My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 91



"Yaudah,ayo cepat," ucap Moza yang berjalan mendahului Samuel.


Sementara Samuel hatinya berbunga-bunga mengira Moza sudah mau dekat dan bicara dengan nya, dia sudah tidak segalak pada awal mereka bertemu.


Kesempatan baik mungkin akan muncul di hidup nya.


Mereka pun berjalan menuju restoran itu dan kemudian masuk ke dalam nya.


Sementara itu tampa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang sedang mengintip mereka dari mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka tadi berbincang.


Call on


"Hallo boss, aku sudah mengirimkan foto, kau bisa melihat nya, mereka sudah mulai dekat," ucap seorang laki-laki berpakaian serba hitam dan memakai topi.


"Aku sudah melihat nya, terus awasi mereka," ucap seseorang di sebrang telpon.


"Baik boss," jawab laki-laki itu.


Call of


"Kau makan lah, aku akan pergi," ucap Moza setelah masuk ke restoran dan memesan makanan serta minuman untuk Samuel.


"Jangan keluar, ada orang yang sedang mengawasi mu, atau aku, atau bisa jadi kau dan aku," tiba-tiba Samuel memegang tangan Moza, dan menahan nya agar tidak pergi dari restoran tersebut.


"Apa yang kau maksud? Jangan coba-coba mendekati aku dengan trik menakut-nakuti aku seperti ini Samuel, itu tidak laku," bisik Moza tidak percaya.


Seorang Samuel, tentu dia sudah melihat mobil itu dan curiga sejak awal ada yang memperhatikan mereka berdua.


"Duduk lah, kau akan tau setelah kau duduk," jelas Samuel lagi.


Moza yang melihat wajah Samuel yang serius pun akhirnya memutuskan untuk duduk meskipun dia masih ragu untuk mempercayai nya.


"Lihat ke pintu dan lihat ke arah mobil ku," ucap Samuel dengan suara kecil kepada Moza.


Moza pun melakukan apa yang di ucapkan oleh Samuel barusan.


"Mobil silver itu?" tanya Moza.


Samuel mengangguk sambil meneguk minuman nya.


"Dia sudah melihat kita beberapa menit sejak kau datang, seperti nya dia mengikuti mu, bukan aku, mungkin target nya adalah ku," jelas Samuel lagi.


"Tidak mungkin, jangan asal bicara, aku tidak punya musuh," jawab Moza serius.


"Bisa saja bukan musuh, tapi orang yang mungkin menginginkan mu," celetuk Samuel membuka Moza terdiam dan berfikir keras.


"Tidak ada yang menyukai ku, jangan asal bicara," jawab Moza makin kesal dengan ucapan Samuel.


Namun baru saja Samuel ingin angkat bicara, telpon Moza pun bergetar, seperti nya ada pangilan masuk.


Moza pun merogoh tas nya dan kemudian melihat ke layar ponsel tersebut, tertara nama Naya di telpon itu, Moza pun buru-buru menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


Call on


"Hallo Naya, ada apa?" tanya Moza sambil menempelkan ponsel ke telinga nya.


"Halo, Moza, hiksss, Moza sekarang juga kau harus segera ke RS, Hansel, dia, dia terpeleset saat bermain dan jatuh, lalu kepala nya terbentur dan banyak mengeluarkan darah" ucap Naya di sebrang telpon dengan tangisan yang kaur biasa, hampir membuat Moza tidak bisa menendangar ucapan nya.


Dengan air mata yang mengalir deras, semua orang Yanga ada di dalam restoran tersebut mantap bingung ke arah nya termasuk Samuel.


Telpon yang di genggam nya jatuh dan mati total.


"Ada apa? Apa yang terjadi? Siapa yang menelpon?" tanya Samuel kebingungan.


"Hansel, anaku, masuk rumah sakit," lirih Moza dengan bibir yang bergetar hampir tak bisa angkat bicara.


Bagikan di sambar petir kedua nya kini terduduk lemah termasuk Samuel Yanga sangat ingin bertemu Hansel tapi keadaan sang anak tiba-tiba malah jadi seperti itu.


