My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 20



"Mella," gumam Nabila saat melihat nama yang tertera di layar ponsel suaminya.


 


 


 


 


"Angkat jangan, angkat jangan, kalau di angkat takut gak sopan, apalagi nanti dia pasti marah-marah, kalau gak di angkat takut penting," batin Nabila bergejolak.


 


 


 


 


"Assalamualaikum," ucap Aulia yang akhirnya menjawab panggilan telepon dari Mella.


 


 


 


 


"Ini siapa, Nabila?" Tanya wanita itu yang berada di sebrang sana.


 


 


 


 


"Jawab dulu salam saya," ucap Nabila.


 


 


 


 


Terdengar Mella mengembuskan napas berat.


 


 


"Waalaikumsalam, dimana Azmi dan kenapa kamu yang ngangkat, gak sopan banget sih main angkat-angkat aja," ucap wanita itu kesal karena Nabila yang mengangkat telepon darinya.


 


 


 


 


"Mas Azmi lagi tidur, gak bisa di ganggu dan aku berhak angkat telepon ini, soalnya aku istri mas Azmi, derajatku lebih tinggi dari seorang kekasih," jawab Nabila dengan penekanan di akhir kalimat.


 


 


 


 


"Jangan bilang kalau Azmi lagi sakit. Tapi cintanya padaku lebih besar," ucap Mella yang tak mau kalah.


 


 


 


 


"Iya, mas Azmi lagi sakit, yaudah aku tutup dulu teleponnya," pungkas Nabila.


 


 


 


 


"Ngomong aja kal__,"


 


 


 


 


Tut... tut... tut...


 


 


 


 


Belum selesai Mella berbicara, Nabila sudah menutup telepon. Lalu menaruh lagi ponsel Azmi di atas nakas.


 


 


 


 


"Semoga lekas sembuh yah mas, dan semoga mimpi indah," ucap Nabila mengusap kepala Azmi. Dan sebenarnya Nabila ingin mengecup kening suaminya itu, namun ia ragu dan akhirnya mengurungkan niatnya itu.


 


 


 


 


Setelah selesai membuat bubur untuk Azmi, Nabila mengambil ponselnya untuk menelepon Hanny.


 


 


 


 


"Assalamualaikum," ucap Nabila setelah sambungan telepon tersambung.


 


 


 


 


"Waalaikumsalam kak Nabila. Tumben kak telpon, ada apa?" Jawab Hanny dengan nada lembut.


 


 


 


 


"Han, maaf beberapa hari ke depan aku gak bisa ke panti, soalnya mas Azmi lagi sakit, "


 


 


 


 


"Oh, iya kak gak apa-apa kak, memangnya kenapa kak kak Azminya?" Tanya Hanny dengan nada khawatir.


 


 


 


 


"Lagi sakit demam, dan tolong bilangin juga ke bu Ayu, maaf aku gak bisa bantuin, jangan lupa salamin ke anak panti juga yah,"


 


 


 


 


"Iya kak, pasti aku sampain ke bu Ayu dan anak-anak. Salam juga buat kak Azmi, semoga lekas diberi kesembuhan ya." Ucap Hanny ikut mendoakan kesembuhan Azmi.


 


 


 


 


"Iyah makasih  atas do'a nya, kalau gitu udah dulu yah Han, aku mau lanjut ngerjain yang lain. Assalamualaikum," tutup Nabila.


 


 


 


 


"Waalaikumsalam kak," balas Hanny kemudian menutup teleponnya.


 


 


 


 


Setelah sedikit berbincang, Nabila langsung pergi ke kamar Azmi untuk mengecek suaminya. Nabila menghampiri suaminya yang masih terlelap, keringat dingin masih keluar dari tubuh Azmi. Kemudian Nabila duduk di samping suaminya lalu mengelur kepala Azmi dengan penuh kasih sayang.


 


 


 


 


"Cepat sembuh ya mas. Sakitnya jangan lama-lama," ucap Nabila khawatir.


 


 


 


 


Nabila menatap sendu suaminya yang terbaring di ranjang. Matanya tertutup. Wajah yang terlihat lebih tampan saat tertidur walaupun pucat.


 


 


 


 


  Tok tok tok!


 


 


 


 


Suara bel yang di pencet membuat Nabila bergegas untuk menuju sumber suara.


 


 


 


 


"Mungkin Mella," tebak Nabila.


