My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 74



Dua hari kemudian.


"Sudah dua hari aku di kota ini, dan sampai sekarang masih belum mendapatkan satu informasi apapun tentang Moza," ucap Samuel sambil mengaduk-aduk teh yang sudah di siapkan BI Yati di meja ruang tengah tempat nya duduk.


"Tuan muda, seperti nya ada yang sedang di pikir kan ya, sedari tadi saya lihat teh nya terus di aduk," ucap BI Yati memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada Samuel.


"Eh, bi Yati, sejak kapan kau berdiri di sana?" tanya Samuel sambil tersenyum hambar.


"Bibi sudah beberapa menit berdiri di sini tuan muda,maaf jika bibi memperhatikan tuan," jelas BI Yati lagi.


"BI, apa aku boleh minta bantuan kepada mu?"


Samuel menatap BI Yati dengan tatapan penuh harapan.


"Apa itu tuan muda?" BI Yati bertanya lagi kepada Samuel.


"Apa kah kau pernah melihat orang ini? Selama kau tinggalkan di sini?"


Samuel memberikan ponsel nya yang berisikan foto Moza tiga tahun yang lalu.


"Orang ini? Maaf tuan muda, aku tidak pernah melihat nya mungkin karena aku tidak terlalu sering keluar dan selalu bekerja di dalam rumah,"


BI Yati pun mengembalikan ponsel tersebut kepada Samuel setelah ia memastikan bahwa dirinya benar-benar tidak mengenali Moza.


"Huh, aku rasa kesempatan ku untuk mencari nya sangat lah tipis bi, kota ini cukup besar, bagaimana bisa aku menemukan nya,"


Wajah Samuel terlihat lesu sambil terus memandangi foto Moza, teh hangat nya kini sudah berubah menjadi teh dingin.


BI Yati yang melihat nya merasa iba, sebegitu besar pengorbanan seorang laki-laki yang ada di hadapannya saat ini sampai berusaha mencari seorang wanita yang di cintai oleh nya ke kota yang berjuta penduduk ini.


"Begini saja tuan muda, bagaimana jika tuan muda mengirimkan foto itu ke wa saya, saya mungkin bisa menyebarkan nya kepada teman-teman dan saudara saya, siapa tau salah satu dari mereka pernah melihat perempuan cantik itu, saya juga akan meminta mereka untuk menyebarkan nya,"


BI Yati dengan senang hati menawarkan bantuan nya kepada Samuel, karena dia adalah penduduk asli di kota itu, tentu saja dia memiliki banyak saudara dan teman-teman.


"Benar kah kau bersedia membantu ku bi?"


Samuel terlihat sedikit bersemangat,dia mendongak kan kepala nya kembali menatap BI Yati yang berdiri di hadapan nya sambil memegang sebuah ponsel.


"Tentu saja tuan muda, aku adalah penduduk asli di sini, jadi aku banyak teman dan saudara yang mungkin akan bisa lebih cepat melacak keberadaan perempuan cantik itu,"


BI Yati pun langsung memberikan ponsel nya kepada Samuel setelah ia mengatakan hal itu.


Samuel pun berfikir ini cukup masuk akal, mengapa sebelum nya dia tidak pernah melakukan cara ini untuk mencari keberadaan Moza, apalagi dengan imbalan, mungkin orang akan lebih semangat untuk membantu nya.


Ia pun menerima ponsel bi Yati dan segera memindahkan foto Moza ke ponsel bi Yati.


"Tolong ya bi, dan siapa pun yang berhasil membantu ku menemukan istri ku, maka aku akan memberikan dia imbalan sebesar satu miliar,"


Samuel mengatakan jumlah imbalan yang akan di berikan kepada orang yang berhasil membantu nya menemukan Moza sebesar satu miliar rupiah.


"Baik tuan muda, kalau begitu bibi ke belakang dulu ya, di minum teh nya, ingat jangan putus asa, ini baru dua hari,


Semangat bi Yati membuat Samuel benar-benar kembali bangkit lagi.


Dia mengangguk kan kepala nya dan kemudian tersenyum.


