My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 58



"Dokter ayo lah, jangan diam saja, sahabat ku butuh bantuan mu," ucap nya sambil terus memegang tangan sang dokter memohon.


"Nona, ini di luar kemampuan ku, aku tidak bisa menangani, aku hanya lah dokter penganti," ucap sang dokter sambil memegang pundak wanita itu.


"Lalu apa kau akan membiarkan sahabat ku mati? Aku mohon tolong!"ucap perempuan itu menguncang tubuh sang dokter.


"Begini saja, kita ada waktu dua puluh empat jam, tunggu sampai dokter Robi kembali ke ke sini karena dia lah dokter andalan di rumah sakit ini," ucap sang dokter kepada perempuan itu.


"Astaga, bagaimana jika sahabat ku kenapa-kenapa, kapan dia akan kembali dan bagaimana jika dia lama?" panik nya.


"Tenag lah nona, menurut jadual,malam ini dokter Robi sudah akan kembali ke rumah sakit ini," jelas sang dokter.


"Baik lah kalau begitu biar kan aku masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat nya," pinta perempuan itu kepada sang dokter.


"Silahkan masuk nona," jawab dokter itu tak berani lagi melarang perempuan tersebut.


Tampa basa-basi lebih lama, perempuan itu pun akhirnya masuk ke dalam ruang ICU tempat di mana Moza kini di rawat di dalam nya dengan berbagai macam alat bantu di tubuh nya.


"Oh ya tuhan, semua ini karena aku," batin nya mendekati Moza dengan air mata yang sudah membahasi pipinya.


Tepat di saat itu, Moza membuka mata nya, meskipun sangat sulit tapi ia berusaha keras untuk melihat siapa yang saat ini berdiri di samping ranjang nya.


"Na-Naya ... " Lirih Moza.


Ya, wanita yang sudah menabrak dan membawa Moza ke RS adalah Naya.


"Moza, kau, kau sadar? Maaf, maaf kan aku, aku lah yang sudah menabrak mu, aku tidak sengaja, aku mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi dan kau tiba-tiba berdiri di tengah jalan dalam hujan aku tidak melihat mu," ucap Naya sambil mengengam erat tangan Moza.


"Me, mengapa?" Hanya kata itu yang mampu di keluarkan oleh Moza dari dalam mulutnya yang kini tertutup alat pernapasan.


"Aku akan menemani mu jangan khawatir,kau pasti akan sembuh setelah itu terserah padamu hendak menghukum aku dengan cara apa," jelas Naya lagi.


"An-aku ... Bayi ku ... " Lirih Moza sambil berusaha mengerahkan seluruh tenaga nya untuk menggerakkan tangan memegang perutnya.


"Dia baik-baik saja dia baik-baik saja dokter akan menyelamatkan nya," lirih Naya yang saat ini terpaksa berbohong demi menenangkan hati Moza.


Sebenarnya sejak kepergian nya dari rumah keluarga Ferdi, Naya sudah ada dalam titik penyesalan, dia menyesal sudah menghianati persahabatan nya dengan Moza,ia pun berniat mencari keberadaan Moza untuk meminta maaf, namun jadi nya dia dan Moza kembali bertemu namun dalam keadaan yang seperti ini.


"Na-ya ... " Lirih Moza.


"Iya, iya apa? Kau mau bicara apa?" Tanya menatap sang sahabat dengan tatapan sedih.


"Te-rima kasih, sudah me-nye-lamat kan ku, tolong ja- gan,kas-ih tau,sa-muel, kal-au ak-u ada di sini" Ucap Moza dengan terbata-bata.


"Iya, iya aku tau, aku tau itu, kau tenang saja," jawab Naya sambil menangis.


Setelah mengatakan hal itu, Moza pun kembali pingsan, Naya yang melihat nya tau kalau saat ini kondisi Moza memang sangat lemah dan dia juga pasti tidak akan bisa sadar terlalu lama.


Beberapa jam pun berlalu.


