
"Naya pergi? Tunggu pak, Naya pergi ke mana? Kami sama sekali tidak tau, bahkan sebenarnya kami datang untuk bertemu dengan nya," jelas Nara kepada papa Hanan.
"Astaga, mungkin dia tergesa-gesa karena itu sampai tiga sempat memberitahu kalian, dia tadi siang berangkat ke kota x aku sendiri yang mengantarkan nya ke bandara," jawab papa Hanan lagi.
Seketika Nara terdiam, dia tidak menyangka Naya akan secepat itu pergi dari kota ini, apa mungkin karena dirinya yang sudah begitu menyakiti perasaan Naya.
"Hm, kalau boleh tau, apa yang akan dia lakukan di kota x pak?" tanya Romeo penasaran.
"Dia bilang dia ingin menemui Moza,"
"Oh, begitu, seperti nya dia sudah mengambil keputusan secara tiba-tiba ya,"
Romeo kini jadi serba salah, melihat Nara yang seperti nya sedang menahan air matanya, Romeo pun kemudian mencari-cari alasan untuk berpamitan dengan papa Hanan.
Beberapa menit kemudian
"Hiksss, Naya benar-benar marah kepada ku, dan sekarang dia juga pergi ke kota x, percuma kita melangsungkan resepsi jika semuanya pergi, ini semua salahku, kalau saja aku tidak membuat Naya tersinggung dengan perkataan ku, mungkin jadinya tidak akan seperti ini,"
Nara menangis dan terus menagis di dalam mobil Romeo, dia sungguh menyesali perbuatannya.
"Sudah lah, sudah terlanjur, kau tidak perlu menyalahkan diri mu, ini salah ku, aku lah yang seharusnya di salah kan karena membuat kau tidak bisa percaya kepada ku," jawab Romeo mencoba menenangkan Nara.
Romeo pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan untuk membujuk Nara yang terus-menerus menagis karena sedih.
"Sayang, hentikan air mata mu itu, kau tidak seharusnya menangis, kesempatan masih ada, kita bisa minta maaf kepada Naya setelah Naya kembali," ucap Romeo.
"Bagaimana jika kita menyusul Naya? Sekaligus melihat apakah Samuel dan Moza sudah bertemu," ucap Nara.
"Sayang, jangan seperti itu, apa kau lupa jika sekarang Celsy sudah masuk sekolah, masa kita meningal kan dia? Itu akan menggangu pikiran nya dan juga tuan muda pasti akan marah jika aku meningal kan perusahaan," jawab Romeo sambil memegang kedua pundak Nara.
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa diam saja ketika aku bersalah, seharusnya aku berteman baik dengan Naya,bukan malah menduduh nya seperti ini, aku sangat bodoh," jawab Nara lagi.
Air mata nya tidak bisa di bendung, dia kini kebingungan karena tidak tau apa yang harus dia lakukan, di hari pernikahan nanti dia mungkin butuh teman untuk mendampinginya.
"Begini saja, bagaimana jika pernikahan kita di tunda saja, sampai mereka semua kembali?" ucap Romeo sambil menggenggam erat kedua tangan Nara.
Nara terdiam dan menatap Romeo." Kau benar, kita sebaik nya menunda saja pernikahan sampai mereka kembali, agar semua nya bisa datang," ucap Nara dengan mata bahagia nya.
"Baik lah, dengan begitu kau bisa menyelesaikan urusan mu nanti dengan Naya dan minta maaf, sekarang kau harus tenang dan fokus membantu ku mengelola perusahaan sampai tuan muda kembali," ucap Romeo yang kemudian memeluk Nara.
Mereka pun akhirnya sepakat untuk menunda pernikahan mereka sampai semua nya kembali ke kota itu.
Sementara itu di sisi lain tepat nya di kota x
Moza kaget karena tidak biasa nya Robi jadi sedikit aneh seperti ini.
