My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 17



Perlahan kelopak mata Azmi terbuka, ia mengerjapkan matanya.  Ia langsung duduk di sofa. Ia heran mengapa ada bantal dan selimut disini. Matanya mengarah ke arah kanan, melihat jam di


dinding yang menunjukkan pukul 01:22 dini hari.


Seingat Azmi, ia tadi sedang mengerjakan laporan dan tertidur.


"Pasti Nabila yang memberikan selimut dan bantal, siapa lagi," gumam Azmi.


Setelah kesadarannya pulih, Azmi pun membuka laptopnya untuk melanjutkan laporannya yang belum selesai. Tapi ia kaget saat melihat laporannya sudah


selesai semua. Ia heran siapa yang mengerjakannya.


"Apa mungkin Nabila, tapi tak mungkin Nabila mengerjakannya. Jangankan Nabila, Mella pun tak bisa mengerjakannya," ujar Azmi menaik turunkan slide laporannya.


Azmi beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar. Tapi sayup-sayup terdengar suara indah nan merdu yang berasal dari kamar istrinya. Azmi pun berjalan menuju pintu kamar Nabila. Matanya melihat Nabila tengah membaca ayat suci Al-Qur'an dengan sangat merdu. Hati Azmi seketika merasa damai dan tenang saat mendengernya. Ia merasa dejavu. Ia teringat saat mamahnya masih di sini dan Nabila tidur sekamar dengannya.


صدقاللهالعظيم


Mendengar itu, Azmi langsung pergi ke kamarnya.


Suara adzan subuh membangunkan Azmi yang sedang terlelap. Tak seperti biasanya ia bangun


saat adzan subuh. Ia pun duduk di pinggir ranjangnya sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah itu, ia pergi ke dapur untuk mengambil minum minum.


Saat melewati kamar Nabila, ia mendengar suara Nabila yang tengah mengaji. Lagi-lagi Azmi terbuai dengan suara Nabila yang tengah mengaji.


Azmi masih khusyuk mendengarkan suara Nabila.


Clek!


Suara pintu terbuka. Azmi yang masih khusuk tak menyadari kalau pintu kamar Nabila terbuka. Sedangkan Nabila kaget saat mendapati Azmi tengah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Mas!" Seru Nabila.


Mendengar namanya dipanggil, Azmi langsung tersadar. Ia terkejut saat melihat Nabila berada di depannya. Ia melihat raut tanda tanya dari wajah Nabila.


"Mas sedang apa disini?" Tanya Nabila setelah Azmi tersadar.


"Eummm...  Emmmm, mas mau ke dapur dulu mau ngambil air minum," Azmi menjawab dengan


gugup, setelah itu berlalu meninggalkan Nabila.


Nabila menatap heran Azmi yang telah berlalu.


"Aneh," gumam Nabila.


Azmi meratapi dirinya sendiri atas prilakunya tadi.


"Kok aku jadi gugup yah, Aahh." Batin Azmi sambil mengisi air mimum ke dalam gelas.


"Mas, gelasnya udah penuh," ucap Nabila yang baru datang ke dapur.


Azmi langsung tersadar dari lamunannya. Matanya langsung melihat ke arah gelas. Ternyata benar airnya sudah memenuhi gelas dan bahkan sudah meluber.


"Mas lagi ngelamunin apa sih?" Tanya Nabila sambil mengambil lap didekat tempat cucian piring.


"Mas gak kenapa-napa, mungkin mas masih ngantuk," jawab Azmi setelah meminum air yang ada di gelas.


"Lebih baik sekarang mas mandi dan wudhu setelah itu sholat biar mas seger," ucap Nabila sembari mengelap meja yang basah.


Azmi mengangguk. Setelah menaruh gelasnya ia berlalu menuju kamar.


___________________


"Iya, sebentar lagi, kamu duluan aja," jawab Zain dari dalam kamar.


