
Malam harinya
Terlihat Moza yang baru saja selesai mandi, dia mengunakan piama dan berjalan keluar dari kamar nya.
"Sayang, Hansel, kau di mana?" pangil Moza sambil menuju ruang tengah rumah tersebut.
"Nona, Hansel di dapur, bersama tuan Robi," ucap BI Juni yang saat itu sedang merapikan mainan Hansel.
"Robi datang? Kapan dia datang?" tanya Moza sambil menaikan satu alisnya.
"Baru saja nona," jawab BI Juni.
Mendengar itu, Moza pun berjalan menuju dapur untuk melihat apa yang sedang di lakukan Hansel dan Robi.
"Ayo Hansel makan mocy nya yang banyak,ini kan kesukaan mu," ucap Robi kepada Hansel sambil menyuapi mocy yang di beli nya tadi.
"Astaga, pantesan ada bau durian yang menyengat," ucap Moza yang kemudian menghampiri Hansel dan Robi yang saat ini sedang duduk di kursi meja makan sambil menikmati banyak kue.
"Moza, apa kau mau? Aku membeli nya di toko kue mu," jelas Robi dengan ekspresi lucu.
"Kalian berdua ini sudah seperti kucing saja, astaga anaku, Robi lihat lah cermin dan lihat wajah kalian berdua sudah sangat belepotan dengan tepung dari mocy itu," ucap Moza sambil menepuk jidat karena Hansel baru saja mandi tapi sudah berantakan lagi.
"Aku, aku tidak tau," jawab Robi.
"Kalian berdua ini yaaa, benar-benar menyebalkan, sudah membuat dapur bau durian dan sekarang aduh, Robi sekarang juga masuk kamar mandi dan bersihkan mulut Hansel aku tidak mau tau," ucap Moza sudah tersulut emosi.
"Iya iya, akan segera aku lakukan," ucap Robi yang kemudian membawa Hansel masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Moza hanya bisa menahan tawa nya karena wajah Robi juga sama belepotan karena tangan Hansel yang sedari tadi menggerayangi wajah nya.
"Ada ada saja mereka kalau bertemu, tidak pernah membuat aku berhenti tertawa dan marah," batin Moza.
Beberapa puluh menit pun berlalu.
Kini Hansel sudah tidur di kamar nya, sementara Robi baru saja ingin pulang ke rumah.
"Robi, terima kasih," ucap Moza kepada Robi.
Saat ini Robi dan Moza sedang berdiri di teras depan rumah karena sebenarnya Robi ingin berpamitan untuk pulang.
"Untuk apa?" tanya Robi lagi.
"Untuk semuanya, tak terasa sudah tiga tahun aku tinggal di sini membesar kan Hansel penuh semangat karena kau dan BI Juni," jelas Moza kepada Robi.
"Aku juga sangat bahagia, bisa menjadi bagian dari kalian berdua, dan melihat tumbuh kembang Hansel yang dulu aku sangka tidak bisa lahir ke dunia, tapi ternyata aku salah,kau benar-benar seorang ibu, dan seorang wanita yang kuat," ucap Robi memuji Moza.
"Aku tidak akan bisa kuat, tampa bantuan dan dukungan dari kau dan BI Juni,yang sudah aku anggap seperti ibu ku sendiri," jelas Moza sambil tersenyum kepada Robi lalu pandangan nya tertuju ke langit yang malam ini begitu penuh dengan bintang-bintang yang bersinar.
"Jika bi Juni kau anggap ibu mu, lalu bagaimana dengan aku?" tiba-tiba pertanyaan itu lolos keluar dari mulut Robi begitu saja.
Moza teridam, ia bingung harus menjawab apa, ia menatap Robi dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kau, kau adalah sahabat terbaikku, dokter pribadi ku, penyelamat ku," ucap Moza lagi.
"Hanya itu? Kapan kau akan menyadari jika aku berharap kau bisa menjadi bagian dari hidup ku? Ayah sambung bagi Hansel yang sudah aku anggap seperti anak ku sendiri," batin Robi.
