My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 6



Hari ini Nabila tengah bersiap-siap untuk pergi ke majelis taklim masjid Al-Abror, yang tak jauh dari rumahnya. Hari ini Nabila tak memasak karena masakan yang kemarin ia buat masih ada. Hanya tinggal dipanaskan saja.


Setelah bersiap-siap, Nabila pun turun lalu pergi ke meja makan untuk menunggu suaminya.


Taklama menunggu, Azmi pun datang sambil menjinjing tas kerjanya.


"Mas, kita makan dulu ya," ucap Nabila mengajak suaminya makan.


Azmi yang baru keluar dari kamar pun menoleh ke sumber suara. Azmi menoleh ke arah Nabila yang sedang duduk di kursi makan. Azmi pun tak berkedip ketika melihat Nabila yang anggun memakai gamis berwarna biru langit dan kerudung dengan warna putih serta polesan bedak dan lipstick yang tak tebal.


"Mas, ayo kita makan," ajak Nabila membuyarkan lamunan Azmi.


Azmi pun menghampirinya dan langsung duduk di kursi.


Nabila kemudian mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piring untuk suaminya.


"Sudah, jangan terlalu banyak." Ucap Azmi dingin.


Azmi pun mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dan mengunyahnya.


"Bagaimana Mas rasanya, enak tidak?" Tanya Nabila pada Azmi setelah memakan makanan buatannya.


"Biasa aja." Jawab Azmi datar. Tapi sebenarnya dalam hati Azmi berkata enak sekali.


Setelah selesai makan Nabila pun membersihkan piring-piring yang kotor.


"Nabila," panggil Azmi saat akan berangkat bekerja.


Mendengar panggilan dari suaminya Nabila pun menghampiri sang suami.


"Iya ada apa Mas?" Tanya Nabila segera.


"Kapan kamu mau berangkat ke pengajian nya?" Tanya Azmi dengan nada dingin.


"Setelah Mas berangkat mungkin," jawab Nabila sambil tersenyum.


"Yaudah bareng aja sama aku," ucap Azmi sambil mengambil tasnya yang ada di kursi.


"Tak apa-apa Mas, lagian tempat pengajiannya dekat kok dari rumah," ucap Nabila menolak ajakan Azmi.


"Ini bukan permintaan tapi perintah, bukan kah kau yang mengatakan akan mematuhi perintah suami selagi itu baik?" Ucap Azmi sedikit memaksa.


Diperjalanan hanya ada keheningan seperti waktu itu. Keduanya tak saling berbicara. Azmi tengah sibuk menyetir sedangkan Nabila, dia sibuk dengan ponselnya.


"Mas, aku turun di masjid depan ya," ucap Nabila membuyarkan keheningan.


Azmi hanya mengangguk.


Mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk masjid Al-Abror.


"Mas aku berangkat dulu ya," ucap Nabila sambil menyodorkan tangannya pada Azmi. Azmi pun mengerti. Dan Nabila pun mencium punggung tangan sang suami. Setelah itu Nabila pun keluar dari mobil.


Sesaat setelah pintu masuk Nabila tutup, secara cepat Azmi menlajukan mobilnya, dan meninggalkan Nabila.


"Nabila," panggil seseorang padanya.


Nabila pun menoleh dan terlihat Zain yang menghampiri dirinya.


"Kak Zain sedang apa disini?" Tanya Nabila saat melihat Zain berada di sekitar masjid. Karena pengajian ini khusus untuk wanita saja.


"Aku habis nganter adik aku, Zahra." Kata Zain.


Nabila hanya mengangguk.


"Omong-omong, rumah kamu di daerah sini?" Tanya Zain pada Nabila.


"Iya di jalan Merpati kak," jawab Nabila.


"Dekat dong sama rumah kaka," ucap Zain sambil tersenyum.


"Emang rumah kaka dimana? kaka udah pindah rumah?" Tanya Nabila.


"Iyah kaka udah pindah, dan rumah kaka di jalan Camar," jawab Zain sambil tersenyum manis.


"Oh iya ya, kalau gitu Nabila pamit dulu ya, Assalamualaikum." Tutup Nabila pamit dan pergi meninggalkan Zain.


"Nabila kamu itu benar-benar wanita sholehah ya. Tak salah hati ini mencintai kamu tapi apa daya kau sudah menikah dengan pria lain." Gumam Zain sambil melihat punggung Nabila yang menjauh.


Zain pun beranjak dari sana seraya masuk ke dalam mobil yang ia parkirkan dekat pintu masuk masjid.