Tak lama Zain datang dan langsung duduk di kursi.


"Kakak lama banget dandannya ngelebihin cewek, ngapain aja sih di kamar. Kan Kakak gak perlu make up, balsh on, mascara, eye shadow. Tapi lamanya ngelebihin Mbak Hanny," cerocos Zahra sambil menatap sang kakak.


"Udah marah-marah?" Tanya Zain santai sambil mengambil nasi.


"Ih kakak mah kebiasaan kalau aku ngomong gak pernah di dengerin," rengek Zahra yang menampilkan wajah cemberut tapi imut.


Hanny dan Zain hanya tertawa melihat wajah adiknya itu.


Setelah selesai sarapan Zain dan Hanny duduk di sofa sambil menonton TV. Sedangkan Zahra pergi untuk mengajar anak-anak TK.


"Kak, aku pengen nanya boleh?" Tanya Hanny menatap Zain dengan tatapan serius.


"Silakan, emang kamu mau nanya apa?"


"Eummm.. kaka jujur, apakah kakak masih


mengharapkan kak Nabila dan masih mencintainya?" Pertanyaan itu membuat Zain langsung menatap Hanny.


"Jujur sampai sekarang kakak masih mengharapkannya. Tapi kakak berusaha untuk melupakannya karena kakak tahu ia bukan jodoh yang Allah kirimkan untuk kakak. Dan soal mencintai, hati kakak masih sama seperti dulu, belum berubah. Kakak sudah berusaha untuk mengikis rasa ini tapi entah kenapa rasa ini semakin hari semakin kuat. Kakak tahu cinta itu fitrah tapi menurut kakak, cinta ini ujian untuk kakak. Kakak mohon padamu Han, tolong bantu kakak untuk melupakan Nabila,"


Zain bingung harus apa. Ketika ia ingin melupakan Nabila tapi kenapa Allah selalu saja membuatnya mengingat lagi cintanya.


"Iya Kak, pasti." Balas Hanny ikut merasa iba dengan kondisi kakaknya saat itu.


______________________


Kini Nabila dan Azmi tengah berada di ruang


makan. Mereka tengah menikmati sarapan pagi. Hening di antara mereja. Keduanya tak saling bersuara. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Sesekali Azmi melirik Nabila yang tengah makan di hadapannya. Ia teringat kembali


kejadian pagi tadi yang membuatnya senyum-senyum seorang sendiri.


"Bila, apakah kamu yang mengerjakan laporan, Mas?" Tanya Azmi setelah selesai sarapan.


"Iyah, Mas. Maaf bila aku tak sopan. Dan maaf bila aku salah mengisinya," jawab Nabila sambil menunduk, ia tak berani menatap Azmu karena takut suaminya akan marah.


"Makasih, semuanya benar, kok." Ucap Azmi membuat Nabila mendongakkan kepalanya.


"Syukurlah. Iya sama-sama, Mas." Balas Nabila lega.


Azmi pun tersenyum manis kepada Nabila. Nabila merasa meleleh saat melihat Azmi tersenyum


padanya. Jarang-jarang Azmi tersenyum padanya.


"Yaudah, mas berangkat dulu, Assalamualaikum." Pamit Azmi setelah Nabila mencium tangannya.


"Waalaikumsalam," jawab Nabila yang berdiri di depam pintu.


Nabila tersenyum saat mengingat senyuman Azmi. Senyuman yang baginya sangat langka. Karena di rumah ia jarang-jarang sekali tersenyum. Karena sikapnya selalu dingin padanya.


Ia pun tertawa kecil saat mengingat Azmi yang


terciduk sedang berada di depan pintu kamarnya. Wajahnya bukan maksudnya ekspresinya yang sangat lucu.


"Semoga, mas Azmi selalu seperti ini. Semoga Allah menumbuhkan cinta di hati mas Azmi untukku. Aamiin," batin Nabila sembari masuk ke dalam rumah.