My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 88



Keesokan harinya.


Drttt ... Drttt ... Drtt ...


Terdengar suara getaran dari ponsel Moza yang ada di atas nakas di samping tempat tidur nya.


Moza yabg pada saat itu masih tertidur pulas pun kaget dengan suara getaran ponsel yang lumayan kuat sampai membuat Hansel yang tidur di samping nya jadi terbangun.


"Astaga, siapa yang menelpon pagi-pagi seperti ini?" batin Moza sambil kemudian dia meraih ponsel tersebut dan menggosok-gosok mata nya yang masih sedikit buram karena baru saja bangun dari tidur nya.


Tertara nama, Naya di layar ponsel tersebut.


"Hah? Naya? Dia menelepon ku? Ada apa? Sudah lama tidak berkomunikasi,dan sekarang dia menelpon ku?" Moza pun merasa kaget karena Naya yang sudah setahun lebih tidak berkomunikasi dengan nya kini tiba-tiba menelpon nya.


Ya, sejak setahun lalu, Naya dan Moza mulai saling kehilangan waktu untuk komunikasi, tapi pagi ini Moza di kaget kan dengan telpon dari Naya.


Call on


"Hallo," lirih Moza.


"Moza, aku sudah di bandara, bisa kah kau menjemput ku Sekarang?" tanya Naya di sebrang telpon dengan suara bersisik seperti sedang berada di keramaian.


"Astaga, apa kau datang ke kota x?" tanya Moza kaget.


"Ya, dan aku sudah tiba di kota x, di bandara x," jawab nya lagi.


"Baik lah tunggu di sana, aku akan pergi menjemput mu, segera!" ucap Moza yang kemudian mematikan telepon secara sepihak.


Call of


Entah kebetulan atau apa, beberapa hari lalu Moza sempat berfikir untuk menelpon Naya, dan menanyakan tentang mengapa Samuel biasa tau keberadaan nya, dan tepat di hari ini, akhirnya Naya sendi yang menelpon nya, mereka bahkan sebentar lagi akan bertemu.


"BI, BI Juni!" Pangil Moza dengan suara keras.


"Iya nona, ada apa?" tanya bi Juni yang berjalan cepat dari dapur menuju ke arah Moza.


"Aku akan keluar sebentar, menjemput teman ku di bandara, aku sangat buru-buru, tolong jaga Hansel ya bi," ucap Moza yang kemudian mengambil kunci mobil dan bergegas pergi meningal kan rumah tersebut.


"Mengapa tidak mandi?!"


BI Juni yang kaget atas Moza yang tiba-tiba pergi tampa mandi terlebih dahulu pun hanya bisa menggeleng kepala nya dan kemudian masuk ke dalam kamar untuk melihat Hansel.


"Hikss, momy! Nenek, di mana Momy!" ucap Hansel yang menangis karena pagi-pagi sudah di tingal Moza.


"Sayang, sama nenek dulu ya, Momy nya Hansel sedang ada kerjaan, sini nenek gendong, kita mandi ya," ucap BI Juni sambil menggendong Hansel.


Ya begitu lah kehidupan Hansel yang sangat kurang kasih sayang, dia bahkan terlihat sangat menyedihkan sebagai anak kecil yang seharusnya mendapatkan kasih sayang yang penuh tapi tidak bisa,mau bagaimana lagi, Moza terlalu sibuk untuk terus memperhatikan nya.


Tiga puluh menit kemudian


"Moza!" Teriak Naya yang sudah lama menunggu Moza di bandara dan akhirnya melihat Moza yang datang menjemput nya dengan mobil mewah.


Naya pun berlari ke arah Moza dan kemudian memeluk erat tubuh Moza sahabat nya itu.


Jujur saja saat ini Naya benar-benar merindukan Moza.


"Astaga kau ini ingin membuat aku mati ya?" kesal Moza yang di peluk erat oleh Naya.


"Aku sangat merindukanmu, maaf kan aku," ucap Naya lagi.


"Ya, aku juga merindukan mu, tapi ada hal yang lebih penting dari itu, ayo masuk mobil," ucap Moza membuka pintu mobil nya untuk Naya.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara.


