My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 39



"Tuan muda, hari ini kita ada survei di beberapa tempat di perusahaan yang ingin mengajak kita kerja sama dalam gedung tempat resepsi."Ucap Romeo kepada Samuel.


"Romeo, seperti nya aku tidak bisa pergi, hari ini aku merasa kurnag enak badan, bagaimana jika aku meminta Nara untuk menemani mu? Dia cukup jago dalam hal ini."Jelas Samuel sambil memijat pelan kepala nya.


"Hah? Barusan kau baik-baik saja Samuel? Mengapa tiba-tiba jadi seperti ini?"tanya Nara kaget.


"Entah lah, intinya kak, kau temani Romeo ya."Ucap Samuel yang kemudian berjalan masuk ke dalam ruang kerja nya.


"Seperti nya memang tuan muda sedang tidak enak hati, eh maksud ku badan, bagaimana Nara, apa kau mau menemani ku?"Tanya Romeo kepada Nara.


Ini adalah hak yang cukup cangung bagi Nara, tapi ya mau bagaimana lagi, ini adalah permintaan Samuel sendiri dia mana mungkin bisa menolak, Samuel adalah CEO di perusahaan itu walaupun Samuel adik sepupu nya, dia juga adalah seorang karyawan yang baru profesional dalam bekerja.


"Baik lah, aku tidak keberatan."Jawab nara sambil tersenyum kecil.


"Ya, kalau begitu, setelah jam makan siang kita akan pergi."Jawab Romeo.


"Iya, baik lah."Ucap Nara lagi.


"Kalau begitu aku ke sana dulu."Jawab Romeo yang kemudian berjalan dengan senyum manisnya.


Hal ini mampu membuat jantung Nara berdebar lebih kencang dari sebelumnya.


"Cantik."Batin Romeo sambil melangkah menuju ruang kerja nya.


Sementara itu Nara juga pergi ke ruangan nya.


Sementara itu di sisi lain.


"Bibi, apa yang terjadi? Mengapa tubuh mu sangat panas?"Tanya Celsy yang menyadari jika suhu tubuh Moza sangat panas.


"Sayang, bibi baik-baik saja, hanya demam biasa."Tutur Moza sambil memegang tangan Celsy.


"Bibi, tunggu di sini ya."Ucap Celsy yang kemudian keluar dari kamar Moza.


Ia pun melihat maid yang sedang sibuk membersihkan vila di depan kamar Moza.


"Pelayan! Pelayan!"Teriak Celsy berlari menghampiri pelayan itu.


"Nona kecil, apa yang anda lakukan? Jangan lari-lari, nanti jatuh."Ucap sang pelayan khawatir dan buru-buru menangkap Celsy.


"Pelayan, bibi Moza, dia, tubuh nya sangat panas, tolong telpon paman suruh kembali aku khawatir karena bibi demam."Ucap Celsy dengan begitu pintar.


"Benar kah? Pantas saja nona muda tidak keluar kamar, kalau begitu nona kecil sekarang pergilah ke kamar nona muda dulu ya, bibi pelayan akan menghubungi tuan muda."Jawab sang pelayan kepada Celsy.


"Baik lah bibi pelayan terima kasih."Ucap Celsy yang kemudian kembali ke kamar Moza.


Benar saja, saat ini suhu tubuh Moza semakin panas, tubuh nya juga muncul bintik-bintik merah seperti sedang alergi sesuatu.


Pelayan tersebut pun menelpon Samuel dan mengatakan bahwa sekarang Moza sedang demam.


Tidak butuh waktu lama, Samuel pun tiba di vila dan melihat kondisi Moza yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Astaga, apa yang terjadi kepada mu? Apa kau makan sesuatu?"Tanya Samuel kaget melihat tubuh Moza penuh bintik merah.


"Aku tidak tau."Jawab Moza dengan bersembunyi di dalam selimut nya.


"Paman, apa yang terjadi dengan bibi?"Tanya Celsy terlihat khawatir.


"Sayang, bibi baik-baik saja, Samuel tolong jangan biar kan dia khawatir."Ucap Moza memberikan kode kepada Samuel agar Celsy di aman kan dulu kepada pelayan agar dia tidak khawatir melihat keadaan Moza.


