My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 95



"ya tuhan, Hansel!" teriak BI Juni dengan lutut dan siku berdarah karena dia sempat jatuh saat mengejar penculik tersebut.


Namun tidak lama kemudian sebuah mobil hitam pun berhenti di depan nya.


"BI, ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa kau seperti ini?" tanya Samuel yang kemudian membentu BI Juni untuk berdiri.


Sementara itu mama Ema masih di dalam mobil dan di bantu turun oleh sopir.


"Tuan, tolong! Hiksss, ada orang yang membawa kabur Hansel, dia membawa Hansel, apa yang harus aku katakan kepada nona Moza?" tangis BI Juni pecah karena dirinya tak mampu menyelamatkan Hansel dari penculik tersebut.


"Apa? Anaku di culik!?" Samuel kaget setelah mendengar ucapan bi Juni barusan.


BI Juni mengangguk di sela Isak tangis nya.


Samuel pun tampa basa-basi lagi kembali masuk ke dalam mobil untuk segera mengejar penculik Hansel.


"Apa kau tau ciri-ciri mobil nya?" tanya Samuel sambil memasang sabuk pengaman nya.


"Aku tau plat mobil nya tuan, aku sempat melihat nya dan berusaha mengingat nya, nomor plat nya adalah 67****," sebut BI Juni masih dalam keadaan panik dan air matanya mengalir deras.


"Baik lah, aku akan mengejar mereka, dan kau, telpon Moza lalu Katakan yang sebenarnya, dan tolong jaga mama ku, jangan khawatir aku akan menyelamatkan anakku," ucap Samuel kepada BI Juni.


BI Juni mengangguk kan kepala nya, dia tidak bisa bicara karena begitu khawatir dengan Hansel sampai menangis tersedu-sedu.


Samuel pun mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi agar tidak kehilangan jejak karena mereka pasti masih belum jauh dari sana.


Namun tidak lama setelah Samuel pergi, mobil Moza pun tiba tepat di hadapan mama Ema dan BI Juni.


"Astaga, BI Juni? Ada apa ini? Mengapa kau berdarah-darah seperti ini? Dan mengapa ... ?" ucap Moza melihat ke arah mama Ema yang saat ini terlihat sangat gelisah.


"Mama nya Samuel?" ucap Naya kepada mama Ema.


Namun bi Juni tiba-tiba berlutut dan memegang kaki Moza.


Moza kebingungan dan dia menyadari jika tidak ada Hansel di sana.


"BI, aku awalnya pulang karena ponsel ku ketinggalan, tapi aku melihat kalian di sini? Ada apa? Di mana putra ku?" tanya Moza yang sudah memiliki firasat buruk.


"Nona maaf kan saya, tapi saya hiksss, saya meningal kan Hansel di ruang tengah dengan pintu yang terbuka untuk membuat kan susu nya dan setelah saya kembali saya tidak menemukan nya, lalu saat saya keluar, ternyata ada seseorang yang berpakaian serba hitam mengendong dan membawa Hansel ke dalam mobil nya, Hansel di culik," ucap BI Juni menjelaskan dengan tangisan.


Seketika Moza kaget setelah mendengar ucapan bi Juni barusan, rasanya kini dunia nya kembali hancur sama seperti saat kecelakaan yang di alami Hansel.


"Tidak, tidak mungkin, anaku di culik? Tidak mungkin!" ucap Moza dengan wajah pucat.


"Benar Moza, dan sekarang Samuel sedang mengejar penculik tersebut.


Namun Moza tak lagi mendengar apa yang di katakan mama Ema, pandangan nya seketika gelap dan ia pun akhirnya pingsan di tempat.


"Moza! Astaga," kaget Naya yang saat itu buru-buru menangkap Moza agar kepala nya tidak terbentur aspal.


Dua jam pun berlalu.


Moza akhirnya sadar, saat ini dia sudah berada di sofa ruang tengah dengan Naya, mama Ema dan juga bi Juni di sekeliling nya.


"Nona Moza kau sudah sadar, ini minum lah terlebih dahulu," ucap BI Juni yang saat ini sangat merasa bersalah atas hilang nya Hansel.


