My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 16



Part 16


Matahari datang kembali menyambut hari. Cahayanya menyinari sebagian dari bumi. Nabila membuka gorden kamarnya agar cahaya matahari masuk ke dalam. Tak lupa ia membuka jendela agar ada sirkulasi udara yang sehat dan segar, sesegar udara pagi hari.


"Salamat pagi semua." Sapa Nabila kepada alam.


Setelah membersihkan kamarnya, Nabila kemudian keluar kamar lalu pergi menuju dapur untuk memasak sarapan. Ia membuka lemari es dan kemudian mengeluarkan bahan masakan, tangannya dengan lincah memotong sayuran yang akan ia masak.


Aroma harum masakan yang Nabila masak menyeruak masuk ke dalam hidung Azmi saat keluar dari kamar. Perutnya langsung berbunyi saat mencium aroma masakan istrinya.


Terlihat makanan sudah tersaji di meja makan. Azmi pun langsung mendudukkan bokongnya di kursi.


"Hmm, Nabila mungkin hari ini mas akan lembur," ucap Azmi dengan nada dingin.


"Baiklah mas. Apakah mas ingin membawa


bekal?"


"Tak usah, mas makan di sana saja," olak Azmi.


Nabila hanya mengangguk. Lalu mereka memulai ritual makan pagi dengan membaca do'a.


"Mas, sekarang aku izin mau pergi ke panti asuhan boleh?" Ucap Nabila setelah mencium tangan Azmi yang akan berangkat kerja.


"Sama siapa?" Tanya Azmi sedikit penasaran.


"Sama Hanny mas." Jawab Nabila,


"Yaudah Mas izinkan."


"Makasih mas," ucap Nabila senang karena Azmi mengijinkannya pergi.


Nabila melihat Azmi yang mulai menjauh dari pandangannya. Tiba-tiba senyum terpancarnya dari bibirnya mengingat perhatian suaminya tadi malam saat mengikatkan rambutnya. Walau pun perhatiannya sederhana namun bisa membuat Nabila bahagia. Ingin rasanya ia berteriak mengatakan kalau ia sedang bahagia. Tapi untuk apa, yang ada dia di sebut orang gila karena berteriak seorang diri tanpa sebab.


"Kenapa aku jadi senyum-senyum sendiri,


sudahlah lebih baik aku bebenah rumah," Nabila langsung masuk ke dalam rumah untuk membersihkan rumahnya seperti biasa.


Setelah pekerjaan rumah telah ia selesaiakan dan ia pun sudah mandi dan sudah rapi, saat ia untuk rehat sejenak dan ia pun duduk di ruang tamu sambil menunggu seseorang. Sesekali ia melirik jam yang menempel di dinding tembok rumahnya.


"Kok belum datang yah," gumam Nabila.


Tak lama seseorang mengetuk pintu rumah nya.


Dan Nabila langsung bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum, kak Nabila," seru Hanny sambil tersenyum sumringah.


"Waalaikumsalam, kemana aja kok lama?" Tanya Nabila setelah membukakan pintu .


"Maaf, kak," jawab Hanny cengengesan.


●●●●


Kini Hanny dan Nabila tengah mengajar anak-anak panti di saung untuk anak-anak belajar. Mereka tengah belajar tentang agama.


"Sekarang kakak mau nanya, siapa yang bisa


jawab angkat tangan. Nanti yang bisa jawab akan kakak kasih hadiah, mau?" Nabila yang akan mengajukan pertanyaan untuk anak-anak, apakah mereka sudah mengetahui dan paham dengan materi yang tadi disampaikan Nabila dan Hanny.


"Baiklah sekarang kak Bila mau nanya, rukun islam ada berapa?" Tanya Nabila sambil mengedarkan pandangan pada anak-anak.


Semua anak-anak mengangkat tangannya dan berhasil membuat Nabila bingung harus memilih yang mana.Tapi kini pandangannya tertuju pada anak laki-laki bertubuh gempal sambil melompat-lompat.


"Yah kamu, namanya siapa?" Tunjuk Nabila pada anak bertubuh gempal itu. Anak itu bahagia karena ia terpilih untuk menjawab pertanyaan Nabila.


"Namaku Zaka, kak," jawab Zakaria semangat.


"Iyah Zaka, rukun islam ada berapa?" Tanya Nabila kembali sambil tersenyum.


"Ada 5, kak."


"Pinter," Nabila langsung memberikan sebuah buku dan alat tulis pada anak itu karena telah benar menjawab pertanyaannya.


"Yah sekarang kak Hanny yang mau bertanya, siapakah ibunda Rasulullah saw?" Tanya Hanny.


Yang kemudian membuat anak-anak berlomba-lomba untuk mengacungkan tangannya setinggi-tingginya agar menjadi salah satu anak yang terpilih.


"Yah, Wahyu," tunjuk Hanby pada anak bertubuh tinggi berkulit sawo matang.


"Siti Aminah, kak," jawab Wahyu.


Pertanyaan demi pertanyaan berhasil di jawab oleh setiap anak. Setelah belajar seperti biasa mereka akan makan siang. Saat akan pergi ke luar, mata Nabila tertuju pada gadis kecil yang duduk sendirian karena yang lainnya sudah kembali ke panti. Nabila pun menghampiri gadis kecil itu dan duduk di dekatnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Nabila sambil duduk didekat gadis kecil itu.


Gadis kecil itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Nama kamu siapa?" Tanya Nabila kembali.


"Senja," jawab gadis kecil itu tertunduk.


