My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 65



"baik lah, secepatnya papa akan membawa ku pergi dari sini, tapi kau harus berjanji jika kau akan menerima pengobatan dalam jenis apapun termasuk operasi?" jelas sang papa kepada Naya.


Naya yang sangat takut dengan hal yang bernama operasi pun terdiam mendengar ucapan sang papa, dia benar-benar takut namun ia juga sudah berjanji kepada Moza jika sampai kapan pun dirinya tidak akan mengatakan apapun kepada Samuel atau orang lain sekalipun.


Dan jika dia terus berada di rumah sakit itu, itu akan membuat dirinya bahaya karena ia tau jelas saat ini Samuel sudah mencurigai dirinya.


"Naya, mengapa kau diam? Apa kau tidak mau?" tanya papa Hanan kepada Naya.


"Baik lah, aku akan menuruti semua keinginan papa, asal papa membawa ku pergi dari sini dan tidak akan bertemu Samuel lagi, aku takut semua nya terbongkar pa, aku sudah berjanji kepada Moza," jelas Naya sambil memegang tangan sang papa.


"Papa mengerti, sekarang duduk lah, papa akan membereskan semua barang-barang mu dan hari ini juga kita akan pergi," jelas sang papa.


Naya pun lega mendengar ucapan sang papa, meskipun dia tau resikonya dia harus menuruti keinginan sang papa untuk melakukan operasi terhadap dirinya yang memegang saat ini masih dalam keadaan bandal tak ingin operasi gara-gara takut.


Mereka pun segera membereskan barang-barang mereka yang ada di dalam ruang rawat Naya tersebut.


"Tunggu di sini, aku akan mencari dokter terlebih dahulu, seperti nya akan sedikit lama Naya, karena aku akan mengurus surat rujukan mu ke RS lain agar bisa keluar dari sini," jelas sang papa kepada Naya.


"Maaf kan aku pa, aku sudah membuat papa kerepotan," ucap Naya kepada papa nya.


"Sudah lah, kau jangan memikirkan apapun lagi, kau seharusnya tidak banyak beban pikiran aku khawatir kau akan semakin sakit," ucap sang papa sambil memegang kepala anak nya dengan penuh kasih sayang.


Setelah itu papa Hanan pun segera keluar dari ruang rawat anak nya menuju ruangan dokter yang merawat Naya kemarin.


"Ya Tuhan, semoga papa segera mengurus nya dan aku bisa segera pergi dari RS ini, aku tau Samuel pasti akan segera tau jika aku ada hubungannya dengan perginya Moza, aku sudah berjanji dan aku tidak boleh mengingkari nya," batin Naya gelisah.


Sementara itu di sisi lain.


"Romeo, aku sudah mencurigai seseorang, untuk itu kau harus mengawasi nya, pinta salah satu anak buah mu untuk melakukan penyelidikan," jelas Samuel yang saat ini masih berada di dalam mobil bersama dengan Romeo.


"Mencurigai seseorang? Tunggu, siapa orang itu tuan muda, apa aku mengenal nya?" tanya Romeo penasaran.


Samuel mengambil ponsel nya, dua menit kemudian dia menyerahkan sebuah foto dari sebuah akun Instagram kepada Romeo.


"Dia orang nya, aku curiga," jelas Samuel lagi.


"Dia? Bukan kah dia adalah wanita yang sudah merebut mantan suami nona muda dulu?" tanya Romeo memastikan.


"Ya, dia lah orang nya, bagus jika kau masih mengingat wajah nya, aku mau kau mengawasi dia," sekali lagi Samuel menekan bahwa dia sudah cukup curiga kepada Naya.


"Baik lah, aku mengerti, tapi mengapa tuan muda bisa mencurigainya?" tanya Romeo.


Samuel pun mulai menceritakan dari awal pertemuan nya dengan Naya di RS tadi, sampai pada saat Naya menyinggung soal wanita lain dan juga saat Naya menghindar dari pertanyaan nya tadi, hal ini lah yang membuat nya begitu mencurigai Naya.


Romeo yang mendengar cerita itu pun akhirnya mengerti, benar jika Samuel curiga kepada Naya, karena dia bisa tau tentang kerusakan rumah tangga Samuel dan Moza beberapa Minggu belakangan.


Sementara itu di sisi lain.


