My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 49



"sayang percaya padaku, peduli ku hanya sebatas khawatir saja, aku tidak ingin kita mendapatkan masalah, aku hanya membantu sebagai mana membantu seorang teman," jelas Samuel lagi.


Mendengar itu, Moza Kun tidak kuasa memperpanjang masalah, karena yang di katakan suaminya itu ada benarnya juga, ia juga tidak ingin menjadi terlalu egois karena itu hanya akan terus memperburuk keadaan saja.


"Baik lah, lain kali jangan membuat kami khawatir lagi, dan kau juga meningal kan pekerjaan begitu lama, aku khawatir rekan bisnis akan kecewa," ucap Moza lagi.


"Maaf kan aku, aku tidak akan mengulangi nya lagi," ucap Samuel yang kemudian menarik Moza ke dalam pelukan nya.


Sementara itu di sisi lain.


"Romeo, mengapa kau malah kembali ke kantor?" tanya Nara yang saat itu sudah menunggu bdi depan kantor.


"Aku ingin mengatakan, tuan muda Samuel sudah tiba di mansion, jadi kau tidak perlu menunggu di sini lagi," jelas Romeo.


"Mengapa kau tidak menelpon ku saja? Tapi Bagus lah jika dia sudah kembali, apa dia mengatakan sesuatu kepada mu?" tanya Nara lagi.


"Tidak, tapi aku bingung, dia kembali bersama seorang perempuan ke mansion, dan nyonya Ema, dia terlihat sangat khawatir dengan perempuan itu, dan nona muda tampak cemburu dan tidak suka melihat nya, bukan nya aku mau ikut campur tapi itu terjadi di depan mata ku, aku terpaksa menceritakan ini kepada mu." jelas Romeo panjang lebar.


"Perempuan? Tante ku sangat peduli dengan nya? Moza terlihat cemburu? Ini sangat membingungkan," ujar Nara terlihat berfikir keras.


"Sudah lah, sebaik nya jika kau penasaran kau bisa menanyakan nya kepada nona muda nanti, tidak perlu berfikir lagi, ayo aku antar kau pulang, sudah larut seperti ini, anak mu pasti sedang menunggu mu di rumah," ucap Romeo menyudahi pikiran yang menyelimuti kepala Nara saat ini.


"Em apa kau tidak kelelahan?" tanya Nara menatap Romeo dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Tidak, ini sudah sore,akhir-akhir ini rawan perampokan tidak baik jika kau pulang sendirian," ucap Romeo terlihat begitu peduli akan Nara.


"Baik lah, kalau begitu ayo," jawab Nara sambil tersenyum.


Mereka pun akhirnya pulang dari kantor Samuel menuju rumah Nara.


sebelum itu Nara meminta Romeo untuk mampir ke rumah mama nya untuk menjemput Celsy karena sebelumnya Celsy di titipkan oleh Nara di rumah sang nenek.


"Ibu, siapa om itu?" tanya Celsy saat dirinya sudah masuk ke dalam mobil dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.


"Aku teman kantor ibu mu," jawab Romeo tudepoin.


"Sayang, dia teman kantor ibu dan juga teman nya paman Samuel," jelas Nara.


"Mengapa muka nya terlihat galak seperti itu?" Celsy kecil kembali bertanya.


"Apa? Aku galak? Apa benar aku terlihat galak?" kaget Romeo yabg kemudian melihat Kaca yang ada di dalam mobil nya.


"Hahah, sayang,kau ini ada-ada saja, om itu tidak galak, memang tampangnya seperti itu," ucap Nara tertawa dan merasa lucu.


"Astaga jadi kau juga mengakui wajah ku galak?" kesal Romeo.


"Haha, bodoh, tidak begitu juga." Nara malah kembali tertawa karena baginya ekspresi kaget Romeo sekarang ini benar-benar lucu.


Sementara Romeo hanya menatap nya yabg sedang tertawa.


"Dia terlihat semakin cantik ketika tertawa," batin Romeo.


Namun tidak lama kemudian mereka pun akhirnya tiba di kediaman Nara.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku, apa kau mau mampir untuk istirahat dan minum teh? Suasana juga seperti nya tidak baik, sebentar lagi pasti akan turun hujan, tidak baik mengemudi mobil dalam cuaca buruk," ucap Nara yang saat itu mengendong Celsy turun dari mobil Romeo.


