My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 19



Di kamar mandi Nabila hanya bisa menangis dalam diam. Karena Imam masih ada di luar, dan ia takut bila Imam mendengar kalau Nabila sedang menangis.


Air mata Nabila tak henti mengalir. Isakannya hanya terucap dalam hati. Bibirnya hanya bergetar menahan isakan yang mendesak. Air matanya kembali mengalir saat teringat ucapan Mella.


"Kamu mau ngeracunin saya, hah!" Bentak Mella setelah Imam pergi ke dapur.


"Maksud mbak Mella apa, aku gak ada maksud


buat ngeracunin mbak," ucap Nabila membela diri.


"Alah, gak usah alasan, buktinya tadi kamu mau ngeracunin saya pake teh," ucap Mella tak mau kalah.


"Buat apa saya ngeracunin, mbak. Gak ada


gunanya." Ucap Nabila melawan tuduhan yang di lontarkan Mella padanya.


"Sudah, cukup. Ngapain sih kalian bertengkar, hah. Cuman gara-gara teh. Kamu Mella berhenti nuduh Nabila yang enggak-enggak . Dan kamu Nabila, kalau mau bikin apa-apa itu di cek dulu sebelum diberikan kepada orang lain. Untung aja Mella gak kenapa-napa. Kalau Mella sampai kenapa-napa kamu mau tanggung jawab?" Bukan ini yanh di harapkan Nabila. Nabila pikir Azmi akan membela dirinya tapi nyatanya ia seperti menyudutkannya.


Nabila langsung mencuci wajahnya untuk membersihkan air matanya yang mengalir. Sudah sekitar dua puluh menitan ia berada di sana. Setelah matanya tak merah lagi, Nabila pun keluar dan menuju ruang tamu.


Nabila langsung duduk di sofa dekat Azmi. Sepertinya mereka telah selesai dari rapatnya. Terlihat semuanya sudah rapi.


"Kalau gitu aku pulang dulu karena sudah


sore," Imam pamit sambil beranjak dari duduknya.


"Kenapa cepat-cepat, lo juga gak ada yang nungguin kan di rumah," ucap Azmi dengan nada meledek.


"Lo ngeledek gue, emang gua sekarang lagi sendiri tapi gue bahagia," balas Imam sedikit menyindir.


"Haha ngomong aja lo gak laku, atau lo emang gak suka sama cewek ya?" Balas Azmi meledek Imam kembali.


Imam langsung menatap Azmi dengan tatapan mata elang saat mendengar ucapan Azmi.


"Gue bukannya gak laku tapi belum ada yang beruntung dapetin gue, dan gue masih normal bro, gue kayak gini bukan gue gak normal tapi belum ada yang cocok sama kriteria gue," ucap Imam menepis tuduhan Azmi.


"Emang kriteria lo yang kayak gimana sih, Mam?" Tanya Azmi yang mulai penasaran dengan Imam.


"Kriteria gue tuh yang cantik, sholehah, baik, dan nurut sama gue, yah kayak Nabila gini, kalau aja lu belum nikah sama Nabila, udah gua embat pasti," ucap Imam disertai canda yang membuatnya


dan Nabila tertawa .


"Hah, kayak Nabila, mendingan kayak aku, udah cantik, kaya, punya usaha sendiri, daripada berhijab tapi munafik, dan gak pernah merusak hubungan oranglain," timpal Mella yang asal ceplos saja.


Nabila langsung menunduk saat mendengar ucapan Mella yang di maksudkan kepadanya.


"Maaf mbak, jangan salahkan hijabku


karena kesalahanku. Dan soal itu sudah saya katakan bahwa saya tak berniat untuk merebut mas Azmi dari mbak, itu bukan kemauan saya, tapi itu adalah sudah


rencana Allah, kalau mas Azmi itu jodoh saya. Jikalau pun saya tahu kalau mas Azmi itu sudah memiliki kekasih saya pun tak kan menerima lamaran itu, mbak," ucap Nabila dengan penuh penekanan.


Selama ini Nabila sudah sabar atas apa yang di


tuduhkan Mella padanya. Bahkan ia selalu diam saat Mella menuduhnya seperti itu. Tapi Nabila sudah lelah dan ingin mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di lubuk hatinya.


Kini Nabila mulai membalas tuduhan yang selama ini Mella lontarkan kepadanya. Karena Nabila tahu kalau ia tetap diam pasti Mella akan semakin menindas dan terus merendahkannnya. Sudah cukup dirinya di tuduh yang tidak-tidak.


