My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 82



"hentikan Samuel, kalau dari awal aku tau, kau adalah Samuel yang sudah membuat Moza dan Hansel menderita, aku tidak akan mau berbicara banyak kepada mu, ayo Moza kita kembali ke rumah," ucap Robi dengan mengengam erat tangan Moza.


"Apa maksud mu? Robi ingat, wanita yang tangan nya kau genggam itu adalah istri ku, dia istri ku," tekan Samuel pada Robi.


"Istri ya? Dari mana kau memiliki hak tentang menyebut dia sebagai istri mu lagi? Di mana kau saat dia menderita, di mana kau saat dia kecelakaan? Di mana kau di saat dia membutuhkan mu?" ucap Robi yang kini menyembunyikan Moza di belakang nya.


Moza tidak bisa berhenti menangis, air matanya kini benar-benar tidak bisa di tahan, perasaan nya kini hancur,luka lama yang sudah susah payah di tutup nya kini malah kembali terbuka dengan melihat wajah Samuel dan mama Ema.


"Aku hanya tidak menemukan nya, bukan berarti aku tidak bertanggung jawab atas dirinya," jelas Samuel tak mau kalah.


"Robi, aku mohon ayo pergi dari sini," ucap Moza dengan suara serak nya.


"Ayo, ayo cepat masuk ke mobil," ucap Robi yang kemudian menarik tangan Moza dan mereka pergi dari hadapan Samuel.


"Tidak! Moza tunggu! Moza dengar kan penjelasan ku!" ucap Samuel yang kini mengejar Moza yang sudah di bawa pergi oleh Robi mengunakan mobil nya.


Seolah kini hal yang pernah di rasakan oleh Moza berbalik ke Samuel.


Samuel pun tak mampu membendung air mata nya, dia sadar bahwa anak yang di gendong oleh Robi adalah darah daging nya, dugaan nya pun benar kalau Moza dan Robi bukan sekedar dokter dan pasien sekarang karena Moza sampai menceritakan semua kepada Robi.


Sementara itu di mobil Robi.


"Hikss, mengapa aku harus bertemu dengan nya lagi? Mengapa? Padahal sudah sudah payah membuka lembaran baru dan aku juga sudah berhasil bahagia tampa dia," ucap Moza sambil memeluk Hansel.


Sementara Robi yang mengemudi mobil jadi ikut kacau dengan situasi yang di hadapi Moza saat ini.


"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan untuk membantu mu? Aku juga tidak mau kau kembali kepada nya," Robi tampa ragu mengatakan hal tersebut.


"Aku tidak tau, yang jelas, aku mohon padamu agar kau tidak mengatakan apapun lagi kepada nya, aku tidak ingin dia mengangu ku dan Hansel," jawab Moza sambil mengelap air mata nya.


"Aku mengerti," jawab Robi sambil fokus mengemudi mobil.


Piknik pun gagal dan mereka akhirnya kembali ke rumah Moza.


Moza dengan air mata yang masih mengalir deras memberikannya Hansel kepada BI Juni, sementara dia pun menguci dirinya di dalam kamar, sejujurnya dia tidak ingin Hansel melihat nya dalam kondisi seperti ini.


"Robi, apa yang terjadi?"


BI Juni kaget melihat keadaan Moza yang tiba-tiba jadi seperti itu setelah pulang dari taman kota, bukan nya bahagia malah terlihat sangat hancur dan terpuruk.


"Bi, nanti aku jelaskan, sekarang kau tidur kan Hansel kasihan dia, dia pasti capek dan mengantuk," ucap Robi


BI Juni pun mengangguk paham dan kemudian beranjak pergi untuk menidurkan Hansel.


Sementara itu di kamar Moza.


"Arghhhh! Samuel kurang hajar!" amuk nya sambil melemparkan barang-barang yang ada di sekitar nya.


Robi paham saat ini dengan kondisi mental Moza yang sudah ingin pulih namun malah kembali bertemu dengan Samuel.