 


 


 


 


Nabila kemudian pergi keluar dan menutup pintu kamar pelan agar Azmi tak terusik.


 


 


Dan benar saja, yang memencet bel Mella, dengan wajah jutek Mella berdiri dengan angkuhnya.


 


 


 


 


"Dimana Azmi?" tanya Mella setelah pintu terbuka.


 


 


 


 


"Waalaikumsalam, suamiku ada di dalam, dia sedang istirahat." Jawab Nabila menatap wanita itu lekat-lekat.


 


 


 


 


"Awas aku mau masuk," desak Mella menerobos masuk rumah Azmi. Tapi saat akan pergi ke kamar Azmi, langkahnya terhenti saat Nabila memegang tangan wanita angkuh itu.


 


 


 


 


"Suamiku sedang istirahat, dan jangan ada yang mengganggunya," ucap Nabila sambil menatap Mella.


 


 


 


 


"Aku mau melihat keadaannya aja," balas Mella kaget karena Nabila tak sedikitpun ragu saat memegang tangan Mella.


 


 


 


 


Mella pun berusaha melepaskan pegangan Nabila, namun nihil tenaganya tak bisa ia lepaskan. Kurang kuat.


 


 


 


 


"Lepasin gak!" Ancam wanita itu.


 


 


 


 


"Gak bakal sebelum kamu pergi dari sini," balas Nabila tanpa melepaskan pegangannya.


 


 


 


 


"Apa hak kamu mengusir aku hah!" Bentak wanita itu yang menatap tajam Nabila.


 


 


 


 


"Aku ini istri sahnya dan nyonya di rumah ini dan kamu hanya tamu di sini, jadi aku berhak mengusirmu." Balas Nabila tenang tanpa emosi yang berarti.


 


 


 


 


"Dan seharusnya tamu itu di layani layaknya seorang ratu, jadi kau harus melayaniku dengan baik bukan seperti ini," ucap Mella mencari alasan.


 


 


 


 


"Ingat, jika tamunya sopan saya akan bersikap sopan pula ,begitu pun sebaliknya. Ini rumah saya dan kamu tak berhak untuk nyelonong masuk sebelum saya persilahkan," Nabila menjawab.


 


 


 


 


Wanita itu rupanya sudah mulai terpancing emosinya, dan kesabarannya pun mulai surut. Nafasnya naik turun, menahan amarah.


 


 


 


 


"Katakan dimana Azmi?" Ucap Mella dengan nada tinggi. Karena sudah kesal. Wajahnya pun terlihat merah padam.


 


 


 


 


"Sudah saya katakan, suamiku sedang istirahat dan tak bisa di ganggu," jawab Nabila kembali dengan nada tenang.


 


 


 


 


Mella yang tak punya adab dan tak punya malu langsung menerobos masuk dan tak menghiraukan Nabila yang sedari tadi mengahalaunya. Wanita itu langsung menuju kamar Azmi dan langsung masuk ke dalam.


 


 


 


 


Wanita itu menghampiri Azmi yang sedang tertidur lelap. Tangannya mengusap lembut wajah Azmi.


 


 


 


 


"Jika sudah selesai, sekarang kita pergi keluar. b


Biarkan mas Azmi beristirahat," ucap Nabila yang ternyata sudah berada di kamar. Wanita itu pun menurut, karena ia tahu kalau Azmi butuh istirahat dan ia tak ingin menganggu waktu istitahatnya.


 


 


 


 


"Lebih baik sekarang kamu pulang, karena sekarang mas Azmi sedang istirahat dan kamu tak usah khawatir aku bisa menjaga dan merawatnya. Bila mas Azmi sudah sadar, Insya Allah aku akan menghubungimu," ucap Nabila santun dan tenang.


 


 


 


 


"Apa kau bisa merawatnya dan apakah kau benar akan menghubungiku bila Azmi sadar," ucap Mella yang tak yakin dengan omongan Nabila.


 


 


 


 


"Mana mungkin aku akan melalaikan suamiku yang sedang sakit, walaupun mas Azmi belum sepenuhnya mencintaiku, tapi aku mempunyai tugas untuk merawat suamiku," balas Nabila berusaha meyakinkan Mella.


 


 


 


 


"Baiklah kalau gitu, aku pergi dulu. Jangan lupa kalau Azmi sadar nanti kau harus menghubungiku," pamit wanita itu yang masih meragukan janji Nabila.


 


 


 


 


"Insya Allah," balas Nabila.