"Udah lah gak usah ceramahin saya," ucap Mella dengan nada emosi.


"Raka aku mau pulang, anter aku pulang ya," kini nada bicaranya manja sambil menatap Azmi dengan penuh manja.


Imam hanya diam sambil melihat drama yang ada


di hadapannya. Drama rumah tangga yang entah kapan berakhir. Azmi menatap Nabila memberi kode untuk meminta izin. Tapi yang ia tatap hanya menatap sekilas setelah itu merapikan meja dan pergi ke dapur tanpa memberikan jawaban.


Imam meminta untuk Mella di antar olehnya tapi wanita itu tetap ingin pulang jika di antar oleh Azmi. Imam dan Azmi berusaha membujuknya tapi ia keras kepala dan tetap dalam keputusannya. Akhirnya Azmi mengalah dan mengikuti apa yang di inginkan


oleh Mella. Tapi sebelum itu, Azmi meminta izin terlebih dahulu pada Nabila.


Nabila hanya mengurung diri di kamarnya, setelah ketiga orang itu pergi. Ia menangis mengeluarkan beban yang ada di hatinya. Ia tak tahu sampai kapan ujian ini akan berakhir. Baru saja ia merasakan kebahagiaan, tapi kini ia kembali merasakan kesedihan. Sepertinya kebahagiaan itu hanya tersisa sedikit untuknya.


Dalam hatinya Nabila sudah lelah dengan kehidupan ini. Dimana ia selalu di tuduh karena telah mengambil kebahagian orang lain. Tapi semua itu sebenarnya adalah rencana Allah. Dimana orang-orang tak tahu apa yang Allah rencanakan. Kita mempunyai


rencana, Allah pun sama. Tapi rencana Allah yang selalu nyata. Terkadang rencana Allah itu berbanding terbalik dengan apa yang kita inginkan. Tapi percayalah, rencana Allah itu adalah yang terbaik walaupun tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.


Matanya perlahan terbuka. Nabila langsung melihat jam dinding. Lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju cermin. Entah sudah berapa jam ia menangis dan sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan. Sampai matanya sembab dan membengkak. Wajahnya terlihat sangat kacau. Mata yang bengkak dan memerah karena menangis. Dan wajahnya yang kusut.


Setelah sholat, Nabila tak henti-hentinya berdo'a agar di beri jalan keluar atas masalah yang ia hadapi. Karena hanya Allah_lah tempat meminta pertolongan.


   Kring!!!


Nabila langsung pergi ke nakas untuk melihay handphonenya. Ternyata benar ada suatu pesan yang masuk.


Percakapan sepasang suami istri.


__________________________________________________


❤ Mas Azmi


'Assalamualaikum, Nabila, maaf sekarang mas


pulang telat, soalnya ada pekerjaan mendadak di kantor.'


🧕 Nabila


'Iyah mas. Jangan lupa makan yah.'


❤ Mas Azmi


'Iya,'


__________________________________________________


Nabila hanya membaca pesan itu, lalu ia pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan yang dibuatnya tadi pagi. Setelah itu ia membersihkan rumah dan perabotan yang kotor, seperti biasa.


Kring..


■■■■


Azmi langsung menoleh ke arah handphonenya


yang berbunyi, lalu ia membukanya.


My Mella ♡


'Sayang, besok temenin aku buat pemotretan


yah,'


Yah namanya kontaknya di ganti kembali, siapa


lagi kalau bukan ulah Mella sendiri yg menggantinya. Ia sempat marah karena nama kontaknya di ganti oleh Azmi. Oleh sebab itu ia marah pada Azmi selama dua hari. Mella tak mau memaafkan Azmi kecuali ia mengganti nama kontaknya lagi seperti semula.


My Azmi ♡


'Bukan nya aku udah bilang kamu gak usah jadi


model lagi, Mel.'


My Mella ♡


'Yah ini yang terakhir kok, beneran. Ya


plissss,'


Azmi memutar bola mata malas.


My Azmi ♡


'Baiklah aku izin kan tapi jika sekali lagi


kau melakukan itu aku tak akan pernah memaafkanmu, akan aku usahakan.'


My Mella ♡


'Iya, sayang. Pokoknya kamu harus bisa.'


