My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 94



Sepuluh menit berlalu, kini Hansel mulai terlihat asik dan bahagia saat bermain dengan Samuel, dia terlihat lebih bahagia dari sebelumnya, dengan kemiripan sikap bagi mereka berdua akrab itu cukup lah mudah bahkan baru sepuluh menit, Hansel sudah memagil Samuel dengan sebutan Dady Muel.


Sungguh panggilan yang sangat di harapkan oleh Samuel selama ini, panggilan yang cukup dia dambakan nya.


Waktu pun terus berlalu, Moza yang kesal karena di abaikan oleh Hansel pun akhirnya menghampiri Samuel dan Hansel, mereka pun malah larut dalam kebersamaan antara Hansel yang seolah jadi penengah untuk mempersatukan mereka kembali.


Sore harinya.


"Terima kasih, kau sudah mengijinkan aku untuk bertemu Hansel dan juga main dengan nya, bahkan lebih dari tiga puluh menit," ucap Samuel kepada Moza.


"Hmm, iya, pergi lah pulang,aku ingin istirahat," jawab Moza dengan mengalihkan pandangannya.


Dia tidak ingin melihat Samuel, entah kenapa tapi dia memalingkan wajahnya.


"Emm, apa lain kali aku boleh datang lagi?"


"Apa? Datang lagi?"


Samuel mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum.


"Tidak, tidak boleh, kau selalu datang nanti Hansel akan lebih dekat dengan mu di bandingkan aku,"


Moza ternyata malah cemburu dengan keakraban Samuel dan Hansel.


"Baik lah kalau begitu apa kau mau lebih akrab dengan ku juga seperti Hansel?"


"Apa? Ti-tidak, tolong jangan melenceng dari pembicaraan ya, sudah sana pergi," ucap Moza lagi.


"Baik baik, aku akan pergi, oh iya, ada satu lagi yang perlu aku bicarakan,"


Samuel yang menyebalkan terlihat mengulur waktu untuk terus berdekatan dengan istri nya itu.


"Apa lagi astaga,"


Moza kesal namun dia penasaran.


"Tapi kau harus mendekat, aku akan membisikkan nya, khawatir ada orang yang mendengar pembicaraan kita," ucap Samuel lagi kepada Moza.


Moza yang malas menunggu lama pun akhirnya mendekat kan telinganya ke Samuel.


"kau sangat cantik," ucap nya dengan lirih di kuping Moza.


Seketika Moza kaget dan menatap Samuel seperti hendak menelan Samuel hidup-hidup.


"Aku pulang sekarang," ucap Samuel yang kemudian masuk ke dalam mobil nya lalu pergi meningal kan rumah Moza.


"Dasar gila," ucap Moza yang kemudian berjalan dengan kesal kembali masuk ke dalam rumah nya.


Sementara itu tampa mereka sadari, ada seorang laki-laki berpakaian serba hitam,dia sudah memotret saat Moza dan Samuel begitu dekat.


"Sial! Samuel sialan!" Aku benar-benar membenci dia! Beraninya dia datang ke rumah ku dan menemui Moza," ucap Robi melempar kan ponsel nya ke lantai hingga pecah.


Ya, sebenarnya, laki-laki yang berpakaian serba hitam tersebut adalah anak buah nya Robi yang sengaja di suruh oleh Robi untuk mengawasi Samuel dan Moza.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang boss?" tanya anak buah Robi kepada nya.


Robi terdiam dan menatap anak buah nya itu, dia berfikir keras, apa ya g selanjutnya harus di lakukan.


"Aku harus melakukan sesuatu, tidak bisa menahan semua ini lagi, Moza jelas-jelas tidak mau bercerai dan dia malah mengijinkan Hansel dekat dengan Samuel, aku tidak bisa terima ini, dia juga melarang ku untuk ikut campur urusan nya," ucap Robi sambil mencengkram kuat kertas yang dia pegang.


"Apa kita culik saja anak nya boss?" ucap anak buah Robi.


Robi kaget dengan ucapan anak buah nya itu, bisa-bisa dia meminta Robi untuk menculik Hansel saja.


