My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 78



"astaga, pelanggan semakin banyak, aku rasa laki-laki tampan tadi itu adalah dewa keberuntungan," ucap sang kasir dengan wajah bahagia nya.


"Astaga, kau ini tidak bisa melihat orang tampan saja ya, langsung kemana-mana pikiran mu itu," jawab teman nya yang membantu nya tadi.


"Jelas-jelas kau melihat nya, masa iya kau tidak mau mengakui bahwa dia tampan?"


Mereka kini malah cek-cok berdua.


Moza yang baru saja selesai istirahat dari ruangan nya pun keluar karena mendengar kan begitu banyak suara pelanggan yang sedang menunggu antrian mereka, terlihat lara karyawan yang sibuk melayani pembeli.


"Wahh, ramai sekali, lebih ramai dari biasanya, apa ini karena tahun baru?" batin Moza sambil berjalan menghampiri kedua kasir nya yang sedang cek-cok.


"Astaga-astaga, apa yang sedang kalian ribut kan ini? Para pembeli begitu banyak, kalian malah berkelahi," jelas Moza kebingungan melihat kedua kasir nya yang sedang berbincang adu mulut.


"Maaf buk," jawab mereka berdua secara bersamaan dan kemudian melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Beberapa jam pun berlalu, kini sudah saatnya jam istirahat dan pembeli pun sudah berkurang, karena takut mengangu karyawan nya yang sedang makan siang Moza pun sementara memasang Lebel tutup di toko nya.


"Buk, apa ibuk tau, hari ini ada seorang pelanggan laki-laki, dia sangat tampan dan berwibawa, tubuh tinggi dan big boy nya itu wahh dia seperti dewa keberuntungan," ucap kasir nya Moza.


"Apa? Haha kau ini ada-ada saja, apa hubungannya tampan, tinggi dengan dewa keberuntungan?" tanya Moza masih tidak mengerti.


"Bukan begitu buk, jadi tadi itu dia datang dan membeli satu cake strawberry dan beberapa mocy durian, lalu setelah dia pergi baru lah toko jadi ramai dan juga sampai antri tadi, jadi aku menganggap nya sebagai dewa keberuntungan," jelas sang kasir sambil menikmati makan siangnya.


"Kue strawbery? Mocy durian?" tanya Moza sambil menatap sang kasir dengan raut wajah yang sedikit aneh.


Sementara kasir nya hanya makan sambil menganggukkan-angguk kan kepala.


"Mengapa aku jadi ingat dia lagi? Tidak,ini tidak mungkin, pasti hanya kebetulan, yang suka cake strawberry dan mocy durian juga banyak karena buktinya, Hansel juga suka mocy durian," batin Moza seketika berkecamuk.


"Ada apa buk?" tanya sang kasir yang merasa kebingungan dengan raut wajah Moza.


"Aku, ah aku tidak apa-apa, lanjut kan makan siang mu, aku ke dalam dulu," jelas Moza yang kemudian berjalan kembali masuk ke dalam ruang kerja nya.


Sementara itu.


"Mama, lihat lah, ini adalah kue strawbery kesukaan mama, ayo di makan,"


Terlihat Samuel yang sedang membujuk sang mama, yang masih saja terlihat murung dia bahkan tidak bahagia di belikan kue kesukaan nya.


BI Yati pun datang dari dapur mansion dan menghampiri Samuel dan mama Ema yang sedang duduk di ruang tengah villa


"Ada apa tuan? Apa ada yang bisa saya bantu? Apa yang terjadi dengan nyonya?"


Samuel melepaskan sendok kue yang dia pegang dan mengembangkan nafas panjang lalu melihat ke arah bi Yati.


"BI, sejak tadi malam, mama jadi seperti ini, aku tidak tau apa masalah nya,"


Samuel menjelaskan apa yang terjadi dengan mama nya tadi malam saat di taman kota dan sampai sekarang mood sang mama masih jelek dan terus murung.


