
"ma, mengapa mama tiba-tiba menanyakan hal ini?" tanya Samuel kaget dengan pertanyaan sang mama yang secara tiba-tiba saja.
"Memang nya kenapa, apa kau menyembunyikan sesuatu dari mana soal Moza?" lagi-lagi mama Ema mengeluarkan pertanyaan aneh itu.
"Menyembunyikan apa ma? Mungkin belum saatnya saja, kami juga tidak buru-buru," jawab Samuel.
"Bagaimana jika dia tidak bisa hamil? Apa kau masih tetep ingin mempertahankan wanita seperti itu?" tanya mama Ema.
Prang ...
Terdengar suara pecahan sesuatu, dan hal ini pun membuat Samuel dan mama Ema sama-sama menoleh ke arah suara tersebut.
"Moza," lirih Samuel.
"Seperti nya dia mendengar kan apa yang aku katakan tadi," batin mama Ema.
"Maaf mas, maaf ma, tangan ku licin, aku akan segera membersihkan nya," jawab Moza yang kemudian membungkuk hendak mengumpulkan kembali serpihan gelas yang dia pecah kan.
"Sayang hentikan," ucap Samuel menghampiri Moza.
"Aw!" baru saja Samuel berjalan menghampiri Moza, Moza sudah keburu terluka karena tusukan kaca itu.
"Astaga, aku sudah bilang jangan," marah Samuel khawatir.
"Aku baik-baik saja, kalian lanjut mengobrol,aku akan ke dapur untuk meminta bibi membersihkan nya," ucap Moza yang seperti nya memang sudah mendengar pembicaraan antara Samuel dan mama Ema.
Samuel yang melihat mood sang istri jadi berantakan pun merasa kesal atas mulut mama nya yang berbicara semabrangan.
Moza pun berjalan ke dapur sambil memegang tangan nya yang terluka.
" Tante, Samuel, ada apa ini?" tanya Sonya yang baru tiba di ruang tengah tersebut.
" Samuel mama minta maaf." ucap mama Ema merasa bersalah.
"Ma, lain kali jangan bicara sembarangan lagi, Moza bukan nya tidak bisa mempunyai anak, hanya saja belum saatnya," ucap Samuel yang kemudian berjalan cepat menyusul Moza ke dapur mansion.
"Tante, mengapa sekarang Samuel bersikap seperti ini kepada Tante? Dia terlihat sangat marah sampai bicara seperti itu, ini semua pasti gara-gara Moza ya Tante?" tanya Sonya yang selalu menjadi batu asah untuk mama Ema.
"Mungkin kau benar, tapi jangan bahas ini dulu, aku ke kamar dulu," ucap mama Ema yang kemudian berjalan pergi dari ruang tengah tersebut.
"Hahah, semakin hari, keretakan di kelaurga ini semakin terlihat, dan aku, akan terus menjadi penyebab dari itu semua, sampai aku bisa mendapatkan Samuel dan berhasil menyingkirkan wanita itu dari Samuel," batin Sonya sambil tersenyum licik.
Sementara itu di dapur mansion.
"Sayang, sini, biar aku bantu obat kan," ucap Samuel kepada Moza.
" Tidak usah, aku bisa sendiri," tutur Moza sambil menghindari Samuel.
" Sayang, apa salah ku? Apa kau mendengar kan ucapan mama tadi? Tapi mengapa malah marah kepada ku?" tanya Samuel seperti anak kecil.
"Aku tidak mendengar kan apapun, sudah lah, aku ngantuk ingin tidur," jawab Moza yang kemudian berjalan meningal kan Samuel.
Samuel yang tidak akan pernah bisa tenang jika di cueki, istri nya pun bergegas mengikuti Moza dari belakang.
Sampai saat Moza masuk ke dalam kamar pun Samuel mengikuti nya, hal ini benar-benar membuat Moza kesal.
"Hentikan, jangan membuntuti aku!" marah Moza sambil menujuk Samuel.
"Astaga, menyeramkan sekali," jawab Samuel kaget.
"Jauh-jauh dari aku, aku tidak suka di ikuti," judes Moza yang kemudian duduk di tepi kasur nya.
"Sayang, aku tau kau pasti mendengar kan ucapan mama, dan aku tau kau pasti marah, tapi untuk menghilangkan firasat buruk mama, mari kita bikin lagi, siapa tau kali ini jadi," bujuk Samuel kepada Moza.
"Apa? Bikin apa?" tanya Moza kaget.
