
Sudah lama Nabila pergi. Namun, sepertinya Azni tak berniat mencari sang istri. Mungkin benar Azmi tak mencintainya. Entah tidak atau belum hanya Allah yang tahu.
Selama itu pula Azmi lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor. Tapi tak jarang ia pun pergi dengan Mella, karena Mella memaksanya.
Harapan Nabila pupus. Harapan akan sang pangeran datang menjemputnya bagaikan di film dan novel yang pernah ia baca. Sang pangeran akan meminta maaf padanya dan membawanya pergi kembali ke istananya. Tapi mungkin itu hanya angan belaka karena sang pangeran pun menginginkan jika dirinya pergi.
Hari ini adalah hari libur. Hari dimana sebagian orang berrehat dari kegiatannya. Hari untuk berkumpul, bercekrama dengan keluarga. Adapun yang menjadikannya sebagai hari untuk menjernihkan pikiran.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, eh Taufiq. Mau mesen kue apa?"
Setelah mengetahui Nabila bekerja di sana. Pria itu sering datang ke toko Amalia. Dengan alasan membeli kue. Tapi alasan utamanya ialah ingin bertemu dengan Nabila, wanita yang membuatnya canggung saat dekat dengan wanita tersebut.
"Bila, aku mau ke pasar dulu. Mau beli bahan kue, soalnya tinggal sedikit." Ucap Amalia melepaskan sarung tangan.
"Mendingan aku aja yang ke pasar. Sekalian aku mau beli sesuatu." Ucap Nabila.
"Biar aku antar. Sekalian aku juga mau ke pasar." Ucap Taufiq mengajak Nabila.
Kini Nabila sudah berada di mobil bersama Taufiq. Tapi tenang saja, Nabila duduk di kursi belakang. Sedangkan Taufiq duduk di kursi kemudi. Sebenarnya Nabila menolak tapi pria itu terus membujuknya.
Kini Nabila tengah memilih baju gamis. Ia lebih memilih membeli baju di pasar swalayan atau tradisional. Karena disini dia bisa tawar menawar harga dan banyak pilihan. Selain harganya terjangkau, kualitasnya pun bagus.
"Hmm, Fiq. Lebih bagus warna biru atau putih?" Tanya Nabila sambil memegang dua baju yang berbeda ditangannya.
"Kedua-duanya bagus. Apapun yang kamu pake pasti bagus." Jawab Taufiq.
"Kamu malah bikin aku nambah bingung."
"Yaudah pilih aja baju yang kamu suka."
"Tapi semuanya Bagus, dan aku suka."
"Yaudah dua-duanya aja."
"Ah, yaudah mbak. Saya pilih warna biru aja."
"Iyah, mbak. mas sama mbak ini cocok banget. Yang satu tampan yang satu cantik." Ucap mbak pelayan toko sambil mengemas barang.
"Kami hanya.."
"Makasih mbak." Ucap Taufiq memotong ucapan Nabila.
Setelah selesai dari toko tersebut. Kedua makhluk itu langsung pergi ke lantai bawah. Di lantai bawah itu tempat berjualan ayam potong, makanan, ikan asin dan sayur-sayuran.
Setelah berbelanja bahan kue, mereka langsung pergi untuk pulang. Tapi Taufiq menyuruh Nabila untuk pergi duluan ke parkiran karena ia ingin membeli sesuatu yang tadi terlupa.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Tapi dengan atmosfer yang berbeda tak seperti tadi di pasar. Disini mereka hanya diam tak saling bicara. Taufiq sibuk mengemudi sedangkan Nabila sibuk dengan ponselnya sedang balas pesan dengan seseorang.
"Lagi chattan sama siapa? Kayaknya asik banget." Ucap Taufiq mencairkan suasana yang hening.
"Lagi chattan sama Amal." Jawab Nabila.
Melirik Taufiq sekilas lalu menatap gawainya kembali. Tangannya masih mengetik di keyboard gawainya. Sesekali tersenyum karena lelucon yang di buat sahabatnya itu.
