My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 8



Sudah dua hari ibu Azmi tinggal disini. Dan selama itu pula mereka bersandiwara ketika di depan sang ibu. Mereka terpaksa harus berbohong karena tidak ingi melihat ibu mereka sedih.


Sebenarnya Nabila tak tega melihat ibu mertuanya yang selalu di bohongi oleh sikap romantis dan harmonis mereka. Karena ia tahu berbohong adalah sikap tercela dan Allah sangat membencinya.


Tapi ia tak mau bila ibu mertuanya tahu bahwa dia tak bahagia tinggal disana bersama Azmi, suaminya.


  Seperti hari ini. Nabila ,Azmi dan ibu Yuni sedang sarapan di meja makan. Mereka pun hanya terdiam karena sibuk dengan makanan mereka.


"Bila, apakah kamu sudah telat?" Tanya Yuni pada menantunya itu.


"Maksud Ibu apa, Nabila tidak mengerti?" Tanya Nabila karena tak mengerti dengan pertanyaan ibu mertuanya.


"Maksudnya tamu bulanan kamu lancar tidak?" Tanya ibu Yuni kembali.


"Alhamdulillah lancar ma," jawab Nabila, setelah itu menyuapkan kembali makanan ke mulutnya.


"Mama pengen cepet-cepet punya cucu," ucap ibu Yuni yang membuat Nabila tersedak sesaat setelah mendengarnya.


Ukhuk ukhuk!


"Ini sayang minum dulu," ucap Azmi sambil menyodorkan minum kepada Nabila.  Selama ibu Yuni tinggal dengan Nabila dan Azmi, Azmi selalu menyebut Nabila dengan sebutan 'sayang.'. Awal-awal Nabila merasa aneh dengan sebutannya itu. Tapi karena seiring berjalannya waktu, Nabila pun mulai terbiasa dengan panggilan itu.


"Makasih," ucap Nabila sambil mengambil gelas dari tangan Azmi dan meminumnya.


"Kamu tidak apa apa Bila?" Tanya ibu Yuni khawatir.


"Tidak mah, Bila tak apa-apa," jawab Nabila sembari menyapukan tisu disekitar mulutnya.


"Bagaimana, mama pengen sekali ngegendong cucu." Kaya ibu Yuni sambil melihat ke arah sepasang suami istri yang ada di depannya.


"Insya Allah, mungkin sekarang Allah belum memberikan kepercayaan kepada kami untuk diberikan anak." Jawab Nabila sambil menelan ludahnya.


"Yasudah sayang. Ma, Azmi berangkat dulu ya," ucap Azmi sambil berdiri, lalu menyalami ibunya dan tak lupa berpamitan kepada istrinya.


Sebenarnya itu hanya alasan Azmi agar ibunya tak mengungkit masalah anaknya. Dan terhindar dari pertanyaan yang lebih jauh lagi.


Setelah membersihkan rumah. Nabila langsung pergi untuk membersihkan badannya. Sedangkan ibu Yuni sedang menonton TV di ruang tengah.


Hari ini  cuaca cukup panas, padahal baru jam 10:30. Akibat udara yang panas, dengan Aigap Nabila pergi ke dapur dan membuat satu teko sedang berisikan air sirup jeruk dan es batu yang mengambang-ambang. Kini Nabila dan ibu mertuanya tengah meninum es jeruk sambil menonton TV.


"Ma, Bila boleh nanya sesuatu gak?" Tanya Nabila pada ibu Yuni memecahkan konsentrasi ibu Yuni yang sedang asyik menonton berita.


"Boleh, tanyakan saja," jawab ibu Yuni sambil meminum es jeruk yang mereka buat.


"Bukannya Azmi itu punya pacar, tapi kenapa mama menikahkan Azmi dengan Bila?" Tanya Nabila dengan hati-hati.