Sementara itu bi Yati bergegas ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang sempat tertunda.


Siang harinya.


terlihat Hansel yang saat ini sedang di gendong oleh BI Juni, ia terdengar berbicara menanyakan di mana Momy nya.


"Sayang, Momy nya Hansel saat ini sedang bekerja, dia bilang akan pulang cepat hari ini, jadi kita tunggu saja ya," jelas BI Juni sambil mengelus-elus rambut Hansel.


Hansel yang mendengar itu pun akhirnya diam setelah tau jika sebentar lagi momy nya akan kembali ke rumah.


Sementara itu di sisi lain.


"Buk, Moza, tuan Robi menunggu di ruangan anda,"


Seorang karyawan Moza menghampiri Moza sambil mengatakan jika saat ini Robi sedang menunggu nya di ruang istirahat nya.


Moza berbalik dan menatap karyawan yang sedang berbicara dengan nya, sebelum nya ia sedang sibuk melayani costumer yang sedang memilih kue ulang tahun karena ada dua karyawan nya saat ini sedang libur tidak masuk kerja, jadi dia lah yang membantu karyawan lain untuk meringankan pekerjaan.


"Astaga, bagaimana ya? Suruh dia menunggu sepuluh menit lagi, aku sedang sibuk melayani customer,"


"Akan saya sampaikan buk, permisi."


Karyawan tersebut pun kembali ke ruangan tempat Robi menunggu untuk menyampaikan apa yang di sampaikan Moza kepada nya.


Sementara itu Moza kembali melayani costumer nya dengan sangat teliti.


Selang sepuluh menit kemudian, Moza pun akhirnya selesai dan ia pun bisa kembali ke ruangan nya untuk menemui Robi sekaligus istirahat.


Moza duduk berhadapan dengan Robi di ruangan tersebut dan kemudian berkata ...


"Ada apa? Tumben kau datang ke sini? Apa hari ini tidak ke rumah sakit?"


"Malam ini adalah malam tahun baru, jadi aku ingin mengajak mu dan Hansel jalan-jalan, BI Juni juga, apa kau bisa?"


Moza terdiam tak di sangka jika malam ini adalah malam pergantian tahun, sangking sibuk nya bekerja dia malah lupa jika tahun sebentar lagi sudah akan berganti.


"Astaga,aku sibuk sampai lupa jika malam ini adalah malam terakhir di tahun ini,"


Moza menepuk jidatnya karena sebelumnya dia memang sudah ada rencana untuk mengajak jalan-jalan Hansel dan BI Juni pada malam pergantian tahun.


"Jadi bagaimana? Apa kau bisa pergi? Kasian Hansel dia butuh hiburan aku khawatir jika dia akan sakit kalau terus-terusan di rumah terkurung sedang kan Momy nya hanya asik bekerja,"


Robi mengatakan itu sambil tertawa karena Moza pasti akan sangat kesal mendengar ucapan nya.


"Diam kau, sok tau saja, tampa kau ajak, aku malam ini akan pergi bersama mereka, jadi karena kau duluan yang mengajak, baik lah, malam ini kita akan jalan-jalan bersama melihat kemeriahan perayaan tahun baru,"


Moza tersenyum bahagia setelah mengatakan itu, seperti nya dia sudah membayangkan bagaimana serunya nanti malam, karena jujur saja sejak fokus bekerja dirinya tidak mengingat yang namanya hiburan atau jalan-jalan.


"Oke, kalau begitu, sebaik nya kita pulang sekarang, karena Hansel pasti sudah menunggu, kita juga harus siap-siap karena waktu terus berjalan,"


Robi berdiri dari duduknya sambil melihat jam yang ada di tangan nya.


"Ya, baik lah ayo,"


Moza pun ikut berdiri agar mereka segera keluar dari ruangan tersebut dan pulang ke rumah.


Setelah berpamitan dengan karyawan dan menitipkan toko kue yang besar itu agar di jaga dan di kawasi dengan baik oleh karyawan nya, Moza dan Robi pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan meluncur pulang ke rumah.


Bersambung ....