My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 37



"Baik lah, aku akan melakukan apa yang papa minta."Ucap Ferdi dengan wajah yang begitu serius dan yakin sudah menyetujui permintaan papa mertua nya.


"Benar kah?"Tanya papa nya Naya.


"Ya, aku akan melakukan nya."Ucap Ferdi.


"Bagus, kau memang bisa di andalkan, aku tunggu kabar baik dari mu."Ucap papa nya Naya sambil tersenyum puas.


Sementara Naya hanya menatap tak yakin ke arah Ferdi.


Satu jam lun berlalu.


Mereka pun akhirnya berpamitan dengan papa nya Naya untuk pulang' dari sana.


"Sayang, apa kau yakin bisa mencuri rahasia besar atau kelemahan perusahaan Samuel?"Tanya Naya kepada Ferdi.


"Tentu saja, kita bisa mengunakan Ayu, aku bisa menyuruh Ayu masuk ke dalam perusahaan itu, dan mengambil apa yang di minta oleh papa mu."Jelas Ferdi sambil fokus mengemudi mobil.


Sungguh pikiran yang pendek, mereka berfikir bisa dengan sangat mudah melakukan hal itu.


"Wah, iya, aku sampai lupa jika kita bisa mengandalkan Ayu."Ucap Naya dengan senyum mengembang.


"Ya, saat papa mu mengatakan hal itu, aku langsung ingin aku bisa mengandalkan Ayu untuk membantu kita, dan kau tidak perlu khawatir lagi."Ucap Ferdi.


Naya pun tersenyum lega, setelah mendengar ucapan Ferdi barusan.


Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah.


Namun sayang nya, Ayu masih belum pulang kerja, yang ada hanya lah Bu Yani di dalam rumah.


"Dari mana saja kalian? Dari rumah sakit?"Tanya Bu Yani menatap Naya dengan tatapan benci.


"Kami dari rumah papa ku Bu."Jawab Naya.


"Mengapa kau tidak pergi sekalian ke rumah sakit? Periksa dirimu itu, sudah hampir dua bulan menikah, tidak juga Hami."omel Bu Yani.


Baru saja lega dengan satu masalah, kini Naya malah kembali memikirkan prihal Bu Yani yang terus menuntut nya dengan kehamilan.


"maaf Bu, tolong jangan bahas hal ini dulu, lain kali aku akan pergi ke rumah sakit untuk cek."Ucap Naya lelah.


"Benar Bu, jangan buru-buru,baru hampir dua bulan kan."Jawab Ferdi mendukung Naya.


"Kalian ini sama saja, tidak ada khawatir nya sama sekali."Ucap Bu Yani marah dan kemudian berjalan pergi dari hadapan Ferdi dan Naya.


"Sudah, jangan terlalu banyak pikiran kita selesaikan tugas dari papa mu baru kita pikirkan soal anak."Ucap Ferdi membujuk Naya.


"Baik lah, terima kasih mas."Ucap Naya sambil tersenyum kepada Ferdi.


Sementara itu di sisi lain.


"Begini ya jadi seorang CEO, dia jarang datang ke kantor, tapi sekalinya datang banyak pekerjaan."Batin Ayu mengintip di ruang kerja Samuel.


"Hey, apa yang kau lakukan?"Tanya Romeo menepuk pundak Ayu yang sedang mengintip di ruang kerja Samuel.


"Ma, maaf, aku sedang ingin masuk ke ruang kerja tuan Samuel tadi untuk membersihkan nya."Ucap Ayu kaget.


"Apa kau ob baru? Tuan Samuel tidak pernah mengijinkan ob masuk ke dalam ruangan nya, aku lah yang bertugas membersihkan ruangan nya, jadi kau tidak perlu khawatir, sekarang kembali lah bekerja."Ucap Romeo dengan tatapan tajam kepada Ayu.


"Ada yang mencurigakan dari perempuan itu."Batin Romeo yang kemudian masuk ke dalam ruang kerja Samuel.


Sementara itu Ayu yang kaget karena di tegur oleh Romeo pun lari ke dapur kantor.


