
Malam harinya
Di sini lain
BI Yati menghampiri Samuel yang saat ini sedang duduk sambil memainkan ponselnya, ia terlihat masih sama, memandangi foto Moza dengan tatapan lekat.
"Tuan muda, maaf saya mengangu,"
"Ada apa bi?"
Samuel menutup ponselnya dan menatap ke arah Bu Yati.
"Tuan muda, malam ini adalah malam tahun baru, dan ada festival perayaan yang begitu besar, bagaimana jika tuan muda pergi ke perayaan tersebut membawa nyonya jalan-jalan, siapa tau tuan muda menemukan orang yang tuan muda cari di sana karena perayaan ini tentu akan sangat ramai orang menghadirinya,"
BI Yati memberikan saran agar Samuel pergi ke perayaan tahun baru malam ini, dengan harapan bisa menemukan orang yang dia cari karena mungkin semua orang di kota itu pasti akan melihat perayaan.
"Benar kah? Di mana lokasi nya?"
Samuel terlihat tertarik dan menanyakan lokasi perayaan tersebut kepada BI Yati.
"Lokasi nya ada di taman kota tuan,"
BI Yati menjawab nya sambil tersenyum semangat.
"Baik lah aku akan pergi, tolong siap kan mama, aku juga akan membawa mama untuk jalan-jalan,"
Samuel berdiri dari duduknya dan kemudian bergegas pergi ke kamar untuk segera bersiap-siap.
"Semoga tuan muda menemukan wanita yang dia cari, meskipun kemungkinan nya sangat kecil di tengah-tengah taman besar yang akan di datangi ribuan orang malam ini," batin Bi Yati yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mama Ema untuk mempersiapkan mama Ema.
Sementara itu di sisi lain.
"Semuanya sudah siap, ayo kita berngkat!"
Moza mengendong Hansel dengan Sanga bahagia, ia terlihat cantik begitu juga dengan Hansel yang sudah sangat rapi dan terlihat mengemaskan.
"Kalian berdua ini cukup mengemaskan ya, ayo cepat masuk mobil, bi Juni sudah siap merapikan barang-barang,"
Robi berjalan menuju mobil dan kemudian masuk ke dalam nya, di susul Moza dan juga Hansel serta bi Juni yang juga ikut dengan mereka.
Mereka pun akhirnya melaju meningal kan rumah menuju taman kota.
"Wahh, seperti nya ini akan macet, banyak sekali orang yang tujuannya sama dengan kita,"
Robi jadi bingung karena melihat kemacetan yang sedang menunggu mereka di jalan depan.
"Sudah lah, jangan pusing, waktu masih banyak, makanya aku mengajak pergi lebih awal, karena takut macet tapi ternyata masih saja terjebak macet,"
Moza menggerutu sambil melihat ke arah kuar jendela mobil.
Sementara itu Hansel berada di pangkuan BI Juni dengan menghisap permen lollipop yang di berikan Moza, karena dirinya akan bosan lama-lama di mobil jika tidak akan cemilan.
Selang beberapa puluh menit kemudian mereka pun akhirnya berhasil melewati macet yang panjang, mobil mereka pun kini berhasil terparkir di dekat parkiran taman kota.
Terlihat Robi yang merasa Lega karena akhirnya mereka tiba juga di taman kota setelah berjuang dalam kemacetan.
"Huh, hampir saja kita tidak bisa sampai di sini, dan terjebak macet yang sangat lama,"
"Sudah lah, jangan bahas macet lagi, ayo cepat turun, aku sudah tidak sabar,"
Moza mengambil alih mengendong Hansel dari BI Juni yang kelelahan.
Mereka pun akhirnya berjalan masuk ke dalam taman tersebut, yang sudah di penuhi banyak orang, namun karena taman itu begitu besar, mereka tidak merasa suntuk dan berdempetan.