Taufiq ikut tersenyum saat melihat Nabila tersenyum lewat pantulan cermin mobilnya.
___________________________
"Apa Mang? kak Nabila pergi. Dan gak tahu kemana?"
Zahra kaget saat mendengar bahwa Nabila pergi sejak seminggu lalu. Pantas saja ia tak melihat mantan calon iparnya, ternyata dia pergi dari rumah. Dan yang membuatnya geram ialah Azmi sama sekali tak peduli.
"Emang neng gak tahu?" Tanya tukang kebun Azmi.
"Enggak, Mang. Karena selama ini Zahra kerja. Jadi gak engeh."
"Oh ya, Mang. Kalau suaminya kak Nabila kapan pulangnya?" Lanjut Zahra sambil melihat halaman rumah. Mencari mobil pemilik rumah tersebut.
"Biasanya sih sore atau habis maghrib, Neng." Jawab tukang kebun itu.
"Oh ha, Mang. Makasih. Kalau gitu saya pamit dulu, Assalamualaikum,"
Zahra berjalan dengan amarah. Dirinya marah pada Azmi dan kecewa pada Nabila karena telah pergi tanpa memberitahunya. Memang selama seminggu ini dirinya sibuk bekerja di toko. Tak ada waktu untuk berkomunikasi dengan Nabila.
___________________________
Azmi langsung terdiam, tangannya yang semula memeluk pinggang Mella kini terlepas. Tawa yang tadi terdengar terhenti, terganti dengan rasa kaget saat melihat sang ibu berada di rumahnya. Tangannya yang di lipat sorot mata yang tajam bak elang.
"Duduk!" Ucap Yuni sambil menatap kedua anak manusia yang ada di hadapannya.
Azmi dan Mella langsung duduk di sofa. Yuni pun ikut duduk. Matanya masih dengan sorotan yang sama.
"Dasar anak yang tak tahu rasa bersyukur. Sudah di beri yang terbaik malah memilih yang terlalu baik." Ucap Yuni.
"Mama sejak kapan ada disini, kenapa tak memberitahuku?" Ucap Azmi.
"Apa maksud Mama?"
"Mama tahu kalau Nabila pergi. Dan kau malah diam dan bersenang-senang dengan wanita itu. Mama tahu semua nya. Mama tahu tentang foto Nabila yang bersama dengan mantannya dan di telah menyembunyikan dokumen pentingmu."
Yuni masih berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak. Habis sudah kesabarannya untuk anaknya. Apalagi saat melihat wajah wanita tersebut. Ingin sekali dia mencabik-cabik wajah wanita itu.
"Mama tahu da----,"
"Kau tak perlu tahu, mama mengetahui dari mana? Mama tak habis pikir kau lebih mempercayai wanita itu dari pada istrimu sendiri."
"Apa maksud, mama," timpal Mella. Ia berusaha setenang mungkin.
"Diam kamu!" Bentak Yuni.
"Apa maksud mama. Jangan bentak Mella. Karena dirinya tak salah. Kenapa mama selalu menyalahkan Mella, ia tak punya sangkutpaunya dalam hal ini. Malah dia yang memberitahuku kalau Nabila telah bertemu dengan Zain disaat aku sedang sakit. Dan soal Nabila pergi, itu keinginannya sendiri. Bukan karena Mella."
Kini Azmi menaikkan nada bicara. Ia tak terima karena Mella selalu di salahkan oleh ibunya. Tangannya sudah di kepal. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sejak tadi ia tahan.
"Baiklah. Mungkin setelah melihat ini kau akan berubah pikiran."
Yuni berdiri lalu memasukkan sebuah CD kedalam laptop. Lalu terpampanglah sebuah video. Azmi melirik ke arah Mella yang masih fokus menatap layar laptop.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena berada di dekat Azmi. Namun, saat melihat layar laptop. Tangannya bergetar, telapak tangan sudah basah dalam sekejap. Ia hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Telinganya sudah siap mendengar kata-kata dari Azmi.
