
"Tidak bisa di biarkan, aku harus segera mencari cara agar aku bisa merebut Samuel dari Moza, sebelum mereka curiga kalau sekarang Moza sudah mulai menujukkan gejala kehamilan," batin Sonya yang saat ini mondar-mandir di dalam kamar nya.
Sebagai penjahat tentu Sonya lebih dulu peka dari orang lain, Moza sendiri bahkan tidak tau jika sekarang dirinya menjadi seperti itu karena dia sedang hamil, maklum ini pertama kali bagi Moza.
"Aku harus lebih dulu menyingkirkan Moza, sebelum wanita tua bodoh dan Samuel mengetahui nya," batin Sonya lagi.
Entah rencana apa yang kali ini akan di atur oleh Sonya, yang jelas dia memiliki rencana busuk untuk Moza.
Sementara itu di kamar Moza.
"Mengapa aku tidak bisa berhenti mual?" ucap Moza kepada dirinya sendiri.
Sudah lima menit setelah masuk ke kamar, dirinya terus saja bolak balik ke kamar mandi untuk muntah.
Moza pun duduk di samping ranjang nya dan menatap ke arah kalender yang tertera di samping nakas.
"Bulan ini? Seharusnya aku sudah datang bulan kan? Mengapa aku belum merasakan sesuatu? Apa jangan-jangan? ... " Batin Moza yang kini mulai menyadari sesuatu.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk membuktikan nya, aku tidak bisa langsung menebak, jika salah aku akan membuat Samuel kecewa," ucap Moza sambil tersenyum setelah memikirkan hal itu.
Dia yang awalnya lemah pun kini seketika menjadi kuat dan bersemangat, setelah selesai menganti pakaian dan juga merias wajah nya, dia pun bergegas keluar dari mansion.
"Mau ke mana dia? Sial, apa dia sudah menyadari sesuatu?" batin Sonya mulai semakin gelisah.
"Sonya, apa yang kau lakukan di sini?" tanya mama Ema yang melihat gerak-gerik Sonya yang aneh.
"Ah, tante, mengangetkan saja, aku sedang melihat Moza, dia baru saja keluar," jawab Sonya singkat sambil tersenyum kecil.
"Mengapa dia tidak berpamitan dengan ku? Biasanya dia selalu bicara terlebih dahulu jika ingin pergi," bingung mama Ema.
"Em mungkin dia sedang buru-buru Tante,"jawab Sonya.
"Aku akan mengikuti nya," jelas mama Ema yang hendak melangkah namun tiba-tiba tangan nya di tahan oleh Sonya.
"Tante, sebaiknya jangan, aku pikir dia hanya ingin menyusul Samuel di kantor nya, aku sendiri di mansion Tante sebaiknya jangan pergi ya," ucap Sonya menghalangi mama Ema untuk mengikuti Moza, karena dia takut jika saat ini Moza pergi ke dokter.
"Hmm, baik lah," jawab mama Ema dengan perasaan aneh.
"Huh, hampir saja, aku benar-benar khawatir jika mereka tau, semua rencana yang sudah aku atur dengan matang ini, akan berantakan," batin Sonya.
Sementara itu di sisi lain.
"Bagaimana dokter?" tanya Moza kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan nya.
"Selamat ya nona, anda fositif hamil, untuk lebih mengaakurat kan, ini ada tes kehamilan yang bisa anda coba nanti di rumah," jelas sang dokter sambil tersenyum.
Deg ... Jantung Moza rasanya benar-benar ingin berhenti berdetak, tak di sangka oleh nya , penantian yang selalu ia nantikan sejak dulu akhirnya telah tiba, entah bagaimana ia bisa mengungkapkan rasa bahagia ini, yang jelas dia saat ini benar-benar merasa bahagia atas kehamilan nya itu.
"Benar kah dokter? Aku hamil?" tanya nya lagi untuk memastikan.
Dokter tersebut mengangguk mengiyakan pertanyaan Moza.
"Ya Tuhan, terima kasih atas kepercayaan mu kepada ku kali ini," batin Moza sambil menahan air mata bahagia nya yang hendak menetes.
