
"sayang, astaga maaf kan aku, aku sangat menghawatirkan mu, mengapa kau tidak menelpon ku? Aku bisa menjemput mu tadi malam, mengapa harus menginap di sini?" tanya Samuel seolah tidak merasa bersalah karena dirinya meningal kan pesta ulang tahun tadi malam dengan begitu saja.
"Maaf, ponsel ku kehabisan baterai,"jawab Moza singkat dengan wajah datar.
"Moza, aku ke belakang dulu," ucap Nara yang tidak ingin ikut campur terlalu jauh karena Moza sudah menemui Samuel sekarang.
"Baik kak,"jawab Moza.
"Sayang, bagaimana sekarang kembali ke mansion?" ucap Samuel lagi.
"Baik lah,tapi seharusnya kau tidak perlu menjemput ku seperti ini, aku misa meminta kak Nara untuk mengantar ku, Sonya mungkin membutuhkan dirimu dari pada aku," ucap Moza sambil menyidir Samuel.
"Sayang, aku tau aku salah, aku sudah mengabaikan mu dan membiarkan mama meminta ku menemani Sonya," ucap Samuel menuduk.
"Aku ijin kak Nara dulu, kau tunggu saja di mobil," jelas Moza yang kemudian berjalan meningal kan Samuel.
Sungguh Samuel merasa tidak nyaman atas dingin nya sikap Moza kepada nya kali ini.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil untuk segera kembali ke mansion.
"Sayang, apa kotak kecil berwarna biru muda tadi malam masih kau simpan?" tanya Samuel memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
"Aku tidak tau," jawab Moza singkat.
Samuel kembali terdiam, ia mengingat kembali wajah bahagia Moza saat tadi malam dan melihat kembali wajah datar Moza siang ini.
Namun ia tidak mau mengacaukan mood Moza lagi, ia pun kembali memilih diam, sampai dia menemukan kembali kotak hadiah Moza tadi malam, dia berniat pergi mencari ke restoran itu setelah mengantar kan Moza pulang ke mansion.
Tidak butuh waktu lama, Samuel dan Moza pun tiba di mansion, Moza turun dari mobil tanpa mengatakan apapun kepada Samuel, ia berjalan masuk ke dalam mansion dengan mulut bungkam.
"Dia sangat marah kepada ku?" batin Samuel merasa menyesal sudah membuat sang istri marah dengan nya.
Namun Samuel tidak turun dari mobil karena dia ingin kembali ke restoran tempat tadi malam Moza merayakan ulang tahun nya.
Ia pun kembali menyala kan mesin mobil dan melaju meningal kan mansion.
Sementara itu Moza hanya melihat nya dari balkon kamar.
"Apa dia akan pergi mencari kotak itu? Hah biar kan saja, bukan urusan ku, biar kan saja dia menerima karma nya karena sudah berani mengabaikan ku," batin Moza yang kemudian kembali masuk ke kamar nya dan beristirahat.
Sementara itu di sisi lain.
Samuel tiba di restoran tadi malam, dia turun dari mobil nya dan masuk ke dalam restoran yang sudah di penuhi dengan pengunjung tersebut.
"Semoga salah satu karyawan menemukan nya, saat mereka bersih-bersih," batin Samuel.
Samuel pun berjalan menghampiri satu karyawan yang saat itu kebetulan sedang ada di depan untuk melayani beberapa tamu mereka.
"Maaf bisa kah aku bicara sebentar dengan mu?" tanya Samuel kepada karyawan tersebut.
"Tentu tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawab sang karyawan dengan ramah.
"Apa saat kalian masuk untuk bekerja tadi pagi, menemukan satu kotak kecil berwarna biru muda di dalam restoran bekas perayaan ulang tahun tadi malam?" tanya Samuel panjang lebar.
"Maaf tuan, saat kami datang petugas kebersihan restoran sudah membereskan restoran ini, jadi tidak bada satupun barang yang tertinggal," jelas sang karyawan dengan jujur.
"Astaga," ucap Samuel furstasi.
"Baik tuan kalau begitu saya permisi," tutur sang karyawan yang kemudian kembali melayani tamu-tamu nya.
Samuel pun akhirnya keluar dari restoran tersebut dengan perasaan campur aduk dia pun memutuskan untuk kembali ke mansion dan berbicara baik-baik kepada Moza untuk meluruskan masalah dan membujuk Moza.