Azmi hanya membaca tanpa berniat membalasnya. Ia sudah jengah dengan sifat Mella yang keras kepala dan manja. Ia sudah bosan dengan perilaku wanita itu yang selalu memaksakan kehendaknya dan selalu mengambil keputusan sepihak. Ingin sekali Azmi


tinggalkan wanita itu tapi karena cinta, semua itu ia singkirkan.


Azmi kemudian langsung melihat chat Nabila. Ternyata Nabila hanya membacanya tanpa membalas. Entah mengapa hal itu membuat Azmi merasa sedikit kecewa.


Satu lagi saat Azmi melihat Nabila pergi ke


dapur. Ia melihat bendungan di kelopak mata Nabila yang sudah membengkak. Ia pun merasa kesal saat


Mella menuduh Nabila yang tidak-tidak. Entah kenapa dirinya merasa tenang dan nyaman saat bersama Nabila. Berbeda ketika tengah bersama kekasihnya hawanya selalu bosan. Rasa bosan itu sudah ada sebelum Nabila hadir. Azmi bosan bukan karena rupa namun karena sifat Mella yang menurutnya kekanak-kanakan dan seenaknya sendiri.


"Aishhh, apa yang terjadi pada diriku?" Batin Azmi saat memikirkan hal itu.


■■■■


Nabila masih setia menunggu sang suami pulang ke rumah. Ia tak pernah bosan saat menunggu suaminya pulang. Memang menunggu itu melelahkan apalagi tanpa kepastian. Tapi di balik itu menunggu juga melatih kesabaran, seberapa sabar kita dalam menghadapi cobaan.


Tiba-tiba suara pintu terbuka. Terlihat Azmi pulang dengan wajah lelah, lusuh, dan kacau. Nabila langsung menghampiri Azmi dan mencium tangan suaminya, lalu mengambil tas yang berada di bahu Azmi. Walaupun Azmi belum mencintainya, tapi bagaimana pun Azmi adalah suaminya yang harus ia layani dan hormati dengan baik.


"Mas, mau teh atau kopi?" Tanya


Nabila setelah keluar dari kamar Azmi untuk menaruh tas kerjanya.


"Teh manis hangat aja," sahut Azmi lesu sambil duduk dengan kepala menyender di punggung sofa


Nabila mengangguk lalu pergi ke dapur untuk membuat apa yang suaminya pinta. Tak lama, Nabila datang membawa secangkir teh hangat untuk suaminya dengan wajah canggung.


Setelah menghabiskan minumannta, Azmi pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat karena rasa pusing yang teramat.


Kini malam telah berganti. Terang datang kembali setelah gelap menguasai. Suara jangkrik kini berubah menjadi kicauan burung yang menenagkan hati.


Seperti hari-hari biasa setelah Azmi berangkat ke kantor dan semua pekerjaan rumah selesai. Nabila pergi ke panti bersama Hanny. Tapi karena hari ini


ada pengajian mingguan, Nabila, Hanny dan Zahra pergi pengajian terlebih dahulu.


■■■■


Azmi hanya pasrah saat kekasihnya datang ke tempat ia bekerja. Apalagi kalau bukan ingin


ditemani ke tempat pemotretan. Untung saja hari ini tak ada meeting jadi Azmi bisa pergi mengantarnya.


Sebenarnya ia tak ingin mengantar Mella karena kurang enak badan. Tapi bukan Mella jika tak bisa membujuk Azmi. Ia memelas seperti seorang bocah yang meminta mainan kepada ibunya.


Azmi bingung jika ia menolak, pasti wanita itu akan merengek dan membuat onar dikeramaian. Jika


Azmi menurutinya, tapi sedang tidak enak badan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menuruti keinginan kekasihnya.


Azmi pergi kembali ke kantor karena sebentar lagi waktu makan siang akan habis.


"Mell, aku pergi ke kantor lagi, soalnya waktu makan siangku akan habis, nanti kalau aku pulang cepat aku akan jemput kamu," ucap Azmi sebelum pergi.


"Yaudah, tapi bener yah kamu bakal jemput


aku," ujar Mella sembari di make up oleh perias.


Azmi mengangguk.


"Yaudah, hati-hati," imbuh Mella.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Karena hari ini pulang cepat. Seperti apa yang di ucapkannya tadi, Azmi pergi ke tempat pemotretan Mella.


Sudah dua jam Azmi menunggu Mella. Tapi yang di tunggu belum juga selesai. Azmi sudah mulai jenuh karena tidak ada yang bisa diajak bicara. Semuanya sibuk dengan bagiannya masing-masing.