"Terima kasih banyak dokter, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Moza yang kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan meningal kan ruang dokter tersebut.
Alangkah bahagianya Moza setelah mendapat kejelasan dari dokter bahwa saat ini dirinya sedang hamil, dan usia kandungan nya pun baru mencapai tiga Minggu.
"Sekarang kita ke mana lagi nyonya muda?" Tanya sopir pribadi Moza yang selalu mengantar kan Moza kemanapun.
"Kita ke ... Emm." Moza tiba-tiba terdiam, jika dia mengatakan hal ini kepada Samuel dengan biasa pasti tidak seru, dia butuh ide untuk membuat surprise kepada Samuel.
"Nyonya,ada apa?" tanya sang sopir kebingungan karena Moza tidak meneruskan ucapannya.
"Kita kembali ke mansion saja ya pak," ucap Moza kepada sang sopir.
"Baik lah kalau begitu nyonya," jawab sang sopir patuh.
Mereka pun akhirnya kembali ke mansion, Moza menunda niatnya untuk buru-buru mengatakan kabar baik ini kepada Samuel karena ia sudah punya cara lain untuk memberikan kejutan untuk Samuel.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di mansion, Moza buru-buru masuk kembali ke dalam kamar nya, dan kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Semua gerak-gerik nya sedang di pantau oleh Sonya, namun ia sama sekali tidak tau.
"Wajah nya terlihat bahagia, fiks ini tidak bisa aku biarkan, dia pasti sudah tau," batin Sonya mulai semakin gelisah.
"Oh ya tuhan, benar saja, ini garis dua," ucap Moza keluar dari kamar mandi dengan senyum yang mengembang sambil memegang alat tes kehamilan yang tadi di berikan oleh dokter ke pada nya.
Sementara itu Moza kembali melihat tanggal yang ada di kalender nya, " pas sekali, sayang baik-baik di dalam ya, mama akan memberikan kejutan untuk papa mu, saat hari ulang tahun nya tiba, beberapa hari lagi," ucap Moza sambil memegang perutnya yang datar.
Ya, beberapa hari lagi, adalah hari ulang tahun Samuel, Moza pun berniat memberikan kejutan itu kepada Samuel saat hari ulang tahun nya sebagai hadiah paling berharga.
"Aku harus mempersiapkan nya, supaya tidak hanya mas Samuel yang tau, satu penghuni mansion harus tau, termasuk wanita gatal itu," gereget Moza ketika memikirkan Sonya.
Namun ia tidak tau, jika Sonya sedang merencanakan hal buruk untuk dirinya.
Dua hari pun berlalu.
Hari ini, Moza sengaja pergi ke kantor Samuel, untuk menemui Nara, ia tau dirinya butuh Nara untuk membantu nya mempersiapkan surprise ini.
"Nona muda? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Romeo yang saat itu berpapasan dengan Moza.
"Aku ingin bertemu Nara, apa kau tau di mana dia?" tanya Moza kepada Romeo.
"Aku pikir ingin bertemu tuan muda, Nara ada di ruangan nya, ayo aku antar," jawab Romeo sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan bilang-bilang suamiku, kalau aku datang ke kantor nya ya," ucap Moza kepada Romeo.
"A,ahaha, iya, bagaimana bisa?" jawab Romeo seperti orang ling-lung.
"Sudah lah iya kan saja apa yang aku katakan," perintah Moza.
"Anu nona, kita sudah sampai,ini ruangan Nara,"ucap Romeo kepada Moza.
Romeo membuka pintu ruangan tersebut tampa mengetuk nya karena dia tau jam segini Nara pasti sedang asik-asikan main ponsel karena jam istirahat.
"Astaga Romeo!" marah Nara karena Romeo mengangetkan nya.
"Jangan marah,ini aku," ucap Moza yang kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.
Romeo pun berjalan pergi dari ruangan itu karena tak kuasa mendengar kan dua perempuan yang sedang bicara karena mereka pasti ada mengosoip atau apa lah itu batin nya.
Bersambung ....