My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 14



Jalanan yang tadinya sepi sekarang telah ramai. Mobil dan motor beriringan membelah jalan menjadi dua jalur. Kebanyakan motor yang melintas karena sekarang jamnya mereka untuk berangkat kerja dan mengantar anak mereka sekolah.Trotoar sepi karena tak banyak orang yang berjalan kaki. Karena orang zaman sekarang lebih memilih menggunakan kendaraan probadi atau umum dibanding dengan berjalan kaki, padahal berjalan itu lebih menyehatkan badan.


Jalan Nabila semakin dipercepat karena hari ini ia menjadi panitia di sebuah pengajian. Seharusnya ia datang pagi-pagi sekali. Tapi karena mertuanya akan berangkat dan ia harus membantu beliau terlebih dahulu. Sesekali Nabila melirik jam tangan yang ada di tangan kirinya. Karena ia terburu-buru, Nabila pun hampir menabrak seorang wanita yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya dengan tak sengaja, karena ia fokus pada jam tangannya karena takut telat.


 Rasa lega mulai menyelimutinya. Karena ia telah sampai di masjid sebelum acaranya dimulai. Keringat sudah bercucuran di keningnya. Karena Nabila berjalan terlalu cepat.


 "Assalamualaikum, Kak." Ucap seorang wanita tepat berada di belakang Nabila.


 "Waalaikumsalam," jawab Nabila sambil menoleh kebelakang untuk melihat siapa orang tersebut.


 "Hanny,"


 Wanita itu hanya tersenyum.


 "Kamu sama siapa kesini?" Imbuh Nabila sambil mengambil tissue di kantung bajunya untuk di usapkan ke keningnya yang berkeringat.


"Sendirian, kak. Kakak kok keringatan. Kakak habis lari-larian yah" tebak Hanny melihat keringat Nabila yang bercucuran.


 "Enggak kok, kakak gak lari-larian cuman jalan cepat doang" ucap Nabila disertai kekehan kecil.


 "Yaudah kita masuk. Kita bantuin yang lainnya," ajak Nabila menarik tangan Hanny untuk memasuki area masjid.


****


 Setelah mengantarkan ibunya ke Bandara. Azmi langsung pergi ke kantor. Diperjalanan Azmi selalu mengingat ucapan sang ibu saat di Bandara.


 "Ma, Azmi pengen nanya boleh?" Ucap Azmi mulai membuka suara setelah diam beberapa saat.


 "Mau nanya apa?" Balas ibu Yuni langsung duduk di kursi dan diikuti oleh Azmi yang duduk di sebelahnya.


 "Tapi msms harus jawab jujur."


 "Insyaa Allah. Emang kamu mau nanya apa sih? Kayaknya serius banget." Ibu Yuni heran dengan putranya. Lalu ia menatap wajah putra nya itu.


Azmi menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


 "Apa alasan mama menjodohkan aku dengan Nabila. Padahal mama tahu sendiri kalau aku itu sudah punya kekasih. Tapi kenapa mama menikahkan aku dengannya. Bukan dengan Mella kekasihku?" Kata Azmi memberanikan diri bertanya setelah berkecamuk dengan hatinya.


 Ibu Yuni menatap lekat wajah putranya dengan senyuman, "Karena mama ingin kamu mempunyai istri yang tak hanya cantik tapi juga sholehah. Yang bisa merubahmu menjadi lebih baik. Mama ingin kamu mempunyai istri yang tak hanya pandai berdandan tapi juga pandai mengurus suami dengan baik dan pandai dalam hal agama. Istri yang bukan hanya cantik rupanya tapi juga cantik hatinya. Dan ibu yang kelak akan mengajarkan anak-anak mu, bukan hanya tentang ilmu dunia tapi juga ilmu akhirat dan agama. Dia yang mengajarkan anak-anak nya tentang agama. Karena mama tahu Nabila itu wanita yang baik. Mama tahu Mella juga baik. Tapi mama tak suka dengan cara berpakaiannya dan cara bicaranya. Mama tak ingin nanti anak-anakmu seperti dirimu yang kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Mama pun tahu kalau kamu belum sepenuhnya mencintai Nabila. Mama juga tahu kalau kamu masih mencintai dan belum bisa melupakan Mella. Mama tak akan pernah marah karena mama tahu itu butuh waktu yang lama. Tapi seiring berjalananya waktu Insya Allah rasa itu akan muncul. Mama mohon perlakukanlah Nabila sebaik mungkin layaknya seorang istri. Bukan seperti pajangan yang menjadi hiasan rumah. Maafkan mama karena mama sudah bersikap egois.Tapi ingatlah keegoisan mama ini demi untuk kebaikanmu juga. Dan mama mohon mulailah mencintai Nabila dan lupakan Mella. Karena Nabila adalah masa depanmu. Dan Mella adalah masa lalumu. Dan satu lagi mama tak ingin kau menyakiti Nabila baik fisik maupun batinnya. Dan janganlah membuat mamamu ini  kecewa,dengan menyia-nyiakan Nabila. Karena di jaman sekarang ini wanita seperti Nabila itu sangatlah jarang. Ingatlah pesan mama." Jelas ibu Yuni yang masih menatap lekat wajah putranya dengan mata berkaca. Mata keduanya bertemu sejenak sebelum akhirnya Azmi menunduk.