Kini pesawat yang di tumpangi oleh dokter Robi dan Moza sudah berhasil mendarat dengan selamat di kota x.


"Dokter, jujur aku masih penasaran, mengapa kau begitu rela bersusah-susah membantu ku," ucap Moza, yang notabene nya selalu penasaran dengan hal-hal apapun walaupun kecil.


"Tidak ada jawaban untuk itu, yang jelas kau pasien ku,jadi diam lah nona pasien kita akan mencari taxi untuk langsung membawa mu ke RS, karena kau akan di rawat di RS selama dua Minggu sebelum aku menemukan tempat tinggal untuk mu, karena aku tidak bisa membawa ku tinggal di rumah dinas ku, aku takut banyak orang yang salah paham karena itu," jelas dokter Robi yang terlihat sangat bijaksana sekali.


"Aku mengerti dokter, aku tidak masalah, kau sudah banyak membantu bahkan jika kau mencarikan aku rumah untuk tingal aku malah lebih merasa kau bukan hanya sekedar dokter ku,tapi penyelamat ku," jawab Moza sambil tersenyum.


Kata-kata barusan membuat dokter Robi terdiam, seolah kembali mengingat sesuatu di masa lalu nya, ia selalu mendengar seorang wanita menyebutkan bahwa dirinya adalah penyelamat.


"Dokter Robi, dokter, mengapa kau berhenti?" tanya Moza menoleh dan menatap dokter Robi.


"Ah, em, maaf mataku agak sedikit perih," ucap dokter Robi yang kemudian mengucek-ngucek mata nya.


"Apa ada sesuatu yang masuk? Boleh lah aku bantu melihat nya?" tanya Moza kebingungan.


"Emm, ya, seperti nya aku kelilipan," jelas dokter Robi yang kemudian berlutut di hadapan Moza dan mendekatkan wajahnya.


Moza pun reflek memegang kelopak mata dokter Robi dan kemudian meniup nya dengan pelan.


"Nah, bagaimana? Sudah enakan?" tanya Moza kepada sang dokter tampan itu.


"Em, ... " Lagi-lagi tatapan dokter Robi terasa begitu dalam terhadap Moza dia bahkan tidak melanjutkan kalimatnya.


Sebaliknya Moza malah ikut menatap dokter Robi secara bersamaan.


"Wanita ini, mengapa saat melakukan operasi kemarin aku tidak menyadari nya? Bahwa mereka benar-benar mirip, bibir nya, mata nya, senyuman nya, benar-benar sama, hanya gaya rambut mereka yang beda," batin dokter Robi.


Sungguh, dokter Robi ini penuh misteri di dalam nya, entah siapa wanita yang selalu di kagumi oleh nya saat menatap wajah Moza ia selalu menyamakan wanita itu yang baginya memegang bagai kan pinang di belah dua dengan Moza, pasien nya itu.


"Dokter, dokter," ucap Moza sambil melambai kan tangan nya ke depan dokter Robi.


"Eh, em iya, maaf, kita lanjutkan perjalanan sekarang, taxi nya sudah menunggu," ucap nya sambil kembali mendorong kursi roda milik Moza.


Sementara Moza masih kebingungan dengan tatapan sang dokter terhadap nya.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam taxi dan kemudian melaju menuju RS xx RS terbesar di pusat kota x itu.


Moza menatap keluar kaca mobil sambil melihat pemandangan kota yang baru di datangi nya hari ini, rasanya semuanya sangat berbeda dari kota asal nya.


"Aku akan memulai hidup baru di sini, dan aku tidak akan bertemu dengan mu lagi, meskipun aku tau, saat ini kau sedang mencari ku, aku berikan hukuman atas perbuatan mu yang mungkin tak bisa aku maafkan," batin Moza sambil menahan air mata yang ingin menetes.


"Anak ini, aku berterima kasih kepada mu, karena telah memberikan nya kepada ku,aku akan menjaga nya dengan sepenuh hati ku," batin nya lagi sambil memegang perutnya yang sudah mulai kelihatan sedikit buncit.


Sementara dokter Robi hanya menatap nya dengan tatapan iba, dia tau bagaimana perasaan Moza saat ini, meskipun ia hanya tau sedikit tentang Moza dan suaminya dari Naya kemarin.


Bersambung ....