"Ada apa? Mengapa tidak besok saja? Robi aku sangat lelah," ucap Moza yang baru saja pulang dari toko nya.
"Kau seharusnya tidak menunggu toko sampai malam, bukan kah ada banyak karyawan?" marah Robi lagi.
Sekali lagi sikap Robi yang seperti ini membuat Moza merasa aneh.
"Aku pemilik toko jadi aku harus mengawasi mereka, kau sendiri tau itu sejak lama, bagaimana kau bisa mempertanyakan nya? Sudah lah kita bicara besok saja dan sekarang sebaiknya kau pulang, Hansel abru saja tidur dan aku harus mandi sebelum dia bangun dan mencari ku," jawab Moza membujuk Robi agar pergi dari rumah tersebut dan menduda apa yang ingin dia bicarakan.
"Tidak bisa, aku rasa ini cukup penting untuk mu, karena Samuel terus menganggu ku dan menanyakan di mana kau dan di mana tempat tinggal mu," jawab Robi tudepoin.
Moza terdiam mendengar ucapan Robi barusan, tadi siang dia sempat berfikir Robi lah yang mengatakan di mana toko nya kepada Samuel, tapi sepertinya Samuel benar Robi tidak mengatakan nya sama sekali.
"Kau tidak mengatakan nya kan?"
"Tidak, tapi aku punya saran, agar kau tidak lagi di ganggu oleh nya,"
_"jadi benar dia tidak mengatakan nya, Samuel benar-benar licik dia tau di mana aku itu karena usaha nya sendiri,"_ batin Moza.
"Mengapa kau diam? Apa jangan-jangan kau sudah bertemu dengan dia?" ucap Robi lagi.
"Robi sebaiknya kau jangan terlalu ikut campur atas urusan ku dan Samuel lagi, aku tau kau sangat peduli kepada ku atau Hansel, tapi aku bisa menyelesaikan nya, ya aku memang bertemu dengan Samuel tadi siang dia datang ke toko ku,aku pikir kau yang memberi tahu, ternyata bukan, aku berjanji aku bisa menyelesaikan nya, kau seharusnya fokus saja dengan pekerjaan mu," jelas Moza karena jujur saja dia tidak ingin menarik Robi ke dalam urusan peribadi nya dengan Samuel terlalu jauh.
Robi seketika terdiam dengan ucapan Moza, ternyata Samuel tidak main-main dengan perkataan nya, dia bisa menemui Moza dengan semudah itu bahkan tampa pemberitahuan dari Robi.
"Sebaiknya kalian segera bercerai," ucap Robi seketika mengeluarkan perkataan itu dari mulut nya.
Moza kaget dan menatap wajah Robi dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, dia bingung mengapa bisa Robi mengatur dirinya kini, padahal ini adalah urusan pribadi nya.
"Robi, aku memang memikirkan hal itu, tapi tidak tergesa-gesa seperti ini, aku harus benar-benar meyakinkan diri terlebih dahulu, dan kau tidak tau dan tidak mengenali Samuel, dia tidak akan mudah melepaskan aku, aku khawatir jika hak asuh Hansel akan bermasalah jika aku salah ambil langkah," jawab Moza yang selalu mengutamakan Hansel sang buah hati.
"Bilang saja kau masih mencintainya kan?" ucap Robi.
"Apa maksud mu? Mengapa kau tiba-tiba membahas soal cinta? Ada apa dengan sikap mu itu!" Moza terlihat sangat marah saat Robi mengatakan jika dirinya masih mencintai Samuel, karena itu dia tidak memikirkan tentang penceraian.
"Moza maksud ku, bukan begitu," ucap Robi tidak enak hati karena memang perkataan nya saat ini sudah keterlaluan.
Moza tampa basa-basi langsung masuk ke dalam rumah kembali dan masuk ke kamar nya, sementara itu Robi hanya terpaku seorang Parung di depan pintu menatap kepergian Moza, baru kali ini dia melihat Moza semarah itu padanya.
Bersambung ....