Tidak butuh waktu lama,ia pun kembali tiba di mansion.
Samuel bergegas masuk ke dalam kamar dan melihat Moza.
"Sayang," lirih nya sambil mendekati Moza yang saat ini sedang duduk sambil membaca sebuah buku di tangan nya.
"Ada apa?" Tanya Moza dingin.
"Sayang, tolong jangan bersikap dingin seperti ini kepada ku,aku tidak bisa, aku tidak tahan, aku salah aku minta maaf," ucap Samuel menatap Moza dengan tatapan sedih sambil tangannya memegang tangan Moza.
"Sudah lah, tidak ada yang spesial, apa aku kelihatan marah? Aku baik-baik saja, aku mengerti," jawab Moza tampa ekspresi apapun di wajah nya.
"Aku tau kau kecewa karena kejadian tadi malam, tapi aku juga panik dan tidak tau harus berbuat apa, mama juga terus memaksa ku," jawab Samuel lagi.
"Samuel tolong menyingkir lah, aku ingin istirahat, aku lelah," ucap Moza yang kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang.
Tampa basa-basi ia langsung merebahkan tubuh nya dan memejamkan mata.
"Dia benar-benar marah kepada ku, sampai memangil ku dengan menyebut nama,"ucap Samuel sambil menatap punggung Moza yang sedang membelakangi nya.
Jujur saja Moza marah dengan Samuel yang sudah mengecewakan dirinya, Samuel juga melupakan dirinya hanya karena khawatir dengan keadaan perempuan lain yang selalu di bilang sahabat masa kecil.
Dua Minggu pun berlalu
Sejak kejadian itu, Moza masih saja sering mendiamkan Samuel, meskipun ia mengatakan sudah memaafkan Samuel tapi sikap nya masih sangat dingin, namun tidak sedingin awal kejadian itu, Samuel pun sekarang lebih berusaha menjaga hati sang istri meskipun ia kebingungan karena akhir-akhir ini istri nya itu sering bad mood, sering marah dan juga kadang tidak mau melihat wajah nya.
Tentu nya itu mungkin adalah bawaan hamil nya Moza tapi Samuel masih belum mengetahui nya dan berfikir jika Moza hanya masih belum bisa melupakan kejadian kemarin.
Sore itu pukul 17.50
"Samuel dan Moza sudah baikan? Huh, ini tidak bisa aku biarkan,aku harus melakukan sesuatu lagi, cara kemarin mungkin masih belum berhasil menyingkirkan Moza, tapi aku yakin hari ini, aku pasti bisa membuat Moza tersingkir kan." ucap Sonya gelisah karena seminggu belakangan ia melihat Moza dan Samuel sudah kembali seperti biasanya.
"Sonya apa yang kau pikirkan?" tanya mama Ema menepuk pundak Sonya dari belakang.
"Eh, Tante membuat aku kaget saja," ucap Sonya sambil tersenyum hambar.
" Aku tau apa yang kau pikirkan, mungkin saja pikiran kita sama, masih dalam usaha menyingkirkan perempuan jahat itu kan?" ucap mama Ema.
"Iya Tante, dan aku melihat mereka akhir-akhir ini sudah berbaikan, susah sekali untuk menyikir kan nya," ucap Sonya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Tenag saja, Tante punya cara, dan semoga kali ini kita berhasil membuat Moza pergi dari mansion ini," ucap mama Ema dengan bodoh nya.
"Apa itu Tante?" tanya Sonya penasaran.
Mama Ema pun mendekat kan bibir nya ke kuping Sonya dan kemudian membisikkan sesuatu.
"Ide bagus, kapan kita akan melakukan nya?" tanya Sonya tidak sabar.
"Lihat lah jam sudah menujukkan pukul lima, ini sudah waktunya Samuel kembali ke mansion, jadi kita jalankan rencana nya sekarang saja, bagaimana?" tanya mama Ema kepada Sonya.
"Baik lah Tante, aku siap, walaupun resiko nya mungkin akan membuat aku sedikit bahaya,tapi demi Samuel aku rela," ucap Sonya penuh semangat.
Mama Ema pun tersenyum bahagia dengan ucapan Sonya barusan.
Bersambung ....