekali, ini masih pagi, tapi baik lah, hati-hati," jawab Moza lagi.


"Apa kau ingin aku berlama-lama menemani mu?" tanya Robi sambil tersenyum.


"Ah, jangan salah paham, itu tidak benar, sekarang pergilah, banyak pasien membutuhkan perawatan mu," jawab Moza canggung.


"Baik, kalau begitu masuk lah ke dalam rumah," perintah Robi kepada Moza.


Moza mengangguk kan kepala nya dan kemudian masuk ke dalam rumah.


Sementara Robi masuk ke dalam mobil nya untuk segera pergi ke RS.


Ya, begitu lah, Moza kini bahagia dengan kehidupan baru nya di kota x bersama sang dokter yang merawat nya, meskipun di hati nya tidak pernah yang namanya melupakan Samuel sedikit pun,dia masih selalu mengingat Samuel namun rasa bencinya mungkin akan mengalah kan rasa cinta.


"Mama harap kau tidak sedih, ketika nanti kau tau saat lahir papa mu tidak ada di sisi kita, tapi setidaknya kita memiliki orang-orang baik sekarang yang menyayangi kita sayang," ucap Moza sambil memegang perutnya yang sudah mulai membesar.


Moza pun berjalan masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


Bersambung ....