Taman nya begitu indah, di hiasi dengan lampu warna warni dan juga kenbang api yang sudah mulai di mainkan oleh para anak-anak yang datang ke sana.
Sungguh suasana yang tidak pernah di nikmati oleh Moza sebelum nya, karena dia biasanya selalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa dengan membahagiakan dirinya sendiri.
Mereka pun mulai jalan-jalan di taman tersebut, mengelilingi taman yang cukup luas membuat mereka sangat bahagia, termasuk Hansel dia beberapa kali turun dari gendongan Moza karena ingin bermain bersama anak-anak yang saat itu di lihat nya berlari-lari di taman.
Sementara itu di sisi lain taman.
"Mama, lihat lah, di sini banyak sekali orang, dan anak-anak kecil juga, apa mama suka?" ucap Samuel yang saat ini mendorong pelan kursi roda sang mama mengitari taman.
Mama nya yang tidak bisa bicara hanya mengangguk kan kepala saja, jujur sebenarnya mama Ema sangat bahagia melihat keindahan taman itu.
Satu jam, dua jam, pun berlalu, kini suasana taman semakin ramai, begitu banyak orang yang sedang menantikan kembang api malam tahun baru yang akan segera di luncurkan sebentar lagi.
"Robi, gendong Hansel sebentar, aku akan membeli cemilan dan minuman untuk kalian,"
Moza menyerahkan Hansel kepada Robi dan kemudian berjalan menghilang di dalam keramaian tersebut.
"Astaga, aku belum bilang apa-apa sudah pergi saja," kesal Robi sambil menggendong Hansel.
Sementara bi Juni sedang membawa perlengkapan Hansel takut kalau-kalau dia nangis atau pup.
Sementara itu Moza sibuk, rasanya dia kini seperti seorang gadis yang sedang menikmati malam tahun baru sendirian.
Ia membeli banyak cemilan dan juga air.
"Em, aku lupa kalau Hansel tidak boleh minum air seorang ini, dia hanya boleh minum Aqua, di mana ya orang jual Aqua?"
Moza melirik ke segala arah dari keramaian tersebut, mencari tempat orang yang berjualan air putih biasa, karena dia akan membeli nya untuk Hansel.
Namun tak jauh dari sana, sepasang mata menatap lekat ke arah Moza yang sedang kebingungan dan celingak-celinguk.
"Saa-a!"
Terdengar mama Ema yang berusaha memangil Samuel yang saat itu sedang membeli minuman di warung kecil tak jauh dari tempat mama Ema di tingal kan.
"Mo,mo-zaaa."
Lagi-lagi mama Ema berusaha keras untuk memagil, namun sayang nya dirinya benar-benar tidak bisa berbicara, mengatakan dua kata saja dia sudah hampir kehilangan seluruh tenaga karena butuh usaha keras.
Tangan nya yang kaku pun tak mampu menujuk meskipun ia berusaha sekuat mungkin untuk bergerak.
Tidak lamaran kemudian Samuel pun datang menghampiri sang mama dengan membawa dua botol air.
Ia pun berlutut di hadapan sang mama sambil membuka air minum tersebut untuk memberikan sang mama minum.
Namun mama nya terlihat sangat aneh tidak anteng seperti tadi, sang mama terlihat sangat agresif ingin bicara dan bergerak, seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa ma? Apa sudah sangat haus?"
Sayang nya Samuel malah mengira mama nya kehausan, ia pun menyodorkan minuman tersebut ke mulut sang mama.
Namun mama nya yang marah karena Samuel melindungi pandangan nya pun berusaha menepis air minum itu dengan lengan ujung jari yang sudah susah payah di gerak nya, hal asil minuman tersebut pun tumpah.
Samuel yang melihat reaksi sang mama yang tidak biasa merasa gusar ia tidak tau mengapa tiba-tiba mama nya jadi seperti itu, padahal sebelumnya tidak pernah.
Bersambung ....