Selamat itu pula Naya menunggu Moza di dalam ruangan tersebut, dokter tidak memindahkan Moza, karena memang kondisi Moza cukup memprihatinkan, dan sangat parah.


Malam lun tiba.


"Dok, bagaimana ini? Mengapa jam segini dokter Robi belum datang ke RS?" Tanya suster yang saat ini berdiri di depan ruang ICU Moza.


"Aku juga tidak tau, aku sudah menghubungi nya, namun dia tidak menjawab," jawab sang dokter dengan wajah bingung.


Tidak lama kemudian Naya pun keluar dari ruang ICU dan melihat wajah panik dokter dan suster.


"Dokter, apa dokter Robi sudah kembali? Dia akan menyelamatkan sahabat ku kan?" tanya Naya yang kini sudah seperti orang gila.


"Ya tuhan," ucap Naya mengusap kasar wajah nya.


Di tengah-tengah kepanikan yang terjadi, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.


"Maaf aku sedikit terlambat," ujar orang itu sambil menatap jam yang melingkar di tangan nya.


Semua mata tertuju ke arah nya, termasuk Naya.


Terlihat seorang dokter tampan bertubuh tinggi, rambut nya lurus ala boyband Korea dia juga terlihat sangat manis bahkan tampa senyuman.


"Dokter Robi," ucap dokter x yang tadi merawat Moza.


"Dokter, kau dokter Robi itu? Ayo cepat tolong selamatkan sahabat ku, dia sangat membutuhkan mu,aku mohon tolong dia," ucap Naya yang kini tak memikirkan apapun lagi kecuali keselamatan Moza.


"Tunggu dulu, dokter x jelas kan kepada ku, apa yang membuat mu tidak bisa menangani pasien itu?" tanya dokter Robi terlihat tenang dan santai.


"Dokter, ini bukan keahlian ku, aku tidak bisa dan aku takut gagal, dia perlu operasi di bagian kepala dan perut nya, kalau di bagian kepala mungkin aku bisa melakukan nya tapi tidak dengan perut aku takut tidak bisa menyelamatkan bayi nya," jelas dokter x kepada dokter Robi.


"Berapa usia kandungan nya?" tanya dokter Robi lagi.


"Baru menginjak satu bulan,"jawab dokter x.


"Ayo lah dokter jangan banyak bicara, sahabat ku sedang meregang nyawa!" Marah Naya.


"Diam lah atau aku akan menjahit mulut mu itu," marah dokter Robi kelas Naya.


Sementara suster yang berdiri di samping Naya malah terlihat menahan tawa akan tingkah Naya saat ini.


"Baik lah,siap kan ruangan operasi," ucap dokter Robi yang kemudian masuk ke dalam ruang ICU untuk mengecek keadaan Moza.


"Baik dokter," jawab suster yang tadi menertawakan Naya.


Dua jam pun berlalu.


Moza kini berada dalam ruang operasi, sementara Naya menunggu dengan gelisah di depan ruangan operasi tersebut.


"Kau sangat cantik, bahkan dalam keadaan tidak sadar kau benar-benar cantik," batin dokter Robi malah terpesona dengan kecantikan Moza yang memiliki daya tarik kuat bagi nya.


Ya elah ni dokter bukan nya fokus malah jatuh cinta. (ucap author yang cemburu.)


Next


Jam sudah menujukkan pukul dua malam, tapi dokter Robi masih saja belum keluar dari ruang operasi Moza.


"Ya tuhan,lama sekali," batin Naya yang kini di selimuti rasa khawatir.


Namun setelah berkata demikian, lampu merah di ruang operasi pun kini berganti hijau dan selang sepuluh menit kemudian, dokter Robi pun keluar dari ruangan tersebut.


Naya yang melihat itu sontak berdiri dari duduknya dan menghampiri dokter Robi.


"Dokter bagaimana keadaan nya?" tanya Naya.


"Operasi berjalan lancar," lirih dokter Robi.


"Ah, syukur lah, dia baik-baik saja sekarang?" tanya Naya.


Namun ekspresi dokter Robi terlihat aneh.


Bersambung ....