
"Aku sudah tidak sabar untuk memeluk dan menciumnya."
"Sabar sayang, nanti dia juga akan di bawa kemari." ucap Ozan, menenangkan sang istri yang saat ini di landa rasa bahagia dan juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya tersebut.
Ozan bahkan tidak pernah melihat raut wajah yang penuh kebahagiaan menyelimuti seluruh jiwa sang istri. Setelah 12 tahun ini saat sang istri telah menjadi seorang istri.
Kebahagiaan mereka makin lengkap dan sempurna sekarang. Dengan kehadiran putra pertama mereka.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Beberapa saat kemudian, seorang suster datang sambil mengedong seorang bayi di rengkuhannya.
Begitu melihat sang putra telah datang. Wajah Paulina makin berbinar-binar.
Paulina nampak diliputi rasa tegang dan juga kagum menyambut kedatangan bayinya. Yang kini sudah ada di sampingnya.
"Ini bayi anda Nyonya. Silahkan di susui." ucap suster tersebut.
"Oh, iya suster, terimakasih sudah membawakan bayi ku kemari." ucap Paulina sambil bersikap untuk menerima kedatangan bayinya.
Dengan perlahan-lahan, sang suster memberikan Paulina bayinya.
"Saya tinggal dulu ya Nyonya. Jika perlu sesuatu bisa tekan tombol itu dan saya akan datang membantu nyonya." ujar sang suster.
"Iya suster."
Dengan penuh takjub, Paulina dan juga Ozan menatap wajah anak mereka bersama. Keduanya sama-sama di buat terpukau dengan bayi mungil yang saat ini ada di tengah tengah mereka.
"Aku sudah mempersiapkan nama yang bagus untuk putra kita. Aku akan memberikan dia nama Alexander Albert."
"Wah, nama yang bagus, aku menyukainya. Alexander Albert, semoga saja namanya membawa keberkahan bagi dirinya. Mama sangat mencintaimu sayang. Mama akan selalu berada di sisimu, menjagamu dan membesarkan kamu dengan penuh cinta. Malaikat kecilku, sekarang kamu sudah punya nama. Mama akan panggil kamu Albert." ucap Paulina yang kemudian mencium kening baby Albert.
"Lihat Ozan, dia menguap. Sangat lucu sekali." seru Paulina merasa takjub. Ozan pun ikut tersenyum menyaksikan itu.
"Aku hampir tidak bisa mempercayai sembilan bulan aku mengandungnya itu semua terasa singkat. Dan saat aku merasakan kesaktian yang selama ini aku alami. Semua itu terasa tidak ada apa apanya jika aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa seperti sekarang ini. Dia sudah ada di pelukan ku sekarang. Aku bisa memeluknya sepuasnya. Semua rasa sakit yang pernah aku alami selama mengandung dan melahirkan semua telah lenyap." jelas Paulina lagi.
"Dia adalah keajaiban bagi kita Paulina. Dia bayi spesial dan luar biasa."
"Kapan kita bisa membawanya pulang. Aku sudah tidak sabar untuk mengajaknya pulang ke rumah. Dan rumah kita akan ramai dengan tangisan serta tawanya."
"Aku belum tahu kapan kamu dan bayi kita bisa pulang. Kita harus menunggu keputusan dokter. Karena dia yang bisa memutuskan kapan kau boleh pulang."
"Aku sudah baik baik saja padahal. Oya sayang, suruh para pelayan untuk membersihkan ulang kamar bayi kita. Agar setibanya dia di rumah dia bisa beristirahat dengan tenang. Aku tidak ingin ada debu sedikitpun yang ada di kamar. Aku ingin semuanya higienis dan bersih."
"Semua sudah aku urus. Aku sudah menyuruh para pelayan untuk membersihkan ulang kamar Albert."
"Bagus, sempurna, terimakasih telah menjadi suami yang siap selama ini Ozan. Kau luar biasa, kau pantas mendapatkan semua ini."
"Tidak aku saja yang pantas mendapat kebahagiaan ini, tapi kau juga, kita."
Tamat