
"Azmi!" Panggil seseorang saat Azmi keluar dari mobilnya.
Merasa namanya di panggil, Azmi pum menoleh ke arah sumber suara. Matanya mencari orang yang memanggilnya. Senyumannya langsung terukir saat melihat orang yang memanggilnya.
"Imam," ujar Azmi saat melihat orang tersebut.
"Hai, bro apa kabar?" Tanya Imam sambil menepuk bahu sahabat karibnya itu.
"Assalamualaikum, ucapkan salam terlebih dahulu saat bertemu," balas Azmi memberi salam.
"Assalamualaikum, setelah menikah lo jadi berubah, bro. Salut dah gua sama istri lo," ucap Imam menggoda Azmi yang notabenenya tidak suka bercanda.
Imam berdecak kagum melihat sahabatnya yang kini sudah berubah.
"Ah apaan sih, omong-omong lo kok ada disini?" Tanya Azmi menyela.
Karena Azmi berusaha mengalihkan pembicaraan agar Imam tak membahas tentang itu. Entah
mengapa ia spontan mengucapkan itu. Apakah mungkin ia telah berubah. Sepertinya.
"Suka-suka gua lah," sahut Imam.
"Kebiasaan,"
"Haha, gua kesini karena disuruh sama bos gua buat ketemu sama manager di sini," balas Imam semangat
"Oh."
"Lo kebiasaan yah, kalau gua ngomong jawabannya pasti oh doang, nggak pernah berubah dari jaman dulu, sialan lo." Ucap Imam sedikit emosi karena jawaban 'oh' dari Azmi.
Imam rupanya lengah dengan kebiasaan Azmi yang selalu menjawab dengan perkataan oh, padahal
ia sudah menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar.
"Yaudah sekarang kita masuk aja," ajak Azmi.
Mereka pun langsung masuk ke kantor bersama-sama.
Azmi dan Imam sudah bersahabat sejak kecil. Jadi tak aneh bila mereka seperti itu.
●●●●
"Kak Hanny, Kak Nabila," seru anak-anak panti saat melihat mereka datang.
"Assalamualaikum," ucap mereka berdua serempak.
"Waalaikumsalam kakak," jawab anak-anak semangat.
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Nabila pada anak-anak.
"Alhamdulillah, luar biasa, Allahu akbar, yes!"
Anak-anak menjawabnya dengan semangat. Setelah kedatangan Nabila dan Hanny di sana. Anak-anak selalu terlihat lebih semangat. Apalagi Nabila yang selalu menceritakan kisah-kisah sahabat Nabi yang membuat mereka mengenal lebih jauh tentang islam.
Nabila kini tengah berada di sebuah kamar bayi. Disini ada tiga bayi yang berumur enam sampai dua belas bulan. Senyum Nabila terukir dibibirnya saat melihat melihat Fatah, bayi berumur lima bulan itu.
"Hai tampan, kamu sudah bangun yah," ucap Nabila sambil mengelus pipi bayi itu.
Bayi itu menjawab denganbmenggerakkan kaki dan
tangannya serta terkekeh kecil.
"Aihhh, sini kakak gendong,"
Nabila menggendong Fatah sambil menimang-nimang dipangkuannya. Bayi itu hanya tertawa saat Nabila berbicara padanya.
"Sini Fatah nya biar Ibu mandiin dulu," ucap ibu Ayu masuk ke dalam kamar.
Memang ini adalah jadwalnya para bayi mandi.
Nabila belum berani untuk memandikan Fatah karena dia masih takut. Mungkin Nabila akan memandikan Bahri yang berumur dua belas bulan.
Setelah dimandikan bayi-bayi itu akan di jemur di bawah sinar matahari. Karena panas matahari pagi sangat bagus untuk kesehatan, seperti bayi mendapatkan vitamin D, meningkatan kadar serotonin dan insulin, menyehatkan sistem saraf dan
meningkatkan imunitas.
"Wah, dek Fatah ganteng banget sih," ucap Hanny sambil mencubit pelan pipi Fatah yabg berada di pangkuan ibu Ayu.
"Bahri wangi banget deh, makin cayang deh," ujar Nabila sambil mencium pipi Bahri yang gembil.
"Yaudah sekarang kita pakein baju mereka," ucap ibu Ayu.
