My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 61



"apa? Tidak,ini tidak mungkin, itu artinya mama sudah di bohongi?" tanya mama Ema seketika wajah nya berubah.


"Tante bagaimana dengan aku?" tanya Sonya kebingungan.


Jujur saja saat ini Sonya benar-benar takut, dalam kondisi nya yang masih sakit, dia akan di usir dari mansion dia juga tidak menyangka kejahatan akan terbongkar secepat ini, padahal dirinya sudah bahagia berhasil menyingkirkan Moza dari mansion itu.


"Aku sangat menyesal atas perbuatan mama, dan kau Sonya aku akan pergi mencari istri ku sekarang, jika kau belum angkat kaki dari mansion ini saat aku kembali, aku tidak akan segan-segan membunuh mu!" Ancam Samuel yang kini tidak terlihat main-main lagi.


"Samuel, aku ini sahabat mu, dan sekarang aku sedang hamil, apa kau tega mengusir aku?" tanya Sonya dengan air mata buaya nya.


"Aku tidak peduli!" ucap Samuel yang kemudian berjalan pergi meningal kan mansion tersebut.


Suasana pun menjadi sangat tegang saat ini, karena mama Ema dan Sonya, kejahatan mereka akhirnya terbongkar, terlebih lagi mama Ema yang menyesal karena sudah mempercayai Bu Yani yang jahat.


Mama Ema terduduk di sofa ruang tengah dengan hati yang begitu kacau, tak di sangka dia di tipu oleh Bu Yani, sampai-sampai ia membenci Moza yang selama ini selalu bersikap baik kepada nya.


"Tante bagaimana ini? Mengapa bisa jadi seperti ini? Aku tidak mau tau, sekarang aku sudah sakit begini apa Tante akan mengusir ku juga? Bagaimana dengan janji Tante untuk menikah kan aku dengan Samuel?" tanya Sonya menatap mama Ema dengan tatapan marah.


"Sonya, maaf kan aku, tapi semua yang terjadi hanya salah paham dan ternyata Bu Yani sudah membuat fitnah, dia lah yang telah menghancurkan semuanya, sebaiknya kau pergi saja dari sini, karena aku tau betul, Samuel tidak akan main-main dengan ancaman nya," ucap mama Ema yang sudah tidak tau harus berbuat apa lagi.


"Tidak,aku tidak mau, aku sudah seperti ini gara-gara Tante, dan sekarang seenaknya meminta aku pergi?" marah Sonya.


"Lalu apa lagi yang harus kau lakukan di sini? Aku sudah mengatakan jika semua yang terjadi itu hanya fitnah,aku bersalah kepada menantu ku sendiri, aku salah!" ucap mama Ema terlihat sangat marah kepada dirinya sendiri.


"Benar-benar tidak berguna, kalian ini bisanya hanya buang-buang waktu saja, lihat lah aku akan pergi tapi aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia! Lihat lah suatu saat nanti!" ucap Sonya yang kemudian berjalan menuju kamar nya.


Selang beberapa lama kemudian Sonya keluar dengan membawa koper nya, dia saat ini tidak bisa berbuat apa-apa selain pergi dari mansion tersebut, jika terus diam di sana, maka itu hanya akan membuat nya mati di tangan Samuel.


Sementara mama Ema yang saat ini terguncang akan kesalahannya sendiri merasakan dada nya begitu sakit dan sesak.


"Ah, ya tuhan,apa yang terjadi dengan ku? Dada ku, jantung ku sakit sekali," ucap nya sambil memegang dada nya.


"Nyonya, ada apa? Apa nyonya baik-baik saja?" tanya salah seorang pelayan yang melihat mama Ema tergeletak di atas sofa dengan keadaan yang masih memegang dada nya.


Sementara itu di sisi lain.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan di luar pintu rumah Nara.


Nara yang saat itu baru selesai meniduri Celsy pun bergegas keluar dan melihat siapa yang datang mengetuk pintu rumahnya.


"Samuel, ada perlu apa?" tanya Nara yang masih marah terhadap Samuel.


"Kak, di mana Moza,dia ada di sini kan?" tanya Samuel sambil berjalan masuk ke dalam rumah Nara.