"Senja kenapa kok sedih?" Tanya Nabila mengelus kepala gadis kecil itu.


"Senja gak apa-apa kok," jawab gadis kecil itu menunduk


"Cerita dong sama kakak, siapa tahu kakak


"Tapi kakak jangan marah, janji," gadis kecil itu mengacungkan jari kelingkingnya. Nabila pun membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Senja.


"Janji." Ucap Nabila.


"Sebenarnya Senja gak suka sama gambar


bukunya," ucap Senja dengan polosnya.


Nabila pun merasa heran, tak ada yang salah dengan buku itu. Buku dengan sampul berwarna pink bergambar Putri Duyung Ariel.


"Bukankah ini bagus?" Nabila menatap


Senja yang masih menunduk.


"Senja gak suka Ariel, Senja sukanya Pokemon." Jawaban polos dari Senja membuat Nabila tersenyum.


"Kenapa, bukankah Ariel cantik. Teman-teman Senja juga suka." Balas Nabila heran.


"Senja lebih suka Pokemon karena kuat," ucap Senja sambil memberikan buku itu pada Nabila.


"Tapi Ariel itu cantik kayak Senja, dia juga pintar," Nabila memberikan kembali buku itu pada Senja.


"Benarkah?" Tanya Senja menatap Nabila dengan tatapan binar.


Nabila memgangguk. Dan tak lama gadis kecil iti


memeluk Nabila sangat erat. Kemudian pergi ke panti untuk menyusul teman-temannya.


Nabila tersenyum menatap kepergian Senja yang


masuk ke panti.


●●●●


Jam sudah menunjukkan pukul 12:25. Waktunya makan siang. Tapi Azmi masih setia dengan laptopnya. Ia sedang mengerjakan laporan yang sudah menumpuk di mejanya.


Drrrttt drrttt


Handphone Azmi bergetar. Azmi menoleh sekilas


di handphonenya terpampang nama"Mella". Entah sudah berapa kali Mella meneleponnya. Namun Azmi mengabaikannya.


■■■■


"Aishhh kok gak di angkat sih," gerutu Mella karena Azmi tak mengangkat teleponnya .


Entah sudah berapa kali ia menelepon Azmi tapi tak diangkat juga. Karena kesal akhirnya Mella memutuskan untuk pergi ke kantor tempat Azmu bekerja.


■■■■


Tok tok tok.....


"Masuk," ucap Azmi.


Terlihat seorang wanita masuk ke dalam ruangan Azmi. Namun Azmi masih terfokus ke arah laptopnya.


"Azmi!" Panggil wanita itu, kasar.


"Mella, sedang apa kau disini?" Tanya Azmi terkejut pasalnya Mella datang tanpa sepengetahuan Azmi.


"Kaget yah, kamu kenapa gak angkat telepon aku sih, aku udah berapa kali telepon kamu tapi kamu malah gak angkat." Ucap Mella sambil berjalan menghampiri Azmi.


"Azmi, jawab dong jangan diam aja," desak Mella yang membuat Azmi salah tingkah.


"Bisa gak, kamu diam. Kamu tahu kan aku lagi kerja, kamu itu ngertiin aku sekali aja, bisa gak, jangan ganggu aku dulu." Kata Azmi kesal karena dari tadi Mella mengoceh tanpa henti sampai membuat Azmi pusing.


"Kamu jahat, Mi. Kamu ludah gak sayang lagi sama aku," tangis Mella pecah saat Azmi membentaknya. Karena baru pertama kali ini Azmi membentak Mella.


Mella langsung berlari keluar ruangan sambil


menangis tak memperdulikan orang-orang melihatnya. Tak ada niatan untuk Azmi menyusulnya karena ia pun sedang pusing dengan laporannya.


■■■■


Kini Azmi tengah duduk di sofa depan TV sambil menatap laptopnya bukan TV yang menyala.


Seharusnya hari ini ia lembur karena merasa pusing akhirnya ia meminta izin untuk mengerjakan tugasnya di rumah.


Matanya sudah sakit karena dari pagi terus memandangi layar laptopnya. Nabila sebenarnya sudah menyarankan agar ia istirahat dulu, tapi Azmi menolaknya.


Jam sudah menunjukkan setengah dua belas malam. Tapi Azmi masih berkutat dengan laptopnya. Karena kasihan dengan suaminya yang tengah bekerja akhrinya Nabila memberanikan diri untuk berbicara pada suaminya yang sepertinya ia pun sudah lelah.


"Mas, lebih baik mas istrirahat dulu, gak baik tahu buat kesehatan, mas. Apalagi itu mata udah merah. Aku takut nanti mas sakit," ujar Nabila dengan lemah lembut.


"Kamu bisa gak sih diam, mas udah pusing.


Kamu gak usah sok perhatian sama mas ok. Kalau kamu mau tidur yaudah tidur sana. Gak usah khawatirin mas!" Bentak Azmi membuat Nabila kembali lagi mengeluarkan air mata yang tak bisa terbendung.


Akhirnya Nabila pergi ke kamar untuk


menenangkan diri. Dan Azmi memukul kepalanya frustasi karena ia telah membuat dua wanita menangis karenanya.


Karena lelah, Azmi pun tertidur di sofa dengan laptop masih menyala. Nabila yang melihat itu tak tega dan langsung pergi ke kamar untuk mengambil selimut dan bantal. Ia pun melihat laptop Azmi di atas meja. Lalu menyelimuti badan Azmi dengan selimut yang Nabila bawa.