"Sebagai alat, agar boss bisa mendapatkan wanita yang boss mau, bukan kah dia akan menuruti apa yang boss katakan, jika boss mengambil anak nya dan boss pasti bisa mengancam dia kan dan dia tidak akan berani membantah apa yang boss ingin kan," ucap Naka buah Robi menghasut nya.


"Jika tidak ada jalan lain untuk aku mendapat kan nya, seperti nya apa yang kau katakan cukup masuk akal," ucap Robi terpancing akan ambisius nya sendiri.


"Baik lah bos, bari kita atur semuanya," jelas sang anak buah yang kemudian mereka pun menyusun rencana dan diskusi.


Keesokan harinya


"BI, aku dan Naya ke toko dulu ya, tidak akan lama, tolong Hansel di jaga dengan baik, jangan ajak dia keluar, aku takut dia akan jatuh lagi," ucap Moza kepada BI Juni.


"Baik nona, saya akan menjaga nya," ucap BI Juni mengerti.


Setelah berpamitan dengan bi Juni dan Hansel, mereka pun akhirnya pergi dari rumah tersebut menunju toko kue nya Moza.


"Hansel, nenek bikin susu dulu di dapur ya, kau tunggu di sini saja," ucap BI Juni kepada Hansel.


Hansel pun mengangguk kan kepala nya dan kemudian bermain dengan mainan nya.


BI juni pun meninggalkan Hansel sendiri di ruang tengah untuk membuat kan susu untuk nya.


Sementara itu di sisi lain.


"Samuel, mama ingin bertemu dengan Hansel dan Moza, apa kau bisa membawa mama?" ucap mama Ema kepada Samuel.


Ya, sejak satu bulan fisioterapi mama Ema sudah bisa berbicara, namun dia masih tidak bisa berjalan atau mengerakan tangan masih sangat susah.


"Apa mama sangat ingin bertemu hari ini?" tanya Samuel lagi.


"Iya, mama sangat ingin bertemu mereka hari ini, boleh kah?" tanya sang mama lagi terlihat sangat berharap untuk bertemu dengan cucu nya.


"Baik lah, kita akan pergi ke rumah Moza, setelah mama siap-siap ya" ucap Samuel ya h akhirnya kembali ada alasan untuk bertemu dengan Moza dan Hansel.


Mereka pun siap-siap untuk segera pergi ke rumah nya Moza.


Sementara itu ...


"Hansel sayang, ini susu nya sudah nenek buat kan," ucap BI Juni sambil membawa botol susu Hansel untuk memberikan kepada nya.


Namun ruang tengah seketika kosong, tidak ada siapapun, tidak terlihat Hansel di ruangan itu.


BI Juni yabg berfikir Hansel bersembunyi pun masih bisa tersenyum dan mencarinya di bawah kolong meja sambil memanggil namanya.


"Hansel, sayang nenek masih banyak pekerjaan, tolong jangan sembunyi-sembunyi atau susu mu nenek minum," ucap BI Juni sambil bercanda.


Lima menit kemudian, tidak ada sama sekali tanda-tanda Hansel bersembunyi, karena BI Juni sudah mencarinya ke seluruh tempat yang biasanya menjadi tempat persembunyian Hansel.


BI Juni pun mulai panik dan kemudian berjalan menuju pintu keluar dari rumah tersebut yang ternyata terbuka.


"Astaga, apa dia keluar dari rumah?" ucap BI Juni kaget, ia pun berjalan cepat keluar dari rumah tersebut sambil memangil- manggil Hansel.


Terlihat seseorang yang mengunakan pakaian serba hitam mengendong Hansel dan berlari terburu-buru keluar dari halaman rumah itu.


BI Juni pun sontak kaget, dengan sekuat tenaga ia berlari mengejar orang tersebut sambil meneriaki nya.


"Hansel! Penculik! Tolong! Tolong! Cucu ku di culik!" teriak BI Juni dengan sekuat tenaga ia berlari mengejar penculik tersebut.


Namun sayang nya, orang itu telah masuk ke dalam mobil dan membawa Hansel pergi.


Bersambung ....