Mereka bertiga langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke dalam menuju kamar bayi.
"Bila, pernikahanmu udah berapa bulan?" Tanya ibu Ayu saat memakaikan baju kepada Fatah.
"Alhamdulillah udah enam bulan, Bu," jawab Nabila.
"Bagaimana udah ada momongan belum, Bila?" Ibu Ayu kembali bertanya.
Nabila seketika menghentikan kegiatannya saat
mendengar pertanyaan dari ibu Ayu.
"Belum, Bu. Doakan saja semoga Allah cepat-cepat memberikan amanah itu kepada saya," ucap Nabila memelankan suaranya.
Nabila tersenyum berusaha menutupi luka yang
ada di hatinya. Bukan luka dari pertanyaan ibu Ayu tapi luka dari perlakuan Azmi padanya. Walaupun selama ini Azmi tak pernah membentaknya ataupun
mengkasarinya. Tapi sifat Azmi kepadanya membuat hati Nabila sakit. Bagaimana tidak selama ini ia hanya di perlakukan seperti pajangan saja di rumah.
"Maaf bila pertanyaan ibu membuat mu tak enak," imbuh ibu Ayu.
Ibu Ayu merasa bersalah saat melihat raut wajah Nabila yang berubah. Ia tahu kalau senyuman Nabila itu hanya menutup luka agar orang-orang tak tahu apa yang sebenarnya hati Nabila rasakan.
"Tak apa-apa, bu." Balas Nabila tersenyum.
Seperti biasa setelah memandikan bayi, Hanny
dan Nabila akan mengajar anak-anak di saung. Setelah belajar Nabila dan Hanny akan menceritakan kisah sahabat Nabi Muhammad saw dan inilah yang ditunggu oleh anak-anak.
"Nah seperti biasa sekarang Kakak akan membuat kuis siapa yang bisa menjawab acungkan tangannya," ucap Hanny sebeluh memulai kuis.
"Baik, kak"
"Nah pertanyaan pertama, siapakah nama
paman Rasulullah saw yang di beri gelar singa Allah?"
Pertanyaan Nabila di sambut oleh anak-anak.
Semua anak mengacungkan.
"Latif, apa jawabannya? "
"Hamzah, kak." Jawab Latif yang di
angguki oleh Nabila.
Pertanyaan demi pertanyaan telah di jawab oleh
anak-anak. Setelah selesai Nabila dan Hanny pun membersihkan dan merapihkan saung dengan di bantu oleh anak-anak.
siapa saja merasa tenang berada di sana.
Setelah lelah berjalan, Nabila langsung duduk atas rumput taman. Saat sedang duduk matanya menangkap seorang gadis kecil yang tengah menangis seperti sedang mencari sesuatu. Nabila pun beranjak dari duduknya dan menghampiri gadis
itu.
Terdengar sesunggukkan dari arah kanan, gadis itu rupanya menangis tanpa henti sambil mengedarkan pandangan ke seluruh taman panti.
"Hanggi, kamu kenapa?" Tanya Nabila
setelah berada di depan gadis kecil itu.
Tangisan masih terdengar.
"Boneka Hanggi hilang kak." Jawab gadis itu sesunggukkan.
"Ayo kakak bantu cari," ucap Nabila menenangkan.
Gadis itu mengangguk tanpa menghentikan
isakannya. Kini Nabila dan Hanggi tengah mencari bonekanya . Sudah sekitar tiga puluh menit mereka
mencarinya, tapi mereka belum menemukan satu boneka pun.
Tiba-tiba Hanggi berlari ke arah saung tempat
mereka belajar. Senyuman gadis itu langsung terbit saat menemukan boneka.
"Yee, akhirnya boneka Hanggi ketemu," seru gadis kecil itu bahagia bukan kepalang.
Gadis itu berjingkrak kegirangan setelah menemukan boneka miliknya.
"Makasih, Kak." Kata gadis kecil itu riang.
Hanggi langsung memeluk Nabila. Nabila pun berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Hanggi dan membalas dengan pelukan.
Saat Allah memberikan kita ujian , Allah juga tak lupa memberi penyemangat agar kita tak terus berlarut dalam kesedihan. Karena Allah itu Maha Adil.
