My Perfect Wife

My Perfect Wife
Episode 30



●Azmi


  Harum masakan menyeruak ke dalam hidung. Aromanya membuat perutku yang belum terisi menjadi berbunyi nyaring. Aku yang baru saja selesai mandi langsung bersiap-siap dengan cepat. Karena tak tahan dengan aroma yang sangat sedap ini.


  Saat keluar kamar aku melihat Nabila sedang menata meja. Tangannya dengan telaten menata makanan. Bukannya hanya itu, dirinya pun yang memasak dan mengurus rumah ini. Aku pernah menyarankan agar dia memiliki ART. Tapi dirinya menolak dengan alasan.


"Tak apa, mas. Malahan aku senang karena dengan melakukan ini aku akan mendapatkan pahala. Bukankah berbakti kepada suami adalah suatu kewajiban. Maka dari itu aku ingin melakukannya." Tolaknya dengan nada lembut.


"Walaupun kita mempunyai ART kamu juga akan mendapatkan pahala."


Dia tersenyum. Menatap diriku hingga jantung ini bersikap abnormal. "Tak apa, mas. Aku masih kuat, aku masih bisa melakukannya."


Aku hanya mengangguk. Ah sunggu! Aku bersyukur, Allah mengirimkan Nabila dalam hidupku. Dia adalah My Perfect Wife. Seorang istri yang sempurna. Bukan hanya rupanya yang elok tapi hati dan akhlaknya pun.


"Mas, cepetan sarapan. Nanti telat lho." Ucapnya saat aku memeluknya dari belakang.


"Iyah sebentar lagi. Aku masih kangen sama kamu." Ucapku sambil menaruh daguku di pundaknya.


  Dia menautkan alisnya. "Memang sudah berapa lama kita tak bertemu?" Tanya nya dengan tampang polos.


"Hmmm." Aku pura-pura menghitung dengan jari ku.


"100 menit." Jawabku.


"Ya ampun baru seratus menit aja udah rindu. Dasar gombal."


"Aww!" Ringisku saar jari lentiknya mencubit lenganku.


  Mungkin dia tak merasakan apa yang ku rasakan. Bagiku satu menit itu sama dengan satu jam. Satu jam itu sama dengan satu hari. Satu hari itu sama dengan satu minggu. Satu minggu itu sama dengan satu bulan dan satu bulan itu sama dengan satu. Up! Jangan di teruskan karena walaupun satu tahun sekalipun tak akan cukup untuk menghitung rasa rinduku padanya.


                                          ***


Tak terasa waktu terus berjalan. Hari ini adalah hari jadi pernikahanku dengan Nabila. Sudah satu tahun kami menjalani biduk rumah tangga. Walaupun tak semulus cerita novel di luar sana. Banyak rintangan yang harus dia lalui. Bukan diriku. Tapi dirinya, berjuang seorang diri untuk mempertahankan rumah tangga yang hampir runtuh.


  Dia bagaikan nahkoda yang menjalankan kapalnya di tengah badai seorang diri tanpa di bantu oleh siapapun.


  Aku masih menatap sebuah kotak yang berisikan set gamis dan kerudung berwarna biru langit, warna kesukaannya.


  Adzan berkumandang, itu artinya waktu sholat dzuhur telah datang dan kebetulan sekarang waktunya makan siang. Aku langsung beranjak dari dudukku. Sebelum pergi ke masjid, aku menyuruh seseorang untuk mengirimkan paket ini ke rumah. Aku yakin Nabila akan menyukainya.


  Aku sudah tak sabar ingin melihat dirinya memakai gamis itu. Pasti cantik. Tapi memang baju apa yang dia pakai akan selalu membuatnya cantik.


                                        ***


  Setelah selesai sholat aku pergi ke ruanganku untuk mengambil dompetku yang tertinggal. Maklum saking semangatnya aku sampai lupa kalau dompetku masih ada di tas. Kata Nabila, aku itu seperti perempuan, selalu menyimpan dompet di tas. Itulah kebiasaanku yang tak pernah tertinggal.


  Setelah mengambil dompetku aku langsung pergi ke kafe tempat makan favoritku. Saat sampai aku langsung di sambut oleh seorang pelayan. Tapi bukan mengucapkan selamat datang atau apa. Tapi pelayan itu mengantarkan ku ke lantai atas dan setelah itu dia menunjukkan ke kursi di dekat jendela. Dan di sana ku melihat seorang wanita sedang duduk sambil menatap ke arah jendela.


"Assalamualaikum," ucapku saat aku berada di belakangnya.


  Nabila selalu berkata kalau kita bertemu seseorang sesama muslim. Kita harus mengucapkan salam. Dan masih banyak lagi pelajaran yang di ajarkan padaku.


"Waalaikumsalam, mas." jawabnya sambil tersenyum.


"Nabila? "


  Yah dia Nabila. Istri pertama dan terakhirku. Wanita yang ku cintai setelah ibuku.


  Dia tersenyum.


Aku tak menyangka dirinya akan berbuat seromantis ini. Apalagi membuat kejutan seperti ini. Ternyata bukan aku saja yang membuat kejutan tapi dirinya juga.