"Baik lah tuan muda, aku mengerti, biar kan aku yang menjaga nyonya, sebaik nya tuan muda istirahat saja, karena tuan muda terlihat begitu lelah," ucap BI Yati ya g menawarkan agar Samuel istirahat saja.


"Baik lah bi, kalau begitu aku ke kamar dulu,"


"Nyonya, apa nyonya sedang sedih? Atau ada hal yang sama ini mengangu pikiran nyonya? Saya bisa membantu nyonya untuk menjelaskan nya kepada tuan muda jika nyonya bersedia,"


BI Yati mendekati mama Ema sambil memegang bulpen dan juga buku di tangan nya, sebagai seorang pelayan yang profesional, bi Yati tentu tau apa saja yang di butuhkan oleh orang-orang yang menderita penyakit seorang mama Ema.


Awalnya mama Ema hanya menatap BI Yati dengan tatapan kosong, namun setelah melihat buku dan bulpen yang di pegang oleh BI Yati, dia pun menjadi antusias dan menganggukkan-angguk kan kepala nya sambil menatap BI Yati.


"Jadi benar ada yang ingin nyonya sampai kan? Baik lah, aku akan membantu nyonya untuk menulis apa yang sedang nyonya saat ini," jelas BI Yati mulai meletakkan bulpen tersebut ke selah-selah jari mama Ema dan juga buku di pangkuan mama Ema.


Ia pun mulai membantu mama Ema untuk menulis, meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama dan juga tulisan yang berantakan, bi Yati tidak menyerah sama sekali, dia di tugaskan untuk menjadi perawat mam Ema di sana, jadi dia harus bekerja sebaik mungkin terhadap majikan nya.


Satu jam pun berlalu, kini terlihat beberapa huruf yang telah berhasil di tulis oleh mama Ema di atas kertas tersebut, meskipun sangat berantakan tapi bi Yati masih bisa membaca nya.


Di antara huruf-huruf tersebut terdapat huruf M,O,Z dan A yang kalau di baca bersamaan jadi lah Moza, ya hanya itu tulisan yang bisa di tulis mama Ema di atas kertas tersebut.


"Moza? Apa nyonya melihat nya? Jika melihat nya anggukan kepala," ucap BI Yati lagi kepada mama Ema.


Mama Ema pun dengan semangat mengangguk kan kepala nya beberapa kali.


"Astaga jadi nyonya benar-benar melihat orang yang di cari oleh tuan muda? Di mana? Begini saja, aku akan menayangkan satu lagi apa nyonya melihat nya di rumah sakit pagi ini?" tanya bi Yati.


Namun mama Ema mengeleg kan kepala nya.


BI Yati pun memutuskan untuk kembali bertanya.


"Di taman kota tadi malam?"


Seketika mama Ema kembali mengangguk kan kepala dengan sangat semangat.


"Astaga, tuan muda! Tuan muda!"


BI Yati pun berlari cepat menuju kamar Samuel dan mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok ... Tok ... Tok ...


" Tuan muda! Tuan muda!"


BI Yati terus memagil Samuel yang ada di dalam kamar nya sambil mengetuk pintu kamar itu berkali-kali.


Tidak lama kemudian, keluar lah Samuel yang seperti nya baru bangun dari tidur.


"Ada apa bi? Di mana mama?" tanya Samuel kepada BI Yati.


"Tuan muda, nyonya menulis ini di kertas yang saya berikan, dan setelah saya bertanya apa dia melihat orang nya, dia mengganguk dan dia melihat nya di taman kota tadi malam," jelas BI Yati kepada Samuel.


"Moza? Apa benar mama melihat nya?"


Samuel terlihat kaget setengah mendapat penjelasan dari BI Yati barusan, dia pun bergegas menuju sang mama yang masih stay di ruang tengah villa tersebut.


Samuel pun berlutut di hadapan mama nya sambil kembali bertanya.


Bersambung ....