 Azmi hanya bungkam tak bisa berkata apa-apa lagi. Memang benar apa  yang telah dikatakan sang ibu. Tapi


menurut Azmi,ibunya sangat egois karena memutuskan suatu hal dengan sepihak dan tidak membicarakan hal ini dengan dirinya. Azmi menepikan mobilnya dan ia memukul stir mobilnya lalu menjambak rambutnya dengan frustasi.


 "Ahhhh, kenapa semua ini harus terjadi padaku. Kenapa? Mama egois, Mama egois!!!" Ucap Azmi frustasi.


 Setelah menenangkan dirinya Azmi pun melanjutkan perjalannya setelah melirik arlojinya.


*******


Acara pengajian pun telah selesai dilaksanakan dengan lancar tanpa ada hambatan. Masjid sudah mulai sepi karena para jamaah sudah pulang. Nabila, Hanny dan para panitia lainnya pun sedang membersihkan dan merapihkan area masjidali kembali. Semuanya bekerja sama dan tak saling mengandalkan. Semua orang punya bagiannya masing-masing. Ada yang menyapu, mengepel, mengambil sampah dan lain sebagianya.


 Setelah selesai membersihkan masjid. Nabila dan Hany pamit pulang pada yang lainnya. Hari ini Hanny mengajak Nabila untuk pergi ke panti asuhan dimana Hanny mengajar. Hanny disana mengajar anak-anak dengan sukarela tanpa diberi upah. Bila diberi upah pun Hanny selalu menolaknya dan berkata "lebih baik uang itu dipakai untuk kebutuhan anak-anak saja, bu."


 Sebelum pergi panti asuhan, Nabila mengirim pesan singkat pada Azmi untuk pergi ke panti asuhan, walaupun ia tahu Azmi pasti tak akan peduli dengan hal yang dilakukan oleh Nabila.


  "Assalamualaikum," ucap mereka serempak setelah sampai di pintu masuk panti asuhan.


 Di depan gerbang panti tertulis "Panti Asuhan Al-Hidayah."


 Panti itu lumayan luas. Dengan halaman yang cukup luas, ada berbagai macam mainan disana seperti perosotan, ayunan, jungkat-jungkit dan masih banyak lagi.


 "Waalaikumsalam," jawab seorang wanita paruhbaya.


 Mereka pun menyalami wanita itu. Dan mengajak mereka masuk


 "Dia siapa Hanny?" Tanya wanita itu sambil berjalan beriringan.


 "Dia temanku, bu. Namanya Nabila," sahut Hanny memperkenalkan Nabila.


"Saya Nabila, bu," timpal Nabila sambil tersenyum ramah pada wanita itu dan memperkenal dirinya.


"Nama saya bu Ayu," ibu Ayu pun membalas senyuman Nabila.


 Ibu Ayu pun memperlihatkan ruangan yang ada di sana kepada Nabila, sementara Hanny pergi untuk mengajar anak-anak panti yang kebanyakannya berusia dibawah lima belas tahun.


Setelah memperkenal semua ruangan kepada Nabila. Ibu Ayu mengajak Nabila ke sebuah saung


tempat untuk mengajar anak-anak.


  Rasa sedih menyerang ke dalam lubuk hati Nabila saat ia melihat anak-anak disana. Apalagi saat di dalam ia melihat bayi berumur tiga bulanan dan juga balita. Kemanakah orangtuanya?. Tega sekali mereka menelantarkan bayi dan balitanya. Yang seharusnya merawat dan membesarkan mereka bukan malah meninggalkan anak-anak mereka di panti seperyi ini.


orangtuanya. Tapi kenapa orangtua mereka malah memilih untuk menelatarkannya anak-anaknya yang masih polos dan tidak memiliki dosa.