"Ya Tuhan, kenapa? Ada apa? Mengapa dia harus di pertemukan kembali dengan ku? Kenapa? Apa kau memang tidak mau jika aku bahagia? Tolong jangan seperti ini ku mohon!"


Moza menangis sejadi-jadinya sambil menyesali takdir yang telah di atur atas kehidupan nya yang sudah mulai baik namun malah kembali jadi seperti ini.


ia mengurungkan diri di kamar, meratapi apa yang sudah terjadi hari ini.


"Tuan Robi, apa yang terjadi?"


BI Juni yang penasaran kembali menghampiri Robi yang saat ini sedang duduk termenung di sofa ruang tengah rumah tersebut.


"Apa Hansel sudah tidur?" tanya Robi kepada BI Juni.


"BI, kau harus tau, hari ini, Moza bertemu dengan ayah kandung nya Hansel di taman kota."


Wajah BI Juni seketika kaget mendengar penjelasan dari Robi.


"Apa? Benar kah itu tuan? Jadi nona Moza jadi seperti ini sekarang karena dia?"


"Iya,"


"Astaga, cobaan apa lagi ini,"


"BI, aku pulang dulu saja, biar kan Moza istirahat, jika dia sudah keluar kamar,ajak dia ngobrol dan nasihati dia, aku khawatir dia akan berbuat yang tidak-tidak kelas dirinya sendiri,"


Robi berdiri dari duduknya sambil mengeluarkan nafas panjang, terlihat kini yang banyak pikiran bukan hanya Moza tapi Robi juga.


"Baik lah tuan, hati-hati,"


BI Juni mengantarkan Robi sampai ke depan rumah, setelah Robi pergi, ia pun kembali masuk ke dalam rumah.


Siang pun kini berganti malam, Moza masih belum keluar dari kamar nya, BI Juni pun merasa khawatir karena keadaan Moza.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Nona, makan malam sudah saya siapkan, ayo kita makan malam dulu,"


BI Juni mengetuk pintu kamar Moza beberapa kali untuk mengajak nya makan malam, karena sejak tadi siang Moza tidak makan.


Tidak lama kemudian, pintu kamar tersebut pun terbuka, terlihat Moza dengan penampilan acak-acakan berdiri di hadapan BI Juni dengan mata bengkak dan sembab.


"Bi ..."


"Astaga, nona ... "


Moza dengan air mata yang bercucuran membenamkan diri ke dalam pelukan BI Juni.


"Nona, ya tuhan, mengapa nona jadi seperti ini,"


Moza tidak menjawab, kelihatan nya dia benar-benar ada dalam kondisi hati yang sangat hancur saat ini ia butuh pelukan hangat orang terdekat nya.


Ia hanya bisa menangis di dalam pelukan BI Juni.


Setelah sedikit tenang, BI Juni pun mengiring nya ke dapur untuk makan malam, mereka duduk berhadapan di meja makan, dengan Moza yang masih larut dalam pikiran nya tatapan nya kosong menatap makanan yang ada di hadapannya ia hanya memainkan sendok dan garpu yang dia pegang.


"Nona, sudah, jangan larut dalam kesedihan, kasian Hansel, dia butuh seorang Momy yang kuat untuk mendampingi tumbuh kembang nya, jangan sampai karena masalah ini nona jadi kurang fokus terhadap Hansel," nasehat BI Juni kepada Moza.


"BI, aku tidak tau mengapa aku bisa sehancur ini setelah melihat dia, aku benar-benar membencinya, mengingat saat beberapa tahun lalu, sampai kapan pun aku tidak akan bisa melupakan nya," jelas Moza.


"Aku sangat paham nona, tapi nona bisa menghindari laki-laki itu jika memang nona tidak mencintai nya lagi, dan sesekali aku mohon, lihat lah tuan Robi,"


Tiba-tiba BI Juni menyangkut kan Robi ke dalam masalah masalah ini.


"Robi?" tanya Moza sambil menatap wajah BI Juni.


"Nona, apa kah nona tidak sadar jika tuan Robi sangat mencintai nona?"


Deg ... Jantung Moza berdetak kencang saat BI Juni mengatakan hal tersebut.


Bersambung ....