 


 


 


 


Akhirnya wanita itu melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah itu.


Nabila menatap kepergian wanita itu. Perempuan yang amat dicintai oleh suaminya. Saat melihat Mella, ia selalu merasa bersalah karena telah memisahkan mereka. Walau ia tahu kalau ini sudah jalan Allah, kehendak Allah yang tidak bisa dirubah. Bagaimana pun cara yang di gunakan untuk memisahkan jodoh yang sudah ditentukan, pasti akan dipertemukan kembali olehNYA.


 


 


 


 


 Setelah membersihkan rumah. Nabila langsung pergi menuju kamar suaminya, untung mengecek keadaan. Setelah Nabila masuk, ia menatap lekat wajah suaminya yang tampan dan polos saat tertidur.


Setelah melihat keadaan Azmi, Nabila pun pergi keluar. Namun, langkahnya terhenti saar mendengar suara Azmi.


 


 


 


 


"Mas, mau minum?" Tanya Nabila sambil membantu Azmi untuk duduk.


 


 


 


 


"Boleh," jawab Azmi lemah.


 


 


 


 


Nabila pun menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya kepada Azmi.


 


 


 


 


"Terimakasih," ucap Azmi berterima kasih.


 


 


 


 


"Itu sudah tugas ku, melayani suami dengan baik dan menjaganya di kala sehat maupun sakit," balas NAbila tersenyum sambil menatap suaminya.


 


 


 


 


"Tadi aku seperti mendengar suara Mella, apa tadi dia kesini?" Tanya Azmi yang langsung membuat Nabila menoleh memalingkan wajahnya.


 


 


 


 


 


Nabila menunduk, ia tahu pasti Azmi pasti akan marah karena ia mengangkat telepon dari Mella.


 


 


 


 


 Namun prasangka itu ditepis dengan balasan Azmi yang menoleh ke arah istrinya saat mendengar penuturan tersebut.


 


 


"Tak apa, aku memakluminya," balas Azmi.


 


 


 


 


Nabila mengangkat kepalanya. Hatinya sungguh lega saat mendengar kata dari suaminya. Lega karena Azmi tak marah padanya.


 


 


 


 


"Mas, mau makan?" Tanya Nabila.


 


 


 


 


Azmi hanya menggeleng. "Mas tak mau makan rasanya pahit, gak enak," wajahnya cemberut seperti anak kecil yang menolak untuk makan sayur.


 


 


 


 


  Nabila tersenyum saat mendengarnya. Ia baru kali pertama melihat wajah saminya seperti itu.


 


 


"Daripada nanti tambah sakit, lebih baik diisi walau sedikit," bujuk Nabila agar suaminya mau makan.


 


 


 


 


"Yasudah, tapi sedikit yah," balas Azmi terpaksa, sebab tak ada alasan lain untuknya menolak makan.


 


 


 


 


 Nabila tersenyum. Ia kini merasa lucu, karena ia seperti sedang menyuapi seorang anak kecil. Karena Azmi selalu mengeluhkan rasa makanan tersebut yang sebenarnya enak namun di mulutnya terasa pahit. Tapi Nabila tak menyerah, ia terus membujuk suaminya agar makan makanannya.


 


 


 


 


"Sudah cukup, mas sudah kenyang," ucap Azmi sambil menutup mulutnya dengan tangan.


 


 


 


 


"Baiklah," balas Nabila sembari menaruh piring berisikan makanan yang masih cukup banyak sisanya. Dan setelah itu pergi ke dapur. Tak lama, ia kembali dengan membawa buah-buahan segar yang telah Nabila.


 


 


 


 


"Mas, aku boleh pinjam handphonenya sebentar?" Tanya Nabila tak enak hati.


 


 


 


 


"Untuk apa?" Balas Azmi balik bertanya.


 


 


 


 


"Aku mau telepon Mella, karena aku sudah bilang kalau mas udah sadar aku bakal ngehubungi dia," jawab Nabila menjelaskan alasania ingin meminjam ponsel suaminya itu.


 


 


 


 


 


"Tak usah," ucap Azmi singkat.


 


 


 


 


Nabila hanya mengangguk sesaat setelah mendengar jawaban suaminya. Ingin rasanya berteriak tapi ini bukan tempatnya. Berteriak karena bahagia bukan karena sengsara. Tapi ia tak mau terlalu senang karena ia pun tak ingin kecewa karena senang.