Moza tersadar dari segala rasa kagetnya, dia menghapus air mata lalu mencoba berdiri meskipun kaki nya terguncang lemah karena kabar dari Naya.


"Anaku! Anakku" hanya itu kata-kata yang mampu dia ucapkan sambil berlari keluar dari restoran, sementara itu Samuel yang masih kaget pun berdiri dan mengikuti Moza.


"Moza tunggu!" ucap Samuel yang kemudian memegang tangan Moza yang hendak membuka pintu mobil.


"Lepas kan aku! Aku harus melihat Hansel aku harus ke RS sekarang," ucap Moza memberontak dan manangis.


"Hey, apa kau pikir kau bisa mengemudi dengan kondisi seperti ini? Yang ada kau yang akan celaka, biar aku yang membawa mu ke RS," ucap Samuel mengambil alih kursi kemudi mobil Moza.


"Tidak aku tidak mau, kau tidak boleh melihat anakku, dia anakku bukan anak mu, dia urusan ku, dan bukan urusan mu, sekarang cepat keluar," ucap Moza marah.


"Dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan perasaan mu? Memikirkan keegoisan mu? Dia juga anaku apapun yang kau katakan tidak akan mempengaruhi apapun, cepat masuk!" Marah Samuel.


Moza pun terdiam mendengar perkataan Samuel barusan, dia pun sadar bertapa Egois nya dia saat ini, masih memikirkan rasa sakit hatinya di bandingkan dengan sang anak.


Moza pun akhirnya masuk ke dalam mobil nya dan kemudian mereka pun meninggalkan tempat itu dan juga mobil Samuel.


Sepanjang perjalanan, Moza hanya bisa menangis dan menangis, mengingat bagaimana bisa Hansel terjatuh dan kepala nya kena batu lalu banyak mengeluarkan darah, bagaimana orang-orang di rumah menjaga anak nya.


Tidak lama kemudian, mereka pun akhirnya tiba di RS tempat Naya dan Bu Juni membawa Hansel.


"Naya! BI Juni! Di mana Hansel?" ucap Moza menghampiri Naya dan bi Juni yang sedang berdiri dengan gelisah menunggu di ruangan ICU.


"Dokter sedang menangani nya, Moza, maaf kan kan aku, aku tidak becus menjaga Hansel, sat itu aku dan dia bermain di halaman depan dan saat dia terjatuh aku tidak sempat menahan nya aku benar-benar minta maaf," jelas Naya sambil menangis merasa bersalah.


Moza pun hanya bisa mendengar dan menangis atas kejadian ini, tidak ada yang bisa di salah kan kecil dirinya, dia sudah sangat sibuk sampai-sampai Hansel jadi seperti ini di jaga oleh orang lain.


Sementara itu BI Juni juga sedih dan menagis namun dia gagal fokus dengan Samuel yang datang bersama Moza, sementara Samuel sendiri malah gagal fokus karena ada nya Naya di RS tersebut.


Namun mereka lebih gagal fokus lagi, setelah keluar nya dokter dari ruang ICU nya Hansel.


"Di mana kedua orang tua dari pasien?" tanya dokter tersebut kepada mereka berempat.


Seketika Moza yang saat ini sedang menangis menghampiri sang dokter dengan cepat.


"Aku, aku Momy, nya dokter bagaimana dengan anakku, dia baik-baik saja kan? Tidak ada yang perlu di khawatir kan, kan?" tanya Moza kepada dokter tersebut.


"Anak mu kehilangan banyak darah nona, dan dia membutuhkan donor darah dengan golongan AB-, dan di RS ini tidak ada stok darah AB- itu sangat langka, tapi mungkin salah satu kelaurga kalian memiliki nya atau bisa jadi ayah nya sendiri," jelas sang dokter panjang lebar.


Moza teridam, menatap wajah sang dokter, dia tau golongan darah AB- sangat lah langka, apalagi dia tau betul golongan darah nya adalah A- mana mungkin bisa.


Bersambung ....