My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 89



"Astaga, anak ini tampan sekali, Moza maaf aku harus mengatakan ini, tapi dia terlihat seorang Samuel," ucap Naya dengan suara kecil nya.


"Aku tidak biasa membantah, itu benar," jawab Moza sambil mendelik kan mata nya.


"Yaampun kau lucu sekali, kau sangat lucu kau tidak takut dengan ku ya?"


Naya yang gemas melihat Hansel pun lebih cepat akrab dengan nya, apalagi Hansel yang notabene nya tidak pernah takut dengan orang-orang, meskipun dia baru saja mengenali orang tersebut.


"Kau main dulu dengan Hansel ya, aku ke dapur sebentar," ucap Moza kepada Naya.


Naya pun tidak mempedulikan nya dan terus bermain dengan Hansel, hal ini membuat Moza senang karena Hansel menyukai Naya.


"Nona, maaf perempuan itu siapa?" tanya bi Juni yang tiba-tiba menghampiri Moza sambil bertanya tentang Naya.


"BI, dia adalah sahabat ku dari kota asal ku, dan dia mungkin akan tinggal di sini selama seminggu," jawab Moza.


"Oh, apa tuan Robi sudah tau?"


"Nanti aku akan memberitahu nya, ya biar bagaimanapun ini rumah nya, aku juga harus ijin dulu dengan nya,"


"Baik lah nona, kalau begitu biar bibi masakan makan siang ya," jawab BI Juni lagi.


"Terima kasih banyak bi," jawab Moza sambil tersenyum.


Sementara itu di sisi lain


"Selamat siang selamat datang di Hansel complete cake," ucap karyawan Moza kepada Samuel.


"Maaf, aku datang untuk mencari Moza, apa dia ada di sini?" tanya Samuel kepada karyawan tersebut.


"Maaf tuan seperti nya hari ini owner kami tidak datang," jelas sang karyawan lagi.


"Kalau begitu apa aku boleh meminta alamat rumah nya kepada mu?" tanya Samuel berusaha mencari alamat tempat tinggal Moza agar dia bisa lebih gampang bertemu dengan Hansel.


"Baik pak,"


Dengan polos nya karyawan Moza pun menulis kan sebuah alamat ke secarik kertas lalu memberikan nya kepada Samuel.


"Terima kasih,"


"Sama-sama pak,"


Setelah mendapat kan alamat tersebut Samuel pun meningal kan Hansel complete cake dengan tergesa-gesa.


"Kau ini, mengapa kau semabrangan memberi alamat buk Moza kepada orang yang tidak di kenal?" ucap karyawan lain kepada temannya.


"Memang nya kenapa?" tanya nya polos.


"Kau ini bodoh atau polos? Siap-siap kau di pecat besok, bodoh nya kau membocorkan tempat tinggal owner dengan orang tak di kenal, buk Moza pasti akan sangat marah,"


Seketika karyawan itu terdiam dan menyadari kesalahannya, dia tidak seharusnya memberikan alamat rumah Moza kepada orang asing, dia malah terpesona akan ketampanan Samuel dan seperti di hipnotis saja begitu cepat percaya dan memberikan alamat tempat tinggal Moza.


Sementara itu di sisi lain.


_"Moza sudah berani sekarang membantah ucapan ku, biasanya dia selalu menuruti apa yang aku katakan, tapi setelah kedatangan Samuel dia mulai aneh, aku khawatir, Samuel akan kembali mendapatkan maaf dari Moza dan dia pasti akan mengambil Moza, lalu membawa nya pergi dari ku,"_ batin Robi yang kini tengah bolak-balik di dalam ruang kerjanya sambil memikirkan bagaimana caranya agar membuat Moza dan Samuel bercerai.


Robi kini sudah mulai menujukkan sikap gila dan obsesif nya kepada Moza.


Kini Robi benar-benar sudah di rasuki oleh obsesi nya sendiri.


Entah apa rencana yang akan dia lakukan selanjutnya, namun itu pasti lah hal yang serius.


