My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 12



"Kak Zain?" Ucap Nabila saat melihat seseorang yang tengah menggenggam


erat tangan suaminya. Dan seketika Nabila menunduk saat Zain melihatnya.


 "Mau apa kamu? Jangan kau mencampuri urusan ku!" Ucap Azmi langsung menarik tangannya yang digenggam oleh Zain cukup kuat.


 "Memang aku tidak berhak untuk  mencampuri masalah kalian, tapi aku tidak suka bila ada seorang pria menyakiti wanita!" Balas Zain sudah tak bisa mengontrol emosinya.


Untung saja ia datang di waktu yang tepat. Kalau tidak mungkin Nabila sudah...


 Memikirkannya saja sudah membuat Zain marah.


 "Mendingan sekarang kamu pergi dari sini, jangan ikut campur. Ini masalahku dan istriku. Dan ingat aku berhak atas istriku, paham!"  Kata Azmi kesal dan menunjuk ke arah Zain dengan tatapan marah dan mata yang memerah.


 "Tapi kau tak berhak untuk menyakitinya. Bila memang dia salah tolong nasehati dengan kelembutan bukan dengan kekerasan.Karena wanita itu berpikir dengan hati bukan logika." Balas Zain dengan rahang mengeras, dan wajahnya yang merah padam seperti  siap untuk menghajar Azmi dengan kepalan tangannya.


"Sudah berhenti!" Teriak Nabila karena sudah lelah dengan percekcokan dua orang laki-laki yang ada di hadapannya itu, dengan air mata yang masih mengalir nabila berusaha melerai mereka.


Zain tahu kalau Nabila tersiksa dengan pernikahannya itu. Apalagi ia melihat dengan mata kelapanya sendiri kalau Azmi hampir menyakiti Nabila dengan tangannya sendiri bahkan di tempat umu seperti saat itu.


*****


Kini Nabila hanya bisa menangis di kursi tengah mobil. Sedangkan Zain dia tengah menyetir. Hatinya serasa nyeri saat mendengar isakan tangis Nabila. Ia tak tega melihat orang yang sangat ia cintai terluka. Walaupun tahu, Nabila kini sudah menikah. Tapi cintanya untuk Nabila masih ada di hati.


Zain tak bisa menyalahkan rasa cintanya yang memang sudah tumbuh subur dalam hatinya, karena


cinta itu datangnya dari Allah dan cinta itu adalah fitrah. Walupun kini Zain sudah tidak mungkin bisa memiliki Nabila. Sebab Nabila sudah menjadi milik orang lain. Dan ia tak menyangka kalau Azmi sekejam itu. Untung saja Zain sedang berada dekat parkiran untuk memarkirkan mobilnya, dengan alas an yang sama dengan Nabila. Ingin membeli minuman segar untuk mendinginkan tenggorokan yang kering, dan ingin membeli sesuatu untuk adiknya Zahra.


Sesaat sebelum keluar dari mobil. Zain tak sengaja melihat Azmi dan Nabila tengah berdebat, namun


pada saat itu Zain hanya diam saja melihat Nabila dari jarak yang cukup jauh. Zain sama sekali tak


berniat untuk menghampiri pasutri tersebut karena ia tahu, tidak ada pantasnya jikalau ia mencampuri urusan orang


lain walaupun itu adalah orang yang masih ia cintai. Namun  saat Azmi akan melayangkan pukulannya kea rah Nabila, Zain langsung berlari dan menahan tangan Azmi.


Hati Zain sangat perih ketika mendengar tangisan Nabila. Zain sudah kadung kesal pada Azmi karena memperlakukan Nabila sedemikian jahatnya. Ia tak menyangka bahwa rumah tangga Nabila begitu menyedihkan. Karena jika zain bertanya pada Nabila, ia akan selalu menjawab "iya bahagia" tapi nyatanya tidak. Ingin rasanya Zain membawa NAbila pergi jauh dari sina dan hidup bahagia bersamanya. Tapi ia tahu pasti Nabila akan menolaknya untuk ikut bersamanya.


"Nabila, kenapa kau masih bertahan? Mengapa kau masih ingin hidup bersama pria itu? Bukankah kau tahu kalau dia tak mencintaimu. Tapi kenapa kau tidak meminta terpisah dengannya?" Tanya Zain berturut-turut karena


dia sudah kesal dengan ulah Azmi yang telah menyakiti hati Nabila.


"Karena aku yakin suatu saat Allah akan menumbuhkan rasa cinta dihati mas Azmi untukku. Lambat laun ia pasti akan mencintaiku. Karena aku tahu Allah itu maha membolak-balikkan hati. Dan untuk meminta berpisah, Allah  sangat membenci dengan perceraian. Aku tak ingin Allah marah padaku karena itu. Mungkin ini semua ujian dari pernikahanku. Allah mengujiku, menguji kesabaranku. Seberapa sabarkah aku menghadapi ujian ini. Karena aku tahu, Allah tak akan memberikan ujian kecuali sesuai kemampuan hamba-Nya." Jelas Nabila sambil terisak sesekali dan menghapus air matanya, namun airmatanya itu selalu mengalir walau ia sudah menghapusnya berulang-ulang kali.


