
Terlihat Moza yang hendak menuruni tangga menuju lantai bawah, namun tampaknya Sonya juga hendak menuruni tangga itu.
"Moza, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu,"ucap Sonya kepada Moza.
"Apa? Katakan,aku tidak pun banyak waktu,"ucap Moza mengentikan langkah nya.
Saat ini mereka sama-sama berdiri di anak tangga pertama.
"Sebaiknya kau segera angkat kaki dari mansion ini, karena kau memang tidak pantas untuk Samuel,aku sudah kembali jadi kau bisa pergi dari sini," ucap Sonya dengan wajah sinis nya.
"Haha,apa yang kau hanyal kan? Bukan kah seharusnya kau lah yang pergi dari mansion ini? Kau tinggal di sini, mengunakan fasilitas di mansion dengan geratis kau juga berniat untuk mengambil suamiku? Apa itu namanya aku lupa? Pelakor bukan ya?" tanya Moza sambil tersenyum sinis.
Bukan nya Moza yang emosi, Sonya malah emosi sendi.
"Apa maksud mu? Kau lah yang merebut nya dari aku, dan kau harus tau, Samuel mau kepada mu itu hanya karena aku tidak ada di sisinya kemarin-kemarin, jadi karena aku sudah kembali sebaiknya kau angkat kaki, ini penawaran terkahir ku untuk mu," ucap Sonya mulai tersenyum licik.
"Apa maksud mu?" tanya Moza tak mengerti.
"Ya, penawaran terkahir ku untuk mu, agar kau pergi dari sini baik-baik, atau aku pergi dengan cara tidak terhormat? Dan di benci oleh Samuel?" jelas Sonya kepada Moza.
Moza yang mendengar itu masih tidak biasa memahami apa yang sedang di ucap kan oleh Sonya barusan.
"Aku tidak peduli dan aku tidak akan mendengar kan apapun yang kau katakan, cepat atau lambat kau lah yang akan pergi dari sini," ucap Moza yang hendak melangkah turun namun tangan nya di tahan oleh Sonya.
"Baik lah kalau begitu, tidak ada jalan lain, aku terpaksa harus melakukan ini, siap-siap kau akan di benci," ucap Sonya yang kemudian sengaja menjatuhkan dirinya dari tangga tinggi itu sehingga ia bergulir dengan begitu cepat.
"Sonya apa yang kau lakukan!" teriak Moza kaget sambil membulat kan mata nya.
Namun Sonya saat ini sudah tergeletak tak sadar kan diri di lantai bawah, kepala nya berdarah begitu juga dengan tangan nya.
Moza yang khawatir pun segera turun dari tangga tersebut dan menghampiri Sonya yang sudah tergeletak.
"Tolong! Tolong!" ucap Moza sambil mencoba untuk menyadarkan Sonya.
Saat itu lah mama Ema datang menghampiri Moza.
"Sonya! Astaga apa yang terjadi?" Tanya mama Ema kepada Moza.
"Ma, Sonya menjatuhkan dirinya sendiri dari tangga,aku tidak tau apa yang dia lakukan," ucap Moza jujur.
"Tidak mungkin! Pasti kau yang sudah mendorong Sonya sehingga dia jadi begini! Moza kau begitu kejam!" marah mama Ema kepada Moza.
Moza kaget dengan ucapan mama Ema barusan, dia bahkan tidak menyentuh Sonya, namun Sonya lah yang memegang tangan nya dan menjatuhkan dirinya sendiri dari tangga hingga jadi seperti ini.
Bertepatan pada saat itu, Samuel pun tiba di mansion.
Alangkah kagetnya Samuel melihat darah dari kepala Sonya yang sudah mengalir.
"Mama! Moza! Apa yang terjadi? Ada apa dengan Sonya?" ucap Samuel kaget.
"Samuel mama tidak tau apa yang di bayangkan istri mu itu, tapi yang jelas dia mendorong Sonya hingga Sonya jadi seperti ini, Sonya sedang hamil bagaimana dengan kandungan nya, Samuel mama benar-benar khawatir!" ucap mama Ema menceritakan kernologi palsu kepada Samuel.