"Sejujurnya aku juga sangat lelah, jika kau membolehkan aku untuk istirahat sebentar di rumah mu, itu sangat membuat aku senang," jawab Romeo dengan sopan.


Mereka pun sama-sama masuk ke dalam rumah Nara.


"Duduk lah, aku akan membuat teh hangat dulu, Celsy kau tunggu di sini ya," ucap Nara yang kemudian berjalan ke dapur untuk menyiapkan teh hangat.


"Hey anak kecil, apa aku benar-benar terlihat galak?" tanya Romeo kepada Celsy.


"Om, namaku Celsy, bukan anak kecil,jadi pangil saja aku Celsy, ya wajah mu terlihat galak tapi aku tidak takut,"jawab Celsy santai.


Romeo yang mendengar itu sontak kebingungan, anak sekecil itu bisa berkata seperti orang dewasa.


"Mengapa kau tidak takut jika aku ini terlihat galak di mata mu?" tanya Romeo lagi.


"Paman ku Samuel, dia juga galak, dan aku sudah terbiasa melihat wajah orang-orang dewasa yang galak," jelas Celsy dengan pintar nya.


Sontak saja hal ini membuat Romeo gemas dengan tingkah Celsy yang begitu imut dan pintar berbicara dengan orang dewasa.


"Celsy, kau sangat pintar ya, oh iya apa aku boleh bertanya sesuatu?" Romeo terlihat semakin asik berbincang dengan Celsy.


" Apa om?" tanya Celsy.


" Di mana ayah mu? Apa kau tinggal di sini hanya bersama dengan ibu mu?" tanya Romeo lagi.


"Ssst, jangan bahas ayah, nanti ibu mendengar dan akan sedih, aku tidak mau ibu sedih," ucap Celsy meletakkan jari telunjuk itu di bibir nya, mengkode agar Romeo tidak bicara soal ayah nya Celsy.


" Benar kah? Maaf kan aku, oh iya ayo duduk di samping ku, kau bilang kau tidak takut kan?" tutur Romeo sengaja ingin mendekatkan diri dengan Celsy.


" Ya baik lah om galak," jawab Celsy yang kemudian duduk di sebelah Romeo.


Sementara itu Nara datang dengan membawa dua cangkir teh hangat dan juga beberapa cemilan.


"Celsy, kau tidak takut dengan om galak ini? Kalian terlihat sudah akrab saja, padahal baru beberapa menit, apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Nara sambil tersenyum.


"Ibu, aku sudah terbiasa dengan wajah-wajah orang galak jadi jangan khawatir, oh iya kami tidak banyak bicara hanya bercanda," ucap Celsy sambil mengkode kepada Romeo.


Romeo pun mengerti dan mengangguk sambil tersenyum.


" Baik lah kalau begitu, pergi ke kamar dan mandi, ini sudah hampir malam sayang," perintah Nara kepada Celsy.


Celsy tersenyum dan mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam kamar nya.


" Dia sangat pintar dan penurut," ucap Romeo kagum dengan cara Nara mendidik Celsy.


"Iya, dia jadi dewasa seperti itu setelah melewati beberapa penderitaan yang di berikan ayah nya kepada kami, ah sudahlah makan lah cemilan nya," ucap Nara seolah menutup kesedihan nya saat membahas soal mantan suaminya.


Mereka pun mengobrol sambil minum teh dan juga makan cemilan, Nara juga terlihat nyaman dengan sikap lembut dan kepedulian Romeo, dia juga terlihat sangat pandai menarik perhatian Celsy sehingga Celsy mudah berbicara dengan nya.


Seminggu pun berlalu.


Sajak kejadian seminggu yang lalu, hati Moza semakin tidak tenang, di tambah lagi Sonya selalu memberikan alasan dan mencari kesempatan agar bisa dekat dengan Samuel, dan anehnya Samuel tidak merasakan kelicikan yang sedang di mainkan oleh mama nya dan Sonya.


"Samuel, kapan istri mu itu akan hamil? Apa dia tidak bisa hamil?" tanya mama Ema tiba-tiba.


Saat ini Samuel sedang duduk di ruang tengah mansion sambil menonton televisi, sementara Moza ke dapur untuk mengambil cemilan, dan saat itu lah mama Ema menghampiri Samuel dan tiba-tiba melayangkan pertanyaan tersebut kepada Samuel.


Bersambung ....