 


 


 


 


Setelah Azmi terlelap dalam mimpi, ia pun pergi keluar kamar karena tak ingin mengganggu sang suami. Aulia pun tak lupa untuk bersyukur, bukan bersyukur karena Azmi sakit. Bukan, tapi karena hal ini ia bisa lebih dekat dengan suaminya. Syukur. Jangan lupa bersyukur untuk setiap nikmat yang Allah berikan pada kita. Terkadang ketika mendapat ujian kita selalu bersedih. Namun, saat Allah memberikan kita nikmat terkadang kita sampai lupa bersyukur karena terbuai dengan kenikamatan tersebut. Nikmat itu tidak hanya mendapatkan uang banyak atau harta berlimpah. Terkadang nikmat itu ada tanpa kita sadari seperti nikmat iman dan islam.


Hari mulai sore matahari sudah berada di sebelah barat, tandanya ia akan pergi untuk sementara dan di gantikan oleh bulan.


*****


Malam berlalu brgitu cepat dan kini mentari pagi sudah kembali bersinar.


Pagi itu Nabila sudah berada di dapur untuk memasak bubur. Dan selesai masak bubur, Nabila pergi untuk melihat suaminya. Terlihat pria itu sedang terduduk dengan wajah tertunduk lesu karena sedang mengumpulkan nyawanya.


Nabila ingin sekali tertawa saat melihat itu. Namun ia tahan sebisa mungkin, takut mengagetkan sang empu. Lalu Nabila kembali lagi dapur setelah melihat suaminya sudah terbangun denagn wajah yang membuatnya ingin tertawa, dan akhirnya tawa Nabila kini terlepas. Ia tak tahan lagi untuk menahan tawa saat melihat wajah suaminya yang masih mengantuk, dengan rambut yang sedikit berantakan.


 


 


 


 


"Kenapa ketawa?" Tiba-tiba Azmi sudah berada di dapur dan langsung membuat tawa Nabila terhenti saat mendengar suara bariton milik suaminya.


 


 


 


 


"Gak kenapa-napa kok," balas Nabila berusaha untuk nampak biasa saja. Karena kini jantungnya tengah berdetak kencang. Desiran hangat mengalir didarahnya. Bagaimana tidak bedetak cepat karena selama ini Azmi jarang bertanya padanya kecuali itu penting.


 


 


 


 


"Mas sudah bangun?" Tanya Nabila yang berusaha menetralkan detakan jantungnya.


 


 


 


 


"Kalau mas sudah berada disini berarti mas sudah bangun," jawab Azmi sambil duduk di kursi yang ada di ruang makan.


 


 


 


 


Nabila berusaha tensang saat dirinya yang terlihat salah tingkah. Bagaimana tak salah tingkah, saat seseorang yang kita cintai memergoki kita saat menertawakan pasangannya karena melihat hal lucu yang di pasangan kita.


 


 


 


 


  "Mas mau makan sekarang atau nanti?" Tanya Nabila terus mengalihkan perhatian.


 


 


 


 


"Sekarang aja, tapi mas gak mau makan bubur gak enak," balas Azmi manja.


 


 


 


 


Kedua alis Nabila menaut, ia tak salah dengar. Azmi yang begitu dingin kini tiba-tiba manja seperti anak kecil saat sakit.


 


 


 


 


"Gimana kalau sama sop?" Tanya Nabila.


 


 


 


 


"Nggak apa-apa," balas Azmi apa adanya.


 


 


 


 


Kini Nabila melangkah menuju meja makan sembari membawa nampan yang berisikan sop ayam dan nasi putih hangat yang memang sudah ia masak untuk ia makan.


 


 


 


 


Tok tok tok!


 


 


"Permisi," suara seorang perempuan dari luar rumah.


 


 


 


 


  Nabila menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara ketukan pintu. Ia bergegas untuk membuka pintu.


 


 


 


 


"Dimana Azmi? " Mella langsung bertanya pada Nabila saat pintunya terbuka.


 


 


 


 


"Waalaikumsalam, mas Azmi ada di dalam," jawab Nabila.


 


 


 


 


Dan seperti biasa, Mella langsung menyerobot masuk ke dalam. Ia berlari ke arah Azmi saat melihatnya di ruang makan. Ia pun langsung memeluk Azmi yang membuatnya merasa risih dan tidak nyaman.