"Aku tahu. Tapi Azmi sudah keterlaluan sekali terhadapmu, Bila."Ucap Zain kembali.


"Biarlah. Karena aku tahu skenario Allah itu adalah yang terbaik. Kita hanya bisa bersabar menghadapi cobaan tersebut," Nabila berusaha tegar tapi airmatanya selalu mengkhianatinya.


"Kau benar-benar istri  yang sabar. Aku salut padamu. Jika kau menikah denganku mungkin sudah ku buat bahagia dirimu," batin Zain.


"Kak Zain, kenapa kita berhenti disini?" Tanya Nabila ketika Zain menghentikan laju mobilnya.


 "Tunggu, aku tengah menunggu seseorang. Kau tunggu disini," Zain keluar dari mobilnya dan berdiri di tepian jalan.


Tak lama datang seorang wanita memakai gamis dan langsung memeluk Zain. Wanita itu menggelayut manja pada lengan Zain. Nabila tak melihat jelas wajah wanita itu. Apa mungkin istrinya?


 "Assalamualaikum, kak Bila." Wanita itu masuk ke mobil dan duduk di samping Nabila. Begitu pun Zain yang kembali masuk dan bersiap untuk menyalakan mobilnya kembali.


"Wa'alaikumsalam,"


“Bukankah kamu Hanny?" Tanya Nabila sambil memandangi wanita yang ada di hadapannya.


 Wanita itu adalah Hanny, adik kedua Zain.


 Hanny mengangguk sambil tersenyum. Lalu Nabila memeluk Hanny dan ia pun membalas pelukan Nabila.


 Zain ikut tersenyumlah saat senyuman terukir di bibir Nabila. Kini kesedihan telah tergantikan oleh


kebahagiaan, walaupun sesaat. Di perjalanan, Hanny dan Nabila tak hentinya bercerita. Apalagi Hanny, wanita cerewet. Dia tak henti-hentinya bercerita tentang pengalaman dirinya.


 "Jadi sekarang kamu bekerja sebagai guru di panti asuhan?" Tanya Nabila setelah Hanny menyelesaikan ceritanya.


 "Iyah, kak. Disana aku sangat senang karena banyak sekali anak-anak tapi aku pun terkadang kesal."Jawab Hanny mengebu-gebu.


 Perbincangan antara Nabila dan Hanny tak henti-henti dan tak terasa mereka pun sampai di depam rumah Nabila, dan ia pum langsung turun di ikuti oleh Hanny dan Zain.


 "Kalian mau mampir dulu tidak?" Ajak Nabila setelah turun dari mobil.


 "Lain kali saja kak," jawab Hanny sembari tersenyum.


 "Ada tamu rupanya, kenapa tak di ajak masuk, Bila?" Ucap ibu Yuni yang keluar dari rumah setelah mendengar ada suara mobil berhenti di depan pintu rumah.


 "Tak usah, tante. Kami mau pulang saja. Terimakasih," jawab Zain sambil tersenyum tipis.


 "Ma, kenalin ini Hanny dan Zain, mereka teman Bila saat sekolah dulu. Dan mereka juga bersaudara sama Zahra," Nabila memperkenalkan mereka berdua pada ibu mertuanya.


 "Pantas saja mereka bertiga mirip," ucap ibu Yuni.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 22:00. Tapi Azmi belum juga pulang. Biasanya Azmi paling lambat pulang jam 07:00 malam. Dari tadi Nabila mencemaskan suaminya yang belum pulang. Apalagi saat mengingat pertengkaran siang tadi di kafe.  Nabila takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, namun ia senantiasa berdo'a untuk keselamatan sang suami.


 "Bila, lebih baik kamu tidur. Ini sudah larut malam," ibu Yuni khawatir bila Nabila sakit karena kurang


tidur.


"Tak apa, ma. Aku akan menunggu mas Azmi. Kalau  mamah mau tidur tak apa, Bila akan tetap menunggu," rasa kantuk Nabila hilang seketika, karena ia khawatir terjadi sesuatu pada suaminya. Karena dari tadi dia tak


mengirim pesan apapun pada Nabila ataupun ibu mertuanya.


 Nabila rupanya masih resah karena Azmi belum juga pulang. Ibu Yuni sudah pergi ke kamar dan Nabila masih setia menunggu sang suami pulang. Tak lama terdengar suara ketukan pintu, dan Nabila langsung pergi untuk membukakan pintu. Yang ternyata benar yang mengetuk itu adalah Azmi.


 Nabila langsung menyalami Azmi. Namun  Azmi sama sekali tak menghiraukan kehadiran Nabila. Azmi  langsung pergi ke kamar tanpa menoleh ke arah Nabila sedikitpun. Nabila  hanya tersenyum miris saat Azmi pergi meninggalkannya tanpa satu kata pun terucap dari bibirnya.


"Mas, mau minum teh atau kopi?" Tanya Nabila saat Azmi keluar dari kamar mandi.


 "Aku mau tidur saja," Azmi langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.


 "Aku yakin suatu saat, cepat atau lambat Allah akan menumbuhkan cinta di hati mas untukku. Aku yakin itu," batin Nabila.