My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 85



Moza pun melangkah kan kaki nya untuk segera menghampiri Samuel, sebelum para karyawan lain yang melihat nya.


"Apa yang kau lakukan di toko ku?" tanya Moza dengan wajah datar nya, setiap kali melihat Samuel, dirinya akan mengingat kejadian masa lalu yang sempat membuat hidup nya dan sang anak hampir berakhir.


"Aku? Ke sini? Tentu saja ingin melihat keadaan istri ku, dan juga membeli kue, untuk mama," ucap Samuel yang menujuk ke arah mobil.


Mama Ema terlihat mengintip dari kaca mobil.


"Jangan berani-berani menyebutkan kata istri, itu menjijikkan," jawab Moza lagi.


"Sejijik itu lah aku di mata mu?" Samuel malah balik bertanya.


"Kata kan siapa yang memberitahu kau, aku ada di sini? Apa itu Robi?" tanya Moza dingin.


"Tidak, aku tidak menanyakan apapun kepada dia, aku tau dengan usaha ku sendiri,"


"Baik lah, terserah, selama kau tidak mencoba menganggu ku, maka aku tidak akan mempermasalahkan kau untuk membeli kue di toko ku,"


Moza terlihat lebih dingin dan lebih pintar menangapi Samuel saat ini, tidak seperti pada saat mereka pertama bertemu, kini Moza terlihat santai dengan wajah datar nya seolah melayani pembeli biasa, sungguh hati yang begitu kuat.


Ini semua dia lakukan tentu demi Hansel, dia tidak boleh lemah.


"Moza, boleh kaha ku bertemu Hansel?" Lirih Samuel menatap Moza dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Pergi dari toko ku sekarang jika kau tidak berniat membeli, jangan tanya soal putra ku, aku tidak ingin manusia seperti mu menemui nya, itu hanya akan menggangu pertumbuhan nya,"


Moza mengatakan hal itu dan kemudian berbalik hendak meningal kan Samuel yang berdiri bak patung mendengar kan ucapan tajam Moza.


"Tapi dia adalah putra ku juga, aku tau kehidupan mu sekarang lebih baik, tampa aku, tapi kau harus tau, hubungan antara aku dan Hansel tidak bisa kau putuskan begitu saja, Moza, ku mohon, lihat lah mama, dia benar-benar sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya,dan dia ingin bertemu dengan mu untuk minta maaf," jelas Samuel sambil memegang pergelangan tangan Moza.


Moza kembali berbalik, dan menatap tajam ke arah Samuel.


"Aku tekan kan sekali lagi, aku tidak butuh permintaan maaf dari siapa pun, dan anakku tidak punya ayah dia hanya punya aku, Momy nya," jawab Moza sambil menarik tangan nya dengan ketus dari genggaman Samuel.


Namun tepat di saat Samuel ingin angkat bicara lagi, seorang karyawan nya pun menghampiri mereka.


"Wahh, ini bukan nya dewa keberuntungan ya?" tanya nya dengan menujuk Samuel.


"Buk, apa kalian saling kenal? Kalian terlihat akrab, dan sangat cocok juga,"


Moza menatap karyawan nya dengan tatapan kesal, karena sudah mengatakan hal itu.


"Layani dia, jika memang dia ingin membeli kue, jika tidak usir saja, aku tidak pernah mengenalnya dan jangan asal bicara,"


Moza mengatakan hal itu dan kemudian pergi dari hadapan karyawan nya dan juga Samuel.


"Mo ..."


"Tuan maaf ya, sepertinya owner kami sedang tidak baik-baik saja, dia akhir-akhir ini terlihat banyak masalah, tolong jangan tersinggung,"


"Ti, tidak masalah, sebaiknya aku permisi,"


Samuel pun berjalan keluar dari toko tersebut dan kembali masuk ke dalam mobil nya.


"_Aku tekan kan sekali lagi, aku tidak butuh permintaan maaf dari siapa pun, dan anakku tidak punya ayah dia hanya punya aku, Momy nya,"_


Kata-kata itu kini seolah terdengar berulangkali di telinga Samuel, rasanya sungguh sakit saat Moza mengatakan jika Hansel tak memiliki ayah, jujur saja Samuel pertama kali melihat Hansel hati nya begitu bahagia, karena ternyata Hansel adalah darah daging nya, yang dia dambakan selama ini.