Anak itu adalah titipan Allah yang harus di


rawat dan dijaga. Bukan ditelantarkan. Padahal di sana masih banyak suami istri yang menginginkan seorang anak. Tapi disini mereka membuang anaknya.


 Tanpa terasa airmata Nabila jatuh merasa kasihan pada anak-anak yang ada disana.


 "Disinilah kami mengajar anak-anak. Saung sederhana tapi alhamdulillah masih bisa menghalau mereka dari panas dan hujan." Ucap ibu Ayu lalu


mengajak Nabila ke saung.


Terlihat disana ada kurang lebih dua puluh limaan anak yang diajar oleh Hanny.


 Nabila meminta izin pergi ke toilet. Ibu Ayu pun menunjukkan toilet yang rupanya tidak jauh dari tempat ia berada sekarang, yang lebih tepatnya berada dalam lorong menuju gedung panti. Setelah Nabila masuk kedalam panti. Langkahnya terhenti mendengar tangisan bayi. Nabila langsung pergi ke sumber suara.


Ternyata benar seorang bayi tengah menangis


sepertinya dia haus. Nabila pun masuk lalu menggendong bayi itu dan ia berusaha untuk menenangkan bayi itu dengan cara yang pernah ia pelajari saat dulu diajari oleh tantenya.


"Cup cup cup, sayang. Jangan nangis kamu pasti haus yah?" Nabila berusaha menenangkan bayi itu sambil menggoyang-goyangkan bayi yang ada di


pangkuannya.


"Tunggu, biar ibu buatkan susu formulanya


dulu," ucap ibu Ayu yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan lalu pergi ke luar ruangan.


Taklama ibu Ayu kembali dengan membawa susu


formula hangat. Nabila pun menerima dan memberikan susu dalam botol pada bayi yang menangis.


"Sini biar Ibu yang gendong" ucap ibu Ayu


"Tak apa bu. Biar Bila saja yang


gendong," tolak Nabila sambil menatap lekat bayi yang tengah lahap meminum susu.


Tak terasa airmatanya mengalir kembali saat menatap bayi itu. Wajah polos dan tak berdosa itu mampu membuat Nabila menangis untuk kesekian kalinya.


 "Kenapa kamu menangis ,Nabila?" Tanya


ibu Ayu melihat Nabila yang menangis.


"Aku hanya sedih melihat anak-anak tak bersalah harus dibuang. Seharusnya mereka dijaga oleh orangtuanya bukan dibuang dan ditelantarkan," Nabila pun menidurkan bayi itu di kasur setelah bayi itu kenyang dan mengantuk.


"Bu, ada berapa banyak anak-anak disini?" Tanya Nabila sambil pergi keluar kamar.


"Ada tiga puluhan anak. Kebanyakan mereka dibuang


diam-diam oleh orangtuanya, seperti Fatah, bayi itu Di buang dan menaruh bayi itu di depan pintu panti. Dan ada juga yang mengirim mereka kesini dengan


terang-terangan," jelas ibu Ayu sambil berjalan menuju dapur untuk memasak. Karena sebentar lagi waktunya makan siang.


Nabila pun membantu ibu Ayu memasak. Saat ke


dapur rasa sedih kembali hadir. Saat melihat makanan yang mereka masak. Hanya ada sayuran dan telur saja.


Nabila pun pamit untuk keluar. Ia ingin membeli bahan makanan buah-buahan dan susu untuk anak-anak panti. Karena mereka sangat membutuhkan asupan gizi yang baik untuk pertumbuhan mereka. Tapi sebelum pergi Nabila meminta ibu Ayu agar tidak memasak dahulu sebelum dia pulang.


Sekitar empat puluh lima menit kemudian, Nabila kembali dengan membawa bahan makanan,


buah-buahan, susu dan beberapa makanan lainnya.


Anak-anak pun berhamburan menghampiri Nabila yang membawa makanan ringan.


Senyum terpancar dibibir Nabila saat melihat senyuman di bibir anak-anak itu mengembang, dengan mata berbinar-binar.


"Nabila kenapa kamu repot-repot membelikan


ini semua?" Tanya ibu Ayu melihat Nabila membawa banyak kantong plastik yang berisikan bahan makanan.


"Tidak sama sekali, bu." Jawab Nabila


memandang anak-anak yang tengah memakan makanan ringan yang ia bawa.


"Terima kasih untuk semuanya"


"Sama-sama, Bu" Nabila tersenyum ramah.