"Karena mama gak suka sama dia (Mella), memang dia itu cantik, berpendidikan tapi mama gak suka. Karena dia selalu keluar malam dan apalagi cara berpakaiannya, mama bener-bener gak suka banget, karena mama ingin mempunyai memantu yang bisa merubah Azmi menjadi lebih baik, bukan malah menjadi buruk, dan mama ingin cucu mama nanti bukan hanya diberikan ilmu duniawi tapi juga diberikan ilmu untuk akhirat kelak, karena mama pernah mendengar bahwa ibu itu sekolah pertama bagi anak-anaknya dan karena mama juga telah merasa gagal menajdi seorang ibu yang baik untuk Azmi." Jelas ibu Yumi sambil menitihkan airmata.


"Mama tidak gagal, malah menurut Nabila mama telah menjadi ibu yang baik untuk Azmi, bisa membuat Azmi sukses," ucap Nabila sambil memeluk ibu mertuanya.


"Bila, nanti siang temenin mama ke mall yuk," ajak ibu Yuni pada menantunya.


"Yaudah mama belanja di pasar aja, gimana?" Tanya ibu Yuni dengan semangat.


"Emang mama gak apa-apa kalau belanja di pasar?" Tanya Nabila sambil menatap ibu mertuanya lekat.


"Iyah, mama tau pasti takut becek yah, tenang kok mama dulu juga sering ke pasar tapi karena sekarang mama udah hmm jadi mama gengsi deh buat ke pasar," balas ibu Yuni sambil cengengesan.


Nabila hanya tersenyum.


Lalu keduanya pun bersiap-siap untuk pergi ke pasar.


Kini mereka berdua tengah di pasar sedang membeli bahan dan sayuran untuk memasak.


"Pak kentang sekilo berapa?" Tanya ibu Yuni pada penjual sayuran.


"Rp 20.000 sekilo bu," jawab penjual sayuran sambil mengipas-ipasi sayuran yang di hinggapi lalat.


"Mahal banget pak, Rp 15.000 lah pak." Balas ibu Yuni menawar harga.


"Nggak bisa bu, kentang lagi mahal bu." Sahut penjual itu tak menerima tawaran ibu Yuni.


"Rp 15.000 ribu lah pak," ucap ibu Yuni masih memaksa penjual sayur untuk menurunkan harga.


Akhirnya terjadilah tawar-menawar antara ibu Yuni dan penjual sayur. Sedangkan Nabila hanya memperhatikan mereka saja. Untung pasar sepi karena cuaca hari ini panas.


Karena sudah lelah akhirnya ibu Yuni meminta Nabila untuk menawar.


"Pak kasih lah Rp 15.000," ucap Nabila sambil tersenyum.


"Buat eneng bapak kasih," sahut penjual itu genit.


"Jadi berapa pak semuanya?" Tanya Nabila pada pedagang itu.


"Semuanya jadi Rp 35.000 neng," jawab penjual sambil memberikan belanjaan Nabila. Dan Nabila pun memberikan uang kertas pecahan Rp 50.000 kepada sang penjual.


"Lah giliran di tawar sama yang lebih muda mau!" Kata ibu Yuni sedikit kesal karena sedari tadi tawar harga, sang penjual tak mau. Sedangkan Nabila sekali tawar langsung setuju.


Setelah itu mereka pun pergi untuk mencari barang lain yang akan di beli. Tapi saat di tengah jalan.


"Bu, anaknya cantik banget, boleh dong jadi istri saya," goda pemuda itu sambil melihat ke arah Nabila. Seketika ibu Yuni dan Nabila berhenti karena mereka telah menemukan toko yang mereka cari.


"Makasih, tapi tidak untuk jadi istrimu karena dia udah nikah." Sahut ibu Yuni dengan nada sewot.


"Okelah kalau begitu, akan ku tunggu jandamu untuk menjadikan kau sebagai pendamping hidupku suatu hari nanti," ucap pemuda itu sambil tersenyum genit ke arah Nabila. Sedangkan Nabila hanya terdiam dan menunduk.


"Kamu nyumpahin anak saya meninggal Hah!" Sahut ibu Yuni dengan nada tinggi dan tatapan mata yang tajam seperti ingin menerkam pria tersebut.


"Enggak kok bu, saya cuman bercanda," ucap pemuda itu ciut saat melihat tatapan ibu Yuni bagaikan seekor elang yang telah menemukan mangsanya.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan Nabila dan ibu Yuni pun langsung pulang karena hari sudah menjelang siang.