"Robi, mengapa kau diam?" tanya Moza bingung dengan raut wajah Robi yang tiba-tiba berubah.
"Emm, tidak ada, aku hanya merasa terharu kau menganggap ku begitu penting dalam kehidupan mu dan Hansel," bohong Robi sambil menampilkan wajah senyum tipis nya.
"Karena itu, rasa terima kasih ku cukup besar kepada mu, tapi ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang pemilik rumah ini masih tidak kembalim?" tanya Moza mengalihkan pembicaraan.
Deg ... Jantung Robi rasanya ingin berhenti berdetak, kebohongan yang selama ini di pendam nya masih juga belum di ketahui oleh Moza.
"Ah, itu, aku rasa dia banyak urusan dan sangat sibuk, makanya dia tidak pernah kembali lagi ke sini," jawab Robi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Oh, begitu ya, aku hanya ingin memastikan agar saat dia kembali aku sudah siap-siap untuk membeli rumah baru, karena sekarang aku sudah bisa membeli rumah dengan hasil ku sendiri," jelas Moza.
"Sebaiknya jangan, jadikan uang itu sebagai tabungan untuk Hansel, kau tidak perlu membeli rumah baru, kedepan nya juga kau mungkin tidak akan tau kan kita akan teta di sini atau pindah lagi?"
"Ya, kau benar, terima kasih sudah menasehati ku," jawab Moza sambil tersenyum kecil.
"Kau semakin hari semakin cantik saja, apalagi saat tersenyum," ucap Robi tampa sengaja sambil menatap wajah Moza.
"Hah? Apa yang kau katakan barusan?" kaget Moza sambil memastikan jika baru saja Robi sedang memuji nya.
"Aku bilang kau cantik, seorang ibu yang memiliki satu anak, kau masih terlihat cantik, ya begitulah maksud ku," jawab Robi sambil cengengesan.
"Kau ini bisa saja," celetuk Moza.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu, sudah larut, kau sebaiknya istirahat, kasian Hansel dia pasti butuh pelukan mu," ucap Robi sambil mengunakan jaket nya.
"Ah iya, kau juga berhati-hati lah," pesan Moza sebelum Robi masuk ke dalam mobil nya.
"Tentu saja," jawab Robi.
Lima menit kemudian, Robi pun sudah pergi dari rumah itu, namun Moza masih belum masuk ke dalam rumah, ia masih stay di depan teras dengan mata yang kembali menatap langit malam yang terlihat begitu indah.
"Ya Tuhan, selanjutnya takdir apa lagi yang akan kau berikan, mengapa akhir-akhir ini aku selalu merasa tidak enak hati ya? Semoga Hansel ku baik-baik saja, tapi mimpi ku bertemu dengan Samuel, itu terasa nyata, dan membuat aku tidak bisa tidur nyenyak dalam beberapa malam," batin Moza.
Ya, akhir-akhir ini Moza merasa kan perasaan yang tidak enak, dia juga bermimpi bertemu kembali dengan Samuel, apakah ini pertanda baik? Atau buruk? Tidak ada yang tau.
Setelah beberapa menit mencurahkan isi hati nya kepada bintang dan bulan di malam yang cerah itu, Moza pun kembali masuk ke dalam rumah dan menuju kamar.
Terlihat Hansel yang sudah tertidur pulas dengan segala gaya lasak nya.
"Masih ada saja bau durian itu di pipi nya," ucap Moza sambil mengendus-endus pipi Hansel.
Mencium aroma durian, Moza seolah kembali mengingat sesuatu.
"Mengapa Hansel lebih banyak mirip dengan nya? Dari pada aku? Dari wajah sampai rambut dan juga makanan kesukaan nya adalah durian, ini benar-benar membuat aku gila, sayang Tolong jangan mirip dia, mirip lah dengan ku, aku Momy mu, yang mengandung mu dan membesarkan mu,"
Entah kenapa Moza malah berbicara sendiri sambil menatap Hansel yang tertidur pulas,dia tiba-tiba kesal karena Hansel dua puluh persen mirip nya dan delapan puluh persen mirip Samuel.
Bersambung ....