"Apa kau gila? Aku tidak mau, kau baru saja melakukan nya beberapa hari yang lalu, aku masih lelah," jawab Moza semakin kesal.
"Ayo lah sayang, aku mohon," bujuk Samuel.
Saat Samuel memasang tampang imut nya itu, Moza pun bisa jadi tidak mampu menolak nya, dia pun sangat gemas dengan suaminya itu.
Dan mereka pun akhirnya ...
Ya tau sendiri lah pasangan romantis.
Beberapa hari pun berlalu.
Setelah hari itu Moza dan Samuel semakin sering melakukan hubungan romantis itu, agar mereka juga cepat-cepat mendapatkan momongan, Moza juga tidak mau mama mertua nya menjadi sama seperti mam mertua sebelum nya.
Pagi itu jam menujukkan pukul 09.20
Suasana mansion begitu sepi, karena Samuel dan Romeo pagi-pagi sudah berangkat ke kantor karena ada urusan mendadak.
"Selamat pagi nyonya muda," ucap para pelayan mansion saat melihat Moza menginjakkan kaki nya ke area dapur mansion.
"Pagi," jawab Moza sambil melihat para pelayan yang sedang menyiapkan makan siang.
"Nyonya muda Moza, maaf mengapa wajah nyonya terlihat pucat, apa nyonya baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan kepada Moza.
"Ah, aku baik-baik saja hanya kurang enak badan," tutur Moza sambil melihat-lihat menu makan siang nanti yang saat itu masih ada di dalam wadah.
"Baik lah nyonya, jika ada apa-apa bisa minta kami untuk pangil kan dokter," jelas sang pelayan.
"Terima kasih bi, tapi tidak perlu, oh iya bi ini apa? Mengapa bau nya sangat tidak enak ya?" tanya Moza menatap ke satu wajan yang berisikan ikan yang di masak kecap.
"Ini kesukaan nyonya kan? Ikan kecap," ucap sang pelayan tersebut.
"Iya bi, tapi bau nya aneh, aku mual mencium nya," ucap Moza sambil menutup hidung nya.
Para pelayan pun kebingungan dan saling pandang, bahkan mereka mencium bau ikan tersebut dan bau nya sangat harum tidak ada aneh sedikit pun.
"Tapi nyonya bau nya seperti biasa, dan ini adalah ikan segar," ucap pelayan tersebut menjelaskan.
Namun Moza malah tiba-tiba berlari ke dalam kamar mandi dekat dapur tersebut dan mengunci pintu.
Para pelayan yang khawatir pun beberapa orang berdiri di depan pintu kamar mandi tersebut, mereka bahkan mengetuk pintu dan bertanya kepada Moza apa yang terjadi dengan nya, namun yang mereka dengar hanya lah suara Moza yang sedang muntah.
Beberapa menit kemudian, Moza pun keluar dari dalam kamar mandi tersebut dengan memegang perutnya.
"Bi, tolong singkirkan Ikan nya ya, aku tidak mau melihat atau mencium bau ikan nya lagi," ucap Moza dengan keadaan lemah.
"Baik nyonya muda, baik," jawab salah satu pelayan yang kemudian berjalan cepat dan menyembunyikan Ikan tersebut.
"Nyonya muda, seperti nya anda masuk angin, apa sebaiknya kami pangil kan dokter? Atau menghubungi tuan muda saja?" Tanya pelayan lainnya.
"Tidak perlu, antar kan saja aku ke kamar, aku sangat lemah, mungkin kau benar aku masuk angin, butuh istirahat," jawab Moza dengan wajah pucat.
"Baik nyonya, mari saya antar kan ke kamar nyonya muda," ucap pelayan tersebut yang kemudian memapah Moza menuju kamar.
Sementara Sonya yang melihat itu mulai curiga dan kebingungan atas apa yang terjadi kepada Moza, dia yang sedari tadi mengintip pun buru-buru menghampiri beberapa pelayan yang tersisa di dapur.
"Maaf, apa yang terjadi dengan nya? Apa dia sedang sakit?" Tanya Sonya pura-pura peduli kepada Moza.
"Tidak kau non, mungkin nyonya muda masuk angin,dia mual dan muntah-muntah," jelas pelayan kepada Sonya.
Sonya pun terdiam mendengar kan ucapan pelayan barusan, firasat nya pun mulai tidak baik tentang kejadian barusan yang dilihat nya, ia bahkan mulai merasakan sesuatu yang akan menggangu rencana yang sudah di atur nya dengan matang.
Bersambung ....