Malam harinya


Kediaman Moza


Terlihatlah Moza yang sedang duduk di kursi depan teras rumah nya bersama dengan Naya, mereka berbincang-bincang banyak membahas banyak hal tentang masa lalu yang sudah terlewati.


"Jadi kau sekarang Owner di toko kue?" tanya Naya sambil menghirup teh hangat yang di buat oleh BI Juni tadi.


"Ya, ini juga berkat bantuan Robi," jelas Moza.


"Maksud mu? Robi sampai sekarang masih berhubungan dengan mu, dan dia membantu mu?" Tanya Naya mulai penasaran dengan Robi.


"Ya, dia selalu membantu ku, bahkan rumah yang aku tingali sekarang adalah rumah nya,"


Moza pun mulai menceritakan semuanya kepada Naya, mulai dari dia datang ke kota x dan bagaimana dia bisa tingal di rumah Robi dan bagaimana dia bisa memilih usaha, sampai lah pada titik tentang Robi yang kehilangan calon anak dan istri nya sekaligus karena kecelakaan.


Naya yang mendengar itu benar-benar syok, bukan syok karena Moza jadi sukses, bukan juga syok karena kisah kehidupan di masa lalu Robi, tapi dia syok atas perkataan Moza yang mengatakan jika Moza mirip dengan mantan istri nya Robi, jadi mungkin karena itu Robi selalu membantu nya.


"Astaga, ini benar-benar rumit ya, dia menganggap ku adalah istri nya mungkin, makanya dia selalu bersedia membantu mu," ucap Naya kepada Moza.


Namun Naya sama sekali tidak mengatakan jika dirinya menyukai Robi sejak lama, dia tidak ingin Moza tau hal itu, bisa-bisa Moza mengangap nya datang ke kota x untuk mencari Robi.


"Aku sudah menceritakan tentang ku semuanya, sekarang bagaimana dengan mu? Kau belum bercerita apa-apa padaku,"


Moza menuntut Naya untuk bergilir menceritakan tentang kehidupan Naya dalam tiga tahun belakangan ini.


"Baik lah, aku akan menceritakan semuanya kepada mu, ya sekarang dengar kan lah baik-baik cerita ku ini," jelas Naya sambil tersenyum.


Naya pun mulai bercerita tentang kehidupan nya selama tiga tahun belakangan ini, benda hal dengan kehidupan yang Moza rasakan, Naya hidup dalam kesedihan, dia menceritakan bagaimana tentang dia berjuang melawan penyakitnya, dan juga bagaimana Nara menduduh nya ingin mengambil Romeo lalu juga hal tentang dia bertemu dengan Samuel, semua nya dia ceritakan.


Moza yang mendengar itu merasa sedih, tak di sangka pada saat kepergian nya ke kota x, Naya sedang dalam keadaan sakit parah.


"Astaga, kau begitu pintar menyimpan luka di wajah mu yang selalu tersenyum itu ya," ucap Moza yang kemudian menarik Naya ke dalam pelukan nya.


Mereka pun saling berpelukan dan menumpahkan seluruh cerita kehidupan masing-masing.


Dua hari pun berlalu


Terlihat Moza yang kini kebingungan karena ban mobil nya tiba-tiba saja kempes, padahal dia hari ini harus ada meeting penting dengan seluruh karyawan nya untuk membahas tentang penjualan atau perencanaan resep kue baru.


"Astaga kenapa harus bocor sekarang? Bagaimana ini? Aku tidak mungkin membiarkan karyawan ku menunggu lama," ucap Moza sambil melihat ban mobil tersebut.


Sementara itu tidak jauh dari sana, Samuel yang sedari tadi berniat untuk pergi ke alamat yang di berikan oleh karyawan Moza beberapa hari lalu pun memberhentikan mobilnya karena melihat Moza yang ada di depan.


Tidak jauh dari mobil nya.


"Apa yang dia lakukan? Apa yang terjadi?" batin Samuel mengamatinya dari kejauhan.


Selang lima menit kemudian, Samuel pun tidak bisa menahan dirinya untuk segera menghampiri Moza, dia pun turun dari mobil nya dan berjalan untuk menghampiri Moza yang terlihat sangat khawatir.


Bersambung ....