Sekarang Nabila dan Hanny tengah di perjalanan pulang. Nabila melirik jam tangan yang ada di tangan kanannya yang menunjukkan pukul setengah 14:00 siang. Ada waktu untuk dia membuat makanan untuk makan malam.
Kini Nabila telah sampai di depan rumah. Namun ia saat sampai, rupanya mobil Azmi sudah terparkir di halaman rumahnya, yang berarti Azmi sudah pulang. Nabila pun cepat-cepat masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," Nabila mengucap salam.
Langkah Nahila terhenti saat melihat wanita
yang ia kenalnya sedang duduk di sofa bersama suaminya. Dan seorang pria yang tak ai kenal.
Wanita itu langsung melirik Nabila tak suka, saat ia masuk ke dalam rumah dan bersalaman dengan Azmi.
"Assalamualaikum, mbak Mella," ucap Nabila hangat sembari memberikan senyuman.
"Jangan sok akrab deh," sahut Mella sambil memasang wajah yang masam.
Nabila hanya tersenyum saat melihat prilaku
Mella padanya. Tak ada rasa dendam pada diri Nabila pada Mella, yang ada hanya rasa bersalah karena merasa ia telah merebut Azni darinya.
"Assalamualaikum, pak," ucap Nabila pada pria yang berada di samping Mella sambil menangkup tangan di depan dada.
"Oh ya Nabila kenalkan ini, Imam temanku," ucap Azmi memperkenalkan Imam pada Nabila.
"Dan ini Nabila, istri aku," Azmi pun memperkenalkan Nabila pada Imam.
Imam hanya mengangguk saat Azmi memeprkenalkan istrinya padanya.
Berbeda dengan Mella, ia merasa cemburu saat Azmi memperkenalkan Nabila pada Imam, apalagi saat mendengar kata "istri."
"Mas mau minum apa?" Tanya Nabila pada Azmi.
"Mas pengen teh aja," jawab Azmi santai.
"Kalau pak Imam dan mbak Mella mau minum
apa?" Tanya Nabila pada kedua orang itu.
"Sama kan saja sama Azmi," jawab Imam.
"Mbak Mella?" Tanya Nabila kembali.
"Aku pengen teh aja," jawab Mella dengan nada ketus, dan melirik Nabila pun tidak.
Setelah itu Nabila pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawakan makanan kecil.
Tak lama kemudian Nabila pun datang membawa
nampan berisikan minuman dan makanan kecil. Dan tak lupa menyajikannya di atas meja.
○○○○
Cuh Cuh...
Mella menyemburkan minuman itu.
"Kamu kenapa Mella?" Tanya Azmi.
"Tehnya kok rasanya aneh sih, yang. Kayaknya dia mau jahatin aku deh," jawab Mella manja sambil menatap Nabila.
"Coba sini aku cobain tehnya." Ucap Azmi.
Saat Azmi akan mengambil gelas Mella. Mella
menahannya, "jangan Yang, nanti takut di apa-apain lagi,"
Mella menjauhkan gelas itu dari genggaman Azmi agar ia tak meminumnya.
"Ekhemm,"
Imam berdehem memberi kode agar mereka tak
membuat keributan.
"Yaudah kita kembali keintinya lagi," ucap Azmi melanjutkan penjelasannya yang sempat terhenti.
"Yaudah biar aku buatkan lagi yang baru," ucap Nabila sambil menahan airmata karena ia merasa telah dipermalukan.
"Biar aku yang bawa, Bila. Sekalian aku ke dapur, boleh kan Mi?" Tanya Imam sambil mengambil nampan dan dibalas anggukan oleh Azmi.
Setelah sampai di dapur, Imam langsung mengambil sendok dan mencicipi minuman bekas Mella.
"Biasa aja, gak ada yang aneh," ucap Imam setelah mencicipi teh itu.
"Mella-Mella, aku tahu apa yang akan kau
lakukan," batin Imam yang tahu siasat Mella.
Tak lama kemudian Nabila datang dan Imam buru-buru menaruh sendok itu kembali kecangkir berisikan teh. Ia melihat Nabila berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukan kehadirannya .
"Tenang Nabila , aku berada di pihakmu," gumam Imam merasa bersalah sekaligus iba.