My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 15



Matahari sudah condong ke arah barat. Warna jingga mulai menghiasi langit sore. Burung-burung pun sudah kembali ke sarang untuk menemui keluarga mereka. Begitu pun dengan Nabila dan Hanny, mereka pamit pulang karena hari sudah sore.


"Assalamualaikum," ucap mereka berdua serempak saat keluar melewati pintu panti yang kini tengah terbuka.


"Wa'alaikumsalam, kakak. Hati-hati yah," jawab anak-anak sambil melambaikan tangan saat mereka berdua pergi. Hanny dan Nabila hanya tersenyum melihat betapa polos senyum anak-anak itu.


Karena jarak rumah mereka dan panti tak jauh, jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Itung-itung hemat uang. Perjalanan mereka pun di bumbui oleh


canda gurau yang berhasil membuat perjalanan mereka terasa begitu cepat. Mereka berdua berpisah di persimpangan jalan karena sekarang sudah berbeda arah.


"Yaudah, kakak pulang dulu yah. Hati-hati di jalan Hanny," ucap Nabila dipersimpangan jalan.


"Iyah kak, hati-hati juga yah. Nanti kapan-kapan aku ajak lagi ke panti," balas Hanny sambil tersenyum.


"Insya Allah, "


Akhirnya mereka pun berpisah.


Jalanan masih cukup ramai. Nabila berjalan tergesa-gesa karena takut suaminya sudah pulang. Karena ia belum membuat makan malam. Walaupun terkadang makanan itu tidak sedikitoun Azmi sentuh.


Nabila melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya. Kini sudah pukul 16:30 sore. Sebentar lagi suaminya pulang.


Nabila mengambil kunci yang ada di tasnya setelah itu ia membuka pintu. Nabila langsung pergi ke kamarnya sendiri untuk membersihkan badannya yang berkeringat.


Benar kamarnya sendiri, karena sesuai perjanjian setelah ibu mertuanya pergi. Nabila kembali tidur di kamar nya bukan di kamar Azmi lagi. Sungguh aneh


bukan, seharusnya mereka tidur dalam satu kamar dan ranjang tapi ini terpisah. Walaupun begitu Nabila menjalaninya dengan ikhlas. Karena ia tahu janji Allah


itu pasti. Ia teringat akan suatu hadist 'dan jika seorang istri bersabar menghadapi perlakuan buruk suaminya, maka Allah akan memberikan kepadanya


pahala seperti yang diberikan kepada Asiah istri Fir'aun' (HR. Muslim).


Setelah menunaikan kewajibannya, Nabila langsung pergi ke dapur untuk memasak. Ia pun memutuskan untuk memasak semur ayam, makanan kesukaan Azmi.


Selama ibu mertuanya tinggal di sana, Nabila mencari tahu apa yang disukai dan tidak disukai Azmi, suaminya. Ia pun belajar memasak dengan ibu mertuanya walaupun ia sudah bisa memasak, tapi ia harus belajar lagi. Setelah selesai, Nabila meletakkan makanan itu di meja makan lalu ditutupnya dengan


tudung saji agar makanannya tak dihinggapi lalat atau serangga yang mungkin akan menghinggapi makanan yang baru saja matang.


Hari sudah malam tapi belun ada tanda-tanda Azmi akan pulang. Walaupun ini masih belum terlalu larut, masih pukul 19:00 malam. Tapi Nabila khawatir karena suaminya belum pulang. Biasanya jika Azmi lembur, ia selalu mengirim pesan singkat padanya.


Walaupun Azmu belum mencintai Nabila tapi ia menganggap keberadaan Nabila, walaupun belum bisa menganggapnya sebagai seorang istri.


Kekhawatiran Nabila seketika memudar saat mendengar suara ketukan pintu. Nabila langsung membukanya dan benar itu adalah orang yang sangat ditunggunya, siapa lagi kalau bukan Azmi, suaminya.


"Assalamualaikum," ucap Azmi saat pintu terbuka.


"Waalaikumsalam, mas kok baru pulang?" Tanya Nabila dengan nada lembut setelah menyalami suaminya.


"Tadi di jalan macet dan maaf gak mengirim pesan ke kamu soalnya hp mas lowbat," jawab Azmi yang membuka sepatunya.


"Yaudah sekarang mas mandi dulu. Setelah itu kita makan malam. Aku udah siapin semur ayam kesukaan mas," Nabila mengambil sepatu Azmi untuk menyimpannya di rak sepatu.


"Kamu tahu dari mana, mas suka semur ayam?" Tanya Azmi dingin.


Padahal selama ini Azmi tak pernah memberitahukan apa yang ia sukai atau tidak disukai kepada Nabila.


"Aku tahu dari mama, selama ini aku tanya-tanya ke mama apa yang mas sukai atau yang tidak. Maaf kalau aku kepo tentang mas," jawab Nabila ,suaranya melemah saat kalimat terakhir.


Azmi tak membalas ucapan Nabila. Ia langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Saat di kamar Azmi terheran, ia meresa ada yang kurang dalam kamar ini. Tapi apa? Ia pun tak tahu. Azmi lebih memilih tidak untuk memikirkan itu, ia lebih memilih untuk mandi. Lima belas menit menit kemudian ia keluar dan ia baru menyadari bahwa yang aneh adalah tak ada barang-barang Nabila di sana. Dimana barang-barang Nabila? Biasanya di meja


Lalu Azmi membuka lemari dan anehnya lagi disana tak ada baju-baju, kerudung milik Nabila. Kemanakah semuanya. Ah ia baru ingat kalau sekarang Nabila sudah pindah ke kamarnya lagi. Karena


ibu mertuanya sudah tak ada di rumah itu lagi. Tapi kenapa Azmi merasa sepi dan sedih saat melihat barang-barang Nabila tak ada.