"Apa kau, kau sudah bertemu dengan Samuel?" tanya Naya yang kini duduk di sebelah Moza dengan perasaan yang kurang enak.


"Ya, apa kau sengaja membocorkan nya kepada Samuel?" tanya Moza lagi sambil mengemudi mobil dengan kecepatan sedang.


"Moza, sebelum nya aku minta maaf, bukan maksud ku sengaja untuk membongkar semua nya dengan Samuel, tapi aku membutuhkan bantuan Samuel untuk perusahaan papa ku," jelas Naya lagi.


Moza terdiam mendengar ucapan Naya, dia tidak tau harus mengatakan apa karena tidak mungkin dia menyuruh Naya terus merahasiakan sesuatu hal tentang dirinya, sementara perusahaan papa nya Naya mungkin sangat penting untuk keluarga mereka.


"Aku benar-benar bersalah, aku minta maaf, aku siap jika kau ingin memarahi aku," jelas Naya lagi.


"Tidak perlu marah, kau sudah merahasiakan selama tiga tahun, dan kau berhasil merahasiakan nya dari Samuel kau juga berhasil memberikan dia pelajaran untuk kesalahan yang sudah dia lakukan," jawab Moza lagi.


Kini rasa bersalah pun menghantui Naya, setelah melihat wajah sedih Moza, ia merasa sedikit bersalah karena pasti sekarang Moza sedang dalam keadaan sakit hati yang luar biasa akibat pertemuan dan mungkin usaha Samuel yang terus mendekati nya.


"Maaf kan aku," ucap Naya lagi.


"Sudah lah, apa yang kau pikirkan, kau sudah banyak membantu, bagaimana jika sekarang kau ceritakan, apa yang membuat mu datang ke sini?" ucap Moza yang tidak mau memperpanjang masalah ia pun mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Aku merindukan mu, dan aku juga pernah berjanji kan, untuk melihat mu, dan sekarang aku menepati janji ku lepas mu," ucap Naya lagi-lagi dia tersenyum kepada Moza.


"Baik lah, apa kau ingin melihat sesuatu?"


"Sesuatu? Apa itu?"


" Jika kau ingin melihat nya sekarang kita langsung pulang saja ke rumah ku ya," ucap Moza lagi.


"Oke baik lah," jawab Naya.


Mereka pun memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Moza saja, sejujurnya Naya juga penasaran dengan kehidupan Moza yang sekarang, dan dia lebih penasaran apakah Moza berhasil melahirkan buah hatinya atau tidak.


Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di rumah nya Robi, yang di pinjamkan nya untuk Moza.


"Sayang, Momy pulang!" teriak Moza sambil menyeret koper Naya masuk ke dalam rumah nya.


Sementara Naya yang cangung berjalan masuk ke dalam rumah tersebut dengan perasaan gugup dan sambil mengintip di mana kah anak kecil yang suaranya terdengar sampai depan pintu namun ujud nya tidak terlihat.


Tidak lamaran kemudian terlihat seorang ank kecil berlari menghampiri Moza dengan tawa yang sangat mengemaskan.


"Astaga Samuel!" reflek Naya sambil menutup mulut nya setelah melihat Hansel kecil yang mirip dengan Samuel.


Moza mengendong Hansel dan membawa nya kepada Naya.


"BI, tolong letaknya koper Naya ke kamar tamu ya," ucap Moza kepada BI Juni.


"Baik nona," jawab BI Juni yang kemudian menyeret koper Naya ke kamar tamu.


"Naya, lihat lah, aku berhasil," ucap Moza sambil memperlihatkan Hansel yang sangat mengemaskan itu kepada Naya.


Naya yang masih tercengang dengan menutup mulut nya menatap Hansel d Ari ujung kaki sampai ujung rambut, merasa heran karena sedikit pun Hansel tidak mirip dengan Moza malah mirip dengan Samuel bentukan nya.


"Boleh aku gendong?" tanya Naya lagi.


Moza mengangguk kan kepala nya dan kemudian memberikan Hansel kepada Naya.


Bersambung ....