"BI, di mana anakku? Hansel di mana? Dia sudah kembali kan? Naya, di mana Hansel?" tanya Moza sambil menatap Naya dan bi Juni secara bergantian.


"Maaf nona, seperti nya tuan Samuel masih mengejar mereka," ucap BI Juni.


"Moza, tenag kan diri mu, aku yakin Samuel pasti bisa membawa Hansel kembali," ucap Naya berusaha untuk menenangkan Moza.


"Tidak, aku harus pergi mencari nya juga, aku harus pergi sekarang, ayo Naya, ayo bawa aku untuk mencari mereka," ucap Moza berdiri dari duduknya ia tidak bisa menahan perasaan nya yang begitu khawatir terhadap sang anak.


"Moza, sebaiknya jangan, kau sedang dalam keadaan tidak baik, bahaya, percaya kan semuanya kepada Samuel," ucap mama Ema yang kemudian angkat bicara.


Moza terdiam dan kembali terduduk dengan kondisi lemah, ia benar-benar tidak habis firkir mengapa masalah di dalam hidup nya tidak ada habis-habisnya, dan dia juga kebingungan apa motif penculik tersebut menculik anak nya itu.


"Hansel, mengapa hikss, mengapa kau harus menderita seperti ini nak? Apa salah mu? Sehingga ada saja yang ingin menganggu mu?" ucap Moza tak habis fikir.


Namun tidak lama kemudian, terdengar suara mobil di luar, Moza yang mengira itu Samuel pun berdiri dari duduknya.


"Hansel, Hansel kembali," ucap nya yang kemudian berjalan cepat membuka pintu dan melihat apakah Samuel berhasil menyelamatkan Hansel.


Begitu juga dengan mama Ema, BI Juni dan Naya, mereka bergegas menyusul Moza keluar untuk melihat Samuel, apakah dia membawa Hansel atau tidak.


"Di mana Hansel? Di mana dia?" tanya Moza menghampiri Samuel yang keluar dari mobil dengan tangan kosong.


"Maaf, aku kehilangan jejak, aku butuh bantuan beberapa orang untuk melacak keberadaan mobil dengan plat yang di sebut kan BI Juni," ucap Samuel terlihat sangat kesal karena dia tidak bisa mengejar mobil orang yang telah menculik anak nya.


Mendengar ucapan Samuel, sontak Moza semakin khawatir, dia khawatir anak nya akan di bunuh atau di jual oleh si penculik tersebut.


"Tidak mungkin, Hansel, hikss, Samuel cari dia! Selamat kan dia ku mohon, kau harus mencari anaku kau harus mencari nya!" tutur Moza dengan tangisan nya, dia bahkan menguncang tubuh Samuel dengan sekuat tenaga.


"Tenang lah, dia akan baik-baik saja, tenang aku akan menyelamatkan nya, percaya padaku," ucap Samuel berusaha menenangkan Moza dan menariknya ke dalam pelukan nya.


"Hiksss, tolong temukan dia ku mohon," ucap Moza kembali lemah dengan membenamkan wajahnya ke dada Samuel.


Semua yang melihat hanya bisa diam dan iba karena mereka tau betapa khawatir nya Moza dan Samuel saat buah hati mereka di culik oleh orang tampa motif yang pasti.


Namun ternyata, Moza malah kembali pingsan di dalam dekapan Samuel, hati nya benar-benar terguncang karena Hansel, dia tidak bisa mengontrol dirinya sehingga dia begitu khawatir dan akhirnya dia pun kembali tak sadar kan diri.


"Moza? Apa kau baik-baik saja? Sayang sadar lah," ucap Samuel memegang pipi nya.


Setelah menyadari Moza pingsan, kini kekhawatiran Samuel pun semakin menjadi-jadi, diri nya bergegas mengendong Moza dan masuk ke dalam rumah, namun kali ini BI Juni meminta Samuel untuk membawa Moza ke dalam kamar saja agar bisa beristirahat lebih lama karena dirinya saat ini sangat terguncang.


Bersambung ....