"Kenapa aku seperti ini, kenapa aku sedih saat melihat barang-barang Nabila tak ada disini." Ucap Azmi dalam hati.


Kemudian suara ketukan mengusik pendengaran Azmi dari lamunannya.


"Mas, apa sudah selesai? Kalau sudah cepat kita makan bersama," ajak Nabila dari balik pintu dengan suara lembut.


"Iya sebentar lagi mas keluar," jawab Azmi.


Setelah selesai Azmi pun pergi ke ruang makan. Lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Nabila. Nabila pun mulai mengambil piring dan menyendokan nasi dan lauknya ke dalam


piring yang kini tengah ia genggam, dan kemudia ia berikan pada suaminya. Saat sedang menuangkan air. Tak sengaja air itu tumpah ke kerudungnya dan membuat bagian bawah depan kerudungnya basah. Nabila pun beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kamar guna mengganti kerudungnya. Tapi suara Azmi menghentikan gerak Nabila.


"Kamu mau kemana?" Tanya Azmi saat melihat Nabila berdiri.


"Aku mau ke kamar, ganti kerudung soalnya kerudungku basah mas," jawab Nabila menoleh kearah suaminya.


"Buka saja kerudungmu, tak usah ganti kerudung. Bukannya tak apa bila rambutmu terlihat oleh ku, bukankah aku suamimu. Aku berhak melihatnya, bukankah itu akan mendapatkan pahala?" Nabila bungkam saat mendengarkan ucapan Azmi. Memang benar tak apa bila Azmi melihat rambutnya ,bukan hanya rambut tapi semuanya. Bukankah itu tak akan membuat dirinya mendapatkan dosa malah mendapatkan pahala.


Nabila kembali duduk lalu membuka kerudungnya dan menyimpannya di punggung kursi. Entah kenapa jantung Azmi berdetak tak karuan saat melihat Nabila tak mengenakan kerudung. Rambut hitam legam bergelombang terurai indah sampai punggung,


"Kenapa jantungku menggila seperti ini. Apakah aku sudah mulai, ah tak mungkin." Batin Azmi saat melihat Nabila yang sedikit merasa kurang percaya diri saat membuka kerudungnya di tempat yang mungkin siapa saja bisa masuk dan melihatnya tanpa penutup auratnya.


Mata Azmi masih terfokus melihat Nabila yang berada di depannya. Nabila yang menyadari


itu langsung salting karena Azmi melihatnya begitu intens.


"Ekhemmm," suara deheman membuat Azmi buyar dari lamunannya.


"Mas cepat dimakan makanannya nanti takut keburu dingin," ucap Nabila sambil memberikan sendok dan garpu kepada Azmi.


Mereka pun langsung makan setelah membaca do'a.


"Mas, bagaimana rasanya enak atau tidak?" Tanya Nabila setelah Azmi memakan semur ayam itu beberapa suap.


"Hmm, lumayan." Jawab Azmi dengan nada dingin. Sebenarnya masakan yang Nabila masak itu enak sekali tapi Azmi gengsi untuk berkata jujur.


"Alhamdulillah, kalau begitu," ucap Nabila lega.


Saat sedang makan tiba-tiba rambut Nabila menghalangi wajahnya sehingga sulit untuk ia melanjutkan makan, karena ia lupa memakai jepit rambutnya alhasil ia kewalahan dengan rambut panjangnya sendiri. Ingin sekali ia membenarkan rambutnya itu, namun apalah daya karena ia makan mwnggunakan tangan bukan dengan sendok.


Nabila tetap berusaha menepis rambutnya dengan lengannya, tapi rambutnya tetap ngeyel dan kembali menutupi wajahnya. Nabila terkejut, dari arah belakang ada seseorang yang berusaha merapikan rambutnya lalu mengikat rambutnya dengan ikat rambut yang enatang mengapa ada dikolong meja makan. Ia menoleh kebelakang setelah orang itu mengikat rambutnya. Betapa terkejutnya


bahwa orang itu adalah Azmi. Suaminya yang mengikat rambut Nabila.


"Kenapa tak minta tolong sama mas, jika kau kesulitan mintalah tolong, siapa tahu Mas bisa bantu. Jangan seperti ini," ucap Azmi setelah duduk kembali dikursinya.


"Maaf mas. Aku tak ingin merepotkan mas. Karena mas sedang makan jadi aku tak mau menganggu." Ucap Nabila menunduk karena takut kelihatan jika sekarang pipinya mulai merona. Azmi rupanya tak menjawab, karena ia sedang asyik menikmati makanan yang sedang ia santap.


Apakah ini mimpi? Tapi sepertinya bukan ini nyata bukan mimpi. Pikir Nabila.


"Ya Allah semoga mas Azmi akan selalu bersikap seperti ini padaku selamanya," do'a Nabila dalam hati.


Suana makan malam kali ini sungguh menyenangkan bagi Nabila, sebab Azmi sedikit memberikan perhatiannya padanya. Walaupun itu sedikit tapi sudah berhasil membuat Nabila merasakan hangat dalam hati dan yang paling berhasil adalah Nabila merasakan tersipu untuk kedua kalinya setelah malam pertama pernikahan.