Tepat di saat itu juga seorang pelayan masuk ke dalam kemar Moza bersama dengan seorang dokter peribadi Samuel yang sebelumnya sudah di hubungi Samuel agar segera datang.


"Tuan muda,ada apa memagil saya?"Ucap sang dokter.


"Baik lah, semua nya boleh menunggu di luar."Ucap sang dokter lagi.


"Pelayan, bawa Celsy main, jangan biar kan dia khawatir, hibur dia."Ucap Samuel.


"Baik tuan muda."Jawab pelayan tersebut yang kemudian mengendong Celsy keluar dari kamar itu.


"Anda tidak keluar tuan?"Tanya sang dokter lagi.


"Haruskah?"Samuel malah balik bertanya dengan tatapan tajam nya.


Melihat itu dokter pun seketika ciut tak berani banyak bicara lagi.


"Tunggu apa lagi? Cepat periksa dia "Perintah Samuel yang saat ini emosi karena terlalu khawatir kepada Moza.


"Ba,baik tuan muda."Ucap sang dokter yang kemudian mulai memeriksa keadaan Moza.


Beberapa menit kemudian, dokter tersebut pun selesai memeriksa keadaan Moza.


"Apa yang terjadi dengan badan nya?"Tanya Samuel.


"Tuan muda, seperti nya, nona ini, dia alergi dengan makanan, coba anda tanyakan, apa yang dia makan sebelum dia menjadi seperti ini."Ucap sang dokter.


"Moza, ayo jujur, apa yang kau makan?"Tanya Samuel menatap Moza dengan tatapan serius.


Moza pun akhirnya tak bisa menyembunyikan kesalahan nya lagi,dia tau dia alergi buah mangga tapi dia tetep memakan nya, setelah jujur bersiap-siap lah akan di omeli oleh Samuel.


"Ayo jawab."Tutur Samuel dengan lembut.


"Aku, aku tidak sengaja makan mangga."Jawab Moza.


"Astaga."Ucap Samuel yang memang sudah tau juga Moza alergi mangga.


"Dari mana kau mendapatkan nya? Aku tidak pernah membeli mangga untuk di simpan di kulkas vila."Jawab Samuel kebingungan.


"Aku membeli nya sendiri."Ucap Moza dengan tatapan takut.


"Dokter apa yang bisa menghilangkan alergi nya itu?"Tanya Samuel lagi.


"Ini ada salep untuk alergi tuan muda,nona muda bisa mengoleskan nya di bintik-bintik merah itu."Ucap sang dokter.


"Berapa lama ini akan hilang?"Samuel kembali bertanya.


"Tidak apa-apa jangan khawatir, ini tidak Bakan lama, setelah salep nya di sapu dia akan hilang secara perlahan, untuk itu nona Moza jangan makan mangga lagi, tugas ku sudah selesai,aku pergi dulu."Tutur sang dokter kepada Samuel.


"Baik, terimakasih."Jawab Samuel.


Sang dokter pun melangkah pergi dari sana, sementara itu Samuel masih menatap Moza dengan tatapan kesal karena sudah membuat nya khawatir.


"Mengapa kau makan mangga?"Tanya Samuel.


"Aku hanya menginginkan nya, lagipula tidak banyak, aku tidak apa-apa, jangan khawatir."Ucap Moza sambil menatap Samuel dengan tatapan bersalah.


"Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Pelayan menelpon ku dan mengatakan kau demam tinggi, ternya kau alergi, apa kau tidak tau? Alergi bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa nya, mengapa kau makan mangga tanpa seijin ku!"Ucap Samuel marah.


Moza yang melihat itu hanya bisa diam, sebelum nya Samuel tidak pernah semarah ini, namun karena khawatir dia terlihat jadi seperti seekor singa.


"Hiksss, aku, tidak tau jika semuanya akan jadi seperti ini, hiksss, aku tidak tau."Ucap Moza menangis.


Melihat tangisan Moza, sontak Samuel merasa bersalah dan segera memeluk nya untuk memenangkan Moza.


Bersambung ....