"_ternyata kesalahan ku cukup membuat nya menderita sampai-sampai dia yang mencintai ku jadi membenci ku"_ batin Samuel yang selalu menyadari sikap Moza yang sekarang ini ya karena kebodohannya.


Namun di hati Samuel tidak pernah ada sedikit pun rasa menyerah, dia yakin satu saat Moza akan melihat bagaimana perjuangan nya untuk mendapatkan mereka kembali, dia akan terus berjuang dan berjuang untuk menembus kesalahan nya yang terjadi di masa lalu.


Sementara itu di sisi lain


"Aku tidak bisa diam saja, aku harus melakukan sesuatu, sebelum Moza kembali terpancing akan Samuel yang mengajak nya balikan, aku harus membuat Moza meminta Samuel untuk bercerai, setelah itu baru lah aku akan membuat Moza menjadi milikku selamanya," ucap Robi yang kini sudah tidak fokus dengan pekerjaan nya, malah terus memikirkan Moza.


Dia khawatir Moza akan kembali bersama dengan Samuel, lebih tepatnya dia khawatir jika wanita yang dia anggap Karina nya itu kembali ke tangan sang pemilik yang sebenarnya.


Seperti nya Robi sudah mulai kehilangan akal sehat nya karena menganggap Moza adalah Karina.


Sementara itu ...


"Sudah cukup, aku ingin pernikahan kita di batalkan, aku tidak akan menganggu mu lagi, seperti nya kau dan dia memang sangat cocok," ucap Nara menujuk Romeo dan Naya.


Ya, baru saja Nara kembali salah paham kepada Romeo dan Naya.


"Nara, aku salah paham, aku ke sini di minta papa ku untuk mengirimkan hadiah untuk Romeo karena berterima kasih kemarin sudah membantu papa ku," jelas Naya.


"Papa mu, papa mu, papa mu, kau selalu beralasan atas nama papa mu untuk mendekati Romeo kan, dan Romeo kau selalu merespon nya dengan sangat baik, apa kau tidak pernah memikirkan perasaan ku?"


Nara kini sudah kehilangan kesabaran nya, dan dia sudah tidak tahan dengan kecemburuan yang menghantuinya setiap saat.


"Nara, dengar kan penjelasan ku, aku tidak seperti mantan suami mu, ku mohon jangan terus menuduh ku, pernikahan akan di adakan sebulan lagi jangan seperti ini ku mohon," ucap Romeo memegang tangan Nara.


Saat ini mereka bertiga sedang ada dalam ruangan nya Romeo, lagi-lagi Nara seolah menangkap basah Romeo yang berduaan dengan Naya.


"Mengapa kau tidak percaya kepada ku?" tanya Naya dengan air mata yang sudah mulai mengalir.


"Bagaimana aku bisa mempercayai seorang mantan pelakor? Sekali pelakor tetap lah pelakor, kau bisa merebut suami sahabat mu, apa itu tidak mungkin terjadi lagi sekarang kepada aku? Bagaimana ada yang bisa mempercayai wanita seperti mu!" Bentak Nara.


Saat itu semua karyawan di kantor yang lewat dari ruangan Romeo, semuanya mendengar, bahkan ada yang menguping, dan Naya tau itu.


"Nara, kau boleh memarahi ku sepuasnya, tapi tolong jangan ungkit masa lalu ku, di sini bukan hanya ada kita bertiga, baik lah jika kau tidak bisa mempercayai aku, aku minta maaf jika beberapa kali pertemuan aku dan Romeo membuat kehancuran hubungan kalian, aku pastikan hari ini adalah hari terakhir ku bertemu kalian, aku selama ini hanya membantu papa ku karena dia sedang sakit jadi aku lah yang menjadi perantara urusan nya, tapi aku akan pergi mulai hari ini, semoga kalian bahagia selalu," ucap Naya yang kemudian berjalan pergi dari ruangan tersebut sambil menyeka air matanya beberapa kali.


Romeo tak habis fikir dengan ucapan kejam dari Nara, padahal memang Naya tidak pernah bermaksud mendekati nya sedikit pun.


Bersambung ....