"Bagaimana kejutannya, mas?" Tanyanya sambil menaikkan kedua alisnya.


"Lumayan," jawabku.


"Kok lumayan sih,"


Kini bibirnya maju seperti bibir bebek. Ah! Membuatku semakin gemas saja.


"Kenapa kamu tak bilang kalau mau kesini?" Tanyaku polos. Ah! Azmi kenapa kamu bertanya seperti itu. Kalau bilang pasti bukan surprise.


"Kalau bilang bukan surprise namanya, sayang."


"Sayang?"


"Kenapa, tidak suka yah?"


  Aku menggeleng, lalu mencubit pipinya yang mengembung alami. Semenjak hamil dirinya terlihat lebih berisi. Tapi walaupun begitu aku tetap mencintainya.


                                          ***


Setelah pulang dari kantor, aku tak langsung pulang ke rumah. Aku pergi ke restoran tempat kami akan dinner atau ngedate bahasa gaulnya.


  Jalanan agak macet jadi memperlambat diriku sampai. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Aku sudah rindu. Dasar! Baru saja ketemu sudah rindu.


  Setelah lima belas menit terjebak macet, akhirnya aku sampai. Aku langsung pergi ke lantai dua tempat dimana aku memesan meja.


"Assalamualaikum," ucapku sambil menunjukkan senyuman termanisku. Tentu saja hanya untuk istriku saja.


"Waalaikumsalam," jawabnya sambil berdiri.


Ya Allah, sungguh indah ciptaanMu ini. Dia bagaikan bidadari menjelma menjadi manusia.


"Apa kau suka?" Tanyaku setelah duduk di kursi.


Kami saling berhadapan. Ku lihat dirinya masih mengamati ruangan ini.


"Sangat suka."


  Senyumnya membuatku meleleh. Jantung berdegup kencang. Walaupun aku selalu melihat senyumannya tapi alat pemompa darah ini selalu berdegup tidak normal.


"Kau sudah memesan makanan?" Tanyaku.


"Belum. Karena aku ingin menunggumu, mas ku."


  Aku pun memanggil waiters untuk memesan makanan. Selama menunggu makanan datang, aku mengobrol dengannya. Sesekali dirinya bercerita tentang hari itu.


"Mas, aku keliatan gemuk yah?" Tanyanya tiba-tiba.


Aku menyeritkan keningku.


"Enggak kok," jawabku jujur. Memang dia banyak makan tapi dirinya tak terlalu gemuk. Tapi nambah berisi saja.


"Kata orang kalau lagi hamil itu nanti suka gemuk. Terus kalau aku gemuk Mas jangan cari cewek lain ya."


  Aku tertawa mendengar ucapannya. Dengar darimana dia kata-kata seperti itu.


"Dengar, mau kamu gemuk atau kurus aku gak peduli. Aku Cinta sama kamu bukan karena fisik. Tapi karena Allah."


"Bener yah. Awas yah kalau nyari cewek lain. Aku akan pergi lagi dan tak kan kembali."


"Siap!"


Tak lama makanan datang. Waitres pun menyajikan makanan di meja. Setelah selesai dirinya pergi kembali membawa nampan yang ia bawa tadi. Sebelum makan aku melihat sekeliling resto. Hari ini banyak orang yang berdatangan. Mungkin karena malam minggu.


  Ku lihat Nabila tengah menatap ke arah jendela. Melihat keindahan kota dari atas, lampu-lampu warna-warni yang menghiasi, kendaraan yang berlalu-lalang dan rembulan malam yang menampakkan diri sepenuhnya dengan cahaya yang bersinar terang.


"Bila, mari makan." Ajakku yang di balas anggukan oleh istriku.


Sebelum makan seperti biasa kami baca do'a sebelum makan agar syetan tak ikut makan yang membuat kita tak merasa kenyang.


"Nabila," ucapku setelah kami menghabiskan makanan kami.


"Iyah, mas." Jawabnya dengan nada lembut. Selama ini, dirinya tak pernah menaikkan nada bicara sampai berkata kasar padaku. Walaupun dirinya marah, ia lebih baik diam, menangis atau menggerutu seperti waktu itu.


  Tanganku mengambil sesuatu yang berada di kantung celanaku. Ku ambil benda berbludru berbentuk hati itu. Lalu ku sodorkan kepadanya.


  Aku tersenyum saat melihat ekspresi wajahnya yang senang dan terkejut. Sangat lucu. Lalu ku sematkan cincin itu di jarinya.


                                          ***


"Mas aku mau tanya boleh?"


  Aku menoleh sebentar dan memfokuskan pandanganku pada jalan karena sedang menyetir.


"Mau nanya apa?"


"Mas, kalau misalkan aku pergi lebih dulu. Apakah Mas mau menikah lagi atau tidak?"


Aku mengerutkan keningku, apa yang ia tanyakan.


"Insyaa Allah aku tak kan menikah lagi. Namun, jika aku menikah lagi. Ingatlah aku tak kan melupakanmu dan aku akan tetap mencintaimu karena kamu mempunyai tempat spesial di hatiku." Ucapku.


  Ku melihat rona merah di wajahnya. Ah! Semakin gemas saja istriku ini.