My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 76



"Mo-sah" satu kata lolos dari bibir sang mama Ema dengan tangan yang sudah berhasil menujuk ke arah depan Samuel.


Samuel reflek menatap arah yang di tujukan oleh sang mama, namun tidak ada orang yang dia kenal, itu hanya lah orang-orang yang sedang menantikan kembang api yang sebentar lagi akan segera di nyalakan.


"Ma, apa mama melihat sesuatu? Apa mama takut? Atau mama hanya ingin belajar bicara dan kembali bergerak?" tanya Samuel kepada sang mama.


Mama Ema yang melihat Samuel tidak mengerti atas apa yang di ucapkan nya pun merasa tidak berguna, padahal jelas-jelas dia sudah melihat Moza di hadapan nya tadi, tapi kini malah kembali kehilangan jejak, biar pun dirinya tidak bisa apa-apa lagi sekarang namun pandangan nya cukup jelas, ia pun menyesal karena tidak bisa bicara, jika saja dia bisa bicara, pasti Samuel sudah bertemu dengan Moza malam ini, mama Ema pun mengeluarkan air matanya.


"Ma, aku tau mama sedang berusaha, tapi aku mohon jangan lah menangis, besok pagi aku akan membawa mama ke RS di kota ini, dan kita akan menjalani pengobatan selama di kota x aku yakin mama pasti akan segera sembuh," ucap Samuel sambil menghapus air mata sang mama.


"Samuel, andaikan kau tau apa yang mama lihat, pasti kau akan sangat bahagia, maaf kan mama yang tidak berguna ini," batin mama Ema sambil menatap Samuel yang kini hanya tersenyum tipis di hadapan nya.


Malam itu pun berlalu setelah kembang api yang begitu indah di nyalakan dan meledak di atas langit taman kota, tulisan happy new year pun terlihat jelas di atas sana.


Keesokan harinya.


Hari ini adalah hari pertama di tahun baru, dan seperti biasanya, Moza maupun Robi kini kembali beraktifitas dengan pekerjaan masing-masing tentu nya dengan semangat baru juga.


"Selamat pagi buk,"


Sapa para karyawan Moza saat melihat Moza tiba di toko kue nya.


"Iya, pagi juga, apa sudah ada pembeli pertama di pagi ini?" tanya Moza sambil meletakkan tas nya di atas meja kasir.


Seperti nya belum buk, karena ini masih sangat pagi, memang nya kenapa ya buk?" tanya salah satu karyawan penasaran dengan pertanyaan Moza barusan.


"Karena ini tahun baru, pelanggan pertama akan di berikan kue gratis, tidak boleh bayar," jelas Moza sambil tersenyum.


"Wahh, bagaimana jika kami saja yang jadi pelanggan nya buk?" tanya lara karyawan penuh semangat.


"Kalau kalian, emm, hari ini bebas boleh makan kue apa saja yang kalian inginkan, aku tidak akan membatasi, karena aku benar-benar berterima kasih kepada kalian semua sudah mau bekerja padahal ini awal tahun baru, dan aku minta maaf tidak memberikan waktu libur untuk kalian," ucap Moza sambil memasang wajah sedih.


"Yeyyy! Makan sepuasnya! Makasih ya buk, kami sebenarnya lebih suka bekerja daripada diam di rumah atau jalan-jalan tahun baru, karena boss kami begitu baik dan perhatian," jawab salah satu karyawan Moza.


Ya, sebagai seorang boss di toko yang cukup besar, Moza begitu di cintai oleh karyawan nya karena sikap nya yang begitu baik dan tidak sombong makanya banyak karyawan yang begitu betah kerja dengan Moza.


"Baik lah, kalau begitu ayo kembali ke pekerjaan masing-masing," ucap Moza sambil bertepuk tangan untuk membuat para karyawan nya jadi lebih semangat.


Sementara itu di sisi lain.


"RS ini cukup besar, bagaimana aku bisa menemukan dokter yang bernama Robi? Aku juga tidak tau ada berapa dokter yang bernama Robi di sini?" batin Samuel sambil mendorong kursi roda sang mama.


Tiba-tiba seorang suster pun menghampiri mereka.


"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya sang suster kepada Samuel.


"Suster, apa di sini ada dokter ya g bernama Robi?"


Suster tersebut terdiam, ia berfikir Samuel akan menanyakan di mana ruangan cek up untuk orang struk.


"Em, di sini ada dua orang dokter yang bernama Robi tuan, dan itu saja sepengetahuan ku, memang nya ada apa ya?" tanya suster tersebut.


"Baik, mari saya antar tuan,"


Suster tersebut pun langsung berjalan menuntun Samuel dan mama Ema ke ruangan tempat khusus dokter yang menangani struk.


Setelah naik lift beberapa menit mereka lun akhirnya tiba.


"Ini dia, silahkan masuk tuan," ucap sang suster dengan sopan nya.


"Terima kasih banyak,"


Samuel pun mendorong kursi roda sang mama masuk ke dalam ruangan itu untuk melakukan pemeriksaan atas kondisi mama nya.


Sementara menunggu hasil tes dokter keluar, Samuel pun terus memantau ponsel milik nya, siapa tau sudah ada informasi masuk tentang Moza.


"Huh, ada dua dokter yang bernama Robi di sini? Itu pun aku tidak tau dokter bidang apa, mengapa aku tadi sampai lupa bertanya? Bodoh sekali, kalau begini, bagaimana aku bisa mencari dokter itu," batin Samuel sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sementara itu di ruangan sebelah


Seorang suster yang berbeda masuk ke dalam ruangan yang letaknya persis di sebelah ruangan dokter nya mama Ema.


"Dokter Robi, tiga puluh menit jam lagi ada operasi untuk ibu hamil, apa dokter sudah siap?"


"Apa ruangan Operasi nya sudah di siapkan?" tanya Robi lagi.


"Sudah dokter," jawab sang suster di sertai dengan anggukan.


"Baik lah, kau boleh keluar dulu, aku akan pergi dalam sepuluh menit lagi,"


Setelah mengatakan hal itu Robi pun mulai mempersiapkan diri


Sementara suster yang tadi menghampiri nya sudah keluar dari dalam ruangan tersebut.


Sementara itu


"Bagaimana kondisi mama saya Dok? Apa ini masih bisa pulih ke seperti semula?" tanya Samuel sambil menatap sang dokter.


Dokter itu terdiam, ia terlihat masih membaca isi dari keterangan kesehatan mama Ema.


"Dari hasil pemeriksaan, mama anda bisa saja sembuh tuan, Kita bisa melakukan fisioterapi atau terapi fisik. Terapi ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik yang melemah atau berkurang semenjak mengalami serangan stroke, tapi untuk itu, apakah tuan sanggup datang ke RS ini seminggu dua kali? Agar lebih cepat mendapatkan hasil dari fisioterapi ini," jelas sang dokter secara detail kepada Samuel.


"Tentu saja dokter, itu bukan lah hal yang sulit," jawab Samuel yang memang akan selalu mengunjungi RS tersebut karena urusan nya di situ bukan lah hanya satu.


"Baik lah kalau begitu, kita bisa mulai terapi nya hari ini, saya siapkan ruangan khusus untuk mama anda terlebih dahulu," ucap sang dokter lagi.


Samuel mengangguk setuju dan kemudian menatap mama nya dengan tatapan bahagia, akhirnya ada juga cara untuk menyembuhkan sang mama meskipun ini pasti akan memakan waktu yang sangat lama.


Bersambung ....