"Moza, kau?" ucap Samuel menatap Moza dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Mas, semua ini rekayasa,aku sama sekali tidak melakukan apapun, dia lah yang menjatuhkan dirinya sendiri dari tangga, aku tidak mendorong nya, mana mungkin aku melakukan hal bodoh itu!" jawab Moza mencoba membela diri nya.
Plak ...
Sebuah tamparan keras dari Samuel berhasil mendarat di pipi Moza, sehingga membuat sudut bibir Moza mengeluarkan darah segar.
"Mas!" ucap Moza menatap Samuel dengan tatapan tidak percaya sambil memegang pipi nya yang sedang memanas.
"Itu pantas kau dapat kan, aku tidak menyangka kau seegois ini Moza, kau tau apa yang kau lakukan sekarang ini adalah pencobaan pembunuhan? Apa kau tidak berfikir tentang bagaimana kelanjutan seterusnya? Kau benar-benar sudah gila! Aku tau kau cemburu tapi aku sama sekali tidak menyangka aku akan menjadi sekejam ini! Dia sedang hamil apa kau tidak tau dia sedang hamil!" Samuel terlihat benar-benar marah kepada Moza sampai-sampai menekan kata hamil beberapa kali dalam kalimat ucapan nya.
"Samuel cepat bawa Sonya ke rumah sakit!" ucap mama Ema yang menyembunyikan kebahagiaannya melihat Samuel bertindak tegas terhadap Moza.
Samuel pun segera mengendong Sonya dan berjalan cepat menuju mobil nya, diikuti oleh mama Ema.
Sementara itu Moza, seolah tidak menyangka Samuel yang begitu di cintai oleh nya dengan tega menampar nya dan juga tidak percaya atas apa yang dia jelas kan, Moza hanya bisa mengepalkan tangannya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipi nya.
"Ternyata aku benar-benar tidak di hargai di sini, dan Sonya benar aku hanya lah seorang penganti dirinya dalam hidup Samuel, aku tindak menyangka jika Samuel akan sekejam ini kepada ku, bukan kah dulu dia yang meminta ku untuk kembali kepada nya dengan berbagai cara?" tutur Moza dengan tatapan tajam nya terlihat hati yang begitu hancur.
"Samuel,kau menghawatirkan tentang kehamilan Sonya, apa kau tidak tau? Aku juga sedang hamil," Batin Moza dengan tubuh gemetar menahan rasa sakit dan juga amarah.
Kebencian mulai datang kembali dalam diri Moza, bahkan kali ini rasa benci itu lebih besar dari yang sebelumnya.
Di sana hanya ada seorang kepala pelayan yang menyaksikan betapa terpuruk nya Moza saat ini, kepala pelayan tersebut pun bergegas menghampiri Moza untuk menenangkan nya.
" Nyonya muda, sebaiknya nyonya istirahat," ucap sang kepala pelayan.
"Tidak, bantu aku ke kamar ku sekarang, dan bereskan semua barang ke dalam koper ku, hari ini juga aku akan angkat kaki dari sini,", ucap Moza kepada kepala pelayan.
"Tapi nyonya, jangan seperti ini, nyonya," ucap sang kepala pelayan malah menangis.
"Cepat bi!" Bentak Moza.
Sang kepala pelayan pun tak mampu membantah lagi, Moza saat ini bukan lah Moza yang kemarin-kemarin lagi.
Sang kepala pelayan pun akhirnya membantu Moza untuk membereskan semua pakaian dan segala benda milik Moza, setelah itu ia pun keluar dan memberikan koper besar itu kepada Moza yang masih berdiri di bawah tangga seperti patung, sang kepala pelayan bahkan bisa merasakan kemarahan dan kebencian yang liar biasa dalam diri Moza.
"Nyonya, apakah nyonya akan benar-benar pergi? Nyonya mau ke mana?" tanya kepala pelayan.
"Kau tidak perlu tau, dan tidak ada yang boleh tau bi, aku tidak akan kembali ke sini lagi,aku tidak di hargai dan tidak di butuhkan di sini," jelas Moza.
Moza pun berjalan menuju pintu keluar mansion dengan penuh rasa sakit di hatinya.
Orang yang dengan susah payah di cintai kembali oleh nya, kini malah tidak menghargai dirinya sama sekali.
Bersambung ....