 


 


 


 


"Mel, lepasin." Kata Azmi sembari mendorong tubuh wanita itu. Azmi berusaha melepaskan pelukan Mella yang membuatnya pengap. Dan wanita itu pun melepaskan pelukannya dan duduk di kursi berhadapan dengan Azmi.


 


 


 


 


"Kenapa kamu tak memberitahuku kalau Azmi sudah bangun," ucap Mella saat Nabila datang ke ruang makan.


 


 


 


 


"Aku..." uapan Nabila terpotong oleh Azmi yang langsung berkata. "Aku yang suruh Bila agar tak memberitahumu."


 


 


 


"Tapi kenapa Mi?" Tanya Mella dengan wajah sudah kalian kini bisa bayangkan.


 


 


 


 


"Yah aku gak mau ngengganggu acara pemotretan kamu," ketus Azmi menjawab.


 


 


 


 


"Kok kamu jadi marah sih ke aku?" Ucap Mella manja sambil memonyongkan bibirnya.


 


 


 


 


"Yauda sekarang mas makan dulu ya," ucap Nabila sembari mengambil mangkuk. Namun, ia kalah cepat karena Mella langsung mengambil mangkuk tersebut.


 


 


 


 


"Biar aku saja," ketus wanita itu.


 


 


 


 


"Sini aku suapin kamu," Mella mulai menyodorkan sendok yang berisikan sayur dan nasi.


 


 


 


 


"Gak mau, nasinya masih panas," Azmi menggelengkan kepalanya menolak suapan Mella karena sayur dan nasinya masih panas.


 


 


 


 


"Ini udah dingin kok," bantah Mella seakan sudah mencicipi makanan yang kini masih ada di sendok yang ia pegang.


 


 


 


 


"Nggak mau," tolak Azmi menutup mulutnya dengan tangan.


 


 


 


 


Sedangkan Nabila hanya bisa melihat heran. Sikap Azmi membuatnya aneh. Sikapnya sekarang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari sikapnya saat sehat.


 


 


 


 


Mella masih berusaha membujuk Azmi untuk makan. Dengan berbagai cara yang ia sudah lakukan. Sedangkan Azmi masih tak mau makan dengan alasan makanannya panas.


 


 


 


 


"MI, jangan kayak anak kecil deh!" Ucap Mella mulai sedikit emosi.


 


 


"Kamu harus makan. Nanti kalau kamu gak makan nanti gak sembuh. Nanti siapa yang akan kerja?" Imbuh Mella kembali dengan nada halus.


 


 


 


 


Wanita itu sudah mulai kesal karena tingkah Azmi yang manja seperti anak kecil.


 


 


 


 


"Sudah aku bilang makanannya masih panas!" Azmi meninggikan suaranya, lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar.


 


 


 


 


"Apa yang kamu berikan sampai-sampai dia seperti ini?" Tanya Mella kesal karena melihat tingkah Azmi yang aneh.


 


 


 


 


"Seharusnya kamu yang lebih mengerti sikap Azmi. Bukankah kamu yang sudah lama bersamanya, jadi pasti kamu sudah paham betul." Jawab Nabila dengan santai.


 


 


 


 


"Tapi selama aku bersamanya dia tidak bertingkah seperti anak kecil. Tapi setelah kamu ada di dalam hidup kami, tingkahnya berubah seperti ini," balas Mella heran.


 


 


 


 


"Mungkin kau tak memahaminya," lagi-lagi Nabila membalas perkataan wanita itu dengan santai.


 


 


 


Lalu Nabila mearuh mangkok itu ke atas nampan dan beranjak dari duduknya menuju dapur. Mella yang frustasi langsung berdiri dan pergi meninggalkan rumah dengan emosi yang membara, ia menutup pintu rumah Azmi dengan kencsng.


 


 


 


 


"Mas, sekarang makan dulu ya." Ucap Nabila yang kini sudah berada di kamar suaminya. Yang ternyata Azmi sedang duduk di ranjangnya, dan Azmi pun mengangguk. Setelah mendapatkan jawaban dari suaminya, Nabila mulai menyuapinya dengan telaten.


 


 


 


 


"Panas tidak makanannya?" Tanya Nabila halus.


 


 


 


 


Dan Azmi pun menggeleng.


 


 


 


 


Nabila bingung melihat perubahan sikap saminya yang menjadi kekanak-kanakkan saat sakit. Tapi disisi lain Nabila merasa bahagia karena dengan itu ia bisa dekat dengan suaminya sendiri.