Setelah menunggu hampir tiga jam. Akhirnya Mella selesai pemotretan dan mereka pun langsung pulang. Tapi sebelum pulang Mella meminta Azmi untuk menemaninya makan malam. Yah hari sudah mulai malam memang.


"Kamu gak mau makan, Yang?" Tanya wanita itu pada Azmi setelah Mella memesan makanan.


"Gak, aku nggak lapar," jawab Azmi singkat.


Wanita itu hanya menangguk.


Setelah selesai, mereka pun pulang. Terlebih


dahulu Azmi mengantar Mella pulang.


Di rumah, Nabila gelisah karena Azmi belum juga pulang. Rasa khawatir mulai menghantuinya.


Tak lama, Azmi pun pulang. Seperti biasa Nabila akan menawarkan minuman pada Azmi.


■■■■


Pagi mulai datang berama kicauan burung. Nabila melirik jam yang ada didinding. Ternyata telah menunjukkan pukul 06:46.


"Tumben, mas Azmi belum turun, apa aku cek aja, yah," ucap Nabila khawatir.


Akhirnya Nabila memutuskan untuk pergi ke kamar suaminya untuk mengecek apakah Azmi sudah siap-siap atau belum.


Nabila mengetuk pintu tapi tak ada jawaban.


"Apa aku masuk aja yah," gumam Nabila pelan.


Perlahan Nabila membuka pintu yang ternyata tak


dikunci. Saat pintu terbuka Nabila melihat suaminya yang masih tertidur lengkap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Nabila pun masuk dan mendekati Azmi. Ia melihat suaminya yang masih tertidur pulas. Mungkin.


"Mas, bangun, ini udah jam setegah


tujuh, lho," ucap Nabila sambil menggoyangkan lengan suaminya yang tertutupi oleh selimut.


Karena tak bangun juga, akhirnya Nabila memegang kening suaminya. Takut dia sakit.


Panas. Itulah yang dirasakan Nabila saat tangannya memegang kening Azmi.


"Mas Azmi demam," gumam Nabila.


Nabila buru-buru pergi ke dapur mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Azmi.


Azmi merasakan ada yang aneh di kepalanya saat ia terbangun. Saat matanya terbuka ia melihat


sebuah wadah di nakas dan kain yang basah di kepalanya. Tak lama ia melihat Nabila masuk ke kamarnya sembari membawa air putih, bubur dan tak lupa obat.


"Mas udah bangun yah," ucap Nabila sambil menaruh nampan tersebut di atas nakas.


"Ini kamu yang buat?" Tanya Azmi sambil memegang kain yang ada di keningnya.


"Iyah mas. Mas lagi demam. Jadi sekarang Mas jangan dulu masuk kerja Aku udah izin kok ke orang kantor, dan orang itu mengizinkannya," sahut Nabila tersenyum sambil mengompres kening Azmi.


"Tapi ______,"


"Mas, aku mohon jangan maksain. Nanti kalau mas tambah sakit gimana, lebih baik sekarang mas istirahat dulu sampai mas sembuh," ucap Nabila memotong omongan Azmi.


"Sekarang mas makan dulu yah, setelah itu minum obat," imbuh Nabila.


Nabila membantu Azmi untuk duduk karena ia akan


makan.


"Sini aku suapin," ucap Nabila lembut.


Azmi pun menurutinya.


Dengan telaten Nabila menyuapi Azmi. Dengan


sabar ia menyuapinya karena Azmi selalu mengeluh pahit. Memang ketika sakit semua makanan yang kita makan akan terasa pahit dan tak enak.


Azmi melihat kasih sayang dari mata Nabila dan perlakuannya saat menyuapi dirinya. Azmi pun melihat perbedaan antara Mella dan Nabila. Kedua wanita itu sangat berbeda.


Nabila mempunyai hati yang lembut, sabar, mandiri dan bijak. Sedangkan Mella manja, egois, selalu marah, dan terkadang kekanak-kanakan.


Persamaan kedua wanita itu adalah keduanya


sama-sama wanita yang sangat berarti bagi Azmi.


Walaupun sifat Mella seperti itu tapi Azmi mencintainya. Dan Nabila ,entah mengapa ia merasa sangat senang saat berada di dekat Nabila.


Setelah meminum obat Azmi pun tertidur kembali. Saat Nabila akan handpone suaminya berbunyi dan Nabila pun pergi untuk melihat siapa yang menelepon dan ternyata.