Nara yang melihat itu pun kebingungan, karena memegang dua hari ini dia tidak melihat atau bertemu dengan Moza.


"Moza tidak ada di sini? Ada masalah apa lagi kalian?" tanya Nara kepada Samuel.


"Samuel Moza tidak ada di sini!" marah Nara yang kesal karena Samuel tidak mempercayai apa yang dia katakan.


Samuel terdiam, ia menatap Nara dengan tatapan yang terlihat begitu sedih.


"Kak, aku sudah melakukan kesalahan besar, Moza pergi dari mansion," jelas Samuel.


"Apa? Moza pergi dari mansion? Bagaimana bisa? Samuel, apa yang sudah terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa dia pergi dalam keadaan hamil seperti itu?" tanya Nara yang mengira jika Samuel sudah tau kalau Moza saat ini sedang hamil.


Deg ... Jantung Samuel seakan ingin berhenti berdetak, tak di sangka oleh nya jika saat ini sang istri sedang dalam keadaan hamil, hatinya kini semakin gelisah memikirkan keadaan Moza sekarang.


"Ha-hamil?" ucap Samuel.


"Samuel, jangan bilang jika kau masih belum tau kalau Moza sedang hamil,"lirih Nara sambil berjalan mendekati Samuel.


Samuel terduduk di atas lantai rumah Nara, tubuh nya kini lemah, mengingat apa yang sudah dia lakukan kepada Moza hatinya kini menyiksa dirinya sendiri.


"Mengapa aku baru tau jika Moza sedang hamil?" tanya Samuel.


Air matanya mengalir saat menatap wajah Nara.


"Samuel, apa kau ingat kotak kecil berwarna biru muda itu?" Tanya Nara kepada Samuel.


"Ya," jawab nya.


Nara berjalan masuk ke dalam kamar nya, lima menit kemudian ia pun keluar dari dalam kamar tersebut dan memberikan kotak kecil berwarna biru muda itu kepada Samuel.


Ya, malam itu, Nara mengambil nya lalu menyimpan nya.


Samuel dengan tangan yang gemetar meraih dan membuat kotak tersebut, ternyata isinya adalah tes kehamilan milik Moza.


"Malam itu dia sengaja meminta aku untuk mempersiapkan pesta ulang tahun mu, karena dia ingin memberikan kejutan itu, tapi kau malah lebih mementingkan wanita itu, dan menghancurkan hatinya, namun dia masih memaafkan mu, tapi sekarang apa yang kau lakukan sehingga membuat dia pergi?" lirih Nara yang sudah kehabisan kata-kata untuk memarahi adik sepupu nya itu.


Samuel tidak bisa berkata-kata lagi, dirinya menatap garis dua di tes kehamilan tersebut,dan mengingat bahwa dirinya menampar Moza pada siang itu karena ulah mama nya dan Sonya.


"Aku, aku sudah salah paham, aku tidak tau harus melakukan apa lagi, aku benar-benar bodoh, semua salah paham itu datang dari mama yang percaya dengan hasutan Bu Yani, mantan ibu mertua Moza yang dendam kepada Moza, semuanya terjadi begitu saja,aku salah paham karena berfikir dia iyang mendorong Sonya dari tangga," ucap Samuel dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi nya.


Terlihat saat ini kehancuran hati dan juga penyesalan yang begitu luar biasa menimpa seorang Samuel.


"Kau benar-benar keterlaluan Samuel, dan kau sudah membuat nya terluka, jujur aku tidak tau di mana dia, karena sudah sejak dia kembali ke mansion tidak ada lagi menghubungi aku,"jawab Nara jujur.


"Kak, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tolong aku, aku tidak tau harus mencari nya ke mana," jelas Samuel memegang kaki Nara.


"Jangan bodoh, kerah kan semua anak buah mu, minta bantuan Romeo untuk mencari keberadaan Moza, sebelum terlambat Samuel, aku khawatir dia akan pergi dari kota ini, dan kau tidak akan bisa menemukan nya lagi," ucap Nara yang sebenarnya begitu kecewa atas sikap Samuel yang ceroboh.


Mendengar perkataan Nara, Samuel terdiam, karena ia tau jika urusan nya sudah ke luar dari kota ini akan susah untuk di temukan.


Bersambung ....