"Tidak tuan Samuel, tidak asisten nya, mereka sama-sama sangat galak, mengerikan sekali tatapan nya itu."Batin Ayu.


Sementara itu di sisi lain.


Terdengar suara mobil di depan rumah Nara, Moza yang mendengar itu pun tau jika itu pasti adalah mobil nya Samuel.


"Kak, seperti nya Samuel sudah kembali."Ucap Moza kepada Nara.


"Ayo, ayo bantu aku berdiri dan melihatnya, apa itu benar-benar Samuel? Dia pasti membawa Celsy ku kembali."Ucap Nara kepada Moza.


"Iya, iya ayo aku bantu."Ucap Moza yang kemudian membantu Nara berdiri dan memapahnya untuk pergi ke pintu dan melihat Samuel.


Ternyata benar, terlihat Samuel yang mengendong Celsy Yeng sedang tertidur lelap dengan mata semabab.


"Anakku, anakuu sayang."Ucap Nara tidak sabar untuk mengendong Celsy.


"Kak, kau tidak akan kuat mengendong nya, bair kan Samuel membawa nya masuk dan membaringkan nya di tempat tidur."Ucap Moza kepada Nara.


"Benar, tunggu aku di ruang tengah, aku akan mengantar kan Celsy ke kamar nya terlebih dahulu, Celsy butuh istirahat."Ucap Samuel yang kemudian berlalu pergi ke kamar untuk meletakkan Celsy yang sedang pulas tertidur.


"Baik lah, kami tunggu di ruang tengah."Ucap Moza dan Nara.


****


Samuel, bagaimana keadaan Celsy? Apa dia baik-baik saja?"Tanya Nara kepada Samuel yang kini duduk di sebelah Moza.


"Dia baik-baik saja, hanya saja dia lelah karena menagis, aku tidak tega melihat nya."jelas Samuel kepada Nara


"Lalu bagaimana dengan bajngan itu?" Ucap Moza.


"Kak, maaf kan aku, aku sudah memberikan dia pelajaran tampa meminta persetujuan mu terlebih dahulu, aku memenjarakan nya, dan juga menyuruh anak buah ku untuk menyiksanya terlebih dahulu."Ucap Samuel khawatir Nara akan marah kepada nya.


"Hiksss, hikss, aku, aku benar-benar berterima kasih kepada kalian, aku tidak tau harus berbuat apa lagi, tampa kalian aku mungkin akan mati di tangan laki-laki itu dan anak ku akan di jual oleh nya."Ucap Nara menagis sambil menutup muka nya dengan kedua tangan nya.


"Selama ini, mengapa kau menyembunyikan ini dari ku? Mengapa kau tidak mengatakan semua dari awal?"Tanya Samuel sedikit kecewa akan Nara yang menutupi hal ini dari diri nya.


"Kau hanya tidak berani tapi semuanya berubah setelah aku bertemu dengan Moza, dia memberikan aku support dan mengatakan kepada ku jika aku butuh bantuan aku harus menghubungi nya."Ucap Nara sambil memegang tangan Moza.


"Kalian? Sejak kapan kalian kenal? Moza, kau berutang penjelasan kepada ku."Ucap Samuel menatap Moza.


"Hm, baik lah, aku akan menjelaskan nya ... "ucap Moza yang kemudian menceritakan tentang pertemuan nya dengan Nara dari awal sampai hari ini.


"Aku benar-benar beruntung menemukan Moza, karena dia sekarang semuanya selesai."Ucap Nara yang kemudian memeluk Moza.


"Kak, sudah jangan menagis lagi, penderitaan mu sudah berakhir, kau tidak akan di pukul lagi, kau tinggal menjalani kehidupan mu dengan Celsy sebagai mana mestinya."Ucap Moza sambil mengelus punggung Nara.


Sementara itu Samuel seolah tak di anggap dan hanya melongo melihat keakraban Nara dan Moza, wanita benar-benar memiliki sisi lembut sehingga mudah sekali berbagi kisah hidup nya masing-masing dan menjadi sahabat, pikir Samuel.


Bersambung ....