Azmi sesekali melirik wanita yang ada di sampingnya. Tangannya sudah terkepal kuat. Dadanya sudah kembang kempis menahan amarah yang hampir memuncak.
Azmi langsung menarik tangan Mella, membawanya ke sofa lalu menghempaskannya. Yuni juga langsung menghampiri kedua manusia itu. Ia tak ingin Azmi kehilangan kendali. Walaupun dia juga marah dengan wanita jahat itu.
"Dasar wanita tak tau diri!" Bentak Azmi.
"Kenapa kau melakukan semua ini?" Sambungnya.
"Azmk, aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Bukankah kau ingin berpisah dengannya dan menikahiku, bukan?" Ucap Mella sambil mengangkat kepalanya.
"Cinta? Itu kau sebut Cinta? Kau telah terbutakan oleh Cinta, sampai kau melakukan hal sekeji ini!" Azmi memejamkan matanya. Menarik nafas agar emosinya tak menguasainya." Memang aku ingin berpisah dengan Nabila, tapi bukan seperti ini. Bukan dengan cara keji seperti ini."
Nada bicara memelan, matanya kembali terpejam. Rasa bersalah bertahta di hati. Kecewa pada dirinya sendiri, karena lebih percaya pada orang lain daripada istrinya. Cinta telah membutakannya.
Kini giliran sang ibu yang memarahi wanita berhati busuk itu. Sedangkan Azmi langsung pergi ke kamar, bukan kamarnya tapi kamar Nabila.
Ia duduk di pinggir ranjang. Matanya menelusuri ruangan tersebut. Ruangan yang dulu kusam tak terawat. Kini bersih, rapi dan wangi.
Kini Azmi beranjak dari duduknya. Melangkahkan kaki keluar dari kamar menuju kamar miliknya.
Bayang-bayang Nabila kembali berputar. Ingatannya pun kembali berputar saat dimana dirinya demam. Dengan telaten Nabila merawatnya.
"Nabila kembali lah..."
________________________
"Aw,"
"Kamu kenapa, Bila?"
"Nggak apa-apa, cuman kesandung meja doang." Jawab Nabila mengelus lututnya yang terpentok.
Entah mengapa hari ini Nabila rindu pada lelaki yang telah membuatnya terluka.
"Ya Allah kenapa aku begitu merindukannya,"
"Assalamualaikum, Bunda."
Setelah mengucapkan salam, Taufiq langsung memeluk ibunya yang sedang duduk di depan TV. Alis wanita paruh baya itu menaut kala mendapatkan perhatian yang tidak biasa.
"Kamu lagi bahagia yah?" Tanya sang bunda pada anak kesayangannya.
"Hmm,"
"Cerita dong sama bunda," ucap sang ibu dengan menggoda.
Taufiq pun mulai mengeluarkan segala yang ada di hatinya. Segala yang ada di hatinya ia curahkan pada sang ibu. Meminta pendapat dan saran untuk masalah hatinya tersebut.
"Jadi kamu jatuh Cinta pada pandangan pertama pada gadis itu?"
Taufiq mengangguk.
"Jadi Taufiq pengen minta saran sama Bunda."
Ibunya tersenyum. "Lebih baik sekarang kamu ungkapkan perasaanmu padanya. Dari pada di pendem gitu. Nerima atau tidaknya itu urusan nanti. Dan lebih baik kamu jangan terlalu cinta padanya. Maksud bunda kamu boleh mencintainya tapi jangan sampai berlebihan takut kecewa akhirnya."
Taufiq mengangguk. Lalu tersenyum. Setelah mendapatkan pendapat dan saran dari sang ibu.
Ah! Sekarang dia sangat bahagia. Karena sang bunda telah memberi restu padanya. Sekarang tinggal Taufiq yang harus berbuat, mengungkapkan rasa pada gadis pujaannya.