My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 25



Ibu Yuni menatap tajam ke arah dua insan yang sedang berada di hadapannya. Dirinya naik pitam saat melihat kelakuan putranya tersebut. Wanita itu masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Marah kecewa kini menjadi satu. Matanya menatap tajam wanita yang berada di hadapannya. Wanita itu hanya menunduk tanda bersalah.


Sementara sang pria hanya menatap wajah ibunya yang sedang menatap tajam wanita yang ada di sisinya.


"Mama pikir kamu sudah melupakan Mella. Kamu itu udah menikah Azmi!" Ibu Yuni sudah terbakar amarah, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Dan kau, Mella! Kau sudah tahu bukan? Kalau Azmi itu sudah menikah, seharusnya kamu itu menjauh dari Azmi, bukan seperti ini. Kau itu lebih rendah dari pada..."


"Cukup, Ma. Aku seperti ini karena mama. Bukankah mama tahu aku dan Mella saling mencintai. Selama ini aku sabar ma. Tapi sekarang aku pun sudah lelah dengan semua ini." Timpal Azmi memotong ucapan sang ibu.


"Sudah kamu diam Azmi. Dan kamu Mella ikut aku sekarang."


Ibu Yuni menarik tangan Mella menuju keluar Rumah Sakit karena ia tak mau mengganggu pasien lainnya. Sementara Nabila hanya menunduk sambil menangis.


Setelah kedua wanita itu pergi, Azmi menatap Nabila dengan tajam. Amarah terlihat di bola mata pria itu. Tangannya mengepal menahan amarah yang menggebu. Ingin ia menyusul mereka, tapi ia belum kuat untuk berdiri.


Wanita paruh baya itu menarik napas panjang untuk mengatur emosi yang telah membara di hati. Memejamkan matanya sekejap lalu menatap wanita cantik yang berada di hadapannya.


"Mella, mama mohon kamu tinggalkan Azmi. Biarkan dia bahagia dengan Nabila, menjalin bahtera keluarga." Ucap ibu Yuni menatap Mella, "kamu itu wanita, pasti merasakan apa yang di rasakan oleh Nabila."


"Ma, Azmi itu tak akan bahagia, dia bahagia jika bersamaku. Mengapa mama memisahkan kami berdua, dan menjodohkan Azmi dengan wanita itu. Mama hanya memihak Nabila, mama tak pernah mementingkan perasaanku." Tangis Mella pecah. Kini waktunya ia mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hatinya. Disini bukan hanya Nabila yang tersakiti. Tapi juga Mella dan Azmi.


"Maafkan mama. Mama melakukan ini karena mama ingin yang terbaik untuk putra mama."


"Jadi mama bilang kalau aku ini bukan orang baik gitu. Yah aku memang tak sebaik Nabila," jawab Mella sedih.


"Mama mohon padamu jangan hubungi atau datangi Azmi lagi. Biarkan dia belajar untuk mencintai Nabila. Mama selalu berdo'a untukmu, semoga kamu mendapatkan pria yang lebih baik dari putra mama. Kamu tak ingin kan disebut pelakor."


"Pelakor, seharusnya itu buat Nabila yang di sebut pelakor bukan aku. Karena dia yang telah merebut Azmi dariku. Sebenarnya yang pelakor itu bukan aku tapi Nabila,"


Amarah wanita paruh baya itu menjadi naik saat Mella mengatakan jika menantunya adalah pelakor. Amarahnya sudah tak bisa terkendali lagi. Amarah yang sudah padam kini berkobar kembali. Dirinya mengepal lalu melayangkan tangannya ingin menampar wanita itu. Tapi sebuah tangan menahannya.


"Ma, benar yang di katakan mbak Mella. Aku lah  pelakor itu, ukan mbak Mella. Dia lah yang sebenarnya tersakiti bukan diriku." timpal Nabila sambil menatap wajah mertuanya.


"Sudah Nabila. Kamu diam saja ini urusan mama dengan perempuan ini," ucap bu Yuni pada menantunya.


"Tapi, ma. Disini bukan hanya masalah mama dan mbak Mella. Tapi, aku pun terlibat ma."


●●●●


Nabila masih termenung, menatap lurus dengan tatapan kosong. Ingatannya kembali berputar saat mertuanya memarahi Mella. Ia pun merasa bersalah karena seperti telah merebut Azmi.


Apakah ia harus mengalah, menyerah dan pergi agar suaminya bahagia. Lagi pula suaminya belum mencintai atau mungkin tak akan pernah mencintainya. Tapi jika ia pergi pasti mertuanya yang akan sedih. Dilema, sekarang Nabila dalam dilema pertahankan atau tinggalkan.


__________________________


Hari iti Azmi sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Hampir satu minggu pria itu di rumah sakit dengan tangan diinfus yang membuatnya bosan. Apalagi kejadian kemarin yang membuat dirinya pusing.


Setelah mengantar Azmi ke kamar, kedua wanita itu langsung pergi ke ruang tamu untuk mengobrol. Orang tua Nabila sudah pulang dua hari yang lalu karena harus mengurusi kebun singkong milik mereka.


"Kenapa mama pulang sekarang. Aku masih kangen sama mama." Nabila merasa sedih karena ibu mertuanya harus pergi keluar kota hari itu untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


"Nanti kalau mama sudah selesai, mama pasti akan pulang kesini dan akan menginap lama disini." Ucap bu Yuni.


"Baiklah ma."


Nabila menunduk karena sedih, kemarin ibunya yang pulang. Sekarang ibu mertuanya pun akan pergi keluar kota.


___________________________


Setelah mengemasi barang-barangnya, bu Yuni langsung keluar kamar. Sedih rasa ia harus meninggalkan putra-putrinya. Apalagi sang putra yang baru saja sembuh. Tapi apa boleh buat, waktu cutinya sudah habis. Ibu mana yang tak sedih harus meninggalkan putranya. Walaupun sudah besar anak tetaplah anak.


"Mama harap, Azmi bisa mencintai kamu dan melupakan Mella. Dan satu lagi semoga mama bisa menjadi seorang nenek." Ucap bu Yuni sambil tersenyum pada menantunya.


"Aku selalu berusaha ma. Dan aku minta do'a dari mama agar mas Azmi bisa mencintaiku."


"Do'a ibu selalu menyertaimu. Ya sudah mama pergi dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam."


Nabila menatap mertuanya yang sudah pergi jauh dengan menaiki taksi. Cucu? Jangankan cucu, untuk mencintai dan menerimanya saja pria itu sudah tak mau.


Kapankah ini akan berakhir?